Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(22) Surat Pemindahan|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“Tentu saja kamu pernah mendengarnya, bukankah laki-laki yang baru saja terlibat dalam proyek rumah sakit dua bulan lalu juga bermarga Westerlock?” ucap Rav yang membuat Ash memukul meja di hadapannya dengan keras.


“Itu dia! Apa laki-laki tadi salah satu kerabat dari orang menjengkelkan itu?” tanya Ash dengan menggebu-gebu.


“Yah, siapa tahu?" ucap Rav dengan santai sambil mengangkat kedua bahunya dengan acuh.


...| (❁❁) |...


“Jadi kakak tinggal disini?” tanya Leo sambil memperhatikan sekelilingnya.


“Yah, bisa dibilang seperti itu, kalian berdua bisa duduk di sofa itu. Aku akan pergi untuk menaruh pakaian yang baru saja kalian beli,” ucap Zen lalu bergegas meninggalkan kedua bersaudara itu.


“Kak, apa sungguh kita tidak merepotkan kak Zen?” tanya Lin dengan perasaan khawatir.


“Aku juga tidak tahu, tapi kak Zen selalu bilang jika kita tidak merepotkan nya sama sekali. Kurasa tempat ini hanya rumah sewa miliknya, bukan rumah utama miliknya,” ucap Leo berbisik pelan sambil mengungkapkan pendapatnya.


“Hmm, kurasa kakak benar. Tapi tetap saja aku merasa jika kita sudah sangat merepotkan nya,” ucap Lin dengan suara rendah.


“Terlebih kak Zen baru berusia 17 tahun dan kita diadopsi sebagai anaknya, bukan adiknya, aku takut jika dia akan menerima kritikan dari luar,” lanjut Lin.


“Bagaimana jika aku akan tetap mencari pekerjaan sambilan? Kurasa itu akan baik-baik saja dan kita tidak akan terlalu merepotkan kak Zen nantinya,” ucap Leo.


“Itu juga bagus! Kalau begitu aku akan membantu kak Zen dengan berbagai pekerjaan rumah yang ada sehingga kak Zen tidak terlalu kerepotan untuk mengurus kita berdua,” ucap Lin dengan senang.


“Apa maksud kalian agar aku tidak kerepotan?” tanya Zen dari belakang mereka dengan membawa sebuah nampan yang berisikan air minum.


“Ah, kak Zen! kakak membuatku terkejut karena tiba-tiba berbicara di belakangku,” ucap Lin sambil memegang dadanya yang berdebar dengan kencang akibat rasa terkejut.


“Maaf jika aku mengagetkan kalian, lagipula untuk apa kalian berbisik-bisik seperti tadi? Memangnya apa yang sedang kalian berdua bicarakan?” tanya Zen sambil meletakkan minuman yang ia bawa di atas meja.


“Kami hanya membahas bagaimana cara untuk membayar kak Zen kembali,” ucap Leo sambil menggaruk pipinya dengan canggung.


“Huh? Membayar kembali?”


“Yah, bukankah kami sudah sangat merepotkan kakak? Padahal kita baru saja kenal selama beberapa hari,” ucap Lin dengan pelan.


“Jadi kami berpikir untuk tidak terlalu bergantung kepadamu. Aku akan mencari pekerjaan sambilan untuk mencukupi kebutuhanku dengan Lin,” ucap Leo dengan sungguh-sungguh.


“Aku juga bisa membantu kak Zen dengan pekerjaan yang ada di rumah. Kak Zen tidak perlu khawatir karena aku sangat pandai dalam melakukannya,” ucap Lin dengan penuh semangat.


“Pfttt, kalian berdua tidak perlu melakukan semua hal itu, terutama kamu Leo,” ucap Zen sambil memandang Leo dengan geli.


“Huh?”


“Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan sambilan untuk mencukupi kebutuhanmu dengan Lin. Jika kalian berdua menginginkan sesuatu kalian berdua bisa mengatakannya kepadaku, aku akan berjanji untuk mengabulkan keinginan kalian. Yahh, asalkan keinginan kalian tidak terlalu berbahaya untuk diwujudkan,” jelas Zen dengan panjang lebar.


“Yahhh? Tapi itu akan sangat merepotkan kakak!” seru Leo tidak terima.


“Apa yang merepotkan untukku? Lagipula kalian berdua adalah tanggung jawabku, sudah seharusnya untukku bertanggung jawab atas kalian berdua,” ucap Zen sambil mengelus pelan rambut Leo.


“Tapi bagaimana dengan keuanganmu kak? Apa kehadiran kami tidak mengganggumu?” tanya Lin dengan tidak yakin.


“Tentang keuanganku kalian tidak perlu khawatir, itu cukup untuk mencukupi kita bertiga,” jelas Zen dengan tegas.


“Lagipula tentang keuangan, akulah yang akan bertanggung jawab, bukan kalian berdua. Selain itu walaupun rumahku ini kecil tapi uang yang ku punya cukup banyak lho,” ucap Zen dengan bangga.


‘Toh, besok adalah hari tersebarnya virus itu dan sejak besok juga uang tidak akan berlaku lagi,’ batin Zen dengan tenang.


“Rumah kakak???” tanya Lin dengan bingung.


“Yah, rumahku,”


“Tunggu, jadi ini rumah utama kakak???” tanya Lin sekali lagi untuk memastikan kembali.


“Yah ini rumah utamaku. Memangnya kenapa?” tanya Zen dengan tidak mengerti.


“Kak Leo sepertinya ide kita untuk mengambil pekerjaan sambilan tidak bisa dihapuskan,” ucap Lin dengan serius.

__ADS_1


“Yah, kamu benar Lin.”


“Tunggu! Bukankah sudah kubilang kalian tidak perlu untuk bekerja?!” tanya Zen dnegan panik.


“Bagaimana kami tidak bisa bekerja?!” tanya Lin yang ikutan panik.


“Aishh … kalian tidak percaya jika aku tidak kekurangan uang?” tanya Zen yang dibalas gelengan serempak oleh kedua bersaudara itu.


“Tentu saja kita tidak percaya. Sudahlah kak, tidak perlu untuk menolak niat baik kami,” ucap Lin yang membuat Zen merasakan sakit di ulu hatinya.


“Aku tahu jika kakak baik, tapi tolong jangan menjadi terlalu baik,” ucap Leo dengan wajah tertekan.


‘Siapa yang terlalu baik, hah?!’ batin Zen tertekan.


“Kalau begitu akan aku tunjukan buku tabungan milikku kepada kalian agar kalian berdua percaya kepadaku!” ucap Zen lalu bergegas mengambil buku tabungan miliknya.


“Kak, bagaimana dengan menjadi pengantar makanan?” tanya Lin kepada Leo.


“Kurasa itu tidak buruk, hanya saja aku baru berusia 13 tahun dan aku belum mendapatkan sim,” jelas Leo.


“Itu benar, kalua begitu bagaimana dengan menjadi pegawai restauran?”


“Itu bagus, aku akan mencari lowongan di sekitar sini.”


“Oh! Bagaimana dengan minimarket yang ada didekat sini? Kurasa kita bisa bertanya lowongan pekerjaan di sana,” ucap Lin dengan bersemangat.


Dan begitulah percakapan kedua bersaudara itu yang masih sibuk membahas pekerjaan sambilan apa yang cocok untuk mereka. Mari kita beralih ke Zen yang sekarang sibuk mencari buku tabungan miliknya.


“Dimana aku meletakkan buku tabungan milikku? Bukankah waktu itu aku pernah mengeluarkannya?” gumam Zen masih setia untuk mencari di dalam laci meja miliknya.


//Dering telephon …………


“Ah, teleponku berbunyi? Siapa yang meneleponku malam-malam seperti ini?” tanya Zen dengan bingung sambil melihat panggilan telepon yang masuk.


“Kakak??? Untuk apa kakak meneleponku?” gumam Zen dengan ragu lalu menekan tombol angkat di handphonenya.


“Kak ada apa kamu menelpon-“


“Zen! Kamu tidak kenapa-napa bukan? Apa kamu mengalami luka atau cedera?! Atau kamu sedang sakit sekarang?! Zen kenapa kamu tidak menjawab ku?!”


“Kakak, tolong tanyakan satu persatu, aku tidak kenapa-napa dan aku tidak mengalami luka, cedera ataupun sakit,” jelas Zen dengan perlahan dan dengan jelas berbohong kepada kakaknya.


“Huh? Bagaimana kakak bisa mengetahui jika aku hari ini pergi ke rumah sakit?” tanya Zen berpura-pura bingung.


“Tentunya dari kartu yang pernah kuberikan kepadamu. Jadi apa tujuanmu datang ke rumah sakit tadi?” tanya Fin dengan nada yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.


“Ahhh, ceritaku agak panjang apa tidak apa-apa jika aku menceritakannya?” tanya Zen dengan ragu.


“Tentu saja tidak apa, aku memiliki waktu selama 2 jam penuh untuk menggunakan handphoneku saat ini,” jelas Fin.


“Baiklah akan aku jelaskan,” balas Zen dan mulai menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir.


Tentu saja bagian dia terluka dan tindakan kekerasannya kepada pengurus panti juga dihilangkan. Ah, jangan lupakan mengenai pekerjaan ilegal yang dilakukan oleh Leo dan menganti semua teks menjadi cerita yang menyenangkan sekaligus dramatis.


“Ahhh, jadi begitu. Lalu bagaimana dengan kedua anak itu?” tanya Fin yang diam-diam membuat Zen tersenyum.


“Yahhh, kabar kedua anak itu sekarang tidak terlalu buruk dan aku hanya perlu untuk memberikan salep yang dianjurkan oleh dokter,” jelas Zen.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan untuk kedua anak itu?” tanya Fin.


“Hmm, kupikir aku akan mengadopsi mereka berdua,” ucap Zen dengan hati-hati.


“Maksudku, umurku sekarang sudah 17 tahun, bukankah tidak apa-apa untuk mengadopsi mereka? Dan lagi jika aku mengirim mereka ke panti asuhan kembali akan membuat mereka ketakutan,” lanjut Zen.


“Tidak perlu.”


“Tunggu, apa maksudmu kak? Kamu ingin aku mengirim mereka kembali ke panti asuhan?” tanya Zen dengan perasaan was-was.


‘Jika kakak tidak mengizinkan aku mengadopsi mereka. Maka semua rencana yang sudah ku susun akan menjadi berantakan,’ batin Zen dan mulai memikirkan berbagai macam alasan agar Fin bisa mengizinkannya untuk mengadopsi Leo dan Lin.


“Pindahkan pengadopsian mereka atas namaku.”


“Huhhh???”


“Makanya dengarkan aku berbicara terlebih dahulu, Zen. Pindahkan nama wali pengadopsian mereka atas namaku sama seperti dokumen wali mu,” ucap Fin sambil menghela nafas singkat.


“Maksud kakak, wali yang akan mengadopsi mereka adalah kakak?” tanya Zen untuk memastikan sekali lagi.

__ADS_1


“Yahh, seperti itu."


“Tunggu, kakak tidak termasuk kedalam semua hal ini. Bagaimana bisa aku merepotkan kakak untuk masalahku?” ucap Zen.


"Biarkan aku saja yang menjadi wali mereka, aku tidak ingin merepotkan mu,” ucap Zen dengan tegas.


“Pindahkan mereka atas namaku Zen. Apa kamu sadar jika umurmu baru 17 tahun? Aku tidak ingin masa muda mu menjadi berantakan karena adopsi, lagipula jika kamu memindahkan mereka atas namaku, kamu juga tetap bisa merawat mereka bukan?” ucap Fin.


“Tapi-“


“Aku tidak menerima bantahan, kamu harus segera memindahkan nama pengadopsi dan cepat kirimkan suratnya kepadaku, aku ingin kamu mengirimkannya besok sebelum jam 1 siang,” ucap Fin dengan ucapan yang tidak bisa di ganggu gugat.


“Hahhh, baiklah, akan aku lakukan tapi bagaimana bisa aku mengirimkan dokumen itu kepada kakak sebelum jam 1 siang?” tanya Zen.


‘Setidaknya jika aku mengulur waktu untuk penyerahan dokumen, aku bisa bermanuver agar surat adopsi itu tidak berpindah nama,’ batin Zen dengan penuh harap.


“Aku akan meminta asistenku untuk mengirimkannya kepadamu jam 8 pagi, kamu hanya perlu menandatangani surat itu dan asistenku yang akan mengirimkannya kembali kepadaku.”


‘Sial, aku tidak punya ruang untuk bermanuver,’ batin Zen dengan sedih.


“Baiklah akan aku lakukan,” ucap Zen dengan pasrah yang dibalas dengan tawa kecil oleh Fin di seberang sana.


“Padahal kakak tidak perlu ikut campur dalam masalah yang melibatkan ku,” gumam Zen yang masih didengar Fin.


“Bagaimana bisa, kamu adalah adikku. Semua masalah yang menjadi milikmu akan menjadi milikku juga. Dan sudah kewajiban ku untuk membantumu menyelesaikan masalah itu," ucap Fin.


“Hahhh, berhenti mengucapkan kalimat menyentuh seperti itu, itu membuatku canggung. Lagipula aku sudah besar kak,” ucap Zen sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Yahh, bagiku kamu masihlah anak kecil,” balas Fin yang membuat Zen tersenyum tipis.


“Ah, kakak! Apa kakak tahu dimana aku meletakkan buku tabunganku?” tanya Zen.


“Aku sudah mencarinya di laci meja belajar dan laci samping tempat tidurku dan aku tidak menemukannya,” lanjut Zen kemudian sibuk kembali mencari buku tabungan miliknya.


“Apa kamu mengambilnya belum lama ini?” tanya Fin.


“Yah aku mengambilnya sekitar 5 atau 6 hari yang lalu,” balas Zen.


“Kalau begitu, buku tabungan itu pasti ada di dalam lemari pakaianmu,” ucap Fin dengan santai.


“Huh??? Benarkah? Tapi sepertinya aku meletakkannya di dalam laci,” ucap Zen dengan bingung lalu bangkit untuk mencari buku tabungannya di dalam lemari pakaian.


“Ahhh! Ketemu! Bagaimana kakak bisa mengetahuinya?” tanya Zen dengan bersemangat.


“Hahaha, memangnya sudah berapa lama aku mengenalmu, hm? Lain kali jangan melupakan sesuatu dengan cepat,” ucap Fin yang membuat Zen tertawa kecil.


“Haha, aku tidak bisa berjanji tentang itu. Aku terlalu sering melupakan sesuatu. Lagipula ada kakak yang akan menjadi pengingat ku,” ucap Zen.


"Nah karena buku tabunganku sudah ketemu, aku akan mematikan teleponnya,” lanjut Zen.


“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa saat aku mendapatkan masa liburanku.”


“Tentu sampai jumpa juga kak!” balas Zen dengan riang lalu mematikan teleponnya.


“Yah, sayang sekali karena kita mungkin akan bertemu kembali dalam dua tahun kak,” gumam Zen sambil memandang telepon miliknya dengan tatapan nostalgia.


...----------------...


Di dalam sebuah ruangan di gedung tinggi dengan jendela besar yang menghadap langsung kearah pemandangan langit malam yang disertai gedung-gedung tinggi. Terdapat laki-laki dengan layar laptop yang menyala terang dihadapannya serta satu tangannya yang memegang handphone.


Mata tajam miliknya tidak pernah teralihkan dari grafik naik turun yang berada di layar laptopnya, sesekali jari ramping miliknya mulai menari di keyboard yang berada di laptop.


“Fin, waktumu untuk menggunakan internet hanya 30 menit lagi, kamu harus cepat menyelesaikan apapun urusanmu itu,” seru laki-laki yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.


“Aku tahu, aku akan segera menyelesaikan saham ini. Terimakasih sudah mengingatkanku Neo,” balas Fin dengan senyuman tipis.


“Sudah sewajarnya sebagai sahabatmu bukan?” ucap Neo dengan dengusan pelan dan disambut tawa kecil dari Fin


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2