Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(59) Pertemuan|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Tapi jika kita melewati rute dapat meningkatkan presentase keadaan kita, tidak apa untuk dicoba," ujar Fin dengan final yang membuat kedua rekannya tidak bisa membantah.


"Baiklah, kalau begitu tujuan kita selanjutnya adalah kota Y di distrik selatan," ujar Mia dengan senyuman tipis dan menekan gas mobilnya dengan cepat kearah pom bensin terdekat.


...| (❁❁) |...


Dengan posisi pistol yang masih terangkat mengarah pria paruh baya dihadapannya, Zen membuka mulut sebagai orang pertama yang memulai pembicaraan.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Zen dengan dingin yang membuat pria paruh baya di hadapannya tertawa ringan.


"Tuan muda kami ingin berbicara kepada anda," ujar Jin dengan ringan yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


"Kamu kira aku akan percaya dengan alasan klise dan tidak masuk akal seperti itu?" tanya Zen dengan sinis.


"Ah, sepertinya anda lupa dengan tuan muda saya, baiklah mari mulai dengan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Jin Volgt, pelayan dari tuan muda Ken Aenass dan Kim Aenass," ujar Jin sambil melakukan bow ala pelayan.


Zen yang mendengar itu justru mengerutkan kening dengan wajah yang bisa dibilang sangat jelek.


'Justru karena aku tahu kamu, aku ingin kamu enyah dari hadapanku!' batin Zen dengan kesal.


Mari kita flashback sejenak sebelum kejadian saling mengenalkan diri yang terjadi saat ini.


Zen yang pergi begitu saja meninggalkan Max dibelakang, bisa mendengar suara raungan batin seorang Max yang sepertinya kesal atas keputusan mendadak yang diambilnya itu.


Tapi apa peduli Zen? Yang kini ada dipikirannya hanya ada menyingkirkan para pengganggu yang baru saja mendarat itu agar tidak menganggu tidur delapan jamnya di hari pertama akhir dunia terjadi.


'Padahal aku sudah bersusah payah menghitung waktu yang akan dihabiskan tanpa membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna dan kini pengganggu ingin melakukan hal yang sangat ku hindari? Maaf saja itu tidak bisa!' batin Zen dengan semangat yang berkobar lalu mengangkat pistolnya kearah helikopter itu.


"Lin, Leo menjauh lah sedikit, setidaknya 5 langkah di belakangku," ujar Zen dengan pelan tapi masih mampu untuk didengar oleh kedua bersaudara itu.


'Kurasa Max seharusnya akan menyusul sebentar lagi dan mereka berdua akan aman dengan adanya Max di sana,' batin Zen lalu menatap tajam kearah helikopter dihadapannya.


Ken yang melihat tindakan itu menatap dengan ringan sebelum matanya menyipit saat melihat salah satu kehadiran orang yang sedang di carinya itu sedang berdiri di luar tempatnya berada.


"Ho, apa tuhan sedang berbaik hati denganku?" tanya Ken dengan pelan yang membuat Kim mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" tanya Kim yang membuat Ken mengangkat jarinya lalu menunjuk kearah Zen melalu kaca helikopternya.


"Dia adalah orang yang kukatakan waktu itu, Kim," ujar Ken yang membuat Kim menatap kearah pemuda tersebut dengan mata yang memicing.


"Dia? Terlihat biasa saja," ujar Kim setelah mengevaluasi pemuda tersebut.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan itu di saat kamu saja tidak pernah bertemu bahkan berbicara dengannya?" tanya Ken dengan ringan.


"Memangnya aku salah? Wajahnya rata-rata, otot di tubuhnya tidak seperti yang aku bayangkan, bahkan postur memegang pistolnya masih salah," ujar Kim dengan jujur


"Posturnya sudah benar, hanya saja ototnya yang tidak mendukung, Kim," ralat Ken sambil mengerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


Kim yang mendengar itu mengerutkan keningnya dengan tidak setuju.


"Hah, jika karena ototnya yang belum terbentuk sempurna, seharusnya dia tahu jika postur seperti itu tidak bagus untuk dirinya," ujar Kim yang membuat Ken mendengus.


"Dia bukan kamu sang jenius senjata yang bahkan bisa menembak senapan dengan besar 14 kilogram itu, Kim," ujar Ken yang kini membuat Kim mendengus dengan malas.


"Lalu apa rencana mu? Apa akan tetap sama seperti sebelumnya?" tanya Kim yang membuat Ken menatap penuh arti kearah Jin.


"Jin, turunlah dan bicaralah dengannya, ingat jangan membuatnya dan anggota party nya terluka sedikitpun," ujar Ken yang di angguki oleh Jin lalu turun dari kursi pengemudinya dan berjalan menuju tempat Zen berada.


Dan begitulah akhir dari flashback sebelum kalimat pembuka dari Zen terucapkan.

__ADS_1


'Bagaimana bisa orang yang tinggal di kawasan sektor barat berada di sektor timur?' tanya Zen frustasi.


'Bukankah seharusnya mereka pergi ke sektor pusat, lebih tepatnya adalah ibu kota? Kenapa mereka berada di kawasan pinggir kota di sektor timur?' tanya Zen dalam hati.


'Ini sudah sangat melenceng dari alur yang tertulis di buku!' lanjut Zen lalu menatap kearah orang tua ganas di hadapannya.


'Terlebih lagi kenapa harus Jin Volgt? Tidak bisakah Ken saja yang turun dari sana?' kesal Zen dengan sangat parah.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Zen mengulangi kembali pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.


Jin yang mendengar itu hanya menampilkan senyum ramahnya sebelum menjawab.


"Bukankah saya sudah mengatakan tujuan saya sebelumnya?" tanya Jin yang jujur membuat Zen merinding pelan saat melihat senyum ramahnya.


'Sangat tidak cocok untuk pembunuh sepertinya, kurasa senyum menjengkelkan milik Max lebih baik dari senyum ramahnya itu!' batin Zen sambil menurunkan pistolnya dan tersenyum sinis kearah orang tua itu.


"Hah! Aku tidak yakin jika pelayan sepertimu ingin berbicara denganku, kurasa itu adalah perintah atasanmu itu, jadi bilang lah kepada atasanmu itu, jika dia ingin berbicara denganku maka keluarlah!" ujar Zen dengan nada penuh sakrasme.


"Heh, dia memanggilmu, kak," ujar Kim dengan sinis.


"Kamu melepas ear plug mu?" tanya Ken dengan tajam.


"Tidak, dari mana kamu berpikir jika aku melepasnya?" tanya Kim dengan tidak mengerti.


"Lalu dari mana kamu bisa mengetahui apa yang dia bicarakan?" tanya Ken dengan curiga karena helikopter ini menggunakan kaca kedap suara.


'Jika dia tidak melepas ear plug nya bagaimana dia bisa mengetahui pembicaraan mereka?' batin Ken dengan bingung.


"Aku membaca gerak bibirnya, jangan asal menuduhku sembarangan," ujar Kim lalu menutup matanya setelah menghembuskan nafas yang terdengar sedikit berat.


Ken yang mendengar itu mengerutkan keningnya lalu menyentuh kening adiknya dengan pelan.


"Kamu sakit?" tanya Ken dengan nada sedikit khawatir.


"Tidak, mataku hanya sedikit berat, mungkin karena aku melewatkan jam tidur siang ku," ujar Kim dengan pelan yang dibalas dengan helaan nafas dari Ken.


Ken yang mendapat balasan langsung mengalihkan kembali tatapannya kearah kedua orang yang sedang adu bicara itu sebelum matanya melebar saat melihat satu orang yang tidak asing di dalam informasi otaknya.


'Ah, aku ingat sekarang, dia adalah Max Foerster, anak haram dari keluarga Tolz,' batin Ken lalu terkekeh pelan.


Dengan gerakan singkatnya kini Ken lepaskan jas panjang yang dipakainya dan meletakkannya di tubuh sang adik sebagai selimut dadakan lalu mengambil kacamata bingkai emasnya dan melangkah keluar dengan langkah santai.


"Wah, mari kita lihat disini, suatu kebetulan bisa bertemu dengan Max Foerster di kota pinggiran ini," ujar Ken dengan tiba-tiba yang mengalihkan atensi tiga laki-laki dewasa dan dua anak kecil itu.


Max yang mendengar orang tersebut memanggil nama lengkapnya mulai mengerutkan keningnya lalu menatap Ken dengan tajam.


"Ah, pemimpin Aenass Company saat ini, Ken Aenass, ada keperluan apa sehingga membuat bos perusahaan besar datang ke kota pinggiran ini?" tanya Max dengan sinis yang membuat senyum Ken mengembang dengan manis di wajahnya.


"Senang saat seseorang mengenal namaku tapi kamu tidak bisa menyebutku dengan sebutan bos besar lagi di dunia yang sudah hancur ini, Max," ujar Ken dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.


Max yang mendengar itu mendengus pelan tapi tidak meruntuhkan senyum sinis andalannya.


"Yah, kalau begitu aku akan memanggilmu dengan sebutan Ken saja tidak apa bukan?" tanya Max dengan raut wajah menjengkelkannya yang sepertinya sukses membuat Ken sedikit kesal.


Zen yang mendengar perdebatan kecil mereka mau tidak mau bertepuk tangan dengan heboh di dalam hatinya untuk apresiasi terhadap mulut sarkas milik Max.


'Wow, kurasa tidak akan ada yang bisa lepas dari sasaran mulut sadisnya Max,' batin Zen dengan sedikit rasa kagum?


"Jika aku tidak salah aku denganmu berbeda beberapa bulan bukan?" tanya Ken dengan senyuman kesal di wajahnya.


"Lalu kenapa? Haruskah aku memanggilmu kakak? Maaf saja aku hanya memiliki satu kakak," ujar Max.


"Ah, apa itu kakak tiri?" tanya Ken memulai provokasi kembali.


"Iya, apa ada masalah tuan Ken?" tanya Max dengan tenang dan tidak terpancing oleh provokasi Ken.


'Seperti yang diharapkan dari tukang provokasi, tidak mungkin dia akan tersulut hanya dengan provokasi ringan seperti itu!' batin Zen entah bertujuan memuji atau mengejek Max.


Ken yang melihat jika provokasinya tidak diambil hanya bisa menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Baik hentikan ini, lagipula dari awal aku tidak memiliki tujuan untuk berbicara denganmu, yang ingin aku ajak bicara adalah dia," ujar Ken sambil menunjuk kearah Zen.


Max yang melihat itu maju selangkah untuk menutupi tubuh Zen di belakangnya.


"Memangnya urusan apa yang ingin kau bahas sampai harus menyertakan pemuda biasa di belakangku ini?" tanya Max.


"Apa aku berkewajiban untuk memberitahumu?" tanya Ken dengan kesal.


"Tentu saja karena orang di belakang mu ini memiliki suatu janji hidup dan mati denganku," ujar Max dengan senyum menyebalkan nya.


'Huh? Sejak kapan janji itu dibuat dan mengapa aku tidak tahu hal itu?' batin Zen bertanya dengan bingung.


Ken yang mendengar jika dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Zen hanya bisa menghela nafas kesal lalu melepas kacamata bingkai emasnya dengan ringan.


"Baiklah jika kamu tidak mengijinkan ku untuk berbicara 4 mata dengannya maka aku akan mengatakannya dengan kalian semua mendengarkan di sini," ujar Ken lalu kembali membuka mulutnya untuk berbicara sebelum di sela kembali oleh Zen.


"Maaf menyela tapi aku tidak berminat untuk mendengarkan pembicaraan ini. Apa anda tidak melihat pukul berapa sekarang? Ini hampir tengah malam dan sudah waktunya untuk tidur," ujar Zen dengan kesal yang membuat Ken terdiam dengan raut wajah aneh.


"Apa anda tidak mengetahui jika manusia harus memiliki tidur selama 8 jam penuh untuk kualitas tidur yang baik? Jika aku mendengarkan ucapan mu itu hanya akan membuat waktu tidurku berkurang," jelas Zen dengan ekspresi yang sangat amat terganggu.


"Tapi-" ucapan Ken kembali terhenti oleh ucapan Zen.


"Ya, ya, aku tahu jika pembicaraan ini menurutmu penting, tapi menurutku, waktu tidurku lah yang lebih penting dari segalanya, mari kita lanjutkan pembicaraan ini besok pagi setelah aku tidur selama delapan jam penuh!" ujar Zen dengan final yang membuat Ken terdiam kembali.


"Terlebih lagi, tidak lihat kah anda jika ada anak di bawah umur di sini? Mereka juga perlu waktu tidur!" ujar Zen sambil menunjuk Leo dan Lin yang kini memalingkan mukanya kearah manapun asal tidak bertatapan dengan mata Ken dan Zen.


"Jadi mari kita lanjutkan esok pagi dan aku akan berbicara denganmu," ujar Zen yang membuat Ken mengangguk dengan pelan.


Zen yang melihat Ken mengangguk tersenyum puas dan membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi sebelum harus membalikkan tubuhnya kembali untuk mengucapkan beberapa kata kembali.


"Ah, satu lagi. Tolong rapihkan tenda kami yang harus terbang karena angin yang diciptakan helikopter mu itu," ujar Zen kepada Ken yang membuat kening Ken sedikit berkerut.


"Apa yang kamu-"


"Jika kamu tidak merapihkan itu maka tidak perlu adakan pembicaraan denganku," ujar Zen dengan datar yang dibalas dengan dengusan pelan oleh Ken.


"Jin, tolong lakukan apa yang dia katakan," ujar Ken yang di angguki dengan baik dan berjalan untuk merapihkan itu sesingkat mungkin.


Zen yang melihat betapa cekatannya Jin mengurus hal berantakan itu mau tidak mau berbatin dengan sedih.


'Kapan aku memiliki pelayan seperti itu?'


Setelah kurang lebih sepuluh menit, Jin kembali dan membungkuk hormat kepada Ken.


"Saya sudah melakukan apa yang anda perintahkan, tuan muda," ujar Jin.


"Jadi, apa kamu puas?" ujar Ken dengan nada suara kesal.


"Iya! Ini lebih dari bagus! Kurasa aku akan memberikan bintang lima kepada pelayanmu itu! Jadi ayo anak-anak, saatnya tidur, sangat tidak baik untuk kalian tidur larut malam," ujar Zen dengan senyuman dan background bunga di sekitarnya sambil mendorong Leo dan Lin menuju tenda.


Ken yang melihat itu hanya bisa terdiam pelan sebelum mengalihkan pandangannya kearah Max yang masih setia menggelengkan kepalanya.


"Apa dia biasanya seperti itu?" tanya Ken dengan tidak yakin kepada Max.


"Hah, kau akan terbiasa jika berada dengannya selama satu hari," jawab Max dengan ramah yang sepertinya mulai melupakan pertengkaran mereka sebelumnya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2