
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Aku masih harus melakukan tugasku sebagai bawahan yang setia bukan? Hitung-hitung sebagai balasan karena sudah membuatku tidak bertemu dengan pak tua itu," ucap Neo dengan senyuman kecil di wajahnya yang tentu saja hanya di balas dengan gelengan kecil oleh Fin.
...| (❁❁) |...
Jam menunjukkan pukul 15.00 itu dibuktikan dengan matahari yang kini hampir tenggelam
kearah barat. Saat ini Zen sedang duduk melamun dengan pandangan mata yang
terus tertuju kearah jam dinding.
‘Ini adalah awal mula cerita kakak, hari ini adalah bab pertama mengenai kisah perjalanan kakak. Apa kakak baik-baik saja? Aku tidak terlalu mengubah alur kehidupannya dengan efek kupu-kupu dariku bukan? Bagaimana jika karena perubahan diriku saat ini mengakibatkan jalan kehidupan kakak berbeda?’ batin Zen bertanya-tanya dengan pikiran yang kini penuh dengan emosi negatif.
Dan kembali terulang seperti dua jam yang lalu, Zen menghela nafas kembali yang entah sudah ke berapa kalinya. Leo yang melihat itu tentu saja menatap dengan bosan sekaligus khawatir kearah Zen.
“Kak Max, apa kak Zen baik-baik saja? Dia terlihat seperti sedang memiliki sesuatu
yang sangat dia khawatirkan,” tanya Leo kepada Max yang kini sedang sibuk mengelus rambut Lin yang berada di pangkuannya.
Gerakkan tangan Max terhenti lalu memalingkan mukanya kearah Leo dan kembali memandang Zen yang kini kembali menghela nafas dengan Lelah.
“Biarkan saja dia seperti itu, kurasa dia sedang mengkhawatirkan kakaknya dan itu wajar saja untuk mengkhawatirkan keluarga yang dicintainya,” jawab Max dengan tenang
yang membuat Leo mengangguk pelan.
“Tapi kak Zen sudah memandang kearah jam itu selama 2 jam terakhir, aku takut jika
dia lama-lama menjadi over thinking dengan pemikirannya itu,” ucap Leo yang dibalas dengan tawa kecil yang keluar dari mulut Max.
“Yah, ucapan mu tidak salah tetapi tidak benar juga,” ucap Max yang membuat Leo
menatapnya dengan bingung.
“Dia menatap jam dengan lama hanya untuk memperhitungkan perbedaan waktu antara di
sana dengan di sini, tempat kakaknya berada merupakan daerah yang berbatasan dengan pembagian zona waktu,” ucap Max yang mengundang tatapan bertanya dari Lin.
“Darimana kak Max tahu?” tanya Lin.
“Tentu saja aku tahu karena aku memiliki keluarga di sana,” ucap Max.
“Apa kakak tidak khawatir terhadap keluarga kakak?” tanya Lin yang di angguki setuju oleh Leo.
“Tidak karena aku yakin kakakku akan baik-baik saja, kakakku itu kuat!” ucap Max
dengan bangga.
“Kalau kak Max seyakin itu, bagaimana dengan keluarga kakak yang lainnya?” tanya Leo yang membuat Max sedikit mendengus.
“Aku tidak peduli, keluargaku saat ini hanyalah kakakku,” ucap Max yang dibalas
dengan pekikan pelan oleh Lin.
“Kakak sama sepertiku! Keluargaku saat ini juga hanya kakak seorang,” jawab Lin dengan bersemangat yang membuat tawa Max kembali terdengar.
“Hahaha, kalau begitu kita juga memiliki seseorang yang sepertinya bernasib sama dengan kita,” ucap Max sambil memandang kearah Zen.
“Ahh, kakak benar. Kak Zen hanya memiliki kakaknya juga sebagai keluarga,” gumam Leo.
‘Pantas saja dia khawatir, jika aku berada di posisi kak Zen aku mungkin sudah khawatir
setengah mati, membayangkan Lin tidak berada di dalam pandanganku benar-benar membuat diriku panik,’ batin Leo sambil memandang kearah Lin yang kembali tertawa akibat ucapan lucu dari Max.
Kalian ingin tahu apa yang membuat kedua orang itu memiliki hubungan sedekat itu hanya dalam waktu beberapa jam? Yah, ini sedikit tidak dapat dipercaya, mereka dekat karena satu kesamaan yang ada. Sama-sama menyukai senjata dengan daya ledak
tinggi.
Itu diawali oleh Max yang penasaran dengan kalimat Lin yang mengetahui tentang
nuklir, karena rasa penasarannya itu dia mulai bertanya kepada anak kecil yang umurnya berada 11 tahun di bawah dirinya itu.
Lin yang mendengar pertanyaan Max
awalnya sedikit bingung namun tetap menjawabnya dengan bersemangat.
__ADS_1
Sepertinya Lin memang menyukai sesuatu yang berbau dengan ledakkan, masih ingatkah kalian mengenai Lin yang menginginkan sebuah bazoka?
Itu merupakan salah satu senjata dengan kekuatan ledak yang besar, bahkan sekarang anak sekecil Lin mengetahui tentang nuklir. Bukankah itu aneh?
Seiring berjalannya percakapan mereka berdua, mereka menyadari jika mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyukai senjata dengan daya ledak tinggi.
Dengan Lin yang menyukainya karena menurutnya itu adalah senjata yang keren dan Max yang menyukainya karena menyukai suara saat musuhnya meledak akibat tembakan dengan daya tinggi itu.
Dengan cepat keduanya mejadi akrab bahkan Max menjanjikan untuk membiarkan Lin melihat-lihat koleksi senjatanya yang memiliki daya ledak tinggi itu.
Awalnya dia sedikit di protes oleh Lin karena hanya mengijinkannya untuk melihat-lihat saja dan bahkan sedikit membujuk Max agar mengijinkannya untuk menggunakannya tapi dibalas dengan tolakan tegas oleh Max.
Bagaimanapun juga Max sadar jika umur Lin masihlah 7 tahun dan tidak baik membiarkan anak dibawah umur untuk menyentuh senjata berbahaya seperti bom rakitan miliknya
ataupun rudal miliknya itu?
Bisa-bisa Max dibunuh terlebih dahulu oleh Zen mengingat betapa protektifnya dia dengan kedua kakak beradik itu seperti
menganggap kedua kakak beradik itu seolah-olah mereka adalah emas.
Yah, apapun itu setelah bersusah payah Max membujuk Lin, akhirnya Lin berhenti
merajuk dan kini keduanya kembali dekat bahkan dengan Lin yang duduk dipangkuan
Max.
Max sendiri tidak menolaknya sama sekali mengingat jika dia memang menginginkan seorang adik perempuan yang manis tapi sayang sekali itu tidak akan pernah terjadi mengingat jika ibunya hanya seorang simpanan penjabat.
Kembali ke topik, kini jam sudah menunjukkan pukul 15.30 dan Zen masih dengan posisinya yang sama seperti itu dan membuat Max menatapnya dengan jengah.
Oh ayolah, bagaimana Max tidak jengah sekaligus risih dengan tingkah Zen?
Kini Zen sedang duduk dengan kening berkerut sambil menggigit kuku ibu jari miliknya yang membuat Max mengerutkan keningnya dengan jijik.
Bagaimanapun juga Max adalah orang yang menyukai kebersihan dan itu terbukti dengan Max yang langsung memilih untuk mandi setelah hampir 2 jam tubuhnya bermandikan darah hitam yang menyengat itu.
Ditambah dengan kaki milik Zen yang kini sedang ia ketuk-ketukkan ke lantai dengan cukup keras hingga membuat bunyi ketukan terdengar diikuti dengan bunyi detak jarum jam yang ada di dinding.
Baiklah sepertinya kesabaran Max yang sangat tipis itu sudah benar-benar habis. Dengan cepat mulut miliknya mulai terbuka untuk mengeluarkan beberapa kalimat sarkatis miliknya.
Tapi sepertinya situasi dan takdir tidak memihak dirinya untuk menegur Zen karena
sebelum suara milik Max keluar, bunyi telepon di atas meja mendahului keinginan
Berbeda dengan Zen yang kini dengan semangat membara segera mengambil handphone miliknya untuk melihat pesan yang masuk kedalam handphonenya.
“Aku baik, apa kamu baik-baik saja?”
15.32
Zen yang l membaca itu segera menghela nafasnya dengan lega karena sepertinya tidak banyak yang berubah dari kehidupan sebelumnya akibat perubahan yang dia lakukan. Dengan cekatan jari miliknya mulai mengetikkan balasan pesan itu dan mengirimkannya kepada kakaknya.
^^^“Aku baik, jangan terlalu khawatir kak. Jaga^^^
^^^keselamatanmu.”^^^
^^^15.34^^^
Setelah mengetikkan itu, Zen kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan mulai
bersandar di sandaran sofa untuk merilekskan ototnya yang tegang karena rasa
khawatir tadi.
Bahkan lima menit sudah terlewatkan dan Zen sama sekali tidak berniat untuk melirik ponselnya kembali untuk memastikan jawaban dari pihak sana.
Tentu saja Zen tidak menunggunya karena dia tahu jika kakaknya tidak akan bisa membalas
pesannya lagi. Yah, itu adalah hal yang mudah untuk Zen ketahui mengingat jika dia sudah membaca buku aneh itu.
Bukan karena kakaknya yang memang tidak ingin membalas pesanannya melainkan kakaknya yang tidak bisa membalas pesan itu mengingat ponselnya akan segera hancur karena serangan mendadak dari pembunuh yang ditugaskan untuk membunuh pemeran utama wanita.
Bahkan kakaknya itu tidak akan sempat untuk membaca pesannya. Tapi setidaknya Zen lega jika alur benar-benar tidak berubah hanya karena keinginan egoisnya untuk menyelamatkan Max serta membawa kedua bersaudara itu.
...----------------...
Di sebuah ruangan yang didominasi dengan warna putih serta beberapa arsip berkas
yang menumpuk di sana-sini, berdiri dua laki-laki yang sedang mencoba untuk menutup pintu ruangan tersebut yang kini sedang di dobrak dengan paksa oleh manusia.
“Ck, sebenarnya mereka semua siapa, Mia?” tanya Neo dengan ketus sambil tetap menahan pintu itu menggunakan punggungnya.
“Pembunuh,” jawab Mia dengan acuh lalu mulai mencari lemari yang menyimpan alat komunikasi mereka.
__ADS_1
“Aha! Aku menemukan handphoneku!” ucap Mia lalu menyalakan handphone miliknya untuk menghubungi seseorang.
“Oh, aku lupa jika aku kesini untuk mengambil handphoneku juga,” ucap Fin sambil
berjalan santai menuju lemari itu sambil mencari handphone miliknya meninggalkan
Neo yang menatap Fin dengan kesal akibat dirinyalah yang harus menahan pintu itu sendirian.
“Apa yang harus kulakukan dengan handphoneku? Ah iya, aku ingin mengabari adikku,” gumam Fin dengan pelan lalu mulai mengetikkan sebuah pesan di sana.
Setelah mengirimkan pesan itu, kini Fin sedang menunggu dalam tenang dengan jawaban yang akan di dapatkan di seberang sana.
“Fin, tidak bisakah kamu membantuku untuk
menahan pintu ini terlebih dahulu? Aku tahu jika aku kuat, tapi untuk menahan pintu yang sedang di dobrak paksa oleh pembunuh veteran tentu saja sedikit sulit untukku!” gerutu Neo yang membuat Fin mengerutkan keningnya.
“Bukankah kamu bisa menahannya sampai
sekarang?” tanya Fin dengan malas.
“Kamu kira aku ini ro-“
“Oh! Adikku sudah membalas pesanku,” potong Fin dengan semangat yang membuat Neo mendengus pelan.
‘Memangnya dia kira hanya dia saja yang
ingin bertanya kabar dengan adiknya? Aku juga ingin menanyakan kabar adikku!’ batin Neo dengan kesal.
Tanpa aba-aba, pintu yang sedari tadi
ditahan oleh Neo harus terbuka kasar dan mengakibatkan tubuh Neo terjungkal ke depan.
Ringisan pelan keluar dari mulut Neo
sambil memegang punggung miliknya yang sedikit sakit karena dobrakan itu.
Sementara Fin yang sedang mengetik pesan
balasan, terlonjak kaget karena suara dobrakan itu dan membuat handphone di
tangannya terjatuh kelantai hingga membuat frame layer handphonenya sedikit retak.
Neo yang melihat itu sedikit gugup karena
dia sangat tahu watak dari Fin. Walaupun baru beberapa hari mereka saling mengenal tapi Fin merupakan orang yang sangat mudah ditebak perilakunya.
Dan ada salah satu pantangan yang menjadi hukum tidak tertulis di sana. Yaitu jangan
sekali-kali menganggu Fin yang sedang berbicara dengan adiknya, atau kalian
akan di pukul habis-habisan olehnya karena sudah menganggu waktu antara Fin
dengan adiknya itu.
Dan itu terbukti dengan Fin yang sekarang
sedang menatap tajam orang yang sudah berdiri di depan pintu tersebut. Bahkan tanpa
sadar senyum mengerikan mulai muncul di wajahnya yang membuat orang yang
mendobrak pintu itu sedikit merinding tanpa alasan yang jelas.
“Berani sekali kamu mengacaukan waktuku bersama adikku, apa kamu benar-benar ingin mati?” tanya Fin dengan pelan tapi menatap
tajam kearah pembunuh itu.
Yah, mari kita doakan saja mengenai
keselamatan pembunuh itu di tangan Fin saat ini.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv
__ADS_1