Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(64) Tentara?|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


'Aku berharap, ada seseorang yang akan bersedia untuk menolongku dari kejaran mahkluk menjijikan itu di luar sana,' batin perempuan itu sebelum kegelapan menemuinya.


...| (❁❁) |...


"Yup, kita sampai!" ujar Mia lalu menyibak jalan yang tertutup pepohonan untuk yang terakhir kalinya hingga menampilkan dataran luas dengan suara desiran ombak yang terdengar di telinga mereka.


"Wow, tempat ini tetap saja menakjubkan berapa kali pun aku melihatnya," ujar Neo sambil melihat sekelilingnya,


"Memangnya kamu sudah pernah kesini?" tanya Mia yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Neo.


"Yah, walaupun itu hanya sekali tapi tetap saja itu merupakan memori yang berbekas di ingatanku," ujar Neo.


"Aha, pasti kamu kesini saat kunjungan peningkatkan industri lokal yang dilakukan oleh pemerintah," ujar Mia yang membuat Neo menatapnya dengan kesal.


"Lebih tepatnya meningkatkan sumber industri lokal di dalam bidang kemaritiman," ujar Neo dengan ketus yang hanya dibalas tawa singkat oleh Mia.


"Hentikan pembahasan kalian dan Neo apa kamu mengetahui tempat penginapan di sekitar sini?" tanya Fin setelah selesai mengamati sekitar.


"Yah, ada satu di sekitar sini, ayo kita berjalan sebentar ke sana dan kalian akan menemukan penginapan yang lumayan luas," ujar Neo sambil menunjuk kearah yang dihafalnya lalu mengambil alih tugas pemandu dari Mia.


"Akhirnya kita bisa beristirahat! Aku ingin mandi air panas jika di sana memungkinkan," ujar Mia sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Kurasa kamu bisa melakukan itu di penginapan, Mia," ujar Fin dengan santai.


"Benarkah? Yah sebenarnya aku tidak terlalu berharap lebih mengenai air panas, tapi jika bisa aku juga ingin menikmati itu untuk sekarang," ujar Mia.


"Tentu saja bisa, lagipula mesin pemanas di penginapan itu pasti bekerja, hanya saja aku sedikit tidak yakin mengenai kebersihannya," lanjut Fin yang membuat Mia mengangguk pelan.


"Kurasa kamu benar, tempat ini adalah destinasi wisata, sudah pasti banyak sekali pengunjung yang datang," ujar Mia lalu menatap ringan kedepannya.


"Yah, kamu harus menunda sebentar mengenai pemandian air panas mu,"  ujar Fin lalu menurunkan tas berat yang sedari tadi dibawanya ke tanah dan mengeluarkan kembali pisau bedah yang di simpan di saku celananya.


"Eiyy, berbicara tentang air panas, aku lebih memikirkan mengenai tema makan malam kita nanti," ujar Neo melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Fin.


"Bagaimana dengan zombie bakar? Oh, atau kau ingin zombie goreng?" tanya Mia dengan bergurau yang mendapatkan tatapan menjijikan dari Neo.


"Itu menjijikan Mia, aku lebih menyukai daging bakar ataupun daging goreng," ujar Neo menolak mentah-mentah usulan dari Mia.


"Baiklah kurasa kita akan makan daging malam ini, tentunya setelah membereskan lawan didepan kita saat ini," ujar Fin yang membuat Neo tersenyum dengan senang.


"Aha! Kamu memang yang terbaik mengenai ini Fin!" ujar Neo lalu bergegas menuju depan dengan pisau bedah yang terangkat menuju leher para zombie yang menghalangi jalan mereka.


"Zombie yang cukup banyak, bagaimana jika kita bertaruh? Yang membunuh lebih banyak zombie maka dia bisa memakan lebih banyak daging yang dibuat oleh Fin," ujar Mia lalu bergabung dengan Neo yang sudah membunuh lima zombie di depan.


"Hahaha, aku terima itu!" ujar Neo sambil tertawa singkat tanpa menurunkan rasa fokusnya.


"Bagaimana jika kita ubah sedikit taruhannya? Yang membunuh lebih banyak zombie maka orang yang kalah lah yang akan mencari daging bersih untuk makan malam kita," ujar Fin ikut bertaruh dengan mereka.


"Hanya mencari? Aku bisa melakukan itu dengan mudah," ujar Neo.


"Tentu saja kamu juga harus memasaknya Neo," ujar Fin setelah menumbangkan empat zombie dihadapannya.

__ADS_1


"Hoo, kamu ingin membuatku sakit perut di tengah malam, Fin?" tanya Mia dengan tidak percaya.


"Aku akan percaya diri mengenai pencarian bahan makanan, tapi untuk memasak akan lebih baik aku memakan makanan mentah dibandingkan aku yang memasak," ujar Neo dengan jujur yang mengundang tawa pelan dari Fin.


"Baiklah, aku akan tetap memasak, lagipula aku juga ingin bertahan hidup lebih lama," ujar Fin dengan nada jenaka.


"Setidaknya masakan ku lebih layak untuk dimakan daripada masakannya Neo," gumam Mia yang dibalas dengan seruan kesal dari Neo.


"Aku masih bisa mendengar gumaman mu itu, Mia!" ujar Neo yang dibalas dengan senyum geli dari Mia.


Dengan kecepatan serta kerja sama tim mereka yang bagus, segerombolan zombie itu berhasil dikalahkan dalam waktu singkat.


"Aku membunuh 9 zombie!" ujar Mia dengan senang yang dibalas dengan senyum mengejek dari Neo.


"Aha, kau kalah Mia! Aku membunuh 2 zombie lebih banyak darimu," ujar Neo yang dibalas dengan dengusan oleh Mia.


"Kanu memulai lebih dulu, tentu saja kamu mendapatkan lebih banyak!" protes Mia yang membuat Neo mengangkat bahunya dengan acuh.


"Berapa zombie yang kamu bunuh, Fin?" tanya Mia beralih kearah Fin yang masih santai mengambil pisau bedah miliknya yang bersarang di leher salah satu zombie.


"Entahlah, aku berhenti berhitung di hitungan ke dua belas," ujar Fin yang membuat Mia menatapnya dengan tidak percaya dan berbalik menghitung total zombie yang terjatuh di sekitar mereka.


"Tiga puluh dua, tiga puluh tiga, dan tiga puluh empat. Wow kau membunuh empat belas zombie," ujar Mia dengan takjub.


"Kenapa kamu berekspresi seperti itu? Itu adalah hal yang wajar untuknya, bahkan aku tidak akan terkejut jika dia bisa membantai tiga puluh zombie dalam waktu lima belas menit," ujar Neo yang mendapat gelengan tidak setuju oleh Fin.


"Kamu tidak bisa menggambarkan ku dengan berlebihan seperti itu Neo."


"Ya, ya, ya, baiklah tuan merendah, aku tidak akan menggambarkan dirimu secara berlebihan lagi," ujar Neo dengan acuh.


"Terserah kau saja, bagaimana jika kita lanjutkan perjalanan kita?" tanya Fin yang di angguki oleh keduanya sebelum satu buah peluru tiba-tiba saja melesat kearah Fin yang berhasil membuat goresan kecil di pipi mulus miliknya.


Neo yang melihat itu, bergegas menuju kearah Fin dan berdiri dihadapannya seolah-olah membuat benteng untuk melindungi Fin yang berada di belakangnya.


"Keluarlah, jika kau tidak ingin aku yang memaksa mu untuk keluar," ujar Fin sambil mengelap darah yang keluar dari luka yang berada di pipinya itu.


"Aku tidak menyangka jika zombie bisa dibunuh dengan begitu mudah oleh tiga orang remaja yang bahkan hanya memakai senjata rusak seperti itu," ujar seorang pria sambil berjalan kearah mereka.


Sepatu bot berwarna hitam yang sudah ternoda lumpur disertai dengan seragam kamuflase berwarna hijau army serta rompi anti peluru yang dipakainya diluar seragam kamuflase itu.


"Tentara," gumam Mia dengan pelan sambil mengeratkan cengkraman di pisau lipatnya.


"Siapa kalian?" tanya laki-laki berbaju tentara itu dengan pistol yang terangkat kearah mereka.


...----------------...


"Apa ini benar-benar toko buku?" tanya Max dengan ragu sambil melihat kearah gedung kecil didepannya.


"Tentu saja itu toko buku, memangnya apa yang kamu lihat sehingga menganggap ini bukanlah toko buku?" tanya Zen dengan aneh.


"Jelas-jelas nama yang terpasang di depan pintu itu adalah Book Stories, apa kau tidak pernah belajar bahasa inggris?" lanjut Zen yang membuat Max memukul kepalanya dengan kesal.


"Ack! Kenapa kau memukul kepalaku?!" tanya Zen dengan kesal.


"Untuk membenarkan letak otakmu itu! Tentu saja karena aku kesal!" ujar Max lalu berjalan masuk menuju gedung yang diyakini sebagai toko buku.


"Ck, memangnya apa salahnya dari kalimat yang aku ucapkan?" gumam Zen lalu berjalan masuk menyusul Max.


"Wow, ini benar-benar toko buku," ujar Max sambil mengambil salah satu buku yang berada di dalam jangkauannya.


"Tentu saja! Memangnya hal apa yang kamu lihat sehingga tidak mempercayai jika ini adalah toko buku?" tanya Zen mengulangi kembali pertanyaannya.

__ADS_1


"Banyak, dimulai dari tempat yang kurang strategis untuk mendirikan toko buku. Orang mana yang akan membaca buku jika toko bukunya saja terletak di dekat pemakaman?" tanya Max dengan aneh.


"Yah, aku tidak bisa menyangkal bagian itu, aku juga tidak tahu kenapa pemiliknya mendirikan toko ini di tempat seperti ini," ujar Zen lalu berjalan menuju tempat rak cerita anak.


"Mungkin pemiliknya membuka toko ini sebagai tempat membaca untuk para hantu?" lanjut Zen dengan jenaka yang dibalas dengan dengusan keras oleh Max.


"Kamu kira aku akan percaya dengan lelucon kekanak-kanakan seperti itu?" tanya Max yang mengundang gelak tawa dari Zen.


"Yah, siapa yang tahu jika hantu masih ada di zaman yang sudah hancur ini?"


"Daripada membahas hantu, lebih baik kamu mewaspadai sekitarmu, siapa tahu masih ada zombie di dekat sini," ujar Max.


"Tidak ada zombie di sekitar sini, aku bisa menjaminnya 99%!" ucap Zen.


'Tentu saja aku bisa yakin seperti ini karena aku percaya dengan mataku!' batin Zen dengan percaya diri.


"Kamu tahu, kanu terlalu percaya diri, memangnya kamu mempunyai kemampuan super seperti memprediksi jumlah zombie di sekitarmu?" tanya Max dengan geli.


"Yah, kamu bisa menganggapnya seperti itu," ujar Zen yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Max.


"Oho, setelah kemampuan memprediksi masa depan, kamu juga bisa memprediksi jumlah zombie?" tanya Max tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang berada ditangannya.


"Aku tahu kanu tidak percaya, tapi setidaknya jangan memasang intonasi suara yang seakan-akan kamu percaya dengan ucapan ku," ujar Zen yang  membuat Max tertawa dengan keras.


"Padahal aku sedang mengapresiasi kemampuanmu, lho," ujar Max.


"Aku tidak butuh apresiasi palsu mu," ujar Zen yang kembali mengundang tawa Max.


"Hatiku sedikit sakit karena kamu tidak percaya kepadaku," ujar Max dengan berlebihan.


"Daripada kamu berbicara tidak jelas seperti itu, lebih baik bantu aku untuk memindahkan buku cerita yang sudah ku pisahkan ini," ucap Zen yang membuat Max bergegas menuju ke tempatnya.


"Baik-baik aku ke sa-"


"Max? Dimana kamu? Cepatlah kemari!!" ujar Zen dengan keras disertai dengan kedua tangannya yang sedang membawa banyak buku berisikan cerita anak serta novel yang menarik.


"Hei, Zen kemari lah sebentar," ujar Max yang membuat kening Zen mengerut ringan.


"Aku yang menyuruhmu untuk menghampiriku, kenapa jadi aku yang menghampirimu sekarang?" gerutu Zen dengan ringan tetapi tetap mengikuti perkataan Max.


"Jadi, ada apa?" tanya Zen sambil menatap Max yang berdiri dihadapannya dengan dua tangan penuh buku yang sudah dipilihnya.


"Lihat apa yang aku temukan disini," ujar Max lalu menggeser pelan tubuhnya hingga membuat Zen melihat perempuan seumuran mereka dengan rambut hitam pendek selehernya.


"Hah, kebetulan yang menyebalkan," ujar Zen lalu melirik singkat kearah wanita yang sangat dikenalnya.


'Siapa sangka aku akan bertemu dengan Lia Amerston di toko buku terpencil seperti ini?' batin Zen dengan pelan sambil memperhatikan secara menyeluruh mengenai kondisi wanita didepannya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2