
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Dasar, tidak bisakah dia berhenti membanggakan dirinya itu?" gumam Fin sambil bergerak untuk membunuh para zombie itu.
...| (❁❁) |...
"Tunggu, maksudmu kita juga bisa berevolusi?" tanya Max dengan tidak pasti.
"Iya, memangnya tidak bisa? Atau tidak boleh?" tanya Zen kembali.
"Tapi bagaimana bisa?!" tanya Max dengan tidak percaya.
"Tentu saja karena energi yang sebelumnya ku jelaskan," ucap Zen yang membuat Max mengigat kembali apa yang diucapkan Zen sebelumnya.
"Energi pengganti jantung manusia dalam tubuh zombie?" tanya Max yang dibalas anggukan oleh Zen.
"Kenapa manusia bisa menggunakan energi itu? Bukankah itu hanya bisa digunakan oleh zombie?"
"Tentu saja karena perubahan yang perlahan terjadi di bumi. Dalam waktu 1 bulan, energi itu akan tersebar dengan luas di bumi," jelas Zen sambil mengingat kembali terjadinya kiamat kedua.
"Hahaha, ini sangat sulit dipercaya. Lalu apa yang akan berevolusi? Apa manusia akan memiliki kekuatan super nantinya?" ucap Max dengan bercanda.
"Kurasa kamu bisa menganggapnya seperti itu," ucap Zen yang membuat Max menatapnya tidak percaya.
"Wow, apa manusia akan memiliki kekuatan super seperti mengendalikan air, tanah, angin atau api?!" tanya Lin dengan bersemangat sambil mengingat film kartun yang pernah ditontonnya.
"Bukan hanya itu saja! Bahkan mungkin ada yang bisa mengendalikan tumbuhan, kabut atau kekuatan super lainnya," jelas Zen yang membuat Lin berseru kagum.
"Tapi apakah ada sesuatu yang harus dilakukan untuk mendapatkan kekuatan itu? Maksudku para zombie mendapatkan kekuatan karena memang mereka memerlukan energi itu tapi bagaimana dengan manusia?" tanya Leo tiba-tiba dengan nada cemas.
"Itu benar, bagaimana dengan efek samping dari kekuatan yang didapat?" tanya Max yang setuju dengan Leo.
"Efek samping? Tentu saja tidak ada!" jawab Zen dengan ceria.
"Hanya saja kamu akan mengalami rasa sakit saat menerima kekuatan itu," lanjut Zen yang membuat kedua orang itu terdiam.
"Rasa sakit seperti apa?" tanya Lin penasaran.
"Tidak berbeda jauh dengan rasa sakit yang akan membuatmu menjadi zombie, hanya saja kamu tidak akan berubah menjadi zombie di sini melainkan mendapatkan sebuah kekuatan sebagai gantinya," ucap Zen.
"Apa kita tidak bisa menolaknya? Maksud ku kita tidak harus mendapatkan kekuatan itu bukan?" ucap Leo yang membuat Zen berpikir sejenak.
"Sebenarnya kalian tidak bisa menolak itu," ucap Zen yang membuat Lin bertanya.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena kalian memang tidak bisa menolaknya. Pada dasarnya setelah sebulan ini berlalu, energi yang digunakan oleh para zombie akan tersebar luas di bumi. Kalian bisa menganggap energi itu sebagai sesuatu yang mirip dengan oksigen."
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi jika energi itu menutupi seluruh bumi? Otomatis bumi akan mengalami perubahan walaupun kalian tidak bisa melihatnya dengan kedua mata kalian."
"Tetapi tubuh kalian akan lebih jujur terhadap perubahan itu dan mau tidak mau tubuh kalian akan beradaptasi dengan menyerap energi aneh itu masuk kedalam tubuh kalian," jelas Zen yang membuat Max membuka mulutnya.
"Itu artinya kekuatan yang kita dapatkan tergantung dengan jumlah energi yang masuk kedalam tubuh kita?" ucap Max yang di angguki oleh Zen.
"Seperti itu, hanya saja ada beberapa kategori disini. Kategori pertama seperti yang kamu bilang, jika energi itu cukup maka manusia akan berevolusi dan memiliki kekuatan seperti yang Lin sebutkan di atas. Utamanya adalah 5 kekuatan alam, seperti angin, api, air, tanah, dan tumbuhan tapi tidak jarang juga manusia akan membangkitkan kekuatan abstrak yang sesuai dengan kondisi tubuh mereka masing-masing," jelas Zen yang membuat ketiga kepala itu mengangguk.
"Kategori kedua adalah manusia yang tidak bisa menyerap sama sekali energi itu. Hal itu terjadi karena tubuh mereka menolak energi itu masuk kedalam tubuh ataupun memerlukan konsentrasi ekstra untuk membuat energi itu masuk kedalam tubuh. Dan jika kalian mengalami hal ini maka kalian tidak bisa membangkitkan kekuatan sama sekali," lanjut Zen yang membuat mereka terdiam.
"Jika kita tidak membangkitkan kekuatan sama sekali pada waktu itu apa kita tidak bisa bertahan hidup?" tanya Leo.
"Ya, mungkin ini kejam, tapi kita memang membutuhkan kekuatan yang lebih kuat dibandingkan nuklir untuk menghadapi para zombie yang sudah berevolusi nanti," ucap Zen yang di angguki oleh Leo.
"Bagaimana jika memang ada manusia yang tidak bisa membangkitkan kekuatan sama sekali nanti?" tanya Max yang membuat Zen tersenyum lebar.
"Itu akan masuk kedalam kategori ketiga! Kategori ketiga terjadi jika kalian tidak bisa membangkitkan kekuatan. Bisa dibilang ini adalah metode rahasia untuk menyerap energi itu kedalam tubuh kalian," ucap Zen.
"Kalau itu rahasia, apa tidak apa-apa jika itu diberitahu kepada kami?" tanya Lin dengan hati-hati.
"Tentu saja tidak apa, lagipula kalian akan menjadi anggota tim ku untuk kedepannya dalam bertahan hidup," jelas Zen yang membuat ketiganya menatap Zen dalam diam.
"Baiklah akan aku lanjutkan, metode ini bisa dilakukan, hanya saja tidak akan membuat kalian mendapatkan kekuatan super. Ini hanya akan membantu memperkuat tubuh kalian untuk lebih beradaptasi dalam dunia saat itu," jelas Zen yang membuat Max mengangguk pelan.
"Sudah kuduga, jadi bisa dibilang untuk mendapatkan kekuatan super itu maka kalian harus memiliki keberuntungan yang tinggi bukan?" ucap Max.
"Iya, tapi tidak juga. Hampir 90 persen manusia di saat itu akan membangkitkan sebuah kekuatan, hanya saja keberuntungan kalian akan digunakan dalam mendapatkan kekuatan yang bagus ataupun kekuatan yang tidak berguna," jelas Zen.
"Bagaimana dengan sisanya kak?" tanya Leo dengan penasaran.
Nostalgia mengenai dirinya yang harus menghadapi pahitnya dunia saat keberuntungan benar-benar tidak memihak kepadanya.
"Lalu kekuatan seperti apa yang akan kita dapatkan jika menggunakan metode ketiga itu? Apa sama saja dengan kekuatan yang kamu sebutkan?" tanya Max yang membuat Zen menggeleng pelan.
"Bukankah sudah kubilang itu hanya akan memperkuat tubuhmu, dengan kata lain kekuatan itu hanya berupa peningkatan kekuatan, kecepatan, indra ataupun yang lainnya yang berkaitan dengan tubuhmu," jelas Zen yang membuat Max mengangguk.
"Kalau begitu orang yang melakukan metode ketiga hanya akan meningkatkan beberapa persen dalam bertahan hidup di dunia ini," gumam Max dengan pelan.
"Tidak, kamu salah," ucap Zen dengan tiba-tiba yang membuat ketiga pasang mata itu menatapnya.
"Justru kekuatan ini akan sangat berguna dan membantu kita nantinya. Kamu bisa berpikir jika kita mendapatkan kekuatan super itu lalu apa? Apa tidak butuh pengendalian untuk menggunakannya? Tentu saja itu perlu lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan? 1 hari? 1 bulan? Atau 1 tahun? Bagaimana jika kita sama sekali tidak bisa mengendalikan itu?" tanya Zen yang membuat ketiganya terdiam.
"Anggap saja jika kita sudah bisa mengendalikan kekuatannya, tapi bagaimana jika tubuh kita tidak beresonansi dengan kekuatan itu? Walaupun kita memiliki kekuatan yang cukup, itu akan sia-sia saja jika kecepatan maupun indra tubuh kita tidak setara dengan kekuatan kita," jelas Zen panjang lebar.
"Kakak benar, jika kita tidak memiliki refleks tubuh yang bagus itu sama saja dengan bunuh diri walaupun kita memiliki kekuatan yang besar," gumam Leo yang di angguki oleh Lin.
"Tapi bukankah kita bisa menempa refleks tubuh kita seiring berjalannya waktu?" tanya Lin yang membuat Zen tersenyum tipis.
"Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan? Akankah kamu menjamin jika kita selamat saat melalu hal itu?" tanya Zen yang membuat Lin terdiam.
"Huh, kak Zen benar. Aku terlalu berpikiran sempit," ucap Lin yang dibalas dengan tawa kecil dari Zen.
"Yah, karena kamu mengatakan ini akan terjadi dalam waktu satu bulan kemudian, kurasa tidak perlu kita khawatirkan sekarang, jadi jelaskan rencana mu untuk hari esok," jelas Max yang membuat Zen mengangguk.
"Rencana ku sebenarnya sangat simpel, kita akan pergi jam 8 nanti malam untuk ke rumah sakit elit di kota ini," ucap Zen yang membuat Lin mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Apa itu rumah sakit yang terakhir kali kita datangi?" tanya Lin yang dibalas anggukan murah hati dari Zen.
"Iya, mengingat hanya itu satu-satunya rumah sakit elit yang dekat dengan apartment ku, kurasa aku tidak memiliki pilihan lain," jawab Zen.
"Untuk pergi ke rumah sakit itu memakan waktu hingga 30 menit, apa kakak yakin kita bisa pergi ke sana dengan selamat tanpa harus menghadapi para zombie itu?" tanya Leo dengan ragu.
"Kita tidak perlu menghadapi zombie itu, yang perlu kita lakukan hanyalah menabraknya sepanjang perjalanan," jelas Zen.
"Bagaimana saat kita tiba di rumah sakit? Kita harus berhadapan dengan para zombie yang berada di sana bukan?" tanya Lin.
"Ya, kita mau tidak mau harus menghadapi semua zombie itu. Bagaimanapun bahan yang kuinginkan berada di dalam rumah sakit dan bahan itu akan sangat berguna untuk kelangsungan bertahan hidup kita," jelas Zen.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan dengan bahan itu?" tanya Max dengan bingung.
"Aku ingin membuat racun," jelas Zen yang membuat Lin bertanya.
"Bisakah racun mempan terhadap zombie?" tanya Lin.
"Tentu saja bisa, jika tidak bisa aku tidak akan memikirkan hal ini," ucap Zen.
"Apa aku belum menjelaskan kenapa mayat hidup itu bisa bergerak kepada kalian berdua?" tanya Zen yang dibalas dengan gelengan kepala oleh kedua anak kecil itu.
"Sederhananya para zombie itu bergerak mengunakan saraf yang berada di otak mereka," jelas Zen.
"Tapi bukankah mayat hidup itu tidak memiliki jantung? bagaimana mayat hidup itu bisa bergerak jika tidak ada jantung yang memompa darah dan oksigen menuju ke otak?" tanya Leo.
"Apa kalian lupa dengan energi aneh itu? Singkatnya adalah energi aneh itu merupakan oksigen dan darah yang dibutuhkan oleh manusia, tetapi karena mereka tidak mempunyai jantung maka mereka langsung menyerap energi aneh itu untuk langsung menuju otak mereka," ucap Zen yang dibalas dengan anggukan mengerti oleh mereka berdua.
"Begitu, kurasa aku mengerti sekarang, tapi racun apa yang akan kakak gunakan? bukankah mereka tidak memiliki jantung?" tanya Lin yang membuat Zen tersenyum penuh perhitungan.
"Racun pelumpuh saraf," jelas Zen yang membuat kedua anak itu bergidik ngeri.
"Racun pelumpuh saraf? Apa itu racun VX?" tanya Max yang membuat Zen mengangguk pelan.
'Sebenarnya aku lebih ingin membuat racun Novichok, hanya saja aku tidak tahu bahan apa yang diperlukan, berbeda dengan racun VX yang penjelasannya terdapat di internet sehingga lebih mudah untuk membuatnya,' batin Zen kemudian meringis pelan.
'Yah walaupun itu membuatku harus merelakan waktu sekitar 2 jam sebelum tidur hanya untuk menelitinya terlebih dahulu dan hampir saja membuat kepalaku terasa ingin pecah tapi setidaknya aku berhasil untuk merumuskan persamaan kimianya untuk membuat racun itu,' batin Zen sambil mengingat kembali waktu dua jam yang dia habiskan hanya untuk mencari rumus kimia pembuatan racun itu.
"Bagaimana kakak ingin menyebarkan racun itu?" tanya Leo.
"Dengan menggunakan sebuah benang," jawab Zen yang membuat ketiganya menatapnya dengan bingung.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
__ADS_1