Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(34) Penghambat|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


Aku harap kak Zen segera tiba disini,’ batin Leo sambil melihat kearah pintu apartment yang masih terdengar bunyi gedoran dari luar pintu yang terdengar sangat amat keras.


...| (❁❁) |...


“Hei, tidakkah kamu mengerti tentang situasi saat ini, hah? Menyingkir lah dan jangan menganggu kita!” ucap Zen kepada Joy.


“Tidak akan! Jika kalian berdua ingin lewat maka berlututlah dan memohon lah kepadaku,” ucap Joy dengan nada arogan yang membuat Max menatapnya dengan kening berkerut.


‘Apa wanita itu gila?’ yah, kira-kira seperti itu isi dari batin Max yang sangat bisa ditebak melalui ekspresi Max dari matanya yang sedang menatap Joy dengan kilatan aneh.


“Untuk apa aku berlutut memohon kepadamu?” tanya Zen yang membuat Joy mendengus kesal.


“Bukankah kalian ingin lewat? Yasudah berlutut dan memohon lah kepadaku!” seru Joy dengan nada memaksa.


‘Baiklah dia memang sudah gila,’ batin Max sambil mengangguk-angguk pelan.


‘Aku sedikit tidak percaya jika sekolah elit seperti ini menampung seorang murid dengan keterbelakangan mental sepertinya. Maksudku tidak bisakah dia berpikir mengenai teriakkan aneh dari belakang? Apa dia tidak paham dengan kondisi saat ini atau dia memang bodoh?’ batin Zen menatap Joy yang kini sedang memandang dengan arogan kearahnya dan Max.


“Apa kau gila?” tanya Max yang tidak tahan dengan percakapan aneh ini.


“Apa? Beraninya kamu menyebutku gila?!” teriak Joy seperti orang gila.


“Hahh, menyingkir lah sekarang,” ucap Zen sambil memegang kepalanya yang berdenyut pusing secara tiba-tiba.


“Kalau begitu berlututlah!” ucap Joy kembali yang membuat Max mengeram marah.


‘Hah! Mereka tidak mungkin melayangkan tangan mereka kearah wanita bukan? Ditambah aku adalah wanita tercantik di sekolah ini dan ini adalah area sekolah. Aku yakin mereka tidak akan melakukan itu kepadaku!’ batin Joy dengan percaya diri melupakan fakta jika Zen pernah membuat tangannya patah dan Max yang pernah mendorongnya dengan keras hingga mengakibatkan punggungnya terbentur dengan tembok.


“Jangan membuang waktumu untu meladeni orang gila sepertinya,” ucap Max sambil berjalan mendekat kearah Joy.


‘Lihatlah! Dia pasti ingin berlutut kepadaku!’ batin Joy tanpa bisa menahan senyuman senang diwajahnya.


“Untuk membiarkan orang gila sepertinya tenang dan tidak menganggu kita, kita membutuhkan obat bius atau dengan gampangnya adalah membuat orang gila sepertinya pingsan,” jelas Max lalu mengangkat kembali baton stik miliknya yang membuat kedua bola mata Joy bergetar takut.


“A-apa yang ingin kamu lakukan?! Ini adalah lingkungan sekolah!” seru Joy yang diacuhkan oleh Max.


Sayang sekali sepertinya dia lupa jika Max adalah berandal di sekolah ini.


Dengan kecepatan tinggi tangannya mulai mengarahkan baton stik itu kearah wajah Joy secara langsung yang membuat Joy bergetar ketakutan.


Tapi tanpa di sadari oleh Joy dalam sepersekian detik dalam gerakan yang dilakukan oleh Max tadi, ia sedikit memiringkan baton stiknya agar baton stik itu tidak terarah menuju wajah Joy.


//Bang………!


Baton stik milik Max kini sudah berada di lantai dengan keramik lantai yang memiliki bekas akibat terbentur dengan keras. Bisa kita lihat jika kekuatan yang dikerahkan oleh Max bukan main-main dari seberapa parahnya keramik lantai itu.


Yang membuat kita menghela nafas sayang di sini adalah baton stik itu hanya berjarak beberapa centimeter lagi menuju tubuh Joy yang kini sudah terduduk lemas dengan tubuh bergetar karena takut.


“Ah, maafkan aku. Lain kali akan ku pastikan jika ayunan yang kulakukan tidak akan melenceng darimu,” ucap Max dengan senyuman ramah diwajahnya yang terkesan menakutkan dimata Joy.


Karena tidak kuat menahan rangsangan yang ada kini pupil matanya mulai bergulir kebelakang yang diiringi dengan tertutupnya kelopak mata miliknya. Jangan lupakan tubuhnya yang sudah limbung kebelakang.


Yah, Joy pingsan akibat ketakutan karena perbuatan Max.


“Sepertinya dia pingsan bukan karena takut terluka melainkan karena senyummu yang mengerikan itu,” ucap Zen tiba-tiba yang membuat kening Max berkerut.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Bukankah senyumku cukup ramah?” ucap Max sambil tersenyum seperti sebelumnya yang membuat Zen bergidik ngeri.


“Maaf, wajahmu terlalu kaku untuk bisa tersenyum dengan ramah. Menurutku senyum ramah mu itu menakutkan,” jelas Zen yang membuat Max mendengus keras.


“Ahh, sudahlah lebih baik kita pergi sekarang,” ucap Zen saat melihat tanda-tanda zombie yang akan berjalan menuju kearahnya.


“Apa kamu tidak melihat jika para siswa yang selamat sudah berjalan melewati dirimu dibelakang, hah?” tanya Max sambil menarik tangan Zen untuk kembali berlari.


“Oh, aku tidak menyadarinya! Kupikir mereka hanya akan terdiam sambil menunggu nasib mereka,” ucap Zen.


“Setidaknya masih ada beberapa siswa yang memiliki pola pikiran dan keinginan untuk bertahan hidup,” jelas Max.


‘Tentu saja akan ada beberapa orang yang beradaptasi dengan cepat dan segera menemukan orang lain untuk membuat kelompok yang dapat menghadapi mayat hidup itu,’ batin Zen.


‘Ini juga alasanku tidak ingin lewat sini. Jika kita lewat arah ini maka kita akan bertemu dengan sesuatu yang menyebalkan di lorong menuju taman belakang,’ batin Zen lalu mulai mengingat-ingat kenangan mengenai kehidupan lamanya.


Dulu dirinya juga termasuk kedalam siswa yang dapat beradaptasi dengan cepat sehingga dengan cepat dapat menemukan orang lain dan diajak untuk satu kelompok dengan para siswa lainnya untuk bertahan.


Di sana juga dia bertemu dengan Max dan menjadi awal penyiksaan nya selama 6 bulan sebelum dirinya dilempar dan di tolong oleh Max yang mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan dia.


‘Bahkan 6 bulan itu adalah hari-hari yang sangat memuakkan bagiku daripada hidupku selama 1 setengah tahun dalam masa pelarian dari zombie seorang diri,’ batin Zen lalu mendengus pelan.


Lamunan Zen terhenti saat Max tiba-tiba memberhentikan larinya. Untung saja Zen sudah mengalaminya sekali sehingga kini wajah mulusnya tidak harus kembali bertabrakan dengan punggung tegap milik Max.


“Kenapa kamu berhenti? Tidakkah kamu melihat jika para zombie itu masih mengejar kita?” tanya Zen.


“Lihatlah ke depan,” balas Max dengan pelan.


Zen yang melihat ke depan terkesiap sejenak saat melihat beberapa wajah yang akrab di depannya. Dengan spontan lidahnya berdecak dengan kesal sambil memutar matanya dengan malas.


‘Ck, kenapa harus sekarang?’ batin Zen saat melihat salah satu adegan yang akan mengubah hidupnya.


“Ka-kamu bukankah Max?” tanya siswi dengan rambut berwarna coklat sebahu.


Max yang mendengar pertanyaan itu hanya mengacuhkannya dan berjalan melewati siswi itu menuju kearah lorong yang akan mengarah langsung menuju taman belakang.


“Ka-kamu tidak bisa lewat sana!” ucapnya lagi tapi kali ini tangan miliknya mulai menarik pelan ujung baju milik Max.


Max yang merasakannya segera menatap dingin kearah Wanita itu.


“Lepaskan!” ucapnya dengan tatapan yang masih sama.


Siswi berambut coklat itu melepaskan genggamannya dan berjalan mundur sambil ketakutan.


“Ck, tidakkah kamu bisa sedikit ramah kepada wanita?” balas siswi dengan rambut berwarna hitam seleher miliknya. Jaket hitam yang dipakainya memiliki beberapa bercak darah dengan sebuah tongkat bisbol yang berlumuran darah yang berada ditangannya.


Bisa dipastikan jika darah yang ada adalah darah milik zombie karena darah itu berwarna hitam yang sangat khas dengan ciri darah zombie.


“Kalau begitu seharunya kamu melayangkan kalimat itu kepada temanmu yang sudah ikut campur terhadap urusanku,” ucap Max yang membuat siswi berambut hitam itu berseru kesal dan mengangkat tongkat bisbol nya langsung kearah Max.


“Dasar bajingan! Temanku bermaksud baik untuk mengingatkan bajingan seperti mu! Dan dimana sopan santun mu itu? ” seru siswi tersebut dengan nada tinggi.


“Sudahlah, lagipula dia adalah Max si pembuat onar sekolah ini,” ucap seorang siswa dengan rambut berwarna hitam dan kacamata berbingkai perak yang sedang dipakainya sambil menenangkan wanita tadi.


“Ketua … kamu tidak bisa membiarkannya begitu saja!” ucap siswi itu dengan kesal.


“Maafkan kelakuannya yang membuatmu kesal, tapi apa yang dikatakan siswi itu benar. Sangat berbahaya untuk kalian berjalan menuju sana,” ucap laki-laki yang tadinya dipanggil ketua oleh siswi tersebut.


“Aku tidak peduli,” ucap Max.


“Tapi bisa saja kamu akan mati karena sekelompok mayat hidup itu,” ucap ketua tersebut dengan nada khawatir.


“Bagaimana jika kalian berdua bergabung dengan kelompok kami? Bukankah semakin banyak orang yang bergabung semakin banyak juga peluang kita untuk bertahan hidup?” ucap ketua itu dengan sedikit senyuman yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


‘Hah! Lihatlah dia mulai mengeluarkan bisanya!’ batin Zen dengan tatapan datarnya.

__ADS_1


“Maaf tapi aku tidak butuh tim lemah seperti kalian,” ucap Max yang membuat senyum di wajah ketua itu sedikit kaku dan Zen yang harus menahan sedikit tawanya untuk tidak lepas.


“Ahem? Bagaimana denganmu?” tanyanya kepada Zen setelah terbatuk pelan dan menetralkan ekspresi wajahnya.


Zen yang ditanyai hanya memasang senyum cerah sekaligus polos.


“Maaf, tapi jika temanku yang kuat saja mengatakan tim kalian lemah maka aku tidak ingin bertaruh dengan nyawaku untuk berada di tim lemah ini,” ucap Zen dengan muka polosnya yang membuat laki-laki tadi membeku sejenak.


“Yak! Betapa sombongnya kalian berdua! Lihat saja, jika bukan karena kalian berada di lorong ini, kalian sudah pasti berubah menjadi para mahkluk aneh di depan!” seru siswa yang memiliki badan besar.


“Apa hubungannya dengan itu?” tanya Zen dengan bingung.


“Tentu saja karena Lorong ini adalah satu-satunya lorong yang tidak dilewati oleh para zombie itu! Buktinya belum ada satupun zombie yang datang kesini!” serunya dengan bangga membuat Zen dan Max berbatin dengan kalimat yang sama.


‘Satu lagi orang gila seperti wanita tadi,’ batin mereka berdua dengan kompak.


“Oh benarkah? Sayang sekali tapi lorong ini akan segera dimasuki oleh para mayat hidup itu,” ucap Max dengan senyuman andalannya.


“Ba-bagaimana bisa?!”


“Tentu saja karena akulah yang memancingnya kesini,” ucap Max dengan acuh.


“Kau…!” Seru laki-laki itu dengan tertahan.


“Tapi aku yakin jika para mayat hidup itu tidak akan berani berjalan melewati lorong gelap ini!” serunya dengan yakin.


“Itu benar, ketua yang mengatakan kepada kami jika para zombie itu takut dengan kegelapan,” ucap siswi berambut coklat itu yang hampir saja membuat Zen mencibir pelan.


‘Bagaimana mayat hidup yang tidak bisa melihat merasa takut dengan kegelapan?’ batin Zen.


Itu benar, para zombie itu tidak bisa melihat. Mereka bisa merasakan keberadaan manusia karena hidung mereka yang sensitif terhadap aroma kehidupan manusia. Itu terbukti dengan apa yang sudah dilakukan oleh Zen dan Max tadi.


Mereka menghancurkan tempat sampah dan beberapa pot tumbuhan agar zombie itu terhambat dengan membuat mereka terjatuh akibat kesandung oleh tempat sampah ataupun pot tumbuhan tersebut.


Mereka semua tidak bisa melihat dan rasa sensitif indera mereka yang lainnya belum bangkit karena belum menyerap energi yang cukup untuk berevolusi.


Yah walaupun itu hanya menghambat mereka karena mengingat zombie tidak bisa merasakan sakit. Bukankah dari awal sudah dikatakan jika mata para zombie tidak memiliki titik fokus?


Dan mata yang tidak memiliki titik fokus sama saja dengan mata yang tidak bisa melihat alias buta. Para zombie itu sama saja seperti orang buta, yang membedakan mereka adalah mereka bisa mengenali manusia dari aroma khas yang dimiliki manusia.


Sepertinya sensitivitas dari hidung mereka merupakan kelebihannya mengingat mereka adalah pemangsa dan bukankah para pemangsa memliki kelebihan untuk bisa merasakan hawa keberadaan mangsa mereka dengan kuat?


“Ayo kita pergi dari sini, Max” bisik Zen dengan pelan karena sudah muak dengan semua omong kosong yang membuat kepalanya pusing.


Max yang mendengarnya hanya mengangguk pelan dan mulai berjalan sambil menerobos sekumpulan siswa itu.


“Hah! Aku tidak percaya dengan ucapan kalian itu! Aku yakin kalian hanya berbicara omong kosong saja!” seru laki-laki tadi yang diacuhkan oleh mereka berdua.


Bagaimana mungkin sebuah Lorong yang tidak memiliki sekat ataupun pintu akan menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi dari segerombolan zombie?


Hanya orang bodoh yang menganggap jika lorong itu aman. Ditambah lorong itu tidak memiliki satupun zombie yang berkeliaran karena lorong itu jarang di akses oleh manusia.


Bukankah sudah kubilang? Zombie adalah predator yang sedang mencari mangsa. Untuk apa mereka datang ke sebuah lorong yang jelas-jelas tidak terdapat mangsa mereka di sana?


Hanya masalah waktu saja sebelum lorong gelap tadi dipenuhi oleh zombie dan hanya masalah waktu agar mereka semua berubah menjadi segerombolan zombie itu.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2