Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(54) Jatuh|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


'Kurasa aku hanya bisa bertaruh dengan waktu. Mari kita bertaruh, apa Lin yang akan selesai lebih dulu atau gelombang zombie yang datang lebih dahulu dari daerah kumuh dan bergerak menuju rumah sakit ini karena mencium bau manusia,' batin Zen mengalihkan pandangannya kearah gerbang rumah sakit lalu kembali kearah Lin yang berada di atas sana.


...| (❁❁) |...


'Bagus hanya, tinggal satu dus itu yang harus dibawa oleh Lin dan semua ini akan selesai,"' batin Max lalu menatap kearah Zen yang masih menatap LIn dari bawah sana.


"Zen! Cepat naik keatas!" teriak Max dengan keras yang mampu terdengar oleh Zen dari bawah.


"Apa?! Lin bahkan belum selesai di atas sana, bagaimana bisa aku naik sekarang?!" balas Zen dengan berteriak juga.


"Ck! Lakukan saja! Lagipula dia hampir selesai setengah jalan lagi!" ujar Max yang membuat Zen mendengus dengan pelan.


"Cepat naik keatas!" ujar Max sekali lagi yang membuat Zen mendegus sekali lagi dengan kesal.


"Aku akan keatas setelah urusanku selesai!"" balas Zen dengan keras kepala.


"Apa kamu ingin aku turun kebawah hanya untuk menarik mu keatas?!" balas Max dengan serius sambil memegang erat kain terpal yang selalu dipegangnya.


"Kau gila?! Baik aku akan keatas segera! Jangan sekali-kali kamu melepaskan genggaman mu itu dari kain terpal itu! Kamu ingin keselamatan LIn terancam?!" ceramah Zen dengan panjang lebar yang membuat Max mendengus kesal.


"Jika kamu tidak naik dalam waktu lima menit, aku benar-benar akan melepaskan ini dan menyeret mu langsung keatas!" ujar Max dengan serius.


"Dasar orang sinting itu!" gumam Zen dengan kesal lalu melangkahkan kakinya untuk menyeret kantung udara yang sudah ia tempatkan ditengah-tengah sebelumnya menuju kearah ujung sisi gedung tempat Leo berada.


Setelah selesai, Zen tersenyum puas sambil menepuk kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang ada di tangannya.


"Selesai, setidaknya dengan ini keselamatan Lin terjamin sepenuhnya," ujar Zen dengan puas.


"Zen apa yang kau lakukan berlama-lama di sana! Apa kamu benar-benar menunggu zombie di daerah kumuh untuk datang dan mengigit mu?!" ujar Max dengan sinis.


"Ck, apa kamu tidak tahu apa arti kata sabar?!" ujar Zen dengan kesal lalu bergegas untuk naik ke atap sebelum dirinya diteriaki kembali oleh Max dengan kalimat sinis nya.


"Dia benar-benar menjengkelkan!" gerutu Zen saat sudah berada di lobi rumah sakit.


Dengan cekatan tangannya kini mulai menutup pintu rumah sakit dan menguncinya. Mata miliknya menatap sekeliling untuk mencari benda sekitar yang cocok untuk menghalangi pintu rumah sakit tersebut.


Tanpa sadar matanya kini menatap kearah lemari yang sangat cocok untuk menutup pintu rumah sakit tersebut.


"Sempurna! Ukurannya sangat pas dengan pintu rumah sakit ini bahkan lebih besar, setidaknya jika para zombie daerah kumuh itu melangkah masuk, mereka tidak akan bisa melewati pintu," ujar Zen lalu mendorong lemari yang dilihatnya kearah rumah sakit untuk menutup pintu rumah sakit tersebut.


'Dan jika Lin benar-benar terjatuh dari atas sana, aku bisa membawanya keatas melewati jendela yang sebelumnya aku lihat, jendela itu sangat tersembunyi kurasa para zombie tidak akan melihatnya,' batin Zen sambil mengingat jendela yang dilihatnya saat sedang berjalan di sekitar rumah sakit saat Lin sedang membawa muatan di atas.


'Sebagai jaga-jaga aku akan menutup semua akses jendela yang berada di lantai ini,' batin Zen lalu bergerak cepat untuk menutup semua jendela yang ada sebelum memastikan kembali jika tidak ada yang terlewatkan dan segera naik keatas sebelum dirinya akan mendapat ceramah kalimat sarkas dari Max.


...----------------...


"Ck, kemana perginya dia?! Apa aku benar-benar harus menyeretnya kesini?!" gerutu Max dengan kesal.


"Tunggu, jangan bilang jika dia bertemu dengan zombie?" gumam Max dengan sedikit panik.

__ADS_1


"Tapi dia memiliki pistol di tangannya," gumam Max kembali menjadi santai.


"Tapi bagaimana jika dia bertemu dengan segerombolan zombie?!" gumam Max dengan panik kembali.


"Ah, tidak, lagipula aku sudah melakukan pembersihan sebelumnya, bagaimana mungkin ada segerombolan zombie? Jikapun ada itu pasti hanya ada satu ataupun dua yang terlepas dari perkiraan ku," gumam Max kembali lega.


"Ck, jika dia kembali dengan baju berantakan, aku benar-benar akan membuatnya diam selama seminggu penuh!" gumam Max dengan serius.


"Kamu tidak bisa melakukan itu! JIka aku hanya berdiam diri selama seminggu, bagaimana dengan keselamatan kita semua?!" ucap Zen dengan penuh kesal.


"Oh, kamu sudah tiba?" tanya Max dengan datar berbeda dengan tatapannya yang sedang menelusuri Zen dengan cermat untuk mencari apakah dia memiliki luka ditubuhnya.


"Apa matamu bermasalah?" tanya Zen dengan ketus.


"Sejak kapan?" tanya Max yang kini sudah mengalihkan pandangannya kearah Lin berada setelah memastikan Zen tidak memiliki luka di tubuhnya..


"Sejak tadi," ucap Zen dengan malas.


"Aku sudah menutup semua akses yang ada di lantai bawah, tapi untuk seterusnya belum ku tutup," ujar Zen yang kini di angguki oleh Max.


Zen yang mendapatkan anggukan dari Max langsung pergi begitu saja dari sana sebelum tensi darah tingginya benar-benar naik karena menghadapi Max.


"Leo bagaimana kabarmu?" tanya Zen setelah tiba di samping Leo.


"Kabarku baik!" jawab Leo dengan gembira.


'Yah, semuanya baik-baik saja karena Lin akan segera turun dari sana dan yang paling penting adalah dia tidak terluka,' batin Leo dengan senang sekaligus lega.


"Syukurlah dan sepertinya keadaan LIn juga baik-baik saja," ujar Zen dengan tenang.


'Semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah yang terjadi, aku bisa menganggap jika rencana yang kita jalankan berjalan dengan lan-' batin Zen tiba-tiba terputus saat matanya menangkap sekelebat kabut berwarna ungu di atas terpal.


"Huh...?" gumam Lin dengan bingung karena teriakkan tiba-tiba yang diucapkan oleh Zen .


"Ada apa kak Zen? Kenapa kakak tiba-tiba saja menyuruh Lin untuk berhenti di sana?" tanya Leo dengan bingung.


"Lin, bergeraklah ke kiri dua langkah kecil," ucap Zen yang semakin membuat kedua anak dibawah umur itu bingung.


"Tapi-"


"Lakukan saja Lin!" ujar Zen yang membuat Lin melakukannya dengan segera.


"A-aku sudah melakukannya, bisakah aku maju sekarang?" tanya Lin yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


'Kurasa sudah baik-baik saja,' batin Zen saat melihat jika kabut ungu di sana tidak bergerak dan hanya berdiam di satu sisi saja.


"Yah, kamu sudah bisa berjalan kembali, maafkan aku yang tiba-tiba saja membuatmu berhenti di sana," ujar Zen yang dibalas senyuman tipis oleh Lin.


"Tidak masalah kak Zen, aku akan mulai melangkah kembali," ujar Lin dan melanjutkan langka kakinya yang sebelumnya sempat tertunda.


'Yah, kurasa kabut ungu itu hanya untuk menunjukkan jika kain itu sedikit rentan? Mungkin karena terpal itu selalu menjadi pijakan saat Lin melangkah menuju kearah Leo,' batin Zen tanpa mengalihkan pandangannya dari kabut ungu yang sangat menganggu matanya.


"Huft, kurasa memang hanya berada di sana saja," gumam Zen dengan pelan dan mengalihkan fokusnya kembali kearah Lin yang hanya tinggal 8 langkah untuk sampai ke Leo yang sedang menunggu Lin di sana.


'Kalau begitu apa selanjutnya? Membuat racun pelumpuh? Yang benar saja, aku mungkin harus kembali merumuskan zat-zat kimia itu sebelum menemukan komposisi yang tepat untuk membuat racun itu,' batin Zen lalu tenggelam kedalam pikirannya.


'Kalau begitu, berapa banyak waktu yang akan kupakai hanya untuk membuat racun seperti itu?' batin Zen dengan kesal.


'Aku tidak bisa meninggalkan kedua anak itu terlalu lama, maksimal adalah tiga bulan, itupun aku harus selalu memantau keadaan mereka setidaknya tiga hari sekali. Belum lagi akan ada bajingan pemerintah yang mungkin akan menggangu tepat setelah tiga bulan itu,' batin Zen lalu mengerutkan keningnya dengan kesal.

__ADS_1


"Berikan kepadaku Lin," ucap Leo sambil mengulurkan tangannya kearah dus mie terakhir yang dibawa oleh Lin.


"Ini kak dan cepat, ternyata berdiri lama di ketinggian setinggi ini benar-benar membuatku sedikit takut," ujar Lin mengutarakan pikirannya.


Leo yang mendengar itu tertawa kecil dan memindahkan dus mie itu dengan cepat kearah tempat dimana dus mie yang lainnya sudah di susun rapih olehnya.


"Tapi kamu hebat Lin," puji Leo yang membuat Lin tersenyum senang.


"Tentu saja, karena aku adalah Lin!" pekik LIn sambil menepuk dadanya dengan bangga.


"Kalau begitu cepat turun dari sana Li-" ujar Zen yang terputus tiba-tiba saat melihat jika kain terpal yang diinjak oleh Lin memiliki kabut ungu di sepanjang kain terpal berada.


"Aku akan turun jika aku bisa kak Zen, tapi aku tidak bisa," ujar Lin dengan kesal dan tanpa sengaja Lin membuat gerakan yang membuat kain terpal di sana sedikit bergoyang.


Zen yang melihat itu kembali dibuat takut dan bergegas menuju Lin dengan cepat, mengingat jika jaraknya terlampau jauh dari sana membuat dirinya semakin was-was.


"Lin, diam di sana!" ujar Zen dengan kalut.


"Emm...? Tapi aku memang diam dari tadi," ucap Lin sambil sedikit menggerakkan badannya yang membuat kain terpal itu kembali bergoyang.


"Lin, bisakah kamu mendengarkan ku? Tolong diam di sana dan jangan membuat gerakan apapun karena itu akan membuat kain terpal nya bergoyang," ujar Zen yang membuat Lin membuka mulutnya untuk membalas perkataan Zen.


Zen yang melihat itu segera memotong ucapannya sambil menatap Lin dengan tajam.


"Tunggu di sana dan jangan melakukan gerakkan apapun!" ujar Zen dengan tegas yang tanpa sadar membuat Lin berdiri kaku di sana.


"Bagus seperti itu dan aku akan segera pergi untuk menurunkan mu dengan selamat," ujar Zen yang sudah berada di depan Lin dengan tangan terulur untuk menggendongnya.


'Semua akan baik-baik saja karena Lin sudah berada di depan mata-' batin Zen yang harus kembali terputus karena Lin yang mengambil langkah kecil untuk mendekatkan diri kepada Zen yang ingin menggendongnya turun.


Tepat setelah Lin menyelesaikan langkah kecilnya itu, batangan besi yang mengikat kain terpal sebagai pijakan Lin tiba-tiba saja patah yang membuat tubuh Lin segera terjun bebas ke bawah.


"Lin!!!" pekik Zen dengan keras sambil berusaha untuk menggapai tangan Lin untuk bisa menariknya keatas.


Tapi sepertinya dewa kembali pilih kasih dengan takdir yang dimiliki oleh Zen karena tangan miliknya bahkan tidak menyentuh seincipun tangan milik Lin yang terulur untuk menggapai tangan miliknya.


"LIN!!!" teriak Zen dengan tangan yang terulur sia-sia karena tidak bisa menggapai tangan Lin.


'Sial, apa yang harus aku lakukan?!' batin Zen dengan panik saat melihat Lin yang semakin jauh dari jarak jangkauannya.


"Aku harus-" ucapan Zen terputus begitu saja saat tubuh Zen bergerak reflek menyusul Lin dan melompat kebawah.


"Kak Zen!" pekik Leo dengan keras saat melihat tubuh Zen ikut terjun kebawah.


Sedangkan Max yang melihat seluruh kejadian dari sisi gedung mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat melihat tindakan nekat terbilang bodoh yang dilakukan oleh Zen.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2