
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
'Jikapun para prajurit itu tidak menerima kita dengan baik, kita hanya perlu pergi dari sana Tujuan utama kita saat ini adalah mencari tempat tinggal yang aman untuk sementara, bukan menambah sekutu ataupun memiliki amunisi yang dimiliki para prajurit militer tersebut.' batin Fin lalu mengalihkan pandangannya kearah luar jendela mobil.
...| (❁❁) |...
"Kita sampai," ujar Mia lalu memberhentikan mobilnya di daerah yang cukup terpencil.
"Kurasa kita harus berjalan kaki jika ingin menuju tujuan kita saat ini," ujar Neo yang dibalas dengan anggukan oleh Mia.
"Itu benar, ditambah mobil tidak bisa masuk lebih dalam dari ini atau mobil kita lah yang akan rusak," ujar Mia saat melihat jalan di depannya yang dipenuhi dengan hamparan hutan lebat dengan jalan yang bergelombang.
"Aku jadi kurang yakin jika ada warga yang mendirikan rumah mereka di pinggir laut Luptoz," ujar Mia yang membuat Fin menggelengkan kepalanya pelan.
"Walaupun di hadapan kita adalah hutan, jika kita berjalan lebih dalam dari sini maka kalian akan menemukan dataran luas yang langsung berbatasan dengan laut Luptoz," ujar Fin.
"Ditambah laut Luptoz merupakan sarana untuk mencari pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal di kota Y walaupun banyak masyarakat yang lebih memilih bekerja di industri modern," jelas Fin yang membuat Mia menghela nafas pelan.
"Begitu, baiklah ayo kita berjalan masuk kedalam dan untuk kalian berdua, jangan lupa membawa tas berat berisi makanan itu," ujar Mia sambil tersenyum manis yang membuat Neo berseru tidak terima.
"Jika kita berdua membawa tas berat itu, apa yang akan kamu bawa?!" tanya Neo yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Mia.
"Aku tidak akan membawa apa-apa, lagipula aku yang akan membuka jalan di depan, hitung-hitung sebagai balasan karena aku tidak ikut bertarung saat kalian mencari bahan makanan di supermarket," ujar Mia sambil mengguncang pelan pisau lipat dengan ukuran sedang yang sudah berada di tangannya.
"Itu tidak adil!" seru Neo dengan kesal.
"Bagian mana yang kamu maksud tidak adil? Apa mungkin kamu akan menyuruhku untuk bergantian membawa tas berat itu?" tanya Mia dengan ekspresi tidak percaya.
"Jika kamu lupa, aku ini adalah wanita," lanjut Mia sambil menekankan kata wanita di hadapan Neo.
Neo yang menyadari Mia sedang mengejeknya hanya bisa tersenyum kesal sambil menahan emosi yang ingin keluar dari dirinya.
"Kalian berdua hentikan itu dan Neo segera bawa tasmu dan kita akan masuk kedalam hutan sekarang," ujar Fin menghentikan pertengkaran keduanya.
"Huhh, baiklah," ujar Neo setelah mendengus kasar lalu berjalan menuju Fin meninggalkan MIa yang masih tertawa pelan setelah puas meledek Neo di sana.
"Mia hentikan tawa mu sebelum Neo benar-benar emosi," ujar Fin yang dibalas dengan senyum geli dari Mia.
"Aku tidak bisa, dia terlalu lucu saat di ledek seperti itu," ujar Mia yang membuat Fin menggelengkan kepalanya pasrah.
"Kamu tahu sendiri jika Neo itu seperti sumbu bom yang bisa meledak kapan saja jika kamu terus memprovokasinya" ujar Fin.
"Ck, kamu tidak tahu berapa banyak dia meledekku, jika bukan karena kesabaran ku, aku mungkin sudah melemparkan pisau ini kearah lehernya," jelas Mia dengan kesal.
"Dan jika kamu bukan perempuan, sudah ku ajak kau untuk berduel hingga mati," sinis Neo yang membuat Mia kembali tertawa.
"Jika kamu memang menginginkan duel denganku, kita bisa melakukannya setelah menemukan tempat tinggal," ujar Mia yang membuat Neo menatapnya dengan tatapan membara.
__ADS_1
"Ingat apa yang kamu ucapkan tadi, kita akan melakukan duel setelah ini selesai!"
"Jangan sampai kau mengadu kepada Fin karena aku memukulmu terlalu kuat," ujar Neo kembali kepada ledekan nya.
"Oho, jangan lupa jika aku ini terlatih, mungkin saja kamu yang akan mengadu kepada Fin nantinya," ujar Mia lalu keduanya menatap dengan sengit satu sama lain sebelum mengalihkan pandangan kearah Fin.
"Fin, kamu harus menjadi wasit yang adil saat duel kita dilaksanakan nanti!" ujar keduanya dengan bersamaan yang membuat Fin menghela nafas dengan pelan.
"Baiklah, jadi mari lanjutkan perjalanan kita sekarang. Mia pimpin jalan di depan," ujar Fin memutus percakapan mereka sambil mendorong MIa dengan perlahan didepan dangan dia di tengah dan Neo dibelakang untuk mencegah terjadinya pertengkaran mulut mereka kembali.
...----------------...
"Tuan muda, silahkan nikmati makanan anda," ujar Jin yang selesai dengan masakannya dan sekarang berdiri di samping Ken dengan kedua tangan yang memegang makanan.
"Ah, terimakasih Jin, jangan lupa nikmati makan siang mu juga," ujar Ken dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Tentu saja, saya akan memakan makanan saya setelah kedua tuan muda menyelesaikan makanan kalian," ujar Jin.
"Maafkan saya karena harus menyajikan makanan sederhana ini untuk kedua tuan muda," ujar Jin dengan sedikit sedih.
"Tidak apa, ini sudah termasuk pencapain karena kamu bisa memasak semua ini dengan bahan seadanya," jelas Kim saat melihat makanan yang sudah berjejer di atas meja berserta kursi makan yang entah dari mana Jin dapatkan.
"Woww, dia bilang itu adalah makanan sederhana?" gumam Zen saat melihat meja tersebut penuh dengan makanan yang bersinar di matanya.
"Kak, tiba-tiba aku merasa lapar kembali," bisik Lin yang dengan segera di tutup oleh Leo agar tidak ada yang mendengarnya selain dia.
Tapi sepertinya suara kecil Lin cukup terdengar oleh Kim yang kini sudah menatap kedua bersaudara itu.
"Apa kalian ingin makan bersama kami?" tanya Kim dengan pelan yang dibalas dengan anggukan antusias oleh Lin.
"Tentu saja boleh, lagipula anak kecil seperti kalian harus makan-makanan seimbang untuk pertumbuhan kedepannya," ujar Ken sambil menyuruh JIn untuk mengambil kembali kursi untuk mereka berempat.
"Baiklah, terimakasih kak Ken, kak Kim," ujar Lin dengan semangat.
"TIdak masalah, lagipula makanan ini terlalu banyak untukku dan Ken," ujar Kim yang dibalas dengan pelototan mata oleh Ken.
"Panggil aku kakak!" seru Ken yang dibalas dengan helaan nafas oleh Kim.
"Yah, kakak," ujar Kim dengan pelan sekaligus lelah.
"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Leo dengan ragu sambil melirik singkat kearah makanan yang jujur sangat menggoda baginya.
"Tentu saja, jika kalian berdua menginginkannya, kalian juga bisa ikut bergabung," ujar Ken sekaligus untuk Zen dan Max yang masih mengawasi di sana.
Leo yang mendengar itu, menatap Zen dengan tatapan seolah meminta izin kepadanya.
"Kamu tidak perlu meminta izin kepadaku, Leo. Jika kamu ingin, kamu bisa pergi bersama adik mu yang sudah siap dengan sendok dan garpu di tangannya itu," ujar Zen dengan senyuman geli yang membuat Leo tersipu malu.
"Aku hanya terlalu sungkan...." gumam Leo yang dibalas dengan senyuman tipis dari Kim.
"Tidak perlu ragu, lagipula dengan kalian ikut makan bersama kita itu memudahkan ku untuk menghindari jatah sayuran ku," ujar Kim yang kembali dibalas dengan pelototan mata oleh Ken.
"Oho, walaupun mereka ikut makan bersama kita, jatah sayuran mu masih tetap seperti biasanya, adikku," ujar Ken dengan senyuman manisnya yang membuat Kim sedikit pucat di sana.
"Ta-tapi bukankah sayuran lebih bagus untuk kedua anak itu?" tanya Kim yang dibalas dengan senyuman ramah oleh Jin.
__ADS_1
"Pelayan tua ini sudah menduga jika kita akan makan bersama, jadi pelayan ini sudah menyiapkan porsi sayuran terpisah untuk tuan muda," ujar Jin yang membuat Kim menatapnya dengan raut wajah yang pias.
Terlebih lagi saat Jun mengeluarkan seporsi mangkuk penuh sayuran untuknya yang diletakkan di hadapannya saat ini.
"Kamu harus menghabiskan itu semua, adikku tersayang," ujar Ken dengan senyum menyebalkan nya saat melihat raut wajah Kim yang penuh permusuhan kearah sayuran di mangkuk itu.
"Apa kakak tidak menyukainya? Bagaimana jika aku membantu kakak? Lin cukup suka dengan sayuran," ujar Lin yang membuat wajah milik Kim sedikit memiliki harapan.
"Tidak, jika kamu menyukai sayuran pelayan ini akan membuatkannya lagi untukmu," ujar Jin dengan tiba-tiba yang membuat Kim harus menerima kenyataan dan memakan sayuran itu hingga abis atau pelatihan dari Jin lah yang akan menantinya.
"Ah, kurasa tidak usah, masih banyak menu sayuran di meja ini, terimakasih atas tawaran anda kakek!" balas Lin dengan ceria yang membuat Ken hampir menyemburkan kopinya keluar.
"Pftt, kakek," ujar Ken sambil menahan tawanya.
"Itu gelar yang cocok untukmu, Jin," ujar Kim kembali mendapatkan sedikit semangat hidupnya.
"Hohoho, kamu bisa memanggilku dengan sebutan itu, lalu apa yang harus pelayan ini panggil untuk nona muda ini?" tanya Jin dengan ramah yang membuat Lin sedikit tersipu karena Jin memanggilnya dengan sebutan nona muda.
"Kakek bisa memanggilku dengan sebutan Lin, di sebelahku adalah kakak kandungku, Leo!" ujar Lin dengan semangat.
"Salam kenal, kakek Jin," ujar Leo dengan pelan yang dibalas dengan tepukan ringan di pundaknya oleh Jin.
"Salam kenal juga untuk kalian berdua, silahkan nikmati makanan yang sudah kakek masak ini," ujar Jin mengakhiri pembicaraan dengan kedua anak kecil itu.
"Apa kalian tidak ingin ikut bergabung?" tanya Ken setelah meredakan tawanya.
"Kurasa tidak untuk sekarang, ada hal yang harus kita lakukan saat ini," tolak Zen sambil melirik singkat kearah Max yang dibalas dengan anggukan pelan olehnya.
"Itu benar, lain kali saja," timpal Max yang membuat kening Leo sedikit berkerut.
"Kakak ingin pergi kemana?" tanya Leo dengan pelan karena makanan yang berada di mulutnya.
"Haha, kami akan keluar sebentar untuk mencari sesuatu, kami akan kembali setelah urusan kami selesai," ujar Zen sambil menyeka ringan sudut bibir Leo yang tekena noda makanan.
"Lin juga ingin seperti itu!" ujar Lin sambil mencondongkan pipinya yang mengembung kearah Zen.
Zen yang melihat itu hanya terkekeh ringan lalu melakukan hal yang sama kepada Lin.
"Aku bisa menitip mereka bersama dengan kalian berdua bukan?" tanya Zen yang dibalas dengan anggukan percaya diri dari Ken.
"Tentu saja, kembalilah dengan selamat," balas Ken yang dibalas dengan anggukan pasti dari Zen.
"Tentu, lagipula aku masih ingin menikmati keuntunganku itu," ujar Zen sambil tertawa singkat.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
__ADS_1
Instagram : lmnr_vv