
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
‘Bagaimana dengan keadaan Zen dan kedua anak kecil itu? Kuharap mereka baik-baik saja,’ batin Fin lalu menghela nafas untuk meredakan perasaan khawatirnya.
...| (❁❁) |...
“Tidakkah kamu ingin beristirahat sebentar?” tanya Zen sambil memperhatikan Max yang telah mengayunkan tinju selama 45 menit tanpa berhenti.
“Jam berapa sekarang?” tanya Max yang membuat Zen tersenyum kesal.
“Yak! Apa kamu bodoh? Bagaimana caranya aku bisa melihat jam jika handphoneku saja tidak bisa dinyalakan?!” ucap Zen yang membuat Max tertawa dengan pelan.
“Itu berati kamu masih fokus,” jawab Max yang dibalas dengan dengusan ringan oleh Zen.
“Kenapa kamu melamun seperti tadi?” tanya Max yang kini sudah mendudukkan dirinya di atas matras.
“Apa aku melamun?” tanya Zen dengan bingung.
“Ya, kamu melamun selama aku berlatih tadi, apa kamu memikirkan mengenai rencana bertahan hidupmu itu?” tanya Max yang membuat Zen kembali terdiam.
“Tidak, aku hanya bertanya mengapa kamu tidak menanyakan apa-apa setelah mendengarkan ucapan ku yang tidak masuk akal sejak awal?” tanya Zen mencoba mengalihkan perhatian.
“Huh, jangan kira jika aku tidak tahu kamu sedang mengalihkan percakapan ini,” ucap Max yang dibalas dengan senyuman canggung oleh Zen.
“Oh, ayolah tidak bisakah kamu menjawab saja pertanyaan ku itu?” tanya Zen.
“Memangnya jika aku bertanya kepadamu, kamu akan memberiku jawabannya?” balas Max dengan bertanya kembali.
“Aku lebih menyukai sesuatu yang kulakukan tanpa harus terpaku dengan fakta yang ada. Bukankah lebih baik menjalani kehidupan dengan anam dan damai tanpa harus mengetahui sesuatu daripada mengetahui sesuatu dan membuat hidupmu tidak damai,” jelas Max tanpa menunggu jawaban dari Zen.
‘Itu benar, akan lebih bagus jika aku tidak mengetahui semua ini sehingga rasa bersalahku terhadap kakak tidak semakin bertambah,’ batin Zen sambil kembali mengingat mengenai abu yang di hilangkannya itu.
“Jika perkataan mu benar, seharusnya tinggal beberapa menit lagi hingga pukul 14.01,” ucap Max dengan tiba-tiba sambil menatap langit yang sekarang masih gelap gulita.
“Itu benar,” jawab Zen dengan singkat lalu mengikuti arah pandang Max.
“Tidak bisakah kamu memberikan clue mengenai apa yang akan kita hadapi?” tanya Max sekali lagi.
“Aku akan memberitahumu setelah langit kembali menjadi cerah,” jelas Zen yang masih kukuh pada pendiriannya.
“Tidakkah kamu ingin memberitahu seseorang tentang ini? Seperti para adikmu itu?” tanya Zen sambil menunggu langit menjadi cerah.
“Tidak perlu, lagipula jika semua perkataan yang kamu katakana terbukti, maka aku mau tidak mau harus menuruti permintaanmu itu. Jika aku membawa mereka, itu hanya akan menambah beban ku saja,” jelas Max yang membuat kening Zen berkerut.
“Bagaimana dengan nasib anak-anak yang kamu lindungi dari pembully?” tanya Zen dengan penasaran.
“Memangnya nasib mereka berhubungan denganku?” tanya Max yang membuat Zen terdiam.
‘Kenapa Max menjawab seperti ini? Apa ini adalah efek kupu-kupu yang terjadi setelah aku merubah alur takdir?’ batin Zen bertanya-tanya.
“Lalu kenapa kamu melindungi mereka?” tanya Zen dengan pelan.
“Aku … hanya tidak terlalu suka dengan sikap mereka yang selalu main fisik. Mungkin tidak apa-apa jika mereka melakukannya di belakangku dan aku juga tidak akan peduli. Hanya saja mereka melakukannya di depanku,” jelas Max.
‘Aku hanya tidak menyukai mereka yang melakukan kekerasan fisik di hadapanku dan itu membangkitkan memori yang buruk dalam pikiranku,’ batin Max lalu mendengus dengan pelan secara tiba-tiba.
“Jika mereka melakukannya di hadapanmu?”
“Tentu saja menghentikan mereka, lagipula tidak mungkin bukan jika aku diam saja sambil menyaksikan seseorang dipukuli di hadapanku.”
“Heh, ternyata kamu masih memiliki rasa kemanusiaan juga ya?” tanya Zen dengan nada menjengkelkan.
“Tentu saja aku memiliki rasa kemanusiaan, jika aku tidak memilikinya aku bukan manusia terlebih lagi seorang psikopat,” jawab Max setengah bercanda yang ditanggapi dengusan ringan oleh Zen.
“Omong-omong kenapa kamu memberitahuku? Maksudku bukankah kamu bisa memberitahu seseorang yang dekat denganmu mengenai hal ini dan bukan aku?” tanya Max tiba-tiba.
“Apa kamu lupa jika aku adalah siswa yang selalu dibully? Mana mungkin aku mempunyai teman dekat? Hanya ingin saja. Anggap jika ini adalah balas budiku karena kamu melindungi ku dari para pembully ditambah aku membutuhkan kemampuanmu,” jawab Zen.
“Begitu, karena kekuatanku ya? Berarti kiamat yang akan kita hadapi itu berhubungan dengan hal-hal yang membutuhkan kekuatan sebagai pelindung kita,” jelas Max yang membuat Zen mengerutkan keningnya kesal.
“Yak! Apa kamu sengaja?!”
“Bagaimana mungkin? Bukankah kamu yang mengatakannya sendiri?” tanya Max dengan tegas seolah-olah bukan dirinya yang salah.
__ADS_1
“Haiss, sudahlah!” pasrah Zen yang membuat Max tertawa keras.
“Ka-Oh? Sepertinya langit sudah kembali terang,” balas Max yang membuat Zen segera melihat handphonenya.
“Kamu benar, handphoneku juga sudah bisa dihidupkan,” ucap Zen lalu segera pergi ke forum berita.
“Oh, banyak sekali yang membuat berita itu setelah handphone bisa dinyalakan kembali,” ucap Max saat mengintip layar handphone Zen.
“Ya, mereka pasti tidak sadar jika langit di atas mereka sudah berubah warna,” balas Zen dengan suara pelan lalu mulai menekan nomor telepon rumah untuk menghubungi kedua anak tersebut.
...----------------...
“Kakak? Berapa lama lagi kita harus seperti ini? Padahal lampu dan semua peralatan elektronik sudah mulai menyala kembali,” tanya Lin kepada Leo.
“Kita harus tetap waspada sampai kak Zen kembali ke rumah ataupun menghubungi kita,” jelas Leo dengan tegas.
//Kringgg…………
“Kak! Telepon rumah berbunyi! Mungkin saja itu panggilan dari kak Zen!” seru Lin dengan bersemangat lalu bergegas untuk mengangkat telepon tersebut.
“Halo?” sapa Lin setelah berhasil menjawab.
“Ah, apa ini Lin?” tanya Zen dari sebrang sana.
“Ya! Ini pasti kak Zen!” ucap Lin dengan penuh semangat yang dibalas oleh tawa ringan Zen.
“Bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja?”
“Kami baik-baik saja kak Zen, hanya sedikit takut dengan fenomena aneh yang baru saja terjadi. Lagipula kak Leo menjagaku sejak tadi,” balas Lin.
“Baguslah jika kalian baik-baik saja, Lin bisakah kamu memberikan telepon ini kepada Leo?”
“Iya! Tunggu sebentar kak,” ucap Lin lalu menyerahkan telepon kepada Leo dengan ekspresi seolah mengatakan, “Kak Zen ingin berbicara denganmu.”
“Halo kak? Apa yang ingin kakak katakan?” tanya Leo setelah mengambil alih telepon dari tangan adiknya.
“Ah, apa kamu sudah melihat keluar?” tanya Zen.
“Belum, memangnya ada apa?”
“Lihat saja sebentar lalu aku akan memberitahumu apa yang terjadi,” jawab Zen yang dibalas oleh anggukan pelan Leo walaupun Zen tidak bisa melihatnya.
Dengan segera kaki mungil milik Leo melangkah untuk menuju jendela ruangan dan menarik gorden jendela itu untuk melihat situasi di luar.
“Ada apa kak Le-“ ucapan Lin terpotong saat melihat langit yang aneh dan dengan cepat mundur karena takut.
“Kak Zen sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Leo setelah cukup lama terpaku diam.
“Aku juga tidak tahu apa yang terjadi tapi tetap ikuti pesanku! Jangan pernah membuka pintu untuk siapapun apalagi untuk pergi keluar. Kalian harus berani dan saling menjaga sampai aku bisa menemui kalian nanti.” Jelas Zen yang membuat Leo mengangguk serius.
“Aku mengerti kak, lalu bagaimana dengan keadaan kakak?”
“Keadaanku baik-baik saja disini.” Jawab Zen singkat yang dibalas oleh anggukan Leo.
“Sudahlah, karena kalian baik-baik saja itu bagus. Jika kalian lapar atau membutuhkan sesuatu jangan takut untuk mengacak-acak rumah itu,” ucap Zen.
“Aku mengerti, terimakasih kak Zen dan tolong berhati-hati juga di luar sana,” peringat Leo yang dibalas dengan senyum tenang di seberang.
“Aku akan,” ucap Zen lalu menutup telepon tersebut.
“Apa yang diucapkan oleh kak Zen kepada kakak?” tanya Lin dengan penasaran.
“Hanya berkata jika aku harus melindungi mu dan boleh mengacak-acak rumah ini jika kita harus menemukan sesuatu yang kita butuhkan,” jelas Leo sambil mengusap lembut rambut Lin.
“Begitu … lalu bagaimana dengan keadaan kak Zen?” tanya Lin dengan raut wajah khawatir.
“Dia baik-baik saja dan akan segera menyusul kita disini setelah beberapa jam mungkin? Jadi mari kita fokuskan untuk menaati perintah kak Zen sebelum berangkat sekolah dan melaksanakannya sekarang,” ucap Leo dengan semangat membara.
“Baiklah!” balas Lin dengan tidak kalah semangatnya.
...----------------...
“Apa kamu menelpon kedua adik adopsi mu itu?” tanya Max saat Zen sudah menutup teleponnya.
“Ya, aku harus mengetahui kabar mereka terlebih dahulu atau tidak rasa khawatirku akan semakin besar kepada mereka berdua,” jelas Zen yang membuat Max hanya mengangguk pelan.
“Lalu selanjutnya apa yang akan terjadi?” tanya Max yang membuat Zen memasang raut wajah seriusnya.
“Bukti yang ketiga sekaligus terakhir adalah dalam 30 menit akan tiba segerombolan mayat hidup yang akan mengancam nyawa kita dan membawa virus yang bisa membuat kita berubah menjadi seperti mereka setelah digigit oleh mereka,” jelas Zen yang membuat Max menatap tidak percaya.
“Mayat hidup…? Maksudmu adalah zombie?!” tanya Max untuk memastikannya kembali.
__ADS_1
“Ya, musuh yang mengancam kehidupan manusia saat ini adalah zombie,” jawab Zen.
...----------------...
“Tuan muda, sepertinya langit sudah kembali terang dan listrik mulai menyala kembali,” ucap Jin.
“Baguslah kalau begitu,” ucap Kim dengan lega.
“Tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh tentang langit tersebut,” balas Jin yang membuat Kim menjadi tegang kembali.
“Ada apa?” tanya Ken dengan serius.
“Lebih baik kedua tuan muda melihatnya secara langsung,” balas Jin sambil menuju jendela ruangan dan membukanya dengan lebar.
“Oh ya tuhan!” seruan kaget terdengar oleh Ken saat Kim melihat langit yang kini sudah berubah menjadi warna merah ke oranye.
“Jin, siapkan semua senjata yang ada dan beberapa pasokan makanan,” ucap Kim setelah kembali tenang dari keterkejutannya.
“Baik tuan muda,” ucap Jin lalu bergegas menyelesaikan perintah tuan mudanya.
“Kim, apa menurutmu dunia akan mengalami akhirnya sekarang?” tanya Ken.
“Aku tidak tahu, tapi mungkin saja ucapan yang kamu katakana itu benar, kak,” balas Kim yang membuat Ken mengangguk pelan.
“Yah, apapun yang terjadi aku akan melindungi mu,” gumam Ken dengan pelan yang masih didengar oleh Kim.
“Begitu juga denganku, kak,” balas Kim menimpali ucapan kakaknya tadi.
//Sementara itu di sektor A tidak jauh dari kediaman si kembar…………
“To-tolong aku…!” ucap seorang wanita dengan terbata-bata dan air mata yang terus menetes serta lehernya yang berdarah akibat gigitan seseorang, ah tidak, gigitan zombie pertama yang masih setia mengoyak daging di leher wanita itu.
“Si-sial! Sebenarnya mahkluk apa itu?” tanya pria paruh baya tambun dengan setelan kerja lengkap.
“Kyaa! Dia mengigit leher wanita itu!”
“Haruskah kita menolongnya?”
“Dia sudah tidak bisa diselamatkan.”
“Lebih baik kita pergi menyelamatkan diri!”
“Dimana para polisi? Mengapa mereka tidak menghentikan itu?”
“Mama, aku takut…!”
Seruan demi seruan mulai terdengar dari banyaknya orang yang berkumpul di sekitar wanita itu dengan menjaga jarak mereka tanpa adanya niatan untuk membantu Wanita itu sama sekali.
‘Mengapa…?’ batin wanita yang digigit itu dengan air mata yang terus meluncur dari pelupuk matanya.
‘Mengapa tidak ada yang ingin menolongku?’ batin wanita itu bertanya-tanya sambil menatap kerumunan manusia dihadapannya dengan tatapan kosong.
Tidak berselang lama matanya kini terpaku kearah sosok pria berusia dua puluhan yang menatapnya dengan tatapan ngeri.
“S-sai…?” tanya Wanita itu dengan terbata-bata sambil mencoba berjalan menuju pria yang sebenarnya adalah pacarnya saat ini.
“Pergi! Jangan mendekat kearah ku!” ucap Sai dengan histeris lalu melangkah mundur untuk menjaga jarak.
‘Kenapa? Bukankah dia mencintaiku?’ satu tetesan air mata mulai jatuh kembali dari pelupuk matanya.
‘Hah! Kenapa teman masa kecilku, pacarku saat ini dan calon suamiku dimasa depan pergi menjauh dariku dan bukannya menolongku?’
‘Tidakkah dia tahu jika leherku sedang berdarah dan sakit?’
“Kenapa?!” geram wanita itu dengan mata memerah dan kulit yang sudah berubah menjadi abu-abu kebiruan.
‘Aku harap semua manusia disini akan merasakan apa yang kurasakan terutama pacar bajingan itu!’ batin wanita itu dengan mata yang sudah kehilangan titik fokus dan jantung yang tidak berdetak menandakan jika dia sudah terinfeksi virus dan berubah menjadi zombie.
Kedua zombie itu dengan ganas kini mulai mengigit leher manusia yang berada di dekatnya. Satu persatu semua manusia sudah mulai berubah menjadi zombie termasuk pria yang merupakan pacar dari wanita tersebut.
Dengan cepat para zombie itu mulai berkelana mencari mangsa dari kota ke kota lainnya dengan cara mengigit tubuh manusia secara acak agar bisa menularkan virus mereka dan merubah mereka para manusia menjadi sebangsa mereka, zombie.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv