Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(35) Kelompok menjengkelkan|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


Bukankah sudah kubilang? Zombie adalah predator yang sedang mencari mangsa. Untuk apa mereka datang ke sebuah lorong yang jelas-jelas tidak terdapat mangsa mereka di sana?


Hanya masalah waktu saja sebelum lorong gelap tadi dipenuhi oleh zombie dan hanya masalah waktu agar mereka semua berubah menjadi segerombolan zombie itu.


...| (❁❁) |...


“Bagaimana caramu untuk menghadapi mereka semua?" tanya Zen sambil menatap Max yang sedang mengintip di balik dinding lorong.


“Hanya ada beberapa zombie di sana, kurasa kita bisa menghadapi mereka semua hanya berdua saja,” balas Max.


“Lalu bagaimana dengan selanjutnya? Apa kamu yakin kita bisa menghadapinya?” tanya Zen.


“Untuk selanjutnya kurasa tidak perlu, lagipula aku yakin jalan yang akan ku ambil ini tidak akan memiliki satu zombie pun di sana,” jawab Max dengan yakin.


“Yang harus kita lakukan adalah menghentikan kelima zombie itu dan berlari dengan cepat menuju dinding itu,” tunjuk Max yang membuat kening Zen berkerut.


“Kamu ingin aku memanjat dinding itu?” tanya Zen.


“Yah. Bukankah sudah kubilang jika aku tahu jalan pintas menuju tempat parkir belakang? Dinding itulah jalan pintasnya,” ucap Max.


“Percayalah kepadaku, lagipula aku juga sering mengunakan jalan itu, bukan sekali dua kali ini untuk membolos pelajaran,” lanjut Max yang membuat Zen mengangguk pelan.


“Lalu sekarang beritahu aku bagaimana caranya mengalahkan para mayat hidup itu?” tanya Max.


“Caranya sangat mudah, kamu hanya perlu menghancurkan otaknya atau cara singkatnya adalah memukul kepala mereka hingga mencapai bagian otaknya,” jawab Zen.


“Bukankah itu sedikit sulit? Untuk menembus otak manusia maka kita harus menghancurkan tengkorak kepalanya terlebih dahulu, bagaimana cara menghancurkan tengkorak kepala manusia yang keras itu?” tanya Max dengan bingung.


“Bukankah jawabannya sudah jelas? Tentu saja dengan mengunakan kekuatan murni,” jawab Zen.


“Bukankah kamu sangat percaya diri dengan kekuatanmu itu?” lanjut Zen yang membuat Max mendengus pelan.


“Tentu saja aku percaya diri, tapi itu akan sangat membuang waktu serta tenagaku, apa tidak ada cara yang lebih mudah dan singkat?” tanya Max yang membuat Zen menggeleng pelan.


“Cara yang ku beritahu itu adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan saat ini,” jelas Zen yang membuat Max mengangkat satu alisnya.


"Saat ini? Berarti ada beberapa kemungkinan cara lainnya untuk menghadapi mereka tetapi masih belum bisa kita lakukan untuk saat ini?" Tanya Max yang membuat Zen mengangguk pelan.


"Itu benar. Untuk saat ini kita hanya bisa melakukan hal tadi," jawab Zen yang membuat Max mengangguk pelan.

__ADS_1


“Apa kamu ingin mendengarkan teori mengenai mereka?” tawar Zen kepada Max.


“Jika teori mu itu berakhir dalam waktu lima menit, maka aku akan mendengarkannya dengan senang hati, tapi jika tidak, maka tidak perlu repot untuk membuang waktu kita," jawab Max.


“Tidak perlu lima menit, tiga menit juga sudah cukup untukku menjelaskannya,” ucap Zen.


“Mayat hidup itu bisa bergerak walaupun jantung milik mereka sudah tidak berdetak karena mereka menyerap sebuah energi aneh sebagai pengganti oksigen. Semua energi aneh yang dikumpulkan itu di simpan di dalam otak mereka, karena seperti yang sudah kukatakan, jantung mereka itu sudah tidak berfungsi, otomatis yang menjadi penggerak mereka adalah semua saraf yang berada di otak mereka.”


“Bisa dibilang jika otak mereka adalah oksigen dan energi aneh itu adalah jantung mereka, jadi sistem mayat hidup itu berkebalikan dengan manusia. Jika sistem manusia adalah oksigen yang bergerak menuju jantung maka sistem milik zombie adalah jantung yang menuju oksigen,” jelas Zen dengan singkat dengan mengunakan kalimat yang mudah untuk dipahami.


“Kurang lebih aku mengerti maksudmu, jadi untuk menghentikan zombie itu adalah dengan menghentikan energi aneh itu mengalir ke otak mereka. Tapi untuk kita yang tidak bisa melihat energi aneh itu hanya bisa menggunakan cara yang terkesan gampang, yaitu dengan menghancurkan tempat penyimpanan energi aneh itu maka energi itu juga akan hancur, bukan begitu?” tanya Max yang di angguki oleh Zen.


“Jika kita ingin membunuh manusia maka kita harus melukai jantungnya tetapi sebaliknya jika kita ingin membunuh zombie maka kita harus menghancurkan energi aneh itu atau otaknya,” jelas Zen.


“Baiklah aku sudah mengerti sekarang. Ayo kita bereskan kelima zombie itu, kamu urus dua diantara mereka dan aku akan mengurus sisanya,” jelas Max.


“Baiklah, serahkan dua zombie itu kepadaku,” ucap Zen lalu berjalan dengan cepat menuju kedua zombie itu sambil mengangkat tongkat besinya bersiap untuk memukul kepala mereka dengan keras.


Max juga dengan cekatan langsung melayangkan pukulan di kepala zombie itu mengunakan baton stik miliknya dan mengayunkannya dengan kekuatan penuh.


Dengan sekali percobaan kepala zombie itu sudah mengeluarkan sebuah cairan berwarna hitam yang bisa kalian yakini sebagai darah zombie itu.


Tanpa menunggu reaksi dari zombie itu, kini tangannya kembali terangkat untuk mendaratkan satu pukulan lagi di kepala zombie yang mana langsung membuat baton stik ditangannya menancap dengan indah di kepala zombie itu dan langsung menembus otaknya.


“Ukhh, walaupun aku mencuri baton stik ini setidaknya aku tidak pernah membuat tongkat ini dipenuhi dengan darah berwarna hitam serta bau yang menjijikan seperti ini,” ucap Max dengan kening berkerut jijik.


“Max, jangan kehilangan fokus mu!” seru Zen saat melihat jika Max tiba-tiba saja terdiam ditengah kepungan dua zombie lainnya.


Tak terasa waktu berlalu menjadi tujuh menit kemudian. Wajah keduanya sudah sangat berantakan dengan kedua tongkat yang dipegang kedua anak itu penuh dengan darah berwarna hitam serta baju putih mereka yang sudah terkena beberapa bercak darah berwarna hitam.


“Aku sudah menyelesaikan bagian ku,” ucap Zen sambil menghampiri Max.


“Aku tahu itu, aku juga sudah menyelesaikan bagian ku disini,” jelas Max sambil menunjuk kearah tiga mayat untuk kedua kalinya karena harus mengalami lubang di kepala mereka akibat benturan yang dibuat baton stik yang diayunkan oleh Max dengan sepenuh tenaga.


Kini nasib baton stik itu sudah tidak dapat dikatakan baik kembali dengan bentuknya yang memiliki beberapa bagian yang membengkok serta berlumuran dengan darah berwarna hitam yang kini sudah mengering dan menempel di baton stiknya itu.


“Hahh, kalau begitu kita harus mencari senjata yang cocok untukmu dalam perjalanan menuju rumahku nanti,” ucap Zen yang membuat Max menghela nafas pelan sambil menggeleng pelan.


“Tidak perlu, lagipula aku memiliki satu lemari full yang berisikan senjata di dalamnya,” ujar Max yang membuat Zen menatapnya dengan tatapan berbinar.


“Apa kamu ingin mengambilnya?” tanya Zen dengan semangat yang dibalas kembali dengan gelengan pelan oleh Max.


“Tidak, terlebih lagi lemari yang ku maksud itu berada di sektor A, apa kamu ingin mengambil resiko mempertaruhkan nyawamu untuk ke sana hanya demi sebuah senjata?” tanya Max yang tentu saja membuat Zen menggelengkan kepalanya dengan keras.


“Lalu bagaimana dengan senjata mu?”


“Aku masih memiliki satu lagi di tasku,” ucap Max sambil mengambil satu baton stik lagi dari tasnya.


“Wah, sepertinya kamu benar-benar berandalan sejati ya?” tanya Zen dengan geli sambil melihat baton stik ditangan Max yang kini sedang menyeringai dengan wajah menyeramkan, sangat cocok dengan citranya yang seorang berandalan.

__ADS_1


“Hentikan itu, lagipula ini salah pihak sekolah yang tidak menyadari keberadaan senjataku, padahal setiap aku datang ke sekolah aku selalu membawanya,” ujar Max yang membuat Zen mendengus kasar.


‘Orang waras mana yang ingin memeriksa tas anak pejabat? Jika mereka melakukan itu sudah pasti lisensi mereka sebagai guru akan di cabut,’ batin Zen penuh cibiran.


“Ayo segera panjat dinding ini agar kita bisa segera pergi menuju tempat parkir area belakang,” jelas Max yang ditanggapi oleh Zen dengan memanjat tembok itu terlebih dahulu.


“Aku sudah mendarat! Sekarang giliran mu!” teriak Zen dari balik dinding yang membuat Max mulai memanjat tembok itu.


“AKHHHH!” teriak seseorang dengan sangat keras yang membuat Max sedikit tersentak saat sudah berada di atas tembok.


“Siapa?” tanya Zen kepada Max.


“Entahlah, tapi kalau mataku tidak salah, teriakkan itu berasal dari seorang wanita berambut pendek dari kelompok yang tadi kita temui,” jelas Max saat melihat sesosok wanita berambut hitam pendek yang membuat kening Zen berkerut.


“Kenapa dia berteriak dengan keras seperti itu?” tanya Zen yang membuat Max memicingkan matanya.


“Akhh, sialan!” maki Max lalu segera mendarat dan bergegas menarik Zen menuju jalan yang sudah sangat dihafalnya itu.


“Hei! Kamu belum menjawab pertanyaan ku!” seru Zen tapi tetap mengikuti langkah kaki Max.


“Kelompok bodoh itu membawa segerombolan mayat hidup menuju arah sini,” jelas Max.


“Lalu bagaimana?” tanya Zen dengan sedikit khawatir ingat hanya sedikit.


Zen bukanlah orang yang memiliki hati yang baik untuk membantu seseorang yang berada dalam kesulitan, jika dia bisa memilih lebih baik orang lain saja yang mengalaminya dan bukan dia.


“Sepertinya tidak lama lagi mereka akan segera menyusul kita,” jelas Max sambil berpikir sejenak.


“Apa zombie bisa memanjat?” tanya Max setelah berpikir sebentar.


“Aku tidak yakin tetapi zombie adalah makhluk yang cepat beradaptasi dan mereka tidak bisa merasakan rasa sakit, bukankah kamu sudah melihatnya dari kejadian tempat sampah dan pot tumbuhan itu?” ucap Zen yang membuat Max terdiam dan mulai mengingat kembali kejadian dimana para zombie itu tetap menerobos walaupun kaki mereka sudah mulai mengeluarkan darah berwarna hitam seolah tidak merasakan sakit sama sekali


“Jika itu benar maka perkiraan waktu yang dibutuhkan sekitar 10 menit untuk para zombie itu menyusul kita,” ucap Max yang di angguki oleh Zen.


“Ditambah bukan hanya zombie saja yang menjadi masalah kita,” ucap Zen dengan pelan saat mendengar bunyi sesuatu mendarat di belakangnya.


“Kamu benar, sialan padahal aku tidak ingin berurusan dengan kelompok bodoh seperti mereka. Mereka pasti akan sangat merepotkan,” ucap Max sambil melihat kearah seorang wanita dengan rambut hitam seleher yang berhasil mendarat pertama kali di sana lalu disusul dengan seseorang yang disebut ketua oleh mereka yang kini sudah berada di atas tembok dan bersiap untuk meloncat turun.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2