Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(39) Apartemen Zen|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


“Tentu, ayo pergi ke jalan XX tempat apartemenku berada,” ucap Zen yang di angguki oleh Max.


Dengan kecepatan konstan, Max mulai menggerakkan mobil itu sambil menabrak para zombie yang menghalangi jalan mobilnya.


...| (❁❁) |...


“Apa kamu tinggal di sini?” tanya Max sambil mengamati apartemen kecil di hadapannya.


“Iya aku tinggal di sini? Memangnya kenapa?” tanya Zen dengan bingung.


“Tidak, tidak apa-apa,” balas Max sambil menggeleng pelan.


‘Tempat tinggalnya lebih buruk dari tempat tinggal ku yang notabennya adalah seorang anak haram,’ batin Max.


‘Bukankah dia memiliki kakak yang terkenal? Sudah pasti kakaknya itu kaya, tapi bagaimana mungkin dia tinggal di tempat kecil seperti ini?’ lanjut Max sambil memandang Zen dengan tatapan errr … kasihan?


“Aku tinggal disini atas kemauanku sendiri, jadi hentikan tatapan matamu itu!” ucap Zen dengan ketus.


“Sudahlah, ayo segera pergi ke ruangan ku, aku sangat mengkhawatirkan kondisi kedua anak itu,” gumam Zen dengan pelan.


“Jika benar ini adalah apartment, bukankah banyak orang yang akan tinggal di sana? Bagaimana jika orang di sana sudah berubah menjadi zombie?” tanya Max yang membuat kening Zen berkerut.


“Jumlah ruangan di apartment ini hanya ada sepuluh karena luasnya yang kecil, lima dilantai kedua dan lima di lantai pertama. Untuk di lantai pertama aku yakin jika tidak akan ada orang sama sekali mengingat penghuni lantai pertama adalah orang yang sibuk untuk bekerja ditambah mereka tinggal seorang diri, mari kita kecuali kan untuk 2 orang sebagai jaga-jaga.”


“Lalu dilantai kedua adalah tempatku tinggal dengan 4 keluarga lainnya. 3 diantara 4 keluarga itu adalah keluarga yang memiliki lebih dari dua orang yang tinggal di sana dan 1 keluarga itu adalah pemilik tunggal, mari asumsikan jika mereka memiliki 4 anggota keluarga di masing-masing ruangan itu maka lawan yang harus kita hadapi adalah 13 orang yang kemungkinan berubah menjadi zombie,” jelas Zen dengan Panjang lebar.


“Kau gila untuk membiarkan kita melawan 13 zombie?” tanya Max dengan tatapan tidak percaya.


“Tentu saja tidak! Walaupun aku ingin mengunakan cara itu, tapi aku masih memikirkan bagaimana nasib ku kedepannya jika kamu mati saat ini,” balas Zen dengan terus terang yang membuat Max mendengus kasar.


“Lalu bagaimana caramu agar kita bisa membawa kedua adikmu itu tanpa harus menghadapi 13 zombie itu?” tanya Max yang membuat Zen tersenyum cerah.


“Tentu saja kita harus memanjat!” seru Zen yang membuat Max bingung.


“Memanjat untuk bisa sampai ke lantai 2? Tapi bagaimana caranya? Kita tidak memiliki tali disini,” ucap Max yang semakin membuat Zen tersenyum lebar.


“Tentu saja dengan tangan dan kaki kita,” balas Zen yang membuat Max menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


“Ayolah, kita harus segera ke tempat yang ku maksud agar bisa menyelamatkan kedua adikku itu,” ucap Zen yang membuat Max tersadar dari lamunannya.


“Ck, baiklah tapi kamu harus menjamin jika ini tidak akan membahayakan nyawaku sama sekali,” ucap Max dengan ketus.


“Tentu saja, bagaimana mungkin aku membahayakan nyawa rekan ku sendiri?” ucap Zen dengan senyuman yang membuat Max sedikit curiga.


‘Mulutmu memang mengatakan seperti itu tapi entah kenapa senyummu seperti sedang merencanakan sesuatu yang mencurigakan?’ batin Max sambil menghela nafas lelah.


...----------------...


“Jadi ini titik awal kita untuk memanjat?” tanya Max yang membuat Zen mengangguk pelan.


“Yap!”


“Lalu dimana aku harus memulainya jika tidak ada sesuatu yang bisa ku panjat disini?!” tanya Max dengan frustasi.


“Shttt, kecilkan suaramu itu atau kamu akan menarik perhatian beberapa zombie untuk datang kemari,” ucap Zen memperingati Max.

__ADS_1


“Kalau begitu segera jelaskan bagaimana caraku agar bisa memanjat keatas sana!” ucap Max dengan memekik pelan.


“Huh, kamu harus menaiki pohon itu lalu lompat kearah celah di sana dan berjalan menuju balkon lorong itu,” ucap Zen sambil menggerakkan jarinya kearah tempat yang di telunjuknya tadi.


“Kamu ingin aku memanjat pohon itu lalu melompat menuju celah kecil itu?” tanya Max sambil menggerakkan jarinya juga.


“Ya, apa ada masalah?” tanya Zen dengan ekspresi bingung.


“Tentu saja ada masalah di sini! Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk melompat dengan jarak sejauh itu? Terlebih lagi mendarat di celah yang kecil? Kamu ingin aku mati karena jatuh dari ketinggian?” tanya Max dengan senyum menyeramkan diwajahnya.


“Tiga meter tidak terlalu jauh! Lagipula aku pernah mencobanya dan itu berhasil walaupun kamu jatuh sekalipun, kamu tidak akan mati,” ucap Zen dengan percaya diri.


“Hah, apa yang membuatmu percaya disi?” tanya Max dengan nada mencibir.


“Tentu saja karena aku pernah jatuh dari sana dan aku baik-baik saja,” jelas Zen yang membuat Max ingin mencekik leher rekannya itu.


“Hahh, sudahlah aku malas berbicara denganmu, lebih baik aku mulai memanjat sekarang sebelum aku benar-benar mati karena gila,” ucap Max lalu melengos kearah pohon itu mengabaikan Zen.


“Huh? Memangnya ucapan ku salah? Aku pernah jatuh dari sana dan aku masih selamat, hanya saja kepalaku perlu mendapatkan 6 jahitan di sana, lalu aku juga pernah mendarat dengan sempurna di celah kecil itu. Kenapa ekspresinya seperti itu?” tanya Zen dengan bingung kepada dirinya sendiri.


‘Tinggi pohon ini adalah 40 meter, cukup tinggi hingga bisa sampai di lantai dua. Sedangkan jarak yang harus ku loncati adalah 3 meter ditambah dengan berat tubuhku adalah 64 kg. total energi yang harus ku kerahkan agar bisa melompat hingga sana adalah sekitar 7.680 joule. Tapi masalahnya aku tidak tahu 7.680 joule itu seberapa kuat?! Sudahlah lebih baik meloncat dengan sekuat tenaga seolah-olah hidupmu sedang dipertaruhkan disini,’ batin Max dengan frustasi lalu meloncat dengan sekuat tenaga menuju celah kecil itu.


Setelah perang batin yang dilakukan oleh Max kini tubuhnya sedang melayang menuju kearah celah kecil tersebut. Entah ini keberuntungan dari mana sehingga loncatan penuh kekuatan Max membawanya sampai dengan selamat kearah celah kecil itu.


‘Sial ku kira aku akan mati hari ini,’ batin Max sambil memegang jantungnya yang sempat berdegup kencang saat sudah berhasil sampai dengan selamat di celah itu. Ah, tolong minuskan bagian kakinya yang masih sedikit gemetar di sana.


“Wow, kau hebat Max sehingga langsung bisa di percobaan pertama,” ucap Zen sambil bertepuk tangan pelan seolah memberikan apresiasi.


“Sialan! Sudahlah lebih baik kamu segera menyusul ku kesini!” ucap Max dengan keras mengabaikan fakta jika zombie akan tertarik mendengar suaranya.


“Baiklah, aku akan ke sana segera,” ucap Zen dengan santai lalu memanjat pohon itu.


Max sendiri lebih mengabaikan orang gila itu dan kini mulai memanjat kearah lorong di lantai dua, dengan lihai ia meloncat keatas sana dan berhasil mendarat dengan aman di lantai dua.


Ah, sebenarnya tidak juga karena setelah Max sampai di sana dia harus menelan kenyataan pahit jika dirinya harus melawan kumpulan zombie dihadapannya.


“Apa kamu tidak memprediksi ini?” tanya Max tiba-tiba yang membuat Zen mengerutkan keningnya,


“Memprediksi? Memprediksi apa?” tanya Zen dengan bingung.


“Tentu saja para zombie yang berdiri di hadapanku ini!” teriak Max dan mulai memukul zombie yang ada dihadapannya menggunakan baton stik miliknya.


“Huh?! Sungguh aku tidak memprediksi jika para zombie berada di sini!” balas Zen dengan berteriak juga sambil memukul para zombie yang mendekatinya.


“Lalu kenapa disini banyak terdapat zombie? Kamu ingin membunuhku?” tanya Max sambil menghela nafas pelan saat sudah mengalahkan dua zombie yang menyerangnya.


“Jika kamu mati maka aku juga akan mati! Lagipula untuk apa aku membunuhmu? Kamu itu bermanfaat untukku!” ucap Zen setelah mengalahkan satu zombie lagi yang menyerangnya.


“Tunggu! Mungkin saja para zombie ini tertarik untuk datang kesini karena teriakkan mu itu!” seru Zen sambil menunjuk kearah Max.


“Aku? Bukankah kamu yang memulai dengan berteriak duluan,” bantah Max sambil menunjuk kembali kearah Zen.


“Aku tidak pernah berteriak! Kamu duluan yang memulainya,” jelas Zen yang membuat Max memutar matanya dengan malas.


“Aku tidak akan berteriak jika kamu tidak memancing emosiku dengan tingkah laku mu itu!” ucap Max.


“Tingkah lakuku? Memangnya aku melakukan apa?” tanya Zen dengan bingung.


“Sudah! Hentikan ini sebelum aku memiliki Riwayat penyakit darah tinggi karena terlalu sering berbicara denganmu!” ucap Max yang dibalas dengan dengusan kasar oleh Zen.


Sepuluh menit sudah mereka lewati hanya untuk membunuh segerombolan zombie yang tidak ada di daftar rencana mereka. Sepuluh menit juga Max harus bersabar untuk menghadapi tingkah Zen yang hampir saja membuat dirinya memiliki penyakit darah tinggi.


Kini keduanya sedang terduduk sambil mengambil nafas dengan rakus disekitar mereka, terlebih lagi dengan Zen yang kini sudah mulai meneteskan keringat hingga membuat baju miliknya mulai basah. Berbeda dengan Max yang hanya memiliki sedikit keringat dengan nafas yang masih tersengal.


Zen yang melihat itu hanya bisa menatap Max dengan iri, iya iri bagaimana bisa dia masih tetap tampan walaupun bajunya sedang penuh dengan bercak darah berwarna hitam, oh jangan lupakan dengan beberapa bercak darah yang berada di wajahnya yang bukan membuat wajahnya menjadi jelek tetapi malah semakin lebih tampan.

__ADS_1


‘Pasti sangat berbeda dengan tampilan ku saat ini yang mungkin saja sudah sangat berantakan dan sangat jauh dari kata tampan,’ batin Zen dengan rendah diri.


Hei, sepertinya Zen kami perlu mempunyai kaca disini. Walaupun dia memang terlihat berantakan tetapi wajah miliknya masih terlihat bersih bahkan tidak memiliki bercak darah sama sekali diwajahnya.


Yah, mari kita minuskan bagian pakaian dan tangannya yang sangat penuh dengan darah berwarna hitam seolah-olah dia baru saja bermain dengan lumpur. Tetapi wajah miliknya masih sangat tampan!


“Hei, sampai kapan kita akan terus berada di sini? Tidakkah kamu ingin segera menemui kedua adikmu itu?” tanya Max yang membuat Zen tersadar dari pemikirannya.


“Ah, kamu benar! Ayo segera menuju kamar apartemenku. Tidak jauh dari sini kok, hanya berjarak dua kamar apartemen untuk bisa sampai di sana,” jelas Zen sambil bangkit dari duduknya.


“Baiklah kalau begitu,” balas Max lalu mengikuti Zen yang sudah berjalan terlebih dahulu dari belakang.


...----------------...


Suara pukulan yang terdengar dari luar semakin kencang dan bahkan membuat lemari yang berada di belakang pintu itu ikut bergetar pelan.


“Kakak, sampai kapan kita harus seperti ini?” tanya Lin.


“Tentu saja kita harus seperti ini sampai kak Zen kembali,” jelas Leo sambil mengusap rambut Lin dengan pelan.


“Tapi, bagaimana jika kak Zen tidak kembali?” tanya Lin dengan pelan sambil menundukkan kepalanya.


“Kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu, Lin. Kak Zen pasti akan kembali,” ucap Leo dengan tegas yang membuat Lin semakin merasa bersalah.


“Aku tahu kak Zen akan kembali, hanya saja aku khawatir jika dia kenapa-napa di luar sana,” balas Lin yang membuat Leo mensejajarkan tinggi badannya dengan Lin.


“Kamu mengkhawatirkannya bukan? Kalau begitu cukup doakan dia agar dia baik-baik saja dan segera bisa menyelamatkan kita,” ucap Leo yang membuat Lin mengangguk pelan dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


“Tentu saja! Itu adalah doaku sedari tadi,” balas Lin sambil memaksakan senyum.


Leo yang melihat itu hanya bisa memeluk adiknya dengan erat. Ia tahu adiknya sedang dilanda perasaan takut, gelisah, dan khawatir. Tapi seperti biasa, dia kembali mencoba bersikap dewasa dihadapan dirinya yang notabennya adalah kakaknya. Tentu saja Leo merasa seperti gagal untuk membahagiakan adik kecilnya itu.


Di usianya yang masih terbilang muda, adiknya harus dipaksa menjadi pribadi yang dewasa disaat seharunya dia hanya perlu bermain tanpa mengkhawatirkan apapun.


Padahal setelah Leo menyaksikan sendiri mata adiknya saat pertama kali menatap matanya, dirinya sudah berjanji untuk memberikan kebahagiaan yang lengkap untuknya.


Tapi apa? Adiknya kini harus menderita dan dipaksa menjadi dewasa dan harus kehilangan senyuman cerianya. Walaupun adiknya itu sering sekali tersenyum beberapa kali dan bertingkah menjadi anak manja kepadanya, dia tahu jika itu hanyalah sandiwara belaka.


Itu hanyalah sebuah topeng yang dipasang di wajah adiknya itu agar dirinya tidak perlu merasa khawatir mengenai tindakannya. Tapi bukankah itu justru membuat hati Leo lebih terluka dan lebih merasa bersalah karena tidak menepati janjinya?


“Kakak, aku tidak apa-apa,” ucap Lin sambil menepuk pelan punggung kakaknya itu.


Lagi, kembali lagi dirinya yang harus dihibur oleh Lin bukan dirinya yang menghibur Lin. Bukankah dia benar-benar kakak yang payah?


“Ah, maafkan aku Lin tiba-tiba saja aku menjadi sedikit emosional,” ucap Leo dengan senyuman seperti biasanya.


“Lebih baik kita tunggu seben-“


Ucapan Leo terputus begitu saja sambil membalikkan badannya kearah pintu dan lemari yang berhenti bergetar.


Bahkan suara gedoran dari luar mulai berhenti yang membuat kening Leo sedikit berkerut. Lin yang juga merasakannya mulai memegang lengan kakaknya dengan sedikit erat.


‘Suara itu berhenti. Apa kak Zen yang mengatasinya?’ batin Leo sambil menatap sekali lagi kearah pintu yang sudah tidak terdengar suara gedoran dari luar sana.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2