Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(32) Insiden Tidak Terduga|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“A-apa…?” ucap Leo dengan terbata-bata saat melihat seorang Wanita yang berdiri di depan pintu dengan kondisi yang mengerikan dimana lehernya mengeluarkan darah serta mulutnya yang berlumuran darah dan kedua matanya yang melotot dengan tanpa adanya tanda fokus di kedua pupil nya.


...| (❁❁) |...


“Kamu benar,” ucap Max dengan pelan saat melihat segerombolan manusia yang berjalan terseok-seok kearah gerbang sekolah.


Mereka berdua sekarang sedang berada di rooftop sekolah dengan Max yang sedang melihat kearah gerbang sekolah dengan teropong yang entah didapatkan darimana olehnya.


“Sudah puas kamu melihatnya? Kita harus turun dari sini. Jika tetap berada disini, kita tidak akan memiliki akses untuk melarikan diri,” jelas Zen saat mencoba menghalau sinar matahari yang kini memancarkan cahaya oranye ke bumi.


“Baiklah, ayo kita turun. Omong-omong apa kamu tidak mengambil sesuatu sebagai senjata untuk membela diri?” tanya Max saat melihat Zen yang sepertinya sangat santai dalam menghadapi semua ini.


‘Dia terlihat sangat tenang dalam menghadapi fenomena aneh ini,’ batin Max yang tidak menyadari jika dirinya juga sangat santai dalam menghadapi fenomena aneh ini.


“Tidak perlu, lagipula ada kamu bukan?” ucap Zen dengan senyum licik yang membuat Max mendengus kasar.


“Aku tidak bisa selalu fokus untuk melindungi mu,” jelas Max.


“Kalau begitu, bagaimana dengan ini?” tanya Zen sambil mengayun-ayunkan batangan besi yang dia ambil dari lantai rooftop di bagian pojok.


“Kurasa ini cukup kuat,” gumam Zen yang di angguki oleh Max.


“Karena kamu sudah menemukan senjata yang pas, ayo segera turun. Aku melihat jika para mayat hidup itu sudah mulai memasuki halaman depan sekolah,” jelas Max yang di angguki oleh Zen.


Dengan segera kedua orang yang berbeda umur satu tahun itu berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobil sesuai dengan rencana mereka. Jika kalian ingin mengetahui bagaimana mereka bisa mendapatkan kunci mobil tersebut, tentu saja karena Zen yang berhasil mencuri kunci itu.


Semua berawal saat mereka berdua berjalan menuju rooftop dan tidak sengaja berpapasan dengan seorang guru wanita yang dikenal dengan kekayaannya serta mobil mewah yang digunakan olehnya untuk berangkat ke sekolah.


Guru itu berjalan dengan sebuah kunci yang diyakini adalah kunci mobil yang terdapat di dalam tas guru tersebut. Dengan segera mereka menyusun sebuah rencana di otak licik keduanya dengan pembagian tugas Max yang mengalihkan perhatian sang guru dan Zen yang mengambil kunci mobil tersebut.


Awalnya Max tidak percaya jika Zen bisa mengambil kunci tersebut namun bantahannya harus ditelan saat melihat tatapan percaya diri dari Zen.


Dengan sangat tidak rela, akhirnya Max menuruti rencana itu dan dengan cepat berjalan acuh sambil menarik tangan Zen dengan kasar yang tentu saja dilihat oleh guru itu.


Guru yang melihat itu tentu saja menegur Max saat melihat tatapan ketakutan dari Zen. Dengan beberapa nasihat dari guru tersebut seperti jangan membully sesama murid sampai jangan membolos dalam jam pelajaran walaupun jam pelajaran itu hanya jam pembelajaran mandiri.


Max yang sangat mendalami perannya hanya menatap sinis dan tajam kearah guru itu dan membantahnya dengan nada keras yang membuat guru itu terdiam karena kaget sekaligus marah.


Guru wanita yang mendapatkan bantahan itu hanya terdiam dengan wajah yang memerah karena amarah.


Dengan penuh rasa kesal, guru itu kembali berteriak dengan tangan yang kini sudah dilayangkan kearah Max.


Tentu saja dengan mudah Max menangkis itu dan mulai membisikan sebuah kalimat kepada guru itu yang membuatnya gemetar ketakutan.


“Lebih baik anda diam atau lisensi anda sebagai guru akan saya cabut. Sangat mudah bagi saya untuk mencabut lisensi guru seperti anda jika saya mau,” jelas Max dengan nada penuh ancaman yang membuat guru tersebut terdiam di tempat.


Max yang melihat itu hanya mencibir pelan lalu berjalan pergi dengan terus menarik tangan Zen dengan kasar. Jika kalian mengira Zen tidak berhasil mengambil kunci mobil itu maka, kalian salah besar.


Dia berhasil mengambil kunci mobil itu saat Max sedang mengucapkan kalimat penuh ancaman kepada sang guru dengan gerakan yang sangat cepat hingga hampir saja membuat Max meruntuhkan ekspresinya.


Setelah mereka sampai di atas rooftop tadi, Zen dengan cepat dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Max. seperti…,


“Bagaimana kamu bisa melakukannya dengan sangat cepat?”


“Itu sedikit mustahil untuk dipercaya!”


“Atau jangan-jangan kamu pernah melakukan pencurian hingga bisa sangat handal dalam melakukan hal itu?”

__ADS_1


Pertanyaan terakhir dari Max tentu saja mendapat tatapan kesal serta bantahan keras dari Zen.


Walaupun dari kenyataannya dia memang sangat sering melakukan hal itu hingga handal tapi tetap saja dia melakukannya saat hari kiamat sudah terjadi oke? Bukan di masa zaman normal seperti ini.


Ditambah dia melakukannya untuk bertahan hidup, jangan salahkan Zen jika nilai moralitas serta kemanusiaannya sudah tergeser dengan keinginan untuk bertahan hidup.


Kembali ke masa sekarang, kedua remaja yang baru saja berusia dewasa itu sedang berjalan menuju tempat parkir mobil dengan tangan Zen yang sesekali mengguncang pelan kunci mobil ditangannya.


Mereka harus menempuh jarak yang sedikit jauh akibat menggunakan tangga di belakang gudang untuk menghindari berpapasan dengan para siswa maupun guru.


“Aku sedikit kasihan dengan para siswa yang masih belajar dengan giat tanpa mengetahui hal gila apa yang akan terjadi nanti,” gumam Max dengan pelan yang masih di dengar oleh Zen.


“Yah, kurasa mereka seharunya menyadari hal ini sebentar lagi. Ditambah jika mereka semua bekerja sama aku yakin mereka bisa selamat tanpa harus menanggung korban jiwa.”


“Tapi bagaimanapun juga manusia memiliki sifat egois. Ditambah dengan keadaan panik serta rasa takut kurasa mereka semua tidak akan bisa berfikir dengan jernih,” jelas Zen yang membuat Max mengangguk.


“Itu benar, mereka akan memiliki pemikiran yang pendek untuk melakukan sesuatu dengan keadaan yang diluar nalar, tak jarang juga rasa kemanusiaan lah yang mereka hilangkan,” jawab Max.


“Omong-omong aku sedikit lupa warna mobil guru wanita tadi,” ucap Zen.


“Warna merah gelap, bagaimana kamu bisa lupa? Bukankah kamu seharusnya tahu mengingat dia sangat suka pamer mengenai mobilnya itu?” tanya Max.


‘Mana aku ingat! Itu adalah ingatan yang sudah berlalu puluhan atau bahkan ratusan tahun!’ batin Zen tersenyum miris.


“Entahlah, mungkin aku sedikit melupakan beberapa hal,” jawan Zen acuh yang membuat Max menatapnya dengan heran.


“Kamu-“ ucapan Max terhenti begitu juga dengan laju jalannya. Kini mata berwarna biru mudanya menatap datar sekaligus tajam kearah depan.


“Hah! Klise sekali,” cibir Zen saat melihat beberapa siswa yang dikenalnya memblokir pintu tangga.


“Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Max dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh mereka.


“Hehehe, apa yang ingin kami lakukan? Bukankah kamu bisa melihatnya sendiri?” tanya anak laki-laki itu sambil mengguncang kayu besar yang berada di tangannya.


“Kenapa? Kurasa aku tidak menyinggung kalian?” tanya Max dengan acuh.


‘Yang baru saja ku singgung adalah anak sekolah sebelah, bukan mereka. Kenapa mereka menghambat jalannku? Apa mereka tidak menyadari keanehan di depan gerbang?’ batin Max bertanya-tanya.


“Dendam lama apannya?” cibir Max yang membuat salah satu anak laki-laki di sana mengeram marah.


“Yah, karena ini adalah dendam lamamu, maka aku tidak akan ikut campur,” ucap Zen dengan tatapan polos sambil berjalan mundur.


‘Apa? Apa dia akan kabur seperti itu?’ batin Max dengan kesal.


“Yak! Jangan kabur kau! Kamu juga memiliki urusan dengan dendam lama kami!” seru mereka.


“Tunggu, aku?” tanya Zen sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Tentu saja! Memangnya siapa lagi, hah?! Semua yang terlibat dengan luka kakak ipar kami akan kami balas kan dendamnya!” seru laki-laki itu dengan keras.


“Luka? Tunggu sejak kapan aku melukai kakak ipar kalian? Dan memangnya siapa kakak ipar kalian?” tanya Zen dengan bingung.


“Memangnya siapa lagi pacar bos selain kakak Joy!” seru mereka yang membuat Max dan Zen terdiam.


“Joy?” tanya Zen dengan tercengang.


“Pftt…,” tawa Max tertahan yang membuat mereka berseru kesal.


“Yak, kenapa kamu tertawa!”


“Tentu saja karena lucu,” jawab Max dengan lugas yang membuat Zen menepuk pelan jidatnya.


“Apanya yang lucu?!”


“Kalian tahu? Tawaku ini merupakan simbol kebahagian karena bos dan kakak ipar kalian bersama,” ucap Max dengan tenang.


“Bukankah mereka sangat cocok? Tentu saja! Bukankah anjing jantan adalah pasangan alami anjing betina? Ah … sepasang anjing yang cocok!” lanjut Max dengan senyum miringnya yang membuat Zen ingin tertawa.

__ADS_1


‘Sial … tahan tawamu Zen jangan sampai kelepasan! Tapi mereka memang sangat cocok!’ batin Zen dengan tangan yang memegang perutnya dan bahunya yang bergetar menahan tawa yang ingin keluar.


“Kamu-“


“Ditambah aku tidak menyakiti kakak ipar atau apalah itu! Yang menyakitinya adalah dia,” tunjuk Max kearah Zen yang membuat Zen menatapnya tidak percaya.


‘Dia mengorbankan aku?!’ batin Zen dengan ekspresi terkhianati.


‘Siapa duluan yang mengorbankan siapa?’ batin Max dengan acuh mengabaikan ekspresi Zen.


“Yak! Aku tidak peduli siapa yang menyakitinya duluan. Yang kita inginkan disini adalah balas dendam!” seru remaja laki-laki yang memegang tongkat kayu dan membanting tongkat kayu tersebut kelantai yang membuat bunyi benda terbentur dengan keras.


Max yang melihat itu hanya menatap acuh dengan kedua tangan yang disilangkan di dada dan punggung di sandarkan di dinding tangga.


“Sudah selesai basa-basi nya? Sekarang minggir lah! Kamu membuang waktuku,” ucap Max dengan dingin.


“Hah! Kamu ingin lewat? Maka hadapi dulu kami!” seru laki-laki remaja itu sambil mengambil kuda-kuda bertarung.


“Maaf sekali tapi kalian bukan lawanku. Jadi cepat menyingkir dari hadapanku karena aku sedang terburu-buru,” ucap Max dengan tekanan sekali lagi.


Zen yang mendengar Max mengulangi kalimatnya dua kali yang menandakan jika dirinya serius mulai melangkahkan kakinya secara diam-diam untuk mundur kebelakang.


‘Aku tidak ingin kena amarahnya Max. Ditambah apa mereka tidak menyadari jika Max sedang berbicara serius? Mereka sepertinya tidak sayang dengan nyawa mereka lagi,’ batin Zen sambil menatap kearah Max.


“Kamu tuli?! Kubilang hadap-“ ucapannya terputus saat merasakan rasa sakit di rahang bagian bawahnya.


‘Kapan dia ada di hadapanku?’ batin remaja itu saat melihat wajah Max yang tepat berada dihadapan wajahnya.


Tanpa menunda lagi tangan kanan Max mulai melayangkan jab kearah ulu hati remaja itu yang membuat remaja tersebut mundur kebelakang dengan posisi akhir meringkuk sambil memegang ulu hatinya.


“Sialan kau!” teriak salah satu dari tiga remaja itu dan mulai berjalan dengan tangan terangkat kearah kepala Max.


Max yang melihat itu dari sudut matanya segera menghindari pukulannya dan menggerakkan tangan kanannya untuk mengarahkan pukulan dengan keras tepat di bagian rahang wajah milik remaja tersebut yang membuatnya terpental kebelakang.


“Dua dari kalian sudah kubereskan. Sekarang tinggal kamu saja,” ucap Max sambil menatap dengan acuh kearah remaja yang membawa tongkat kayu.


“Hah! Betapa sombongnya? Lihat saja aku akan mengalahkanmu!” teriak remaja itu sambil mengayunkan tongkat kayu besar miliknya langsung kearah leher Max.


‘Apa dia gila? Dia ingin melakukan pembunuhan di siang hari seperti ini?!’ batin Zen dengan tidak percaya.


Max yang melihat itu hanya tersenyum miring dengan kepala yang dimiringkan. Tangan kanan miliknya mulai mengeluarkan batangan besi seukuran tangan miliknya dan mulai menekan tombol yang ada di batangan besi itu.


Dengan cepat batangan besi itu memanjang hingga ukuran tertentu. Yah, itu adalah baton stik yang baru saja mereka bahas.


Senyum miring di wajah Max semakin lebar saat tangan kanan miliknya yang memegang baton stik itu terangkat kearah kepala remaja tersebut.


Yah, itu bukan terarah untuk memblokir tongkat kayu tersebut tetapi tongkat itu terarah untuk memukul kepala bagian belakang remaja yang memegang tongkat kayu tadi.


Jika kalian mengira tongkat kayu itu mengenai leher milik Max, kalian juga salah besar. Karena kini tangan kirinya sedang memblokir langsung tongkat kayu itu hingga menimbulkan beberapa lecet serta darah di tangan besar miliknya.


“Mati kau!” teriak Max saat mengarahkan tongkat itu.


“Sial! Max berhenti! Kamu akan membunuh seseorang!” teriak Zen saat melihat situasi yang tidak kondusif dan dengan cepat berlari menuju kearah Max sambil mengangkat batangan besi yang dibawanya untuk memblokir serangan baton stik milik Max.


Bunyi dentangan dari kedua benda besi itu terdengar cukup keras disertai dengusan ringan dari Zen saat merasakan beban berat di kedua tangannya yang kini menjadi tumpuan untuk menghentikan tongkat Max.


‘Dia benar-benar gila!’ seru Zen dalam hati karena merasakan tekanan besar yang diberikan oleh Max.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2