
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
Dengan cepat para zombie itu mulai berkelana mencari mangsa dari kota ke kota lainnya dengan cara mengigit tubuh manusia secara acak agar bisa menularkan virus mereka dan merubah mereka para manusia menjadi sebangsa mereka, zombie.
...| (❁❁) |...
‘Sialan! Sebenarnya apa yang terjadi sekarang?!’ batin Ken sambil terus menembakkan senjatanya kearah mahkluk hidu- ah … tidak mahkluk mati dihadapannya.
“Kenapa mayat hidup ini tidak ada abisnya?” tanya Kim sambil mengisi ulang senjatanya.
“Mana aku tahu! Hei, awas di belakangmu!” ucap Ken yang membuat Kim menoleh hanya untuk melihat satu mayat hidup yang sekarang kepalanya sudah terputus akibat belati yang dipegang oleh Jin.
“Saya mohon untuk selalu memperhatikan kondisi anda, tuan muda,” ucap Jin dengan senyum ramah diwajahnya yang membuat kedua bersaudara itu bergidik ngeri.
‘Sial, kenapa dia masih bisa memasang senyum ramahnya itu?!’ batin keduanya. Anggap saja insting anak kembar sehingga bisa berbatin dengan kalimat yang sama persis.
Bagaimana jika kita melakukan kilas balik 10 menit yang lalu untuk mengetahui kejadian yang bisa membuat kedua tuan muda kita berteriak frustasi seperti tadi? Baiklah mari kita saksikan kilas baliknya.
“Tuan muda! Kami mendapatkan informasi jika terjadi kerusuhan di tengah kota akibat serangan yang tidak diketahui,” lapor Jin yang membuat kedua tuan mudanya menengok serentak kearahnya.
“Serangan apa?” tanya Kim dengan kening berkerut.
“Itu masih belum di ketahui dan di verifikasi, bahkan ini sulit untuk diterima oleh kenyataan,” ucap Jin yang membuat kening keduanya semakin berkerut.
“Jelaskan saja sesuai informasi yang kamu dapatkan, Jin,” ucap Ken memberikan perintah.
“Baik, setelah matahari mulai bersinar kembali, tepatnya di jam 14.01 kami menemukan keanehan yang terjadi di tengah kota. Itu dikarenakan ada seorang wanita yang tiba-tiba saja digigit oleh manusia lainnya di bagian leher. Ah, bahkan untuk menyebutnya manusia sangat tidak cocok dikarenakan manusia yang mengigit itu memiliki kulit berwarna kebiruan dan mata yang tidak memiliki titik fokus.”
“Untuk sementara waktu kami akan menyebutnya sebagai mayat hidup,” jelas Jin yang membuat Kim menatapnya dengan tidak percaya.
“Mayat hidup? Maksudmu Zombie?” tanya Kim untuk memastikan kembali.
“Anda bisa mengatakannya seperti itu,” balas Jin.
“Tunggu, apa kamu sudah mengkonfirmasinya jika manusia itu sudah tidak bernyawa? Bisa saja bukan jika manusia itu adalah seorang kanibal?” tanya Ken berusaha berfikir rasional.
“Sayang sekali kami tidak bisa memastikannya,” jawab Jin sambil menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Karena manusia yang kami duga itu tidak dapat ditemukan.”
“Tapi kami sudah memastikannya saat mengikat salah satu orang yang tergigit olehnya dan benar saja mereka tidak memiliki detak jantung,” lanjut Jin yang membuat Kim memasang wajah aneh.
“Ini sangat sulit untuk dipercaya? Lalu bagaimana dengan keadaan kota?” tanya Kim sambil menatap kearah Jin.
“Tidak bagus. Keadaan kota saat ini kacau balau karena mengalami peristiwa tidak terduga. Banyak yang menjadi korban akibat kedua mayat hidup itu,” jelas Jin yang membuat Ken menghela nafas lelah.
“Apa menurutmu ini ulah dari universitas E?” tanya Ken sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi.
“Saya tidak bisa mengkonfirmasi itu karena sampai sekarang universitas tersebut tidak dapat dihubungi.”
“Jika ini ada sangkut pautnya dengan universitas E, bukankah universitas itu sudah melewati batas?” ucap Kim yang di angguki oleh Ken dengan pelan.
“Kamu benar, lalu bagaimana dengan senjata dan bahan makanan?” tanya Ken kembali.
“Saya sudah menyiapkan semuanya tuan muda,” jawab Jin yang membuat Ken menghela nafas.
“Baguslah, apa menurutmu kita dapat menghabisi semua zombie itu mengunakan amunisi kita?” tanya Ken.
“Aku rasa itu sedikit sulit, bagaimanapun para zombie itu sudah menyebar ke segala penjuru. Terlebih respon dari pemerintah sangat lambat,” jawab Kim.
“Lalu apa tanggapan pemerintah sekarang?” tanya Ken.
“Pemerintah menganjurkan untuk memblok area kota A dan membuat para tentara untuk menembaki siapapun yang keluar dari zona kota A,” jelas Jin yang membuat Ken mengerutkan kening tidak setuju.
“Termasuk warga biasa yang tidak terkena gigitan?”
“Iya.”
__ADS_1
“Hah! Dasar pemerintah kolot! Bagaimana bisa mereka membiarkan warga biasa begitu saja dan tidak mengevakuasi mereka?” tanya Kim dengan geram.
“Lalu bagaimana dengan para pejabat yang tinggal di sekitar sini?” tanya Ken berusaha untuk menenangkan dirinya dari amarah yang dirasakannya.
“Pemerintah memerintahkan beberapa tentara untuk menjaga pintu gerbang dan menyediakan helikopter untuk para pejabat itu agar bisa mengevakuasi mereka ke kota yang lebih aman,” jelas Jin yang membuat Ken mengeram kesal.
“Apa kita termasuk didalamnya?” tanya Ken yang dibalas oleh gelengan pelan dari Jin.
“Sayangnya tidak, tuan muda.”
“Sial!” pekik Kim dengan keras sambil memukul meja dihadapannya hingga retak.
“Kalau begitu segera panggil helikopter kita dan bergegas pergi untuk menuju distrik yang aman,” perintah Ken yang di angguki oleh Jin.
“Saya sudah menelpon helikopter sebelum saya menyampaikan informasi ini,” jelas Jin yang membuat Ken mengangguk.
“Kak, apa menurutmu ini bisa dihentikan?” tanya Kim dengan sinis.
“Sepertinya tidak, bagaimanapun juga kota A merupakan kota yang memiliki populasi penduduk yang cukup tinggi,” jelas Ken yang membuat Kim terdiam.
“Ada apa?” tanya Ken yang menyadari adiknya tiba-tiba saja terdiam.
“Apa kamu mendengarnya kak?” tanya Kim yang membuat Ken mengerutkan keningnya.
“Suara apa?”
“Langkah kaki yang tidak beraturan,” jawab Kim yang membuat Ken menegang.
“Jin! Segera ambil senjata kami dan suruh semua pelayan serta pengawal masuk kedalam tahap siaga!” ucap Ken yang di angguki oleh Jin.
“Berapa…? Sepuluh? Sebelas? Apa tiga belas?” gumam Kim tanpa sadar tangan kirinya bergerak menuju kearah telinga kirinya untuk mencabut sesuatu dari telinganya.
Ken yang melihat itu segera menghentikan gerakan tangan adiknya dan menutupi kedua telinga adiknya.
“Kim! Tenangkan dirimu! Jangan terlalu memaksakan pendengaran mu dan tenang! Aku akan melindungi,” tegas Ken sambil mengguncang tubuh Kim yang membuatnya tersadar kembali.
“Ahh, maafkan aku,” balas Kim setelah tersadar dari rasa paniknya.
“Hufttt, tenangkan dirimu Kim,” ucap Ken sambil menurunkan kedua tangannya yang tadi menutupi kedua telinga Kim.
“Baik, aku sudah tidak apa-apa, kak.”
“Ck, bagaimana dengan para tentara yang di perintahkan oleh pemerintah?” tanya Ken dengan raut wajah kesal.
“Meraka semua sudah berubah menjadi mayat hidup,” jelas pelayan wanita itu yang membuat Ken berdecak sebal.
“Para pejabat?”
“Baru sebagian yang berhasil dievakuasi.”
“Hah! Baguslah setidaknya ada beberapa dari meraka yang bisa menjadi umpan untukku,” ucap Ken dengan senyuman miring diwajahnya.
“Tuan muda, semua senjata dan makanan sudah selesai disiapkan dan helikopter akan datang dalam waktu 10 menit lagi,” balas Jin sambil menyerahkan sebuah revolver kearah Ken.
“Terimakasih Jin dan segera suruh semua pelayan serta pengawal untuk bersiap bertempur di halaman,” jelas Ken yang di angguki oleh Jin dan pelayan Wanita itu dan bergegas mempersiapkan keperluan untuk pertempuran nanti.
“Kim? Apa kamu akan ikut bertempur?” tanya Ken dan memandang wajah adiknya yang termenung di tempat.
“Ah, iya aku harus ikut bertempur agar bisa melindungi mu, kak,” jelas Kim yang membuat Ken menghela nafas.
“Kalau begitu berjanji kepadaku agar kamu tidak membuka ear plug mu,” jelas Ken yang di angguki oleh Kim.
“Baiklah.”
Yah, begitulah kilas balik dari keadaan 10 menit yang lalu sebelum kekacauan menimpa kedua tuan muda kita tercinta.
“Jin! Dimana helikopternya? Ini sudah lebih dari 10 menit!” teriak Ken dengan frustasi.
“Saya juga tidak tahu tuan muda! Koneksi saya dengan pilotnya terputus secara tiba-tiba,” jelas Jin sambil terus menggerakkan kedua belati di tangannya untuk menebas musuh.
“Brengsek! Dimana para pilot itu?!” gumam Ken dengan kesal.
‘Para zombie ini tidak ada habisnya! Justru mereka semakin bertambah banyak walaupun banyak dari mereka juga sudah kami bunuh,’ batin Ken lalu menembakkan kembali senjatanya setelah selesai diisi ulang.
“Tuan muda!” seru Jin yang membuat Ken mengalihkan atensinya.
“Lihatlah keatas!” ucap Jin yang membuat Ken menatap keatas yang kini sudah terdapat tiga helikopter diatasnya.
__ADS_1
“Baguslah, setidaknya mereka datang sebelum aku berubah menjadi mayat hidup itu,” ucap Ken sambil mendengus pelan.
“Jin! Segera letakkan bahan pasokan makanan kita kedalam helikopter!” perintah Ken yang membuat Jin segera melakukan tugasnya.
“Kim! Dimana kamu?!” teriak Ken agar adiknya itu segera menunjukkan dirinya di depan Ken.
“Di belakangmu, kak,” ucap Kim dengan datar.
“Huh! Kamu kira aku tidak tahu jika kamu baru saja berada di balkon lantai dua dengan senapan mu itu?” tanya Ken dengan nada mencibir.
“Jika kamu sudah tahu, kenapa harus berteriak?” tanya Kim dengan kesal.
“Dasar! Aku mengkhawatirkan mu tahu!” ucap Ken sambil menarik telinga Kim dengan pelan.
“Ouch! Kamu membuat ear plug ku bergeser!” ucap Kim yang membuat Ken segera melepaskan tarikan telinganya.
“Benarkah?” tanya Ken dengan ragu.
“Tentu saja bohong! Aku naik kedalam helikopter duluan! Segeralah menyusul dan jangan berubah menjadi mayat hidup itu oke? Aku tidak ingin memiliki kakak mayat hidup,” ucap Kim dengan datar sambil menaiki tangga yang di keluarkan oleh pilot dari atas.
“Dasar anak itu!” gumam Ken dengan geram lalu berbalik menuju kearah Jin.
“Sudah semua?” tanya Ken memastikan kembali.
“Sudah tuan muda,” jelas Jin.
“Bagus, kalau begitu segera naik ke helikopter begitu juga dengan para pelayan dan pengawal yang selamat,” jelas Ken yang di angguki oleh semuanya.
“Anda juga harus naik ke helikopter, tuan muda,” ucap Jin.
“Aku tahu,” balas Ken lalu menaiki tangga helikopter dengan pelan.
“Hei! Cepatlah! Kamu tidak tahu berapa banyak yang harus ku bunuh dari jarak sejauh ini hah?!” teriak Kim dari atas sambil terus menembaki zombie yang mendekati tangga helikopter.
“Ck, bersabarlah sedikit! Kamu kira hanya kamu yang menembaki mereka, hah?” tanya Ken dengan sinis sambil menarik pelatuk revolver miliknya kearah zombie yang terlewatkan oleh Kim.
Kim yang mendengarnya hanya mendengus pelan sebelum kembali menembaki para zombie itu dengan lebih brutal.
“Yak! Kau ingin membunuhku, hah?” tanya Ken saat sebuah peluru melesat di samping pipinya.
“Aku tidak sengaja. Ck! Cepatlah naik kesini!” jelas Kim yang mendapat dengusan dari Ken sebagai jawaban.
“Puas kau?!” tanya Ken saat sudah mendudukkan tubuhnya di samping Kim.
“Yah,” jawab Kim dengan acuh yang membuat Ken tersenyum kesal.
“Yah! Kalian tidakkah kalian ingin menolong kami?!” seru seseorang dengan tubuh tambun dengan suara yang sangat keras.
“Siapa dia?” tanya Kim dengan kening berkerut sambil memegang kedua telinganya.
“Entahlah, lebih baik kita acuhkan saja,” jawab Ken yang di angguki oleh Kim.
“Kemana tujuan kita, tuan muda?” tanya Jin yang kini sudah duduk di belakang tuan mudanya.
Ken terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya dan berucap dengan pelan.
“Kota C, salah satu pabrik makanan yang sudah aku akuisisi.”
Jin yang mendengarnya hanya mengangguk pelan lalu mulai memberikan instruksi kepada pilot helikopter tersebut.
Dengan segara ketiga helikopter itu pergi meninggalkan kawasan vila tersebut menuju Kota C.
“YAK! APA KALIAN TIDAK MENDENGAR KU?!” teriak pria tambun itu dengan keras yang membuat para zombie tertarik dengan suaranya dan segera mendekat kearah vila pria tambun itu.
“Yak! Apa yang kalian lakukan?!” seru pria itu dengan panik tanpa menyadari jika seorang wanita berjalan dengan terseok-seok kearahnya dengan mulut penuh darah.
“Is-istri…?” tanya pria itu dengan terputus-putus sebelum merasakan rasa sakit dari pundaknya dan menjerit dengan keras.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv