
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
"Inilah kenapa aku menyukai berbisnis dengan orang pintar," jelas Zen dengan pelan lalu mulai mengutarakan pemikiran mengenai bisnisnya kepada Ken.
...| (❁❁) |...
"Jadi bisnis yang kamu maksud itu adalah bisnis memperdagangkan informasi?" tanya Ken dengan satu alis terangkat.
"Iya, bagaimana menurutmu?" tanya Zen sebelum menjelaskan semuanya lebih detail.
"Apa itu informasi mengenai zombie?" tanya Kim ikut tertarik dengan isi pembicaraan.
"Bukan zombie, melainkan tempat aman untuk menghindari zombie-zombie itu," ujar Zen yang membuat Max mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada tempat seperti itu? Jika ada, kurasa kamu sudah berada di tempat yang kamu maksud sekarang," tanya sekaligus jawab Max kepada Zen.
"Memang tidak ada, tapi tempat itu akan aman dari zombie selama satu bulan penuh," ujar Zen yang membuat semuanya menatapnya dengan ragu.
"JIka memang ada tempat seperti itu, kenapa kak Zen tidak tinggal di sana?" tanya Leo dengan bingung.
"Antara kita tidak bisa mendapatkan akses masuk ketempat itu atau tempat itu memiliki sesuatu yang lebih berbahaya dibandingkan dengan zombie," ujar Lin dengan pelan yang membuat Zen menepuk kepalanya dengan ringan.
"Apa yang kamu katakan itu benar Lin, kita tidak bisa ke sana karena kedua alasan itu," jawab Zen.
"Akses masuk? Apa itu termasuk tempat terpencil di negara ini?" tanya Ken dengan pelan.
"Apa itu pulau Thermez?" tanya Kim dengan tiba-tiba yang membuat semua mata tertuju kearahnya.
"Wow, kurasa informasi yang kamu miliki sangat luas," ujar Zen dengan penuh apresiasi.
"Itu benar, pulau Thermez yang aku bicarakan saat ini, kurasa kamu bisa menjelaskan secara rinci mengenai keadaan pulau itu," lanjut Zen.
Kim yang mendengar itu hanya melirik ringan kearah Ken untuk melihat persetujuan kakaknya sebelum menjelaskan secara singkat namun lengkap mengenai pulau tersebut.
"Pulau Thermez, terletak di sektor selatan, tepatnya adalah di kota Y. Pulau itu terletak di tengah-tengah laut kecil yang berbatasan langsung dengan negara lain."
"Bisa dibilang pulau itu berada di antara perbatasan negara kita dengan negara lain dengan laut Luptoz sebagai perantaranya," jelas Kim dengan singkat dan akurat.
"Berarti pulau itu terletak di tengah-tengah laut? Jadi maksud dari kita yang tidak bisa pergi ke sana karena akses masuknya yang harus menggunakan transportasi laut maupun transportasi udara?" tanya Max yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Zen.
"Bukan hanya akses masuk ke pulau saja yang menjadi masalah, tetapi di dalam pulau tersebut juga memiliki masalah tersendiri," jelas Zen.
"Habitat seribu jenis ular beracun, bisa dibilang pulau itu adalah pulau mati yang hampir tidak layak huni untuk manusia," ujar Kim yang membuat Lin menatap Zen dengan bingung.
"Jika tempat itu berbahaya, kenapa kak Zen ingin menjual informasi ini?" tanya Lin yang tiba-tiba saja membuat Ken tersenyum dengan lebar.
__ADS_1
"Tentu saja karena masih banyak orang bodoh yang lebih memilih untuk tinggal di habitat ular beracun di bandingkan dengan tinggal bersama para zombie aneh diluar sana," ujar Ken yang membuat Zen memasang senyum bisnisnya.
"Ditambah, ular yang berada di pulau itu terbatas dibandingkan dengan jumlah zombie yang berada di luar sana, sudah pasti tempat itu akan menjadi tempat yang aman," ujar Zen.
"Oho, aku suka ide ini, lalu kepada siapa kamu akan menjual informasi ini?" tanya Ken sambil menatap Zen dengan mata yang menyipit akibat tersenyum.
"Kurasa kamu akan lebih menyukai ide ku ini jika kamu tahu kepada siapa aku akan menjualnya," ujar Zen yang ikut memasang ekspresi yang seiras dengan ekspresi Ken saat ini.
Sedangkan keempat orang yang tidak terlalu terlibat dalam pembicaraan ini hanya bisa menepi saat melihat aura yang dikeluarkan kedua manusia pecinta keuntungan itu.
"Kurasa, temanmu dan kakakku memiliki kesukaan yang sama," ujar Kim dengan pelan kepada Max.
"Hahaha, kamu benar, mereka sama-sama menyukai keuntungan," jelas Max setelah tertawa dengan datar.
"Tapi apa yang akan mereka dapatkan jika uang sudah tidak berlaku lagi di dunia seperti ini?" tanya Leo dengan tiba-tiba yang membuat semua mata tertuju kearahnya.
"A-apa? Apa aku berbicara sesuatu yang salah?" tanya Leo dengan gugup saat semua mata tertuju kearahnya.
Sementara Kim, Max dan Lin masih menatap kearah Leo dengan pikiran mereka masing-masing, Zen dan Ken sudah saling berpandangan dengan pikiran yang seolah terhubung satu sama salin.
"Ohh, sepertinya pikiran kita terhubung mengenai ini," ujar Ken.
"Dan kurasa kamu sudah tahu kepada siapa kita akan menjual informasi ini," ujar Zen.
Dengan pandangan dan tatapan mata licik yang sudah mereka lakukan sedari tadi, kini pada akhirnya kedua remaja berbeda satu tahun itu saling tertawa aneh dengan tangan yang merangkul satu sama lain seolah merayakan keuntungan yang akan mereka dapatkan itu.
Keempat pasang mata yang mengawasi mereka sedari tadi hanya bisa menatap dengan tatapan aneh dan membiarkan kedua manusia itu melakukan apapun yang ingin mereka lakukan.
"Hahh, baiklah, hentikan perayaan kalian berdua itu dan mari kita bahas dengan serius," ucap Max setelah menghela nafas pelan.
"Itu benar, duduklah lebih dulu dan mari kita bahas secara terperinci lagi mengenai ini semua," ujar Kim menimpali ucapan Max.
'Walaupun aku membenci bisnis, aku lebih membenci perayaan aneh yang mereka lakukan tadi,' batin Kim sambil menatap senyuman konyol dari kedua wajah dihadapannya dengan jijik.
"Ekhmm, baiklah mari kita bahas ini dengan perlahan," ujar Ken dengan serius setelah terbatuk pelan tadi.
"Kim, bisakah kamu menuliskan secara terperinci informasi apa saja yang berada di pulau itu?" tanya Ken setelah menormalkan suasana hatinya.
"Tentu saja, apa perlu aku menuliskan mengenai jenis ular yang terdapat di pulau tersebut?" tanya Kim dengan pelan.
"Apa kamu mengetahui semua jenis ular beracun itu?" tanya Zen dengan sedikit tidak percaya.
"Jika Kim mengatakan dia mengetahuinya, maka dia mengetahuinya. Tidak perlu meragukan itu, kawanku," ujar Ken dengan sedikit nada bangga (?) terhadap adiknya.
"Itu benar, otakku saat ini setara dengan perpustakaan besar, tidak perlu khawatir jika informasi yang aku tulis salah," jelas Kim yang membuat Zen mengangguk.
"Bisakah kamu menuliskan semua informasi ular berbisa dari ukuran kecil sampai sedang?" tanya Zen yang dibalas dengan anggukan oleh Kim.
"Tentu saja, bagaimana dengan infomasi ular besar yang berada di pulau itu?" tanya Kim.
Zen yang mendengar itu hanya memasang senyum tipis sebelum menjawab pertanyaannya.
"Itu tidak perlu, tapi buat terpisah mengenai lima jenis informasi ular ini," ujar Zen lalu menyebutkan lima jenis ular yang di maksud.
__ADS_1
"Ini, jenis ular besar yang sering terlihat di pulau, hanya ini saja?" tanya Kim setelah diam-diam mencatat nama kelima ular yang baru saja di sebutkan oleh Zen didalam otaknya.
"Iya, hanya itu saja," jelas Zen.
"Kamu ingin bayaran terpisah mengenai kelima informasi itu?" tanya Ken dengan geli.
"Bukankah kita harus mengambil semua keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam transaksi ini?" tanya Zen yang membuatnya menerbitkan kembali senyum licik di wajah keduanya.
"Hahh, sebenarnya kepada siapa kakak ingin infomasi ini dijual?" tanya Lin dengan lelah karena tingkah keduanya sekaligus bingung karen tidak mengetahui tujuan akhir dari rencana mereka.
"Tentu saja kita akan menjual ini kepada bajingan pemerintah/pemerintah!" ujar Ken dan Zen dengan bersamaan.
...----------------...
"Kita sampai," ujar Mia dengan pelan saat mobil yang dikendarainya memasuki gerbang kota Y.
"Terimakasih atas kerja kerasmu Mia," ujar Fin dengan ringan.
"Bukan masalah untuk mengendarai mobil ini semalaman, Fin," ujar Mia.
"Kalau begitu, bukankah kita harus mencari tempat tinggal sementara untuk kita?" tanya Neo.
"Kamu benar, apa kamu tahu daerah terpencil di sekitar sini?" tanya Fin yang membuat Neo terdiam sejenak.
"Bagaimana rumah penduduk yang berbatasan dengan laut Luptoz?" tanya Neo.
"Itu daerah yang bagus, ku dengar jarang sekali penduduk yang akan mendirikan rumah di dekat laut itu karena pasang surut ombak yang diakibatkan laut tersebut," ujar Fin yang membuat Neo tertawa pelan.
"Jarang bukan berarti tidak ada bukan?" tanya Neo yang membuat Fin tersenyum tipis.
"Apa kalian berdua yakin ingin menuju ke laut itu? Bukankah para prajurit militer berada di sana untuk mengawasi perbatasan?" tanya Mia dengan ragu.
"Kamu masih mengkhawatirkan militer? Kurasa semua prajurit di sana sudah di tarik kembali oleh presiden untuk melindunginya dibandingkan untuk terus tetap berada di sana hanya untuk mengawasi perbatasan itu," ujar Neo yang membuat Mia mengerutkan keningnya.
"Apa kamu yakin? Bagaimana jika prajurit itu memberontak? Bukan hal yang mengejutkan saat mengetahui jika fraksi pemerintah akan terpecah belah karena kejadian aneh ini," ujar Mia yang kini membuat Neo terdiam.
"Mari kita lupakan saja hal ini, jika mereka terpecah juga bukan urusan kita, bukankah hal bagus jika kita bisa menambah sekutu untuk menghadapi akhir dunia ini?" tanya Fin dengan pelan.
"Ditambah jika kita berhubungan baik dengan para prajurit itu, kurasa kita bisa mendapatkan beberapa senjata yang bagus untuk kita kedepannya," lanjut Fin.
"Baiklah kalau kalian yakin aku akan mengemudi menuju laut Luptoz sekarang," ujar Mia lalu menambah kecepatan mobil yang dibawanya.
'Jikapun para prajurit itu tidak menerima kita dengan baik, kita hanya perlu pergi dari sana Tujuan utama kita saat ini adalah mencari tempat tinggal yang aman untuk sementara, bukan menambah sekutu ataupun memiliki amunisi yang dimiliki para prajurit militer tersebut.' batin Fin lalu mengalihkan pandangannya kearah luar jendela mobil.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv