Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(55) Lari|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Kak Zen!" pekik Leo dengan keras saat melihat tubuh Zen ikut terjun kebawah.


Sedangkan Max yang melihat seluruh kejadian dari sisi gedung mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat melihat tindakan nekat terbilang bodoh yang dilakukan oleh Zen.


...| (❁❁) |...


"Ck, dasar manusia bodoh satu itu!" gumam Max dengan geram lalu bergegas berjalan menuju Leo yang sepertinya sedang mengalami serangan panik.


"Leo!" teriak Max dengan keras yang membuat Leo sedikit tersentak dan kini menatap kearah Max dengan tubuh yang sedikit gemetar.


"Kak Max, aku-"


"Hentikan itu dan tenanglah, mereka berdua baik-baik saja," ujar Max sambil menepuk pelan pundak Leo.


"Tapi bagaimana bisa mereka baik-baik saja?! Mereka berdua baru saja terjatuh dari ketinggian 200 meter!" ujar Leo dengan cemas.


"Hahhh, kamu percaya kepadaku Leo?" tanya Max dengan tenang yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Leo.


"Tentu saja, tapi-"


"Mereka baik-baik saja, lihatlah kebawah sana jika kamu tidak percaya," ujar Max sambil menunjukkan jarinya kearah bawah,


Dengan langkah yang sedikit gemetar kini Leo mulai melangkahkan kakinya menuju kearah tepi bangunan rumah sakit dan melihat kebawah sana.


Tubuh milik Leo mematung sejenak saat mata berwarna coklat mudanya itu menatap sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya terjadi di bawah sana.


"Mereka baik-baik saja bukan?" tanya Max dari belakang Leo.


"I-iya, mereka baik-baik saja," ujar Leo saat melihat satu parasut berwarna putih terbuka dari tempatnya berdiri.


"Ah, tambahan untukmu, dibawah mereka teradapat bantalan udara yang akan menangkap mereka," jelas Max yang membuat Leo menatapnya dengan kesal.


"Kenapa kakak tidak mengatakan jika kita mempunyai parasut dan bantalan udara?!" tanya Leo dengan kesal.


"Karena kamu tidak bertanya?" ucap Max yang membuat Leo semakin kesal.


"Setidaknya beritahu aku! Apa kakak tahu bagaimana perasaanku saat melihat Lin dan kak Zen terjatuh dari atas sini?" tanya Leo yang membuat Max tersenyum tipis.


"Maafkan aku, lagipula itu adalah tindakan yang sedikit tiba-tiba, ditambah aku tidak berharap jika ini akan terjadi," ucap Max yang membuat Leo mendengus kesal sambil mengalihkan kepalanya kearah lain.


"Terimakasih," gumam Leo dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh Max.


"Tidak masalah, kalau begitu apa aku bisa meminta bantuan mu?" tanya Max yang membuat Leo menatapnya kembali.


"Bantuan apa?" tanya Leo.


"Tolong pindahkan semua persediaan kita menuju sana dan tunggu di depan pintu atap," ujar Max sambil mengarahkan jarinya menuju kearah pintu atap yang kini terkunci.


"Memangnya kak Max ingin kemana?" tanya Leo dengan bingung.


"Tentu saja menyusul orang bodoh yang baru saja terjun dari ketinggian 200 meter itu," ujar Max dengan senyuman diwajahnya yang membuat Leo sedikit bergetar ketakutan saat melihatnya.


"Emm, apa hanya itu yang perlu kulakukan?" tanya Leo dengan ragu.


"Tidak, aku membutuhkan bantuan mu untuk membukakan pintu itu. Kurasa setelah membantu mereka berdua aku akan melakukan pengecekan sekali lagi di setiap lantai sekaligus menutup akses yang ada," ujar Max yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Leo.


"Tapi bagaimana caranya kak Max pergi menuju mereka? Kudengar jika seluruh akses masuk di lantai pertama sudah ditutup oleh kak Zen," ucap Leo yang membuat Max menatapnya dengan terkejut.


"Kamu tahu?" tanya Max yang membuat Leo menggaruk pipinya dengan canggung.


"Aku mendengarnya karena suara kak Zen yang terdengar cukup keras," ujar Leo yang membuat Max mengangguk pelan.


"Apa kamu memang memiliki pendengaran setajam ini?" tanya Max yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Leo.


"Tidak juga, mungkin aku mendengarnya cukup jelas karena kak Zen mengatakannya dengan cukup keras?" ucap Leo dengan nada sedikit tidak yakin.

__ADS_1


'Itu tidak mungkin dengan jarak antara aku dan Leo, mustahil untuk bisa mendengarnya,' batin Max lalu menatap Leo dengan lama.


"Apa ada lagi yang ingin kak Max tugaskan untukku?" tanya Leo yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Max.


"Ah satu lagi tolong cabut terpal dari ujung sana dan angkat setelah Zen dan Lin bangun, kamu bisa melakukannya bukan? Aku akan turun kebawah menggunakan tali yang sudah ku ikat diujung gedung itu," ujar Max yang membuat Leo menghela nafasnya dengan pelan.


"Tentu saja!"


"Jadi itu yang kak Max lakukan sebelumnya?" lanjut Leo dengan pelan.


"Kak Max, benar-benar sudah memprediksinya dengan tepat sekali," ujar Leo dengan binar mata penuh kekaguman.


Max yang mendengarnya hanya tertawa kecil lalu menepuk pelan kepalanya.


"Aku akan pergi sekarang dan jangan lupa bukakan pintunya saat kamu mendengar ketukan dari sana," ujar Max yang dibalas dengan anggukan penuh semangat oleh Leo.


"Tentu saja!" balas Leo dengan semangat.


Max yang melihat itu tersenyum kecil sebelum mulai bergerak menuju tali darurat yang sudah di pasangnya untuk berjaga-jaga.


'Kurasa aku harus berbicara dengan Zen mengenai pendengaran Leo,' batin Max sambil memikirkan ketidakwajaran yang diucapkan Leo tadi.


...----------------...


//Bukkk......


"Ukhh...." ringisan seseorang terdengar setelah bunyi hantaman kuat terdengar beberapa detik sebelumnya.


"Lin, kamu baik-baik saja?" tanya Zen dengan cemas.


"Kak Zen...?" gumam Lin dengan tidak yakin.


"Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Zen sekali lagi, kali ini Zen yang langsung memeriksa kondisi Lin tanpa menunggu jawaban dari Lin.


"Kak Zen, bagaimana bisa kak Zen berada di sini?" tanya Lin dengan bingung saat Zen memutar tubuhnya untuk mencari luka yang ada.


'Jika aku tidak salah ingat, setelah aku merasakan tubuhku jatuh, aku segera menarik tali parasut yang sebelumnya dijelaskan dan menutup mataku. Lalu bagaimana bisa kak Zen berada di sini?' batin Lin dengan bingung.


//Ctakk........


"Oho, kamu bertanya kenapa?" tanya Zen dengan mata yang tersenyum kearah Lin.


"Umm, ya?" tanya Lin dengan sedikit ragu sambil memalingkan kepalanya kearah lain.


'Kak Zen menyeramkan sekali jika tersenyum seperti itu,' batin Lin saat melihat senyuman yang Zen tunjukkan.


"Tentu saja untuk memastikan keselamatanmu! Apa kamu lupa jika kamu baru saja terjun bebas dari ketinggian 200 meter?" tanya Zen yang membuat Lin menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah.


"Tapi, kak Zen sudah memberikanku parasut untuk memastikan keselamatan ku, jadi kak Zen tidak perlu untuk ikut terjun bersamaku dari ketinggian itu," ujar Lin dengan pelan sambil tetap menundukkan kepalanya.


Zen yang melihat itu hanya bisa menghela nafas dengan pelan.


'Walaupun aku memberikan parasut untuk keselamatan Lin, tapi bagaimana bisa anak kecil yang tidak pernah menggunakan parasut bisa menggunakannya dengan sempurna untuk mendarat dari ketinggian seperti tadi?' batin Zen.


"Jadi aku tidak perlu khawatir saat melihatmu manarik tali parasut itu dengan mata tertutup?" tanya Zen yang membuat Lin semakin bersalah.


"Maafkan aku...." ucap Lin dengan kepala yang semakin tertunduk.


'Yah, bukan salahnya juga sih, lagipula ini adalah kejadian yang tidak direncanakan. 98 persen kenapa aku bisa berada di sini juga karena tubuhku yang tiba-tiba saja bergerak untuk mengikuti Lin dan terjatuh begitu saja,' batin Zen sambil mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu.


'Walaupun begitu....'


"Kenapa kamu tidak menuruti ucapan ku untuk tetap diam dan tidak bergerak tadi?" tanya Zen sambil menatap Lin.


"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?" tanya Zen kembali.


"Maafkan aku kak, aku tidak tahu jika akan seperti ini," ucap Lin dengan penuh rasa bersalah.


"Hahhh, lain kali dengarkan apa yang aku katakan Lin, kamu mengerti?" tanya Zen yang dibalas dengan anggukan dari Lin.


"Mengerti kak, maaf...." ujar Lin sekali lagi.


"Yah, aku maafkan kali ini karena kamu tidak memiliki luka di tubuhmu," ujar Zen yang membuat Lin menghela nafas lega.


"Kak Zen, apa yang akan kita lakuk-"

__ADS_1


"Aha, aku akhirnya berhasil menemukan kalian," potong Max dengan wajah datar yang membuat Lin menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Zen.


"Max? Kenapa kamu turun??? Bagaimana dengan Leo?" tanya Zen beruntun yang membuat Max mendengus kesal.


"Dia bisa melindungi dirinya sendiri di bandingkan denganmu," ujar Max yang membuat Zen tersenyum kesal.


"Lin kemari lah, aku tidak akan memarahi mu," ujar Max yang membuat Lin dengan perlahan keluar dari persembunyiannya.


"Maafkan aku kak Max, aku ceroboh," ujar Lin langsung mengungkapkan kesalahannya.


Max yang mendengar itu hanya menghela nafas singkat sebelum mensejajarkan tinggi badannya dengan Lin dan menepuk kepala Lin dengan pelan.


"Kamu tidak terluka bukan?" tanya Max yang dibalas dengan gelengan dari Lin.


"Bagus kalau begitu," ujar Max kembali menepuk singkat kepala Lin sebelum kembali berdiri dan menatap Zen dengan datar.


"Apa?" tanya Zen sedikit risih sekaligus takut dengan tatapan yang ditunjukan kepadanya.


"Bukankah kita perlu berbicara?" tanya Max yang membuat Zen berkeringat dingin.


"Memangnya apa yang perlu kita bicarakan?" tanya Zen dengan sedikit gugup.


"Tentu saja membicarakan mengenai orang bodoh yang tanpa pikir panjang langsung meloncat dari ketinggian 200 meter," ujar Max dengan sinis.


"Kenapa juga harus membicarakan ini? Lagipula aku tidak terluka!" ujar Zen.


"Kenapa kamu bilang? Tentu saja apa kamu ingin mati karena tindakanmu itu? Jika bukan karena bantalan udara itu kamu sudah mati Zen! Bahkan kamu sendiri tidak memakai parasut yang aku berikan untukmu itu!" ujar Max dengan sinis sekaligus tajam yang membuat Zen diam tidak bisa melawan.


"Aku tahu jika tindakan ku itu bodoh jadi ayo lupakan kali ini karena tidak ada yang mengalami luka," ujar Zen yang membuat Max mendengus dengan kesal.


"Hah, lihatlah betapa gampangnya kamu-"


//Kringgg.......


"Kak Zen telepon mu berbunyi," ujar Lin yang membuat Zen segera meraih telepon yang sebelumnya ia letakkan di saku celananya.


"Aku tidak menyangka jika ini masih berada di saku celanaku, kukira itu sudah jatuh entah kemana saat aku melompat tadi," gumam Zen lalu mengangkat teleponnya itu.


"Ada apa Le-"


"Kak Zen, gawat! Ada segerombolan zombie yang menuju kearah pintu gerbang rumah sakit!" ujar Leo dengan keras yang membuat Zen terdiam di sana.


"Zombie daerah kumuh," desis Zen dengan pelan tapi masih terdengar oleh Max.


"Berapa jaraknya dari kita saat ini Leo?" tanya Zen sambil mengalihkan pandangannya kearah gerbang rumah sakit.


"Hmm, kurasa hanya ada beberapa menit tersisa untuk menuju kearah rumah sakit," jelas Leo yang membuat Zen mengkode Max untuk segera menggendong Lin.


Max yang mengerti arti dari kode yang diberikan segera melakukannya dan mulai mengikuti Zen yang sudah berlari lebih dahulu dengan Lin yang ada di dalam gendongannya.


"Leo dengarkan aku, segera buang tali atau apapun alat yang digunakan oleh Max untuk turun kebawah sini!" perintah Zen dengan cepat.


'Tidak mungkin jika Max bisa turun dari lantai lima dengan secepat itu, sudah pasti jika dia turun menggunakan tali ataupun alat lainnya untuk membantunya turun dengan cepat,' batin Zen menganalisis situasi yang terjadi dengan cepat.


"Akan aku lakukan kak!" ujar Leo dengan cepat dan berlari menuju kearah tali yang digunakan oleh Max sebelumnya dan segera membuangnya.


"Max, ikuti aku dengan cepat, sebelum kita benar-benar mati disini," ujar Zen saat mendengar geraman singkat dari arah pintu gerbang rumah sakit.


Max yang mendengar itu mendengus pelan lalu mengeratkan pelukannya kepada Lin yang berada di gendongannya.


"Bergeraklah lebih cepat daripada berbicara hal yang tidak jelas seperti itu!" ucap Max yang dibalas dengan tawa pelan oleh Zen dan mempercepat larinya menuju satu akses yang ia sisakan sebelumnya sebagai akses masuk.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2