
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Bukankah aku sudah mengatakan jika aku harus menyempurnakan dua persen itu?” tanya Max dengan senyum andalan diwajahnya yang membuat Leo mengerti akan hal yang dipikirkan olehnya.
Dengan segera kedua laki-laki itu bergegas menyelusuri semua Lorong dan ruangan di lantai satu dan membunuh setiap zombie yang mereka temui.
...| (❁❁) |...
“Ini adalah ruangan terakhir yang belum kita periksa di lantai lima,” ujar Leo kepada Max.
“Hanya ada 98 zombie? Ini lebih sedikit dari perkiraan ku,” gumam Max.
‘Walaupun rumah sakit ini sedikit terpencil tapi termasuk ke dalam rumah sakit yang memiliki fasilitas bagus dan ketenagakerjaan yang baik. Bagaimana mungkin jumlah manusia yang berada di sini kurang dari 100?’ batin Max dengan pikiran kalut.
“Kak Max, kita tidak bisa masuk kedalam laboratorium yang terkunci dari dalam itu, ditambah sebelum ini, kak Zen sudah membunuh beberapa zombie yang berada di lantai bawah, kurasa sudah lebih dari 100 zombie yang sesuai dengan apa yang sudah kita perkirakan,” ujar Leo dengan hati-hati.
“Dan ini hampir mencapai 2 jam dari waktu yang kakak janjikan,” lanjut Leo yang membuat Max menghela nafas dengan pelan.
“Yah, kurasa kita sudah mengamankan seluruh rumah sakit, kuharap tidak ada satupun zombie yang ku lewatkan,” ucap Max.
“Kurasa kakak sudah melakukannya dengan baik. Jadi, apa kita naik keatas sekarang?” tanya Leo lalu menatap kearah tangga yang menuju ke atap rumah sakit.
“Ya, kita tidak bisa membuang-buang waktu lagi,” ujar Max lalu memimpin terlebih dahulu untuk memastikan keamanannya.
“Kurasa tidak ada satupun zombie di sini, kita bisa langsung menjalankan rencananya,” ujar Max setelah memastikan keadaan di sana.
“Baiklah! Akan aku siapkan terpal nya segera di ujung sana, tolong kak Max jaga di sebelah sini,” ujar Leo sambil menunjuk kearah yang dia maksud.
“Serahkan kepadaku, tapi sebelum itu sangkut kan ujung terpal mu di bagian pembatas besi itu, kurasa itu akan memudahkan mu untuk menariknya nanti,” jelas Max yang di angguki oleh Leo.
Setelah beberapa petuah lainnya, kini Leo sudah berlari menuju arah yang ditentukan dan mengikat terpal yang di bawanya di pembatas besi sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Max. Max juga mulai melakukan tugas miliknya setelah memastikan jika pintu menuju tangga sudah tertutup rapat.
‘Seharusnya tidak ada masalah dengan ini semua bukan? Lagipula aku sudah memberikan dua barang itu kepada mereka untuk berjaga-jaga,’ batin Max sambil memastikan kain yang ia sangkut kan saat ini cukup kuat.
...----------------...
“Lin, kemari lah sebentar,” ucap Zen kepada Lin.
“Ada apa kak?” tanya Lin dengan bingung.
“Pakai ini,” ujar Zen sambil mengeluarkan sesuatu dari tas besar miliknya.
“Ini…?”
“Parasut yang sempat diambil oleh Max di toko sebelumnya,” jelas Zen.
“Wow, parasut? Bagaimana kak Max bisa memikirkan ini?” tanya Lin dengan kagum.
“Yah, sepertinya dia sangat bersungguh-sungguh jika mengatakan untuk memastikan 2 persen terakhir itu,” ucap Zen dengan senyuman tipis.
‘Dia bahkan mengambil dua dan memberikan satu kepadaku. Bukan itu saja, dia juga membawakan satu alat yang benar-benar bermanfaat untuk ini. Entah kenapa aku merasa seperti memiliki asisten yang sangat dapat diandalkan,’ batin Zen.
“Aku tidak bisa memakainya,” ujar Lin sambil menyerahkan parasut ditangannya.
“Biar aku pakaikan,” ujar Zen lalu memakaikan parasut itu kepada Lin.
“Jika ada beberapa hal yang sebenarnya sangat tidak aku inginkan terjadi, seperti kamu jatuh dari ketinggian 200 meter itu. Tarik tali ini dan itu akan membuat parasut terbuka. Kuharap kamu tidak terlalu panik dan syok saat itu karena butuh waktu yang sedikit lama untuk membuka parasut sepenuhnya.”
“Ditambah dengan jarak ketinggian itu yang bisa dibilang sangat singkat untuk membuka parasut. Yah, kuharap semua itu tidak akan terjadi,” ujar Zen dengan senyuman tipis diwajahnya.
“Kak Zen tenang saja, walaupun itu terjadi aku akan tetap baik-baik saja!” ujar Lin dengan ceria yang membuat Zen mengelus pelan rambutnya.
__ADS_1
‘Yah, aku harus baik-baik saja, karena aku belum cukup untuk membalas kebaikan kak Zen saat ini! Aku harus membalas kebaikannya dengan lebih dimasa depan,’ batin Lin dengan penuh tekad.
“Oh, kurasa mereka sudah tiba di sana,” ujar Zen saat matanya menangkap keberadaan Max dan Leo di atas atap.
“Yah, sesuai dengan janjinya, 2 jam. Bahkan ini sedikit lebih cepat,” lanjut Zen sambil melihat kearah jam di handphonenya.
“Karena mereka baik-baik saja maka, kita akan menunggu dengan tenang dari bawah sini, Lin,” ujar Zen yang di angguki oleh Lin.
“Baiklah!”
...----------------...
“Apa bagian mu sudah selesai, Leo?” tanya Max sambil berjalan menghampiri Leo.
“Ya! Tapi apakah kak Max bisa memeriksanya sekali lagi? Hanya untuk memastikannya,” ujar Leo yang tentu saja di angguki dengan senang hati oleh Max.
Dengan perlahan tangannya mulai terulur untuk mengencangkan ikatan yang disangkutkan di pagar besi itu, setelah benar-benar memastikan itu kuat dan fleksibel untuk digunakan sebagai katrol, sebagai apresiasi Max memberikan dua ibu jarinya kearah Leo.
“Kamu melakukan pekerjaan dengan baik Leo. Lalu telepon Zen mengunakan handphone yang sudah diberikannya dan beritahu dia jika persiapan di sini sudah selesai,” ujar Max yang di angguki oleh Leo.
Kini tangan miliknya mulai mencari keberadaan ponsel yang dia letakkan di dalam tas besar yang dibawanya tadi. Setelah menemukan keberadaan ponsel itu, kini jari-jari miliknya mulai menelusuri nomor kontak yang memiliki nama Max yang tersimpan di sana.
Saat matanya menemukan kontak telepon itu, ibu jarinya mulai menekan panggilan telepon di handphone tersebut. Setelah beberapa nada dering sambungan, panggilan miliknya di angkat dari sebelah sana.
“Kak Zen, kami sudah selesai di atas sini,” ujar Leo dengan semangat.
Zen yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dengan tipis.
‘Sepertinya dia baik-baik saja dan tidak ada masalah selama mereka naik keatas sana,’ batin Zen dengan lega.
“Kak Zen, kapan kita akan melakukan rencana itu?” tanya Leo lalu melirik kearah Max yang kini sudah menggulung kain terpal di tangannya sehingga mempermudahkan Max untuk langsung menjatuhkannya dari atas.
“Kita akan melakukannya sekarang, tolong berhitung sampai tiga sebagai aba-aba nya,” ujar Zen sambil menarik Lin untuk mundur dan mengangkat kepalanya untuk melihat mereka dari bawah.
“Baiklah, kalau begitu aku akan berhitung dari sekarang,” ujar Leo lalu menatap kearah Max.
“Baiklah, satu … dua … tiga!” ujar Leo yang membuat Max berlari dengan sekuat tenaga menuju pembatas besi tersebut lalu mulai melemparkan terpal tersebut kebawah setelah dirinya mengambil jarak aman untuk berhenti.
Terpal dengan panjang 150 meter dan lebar 100 meter tersebut mulai jatuh dari ketinggian 200 meter. Zen yang melihat itu mulai memejamkan matanya sejenak untuk memohon kepada dewa manapun itu agar terpal itu mencapai kebawah tanah.
‘Kumohon, sampailah! Walaupun itu mengambang di atas tanah dengan jarak 30 centimeter!’ batin Zen sambil memandang was-was kearah terpal itu.
Dan sepertinya doa milik Zen kali ini terkabul, tepat 30 centimeter di atas tanah, terpal itu mengambang yang membuat Zen hampir memekik dengan riang karena perkiraannya tidak meleset.
“Leo, tanyakan kepada Max, apa terpal itu tepat sampai kebawah sana?” ucap Max yang membuat Leo tersadar dari lamunannya.
“Ah, kak Zen. Kak Max bertanya, apa terpal itu sampai kebawah sana?” ucap Leo yang membuat Zen tersenyum tipis.
“Yah, terpal itu berada 30 centimeter di atas tanah dan perhitunganku tidak meleset kali ini,” ujar Zen yang membuat Leo segera memberitahu Max yang berada di sampingnya sesuai dengan apa yang diberitahukan oleh Zen.
“Bagus, kalau begitu katakana kepadanya untuk bergegas memindahkan dus mie itu dan telpon kami kembali jika sudah selesai,” ujar Max yang dibalas dengan anggukan oleh Leo.
Setelah memberitahukan apa yang dikatakan oleh Max, Leo menutup sambungan telepon setelah menanyakan kabar adiknya kepada Zen.
“Nah Lin, kita harus memindahkan dus mie itu dengan cepat agar kita bisa bersantai ria di atas sana,” ujar Zen dalam keadaan mood yang baik.
Lin yang mendengar itu mengangguk dengan semangat. Dengan begitu satu anak kecil dan satu remaja dewasa mulai bekerja sama untuk mengangkat beberapa perbekalan keatas kain terpal itu. Disisi lain, Leo kini mulai menyaksikan kegiatan Zen dan Lin dari atas sana.
‘Apa Lin akan baik-baik saja?’ batin Leo sambil menekan perasaan khawatirnya.
“Tenang saja, aku pastikan jika Lin akan baik-baik saja walaupun dia jatuh dari ketinggian ini, nyawanya akan selamat apapun caranya,” ujar Max dari belakang Leo.
“Ahh, kuharap apa yang dikatakan kak Max benar,” ujar Leo sambil tersenyum tipis.
‘Aku harus mempercayai mereka berdua karena aku yakin jika kak Zen dan kak Max tidak akan membuat kita berada dalam bahaya,’ batin Leo lalu menatap kearah bawah kembali.
“Kalau begitu awasi mereka dan beritahu aku segera jika Zen menelpon kembali,” ujar Max yang membuat Leo menatap bingung kearahnya.
“Kak Max mau kemana?” tanya Leo.
__ADS_1
“Tentu saja untuk memastikan keselamatan kita semua. Ah, bisakah aku meminta sisa peluru mu?” tanya Max yang dibalas dengan anggukan oleh Leo.
“Tentu saja,” ujar Leo lalu menyerahkan seluruh sisa pelurunya dengan hanya meninggalkan 6 peluru untuk satu kali muatan di pistolnya.
“Kalau begitu aku tinggal sebentar ke sana, teriak saja jika Zen menelpon kembali,” ujar Max lalu pergi meninggalkan Leo menuju sisi gedung lainnya.
‘Jika perkiraan ku benar, tidak jauh dari sini adalah pemukiman kumuh, aku tidak tahu bagaimana nasib para warga itu tapi jika para warga di sana berubah menjadi zombie, maka hanya butuh beberapa menit untuk tiba disini,’ batin Max lalu mengikatkan sebuah tali panjang dengan kuat di salah satu pembatas besi itu.
‘Dan kemungkinan itu sudah ku konfirmasi saat di depan gerbang rumah sakit,’ batin Max sambil mengingat kembali baju penuh tambalan yang dikenakan para zombie yang dibunuhnya tadi.
‘Huh, kuharap jika ini tidak akan terjadi,’ batin Max sambil menatap kearah gerbang rumah sakit.
“Yah, walaupun itu terjadi kuharap kita semua sudah berada di atas,” gumam Max lalu menghela nafas Lelah.
‘Hahhh, aku tidak dibayar dengan melakukan semua ini. Kuharap Zen memberikan bayaran yang setimpal karena aku melindunginya sampai sekarang,’ batin Max lalu tertawa dengan pelan.
...----------------...
“Kak Zen, semua persediaan sudah di amankan di atas terpal!” ujar Lin.
“Kerja bagus Lin, kalau begitu aku akan menelpon mereka sekarang,” ujar Zen lalu kembali menelpon Leo yang memegang handphone. Setelah beberapa bunyi nada dering dari sana, telepon itu diangkat.
“Hei, Leo. Kami sudah selesai meletakkan persediaan di sini,” ujar Zen.
“Begitu kah? Bagaimana dengan Lin?” tanya Leo.
“Aku belum menyuruhnya naik, lebih aman jika kalian mulai bersedia di ujung masing-masing terpal itu sebelum aku menyuruh Lin untuk naik keatas terpal,” ujar Zen.
“Baiklah, akan ku beritahu kak Max sekarang,” ujar Leo lalu menjauhkan ponsel itu dari mulutnya dan berteriak memanggil Max yang masih berada di sisi lain gedung.
“Kak Max, kak Zen menyuruh kita untuk mulai bersedia di posisi masing-masing!” teriak Leo yang sepertinya di dengar oleh Max karena Max membalasnya dengan lingkaran besar yang dibuat dengan tangannya sebagai tanda oke.
“Kak Max sudah berada di posisi,” jelas Leo.
“Baiklah, kalau begitu akan ku suruh Lin untuk mulai naik keatas terpal,” ujar Zen lalu menginstruksikan Lin menggunakan telunjuknya.
Lin yang mengerti instruksi dari Zen mulai melangkahkan kakinya menuju terpal yang mengambang 30 centimeter dari atas tanah itu. Terpal sedikit bergoyang saat Lin menaikinya yang membuat Leo dan Max segera memegang ujung terpal untuk membuatnya stabil.
Bahkan Zen yang melihat itu sedikit khawatir dan tanpa sadar memegang ujung dari terpal itu untuk menstabilkan getarannya.
“Kurasa terpal ini mampu menahan beban tubuhku dan persediaan yang ada!” ungkap Lin yang tanpa sadar membuat Zen menghela nafas lega begitu juga Leo yang mendengarnya melalu telepon yang di letakkanya di bawah lantai atap.
“Lin, mungkin saat terpal ini diangkat keatas, goyangan yang diakibatkan akan lebih terasa dari ini-“
“Aku akan baik-baik saja kak Zen,” ujar Lin memotong ucapan Zen dengan senyuman penuh percaya diri. Zen yang mendengar itu menghela nafas pelan lalu mulai mengelus kepala Lin dengan pelan.
“Aku bangga denganmu, Lin. Kuharap kamu berhati-hati saat terpal ini ditarik keatas,” ujar Zen yang dibalas dengan anggukan oleh Lin.
“Tenang saja! Aku akan melakukan ini dengan baik dan tetap menjaga keselamatan ku,” ujar Lin sambil berdiri di atas terpal yang membuat terpal itu hanya berjarak 10 centimeter dari atas tanah.
“Kak Zen, apa kita bisa menariknya sekarang?!” tanya Leo sedikit berteriak agar suaranya tersampaikan.
Zen yang mendengar itu mulai menyuruh Lin untuk duduk di atas terpal itu dan menggenggam terpal dengan erat sebagai tumpuan.
“Yah, lakukan sekarang!” ujar Zen setelah memastikan kondisi Lin di atas terpal.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
__ADS_1