
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
Zen yang mendengar itu mulai menyuruh Lin untuk duduk di atas terpal itu dan menggenggam terpal dengan erat sebagai tumpuan.
“Yah, lakukan sekarang!” ujar Zen setelah memastikan kondisi Lin di atas terpal.
...| (❁❁) |...
“Kak Max! Kak Zen sudah menyuruh kita untuk menarik terpal nya!” seru Leo dengan keras yang membuat Max mengangguk.
“Leo apa kamu mendengar suaraku!” seru Max dengan suara yang sangat keras, bahkan melebihi teriakannya Leo.
“Aku mendengar mu!” ujar Leo sebagai jawaban.
“Kalau begitu ikuti aba-aba ku untuk menarik terpal ini! Kita akan menariknya dengan pelan tepat setiap aku mengucapkan angka! Kita mulai dari satu dan berlanjut seterusnya hingga terpal merentang dengan sempurna di kedua sisi bangunan!” ujar Max yang membuat Leo mengangguk.
“Kalau begitu kita mulai sekarang! Satu!” seru Max dengan sangat keras lalu menarik kain terpal di sisinya dengan pelan begitu juga dengan Leo.
Lin yang merasakan pergerakan itu mencengkeram erat kain terpal yang ada di sisinya. Akibat dari tarikan itu, kini kain terpal berada sekitar 100 cm di atas tanah.
“Dua!” ujar Max dan kembali dia menarik kain terpal itu dengan pelan sambil menjaga kestabilannya.
Begitu juga dengan Leo yang menarik kain terpal itu dengan penuh kehati-hatian dan menyamakan kekuatan tarikannya dengan kekuatan tarikan yang dilakukan oleh Max.
Tepat di ketinggian lima meter dari atas tanah, Zen melirik singkat kearah ponsel yang menunjukkan pukul 21. 43.
‘Ini sudah 3 menit dari waktu pertama saat mereka berdua menarik kain terpal dari atas, kurasa mereka melakukan pekerjaan ini dengan baik dan hati-hati,’ batin Zen lalu kembali melihat kearah atas tepat kearah kain terpal yang kembali bergerak keatas dengan perlahan.
‘Kalau begitu, sekarang saatnya untuk melakukan langkah pencegahan kedua dengan menggunakan alat yang diberikan oleh Max,’ batin Zen lalu mencari alat tersebut.
“Ini dia!” pekik Zen dengan tertahan sambil menatap kantung udara dengan ukuran lumayan besar di tangannya.
“Dengan ini, walaupun Lin terjatuh dari ketinggian 200 meter sekalipun aku yakin jika dia tidak akan menerima luka fatal!” ujar Zen lalu mulai merentangkan kantung udara itu di lokasi perkiraan Lin bisa terjatuh.
“Baiklah, sekarang aku hanya perlu mengambil alat pemompa udaranya dari bagasi mobil,” ujar Zen lalu mengambil alat tersebut dan melakukannya dengan cepat.
‘Kuharap rencana ini selesai dengan baik, terlebih lagi rencana ini harus selesai sebelum para penghuni yang berada di daerah kumuh yang sudah berubah menjadi zombie datang ke rumah sakit ini,’ batin Zen sambil terus memompa kantung udara tersebut.
‘Jika itu terjadi, aku hanya harus menutup pintu rumah sakit menggunakan benda berat seperti lemari atau apapun itu agar para zombie tidak bisa mendobrak masuk kedalam,’ batin Zen lalu melirik kearah pagar rumah sakit sekilas.
...--------------...
“43!” seru Max dan kembali menarik terpal di tangannya dengan tenaga yang konsisten.
__ADS_1
Kini terpal itu sudah berada di lantai ketiga, yang berarti sudah setengah jalan mereka menarik terpal itu dan semuanya masih aman terkendali di tangan mereka.
Bahkan Lin yang berada di ketinggian 100 meter itu sudah mulai terbiasa dengan goyangan yang ditimbulkan akibat tarikan keduanya.
Walaupun begitu, Lin tidak akan melepaskan genggaman dari kain terpal di sisi itu untuk berjaga-jaga mengenai sesuatu yang tidak diinginkan.
‘Aku bisa melakukan ini, yang perlu kamu lakukan adalah tenang dan jangan bergerak sedikitpun agar tidak membebani kakak dan kak Max! ditambah jangan melihat kebawah sana! Tutup saja matamu, Lin,’ batin Lin lalu kembali menutup matanya.
...----------------...
“Hah, pemasangan kantung tidur selesai!” ujar Zen sambil mengusap jidatnya yang mengeluarkan sedikit keringat.
“Bagus sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, hanya perlu 100 meter lagi untuk kain terpal itu berada di atap rumah sakit dan sampai sekarang belum ada variabel yang mengacaukan ini,” ucap Zen dengan pelan.
‘Kalau begitu aku akan naik keatas atap setelah kain terpal itu sudah terikat dengan sempurna di pengait besi itu dan Lin sudah memindahkan semua persediaan yang ada,’ batin Zen lalu mulai mengawasi kain terpal itu dari bawah sana.
‘Ditambah aku yakin jika sepertinya Max dan Leo melakukan pembersihan di rumah sakit itu, tidak ada kabut berwarna ungu yang tersisa di sana, bahkan di atas dan ujung pengait itu juga tidak memiliki kabut ungu,’ batin Zen.
‘Sepertinya Max benar-benar mengerahkan semua usahanya untuk menyempurnakan dua persen itu. Yah, lagipula Max memang orang yang selalu menepati ucapannya bukan?’ batin Zen lalu tersenyum tipis.
‘Tapi aku tidak bisa berbahagia dulu karena semuanya berjalan dengan lancer, aku juga harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya. Karena aku percaya, semuanya berjalan dengan lancer hanya jika semuanya sudah terlaksana, jadi jangan turunkan kewaspadaan mu, Zen,’ batin Zen lalu mulai mengawasi kembali dengan fokus.
...----------------...
“76!” teriak Max dengan suara yang tetap konstan.
‘Aku bahkan sudah melihat kain terpal itu dan Lin, kurasa hanya beberapa meter lagi yang tersisa. Sampai sekarang semuanya sudah berjalan dengan lancer dan kuharap semuanya akan berjalan dengan lancer sampai ini berkahir!’ batin Max lalu mulai meneriakkan angka berikutnya.
“81!” seru Max untuk seruan terakhir.
“Tahan dengan erat dan pastikan saat kamu mengikatnya kamu tidak menimbulkan guncangan yang berlebih, Leo!” ujar Max yang di angguki oleh Leo dan dengan segera mereka berdua mulai mengikatkan kain terpal di ujung tangan mereka dengan kencang di pagar besi tersebut.
“Leo setelah kamu selesai mengikat itu, maka tetap tahan menggunakan tanganmu!” ucap Max yang tentu saja dilakukan oleh Leo.
“Ahh, apa aku bisa memindahkan persediaan sekarang?” tanya Lin dengan berteriak.
“Kamu bisa melakukannya sekarang, Lin!” ujar Max yang membuat Lin mengangguk.
Dengan perlahan Lin mulai berdiri di atas terpal itu. terpal sedikit bergoyang akibatnya yang membuat Max dan Leo memegang sisi lain terpal dengan erat untuk menstabilkan getarannya.
‘Ini sedikit lebih kebawah sekitar 20 centimeter saat Lin berdiri,’ batin Max yang memperhatikan perubahan.
“Ka-kalau begitu aku akan memindahkan persediaan kearah kak Leo, karena kak Leo yang lebih dekat dengan jarak ku,” ujar Lin lalu mengambil salah satu dus mie
Setelah Lin memegang dus mie tersebut, kini kain terpal kembali menurun sekitar 10 centimeter yang membuat ketiganya yang melihat sedikit takut.
‘Sial, itu menurun kembali, perkiraan saat ini adalah 30 centimeter!’ batin Zen saat melihat itu dari bawah.
“Kuharap kain terpal itu cukup kuat untuk menahan beban Lin saat berjalan sambil membawa persediaan,” ujar Zen dengan berharap.
"Lin, melangkahkan dengan perlahan," instruksi Max dengan suara yang keras agar bisa di dengar oleh Lin.
__ADS_1
Lin yang mendengar itu mengikuti instruksi dari Max dan mulai melangkahkan kakinya untuk yang pertama kali di ketinggian 200 meter.
Kain terpal bergoyang saat Lin mengangkat kakinya dan mulai menggerakkan kakinya ke depan. Leo yang melihat hal tersebut kembali memegang ujung kain terpal di depannya lebih kuat lagi untuk menstabilkannya.
"Aku baik-baik saja! Ini tidak membuatku kehilangan keseimbangan saat berada di ketinggian ini, jadi tolong jangan terlalu khawatir saat kainnya sedikit bergoyang," ujar Lin.
'Yah, tatapan dan wajah tengang dari kakak serta dua tatapan lainnya yang menyengat dari belakangku dan dari arah bawah itu membuatku sedikit tidak nyaman, walaupun aku tahu mereka seperti itu karena mengkhawatirkan aku,' batin Lin sambil mencoba untuk mengacuhkan tatapan panas dari Zen dan Max.
Dengan langkah pelan Lin kembali melangkah yang kali ini tanpa memperhatikan efek goyangan yang ada dan tetap meneruskan langkahnya dengan perlahan namun tegas ke depan.
'Kamu bisa melakukannya! Kamu hanya perlu menatap ke depan dan melangkah dengan pasti, jangan melihat kebawah ataupun merasa takut terhadap goyangan yang terjadi oleh langkah kakimu!' batin Lin menyemangati dirinya sendiri.
Mungkin karena tatapan dari ketiga kakaknya itu ataupun kalimat penyemangat nya tadi, kini Lin sudah berhasil berdiri di ujung dari kain terpal, yaitu tempat Leo berada.
Max yang memperhatikan jika kain terpal mulai sedikit condong kearah sana harus meneriaki mereka berdua untuk melakukannya dengan segera dan menyuruh Lin untuk kembali ke tengah-tengah seperti semula dengan langkah yang perlahan.
Kedua anak itu mempercepat gerakan mereka untuk mengoper barang itu dan membuat Leo harus menelan kalimat khawatir yang akan keluar dari mulutnya walaupun detak jantungnya tidak bisa berbohong jika dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan adiknya itu.
Zen yang melihat jika Lin menyelesaikan tugas untuk memindahkan kardus pertamanya itu hanya bisa menghela nafas pelan karena rasa lega serta mengulas senyum tipis diwajahnya.
"Bagus semuanya berjalan dengan baik, tapi kita masih di kejar oleh waktu," gumam Zen sambil menatap kearah gerbang yang sudah di tutup oleh Max lalu melihat kembali mayat zombie yang berada di sana.
'Tubuh kurus kering, tidak memakai sepatu ataupun sendal dan baju penuh tambalan serta kumal dan kusam, mereka pasti orang yang berasal dari daerah kumuh yang tidak jauh dari sini,' batin Zen lalu memalingkan mukanya dari mayat zombie itu menuju tempat daerah kumuh berada.
'Di sana memiliki kabut ungu, hanya saja tidak terlalu pekat. Ini bisa di artikan menjadi dua hal, jumlah zombie yang tidak terlalu berbahaya untuk pihak kita dalam artian kita masih memiliki kesempatan untuk kabur atau karena penyebab dari kabut ungu itu adalah keberadaan para zombie itu yang terlalu jauh dari jarak jangkauan ku?' batin Zen lalu menghela nafasnya dengan pelan.
"Apapun itu aku harus tetap memastikan keselamatan Lin, ya sepertinya aku akan naik keatas setelah Lin menyelesaikan semuanya dan berada di atap gedung dengan selamat." gumam Zen lalu menatap kearah Lin yang kini sudah membawa dus yang ke 3.
'Tapi bagaimana jika warga daerah kumuh yang berubah menjadi zombie membentuk gelombang zombie dan sedang bergerak kearah sini?' batin Zen dengan penuh rasa khawatir.
"Mungkin aku akan mati untuk kedua kalinya jika itu terjadi," ucap Zen sambil mendengus pelan.
'Tapi aku tidak ingin mati, aku belum menciptakan good ending untuk kakakku, ditambah aku ingin bermalas-malasan dengan kasurku dan tidur selama 8 jam sehari setelah selesai menciptakan ending yang bagus!' batin Zen dengan penuh tekad.
"Tapi aku juga tidak bisa naik keatas hanya untuk memastikan keselamatan ku dan meninggalkan Lin yang masih berjalan di ketinggian 200 meter itu. Aku juga harus memastikan keselamatan Lin karena dia adalah tanggung jawabku." ucap Zen dengan serius.
'Aku sudah berjanji dengan Leo untuk memastikan Lin akan baik-baik saja.' batin Zen mengingat janjinya kepada Leo.
'Kurasa aku hanya bisa bertaruh dengan waktu. Mari kita bertaruh, apa Lin yang akan selesai lebih dulu atau gelombang zombie yang datang lebih dahulu dari daerah kumuh dan bergerak menuju rumah sakit ini karena mencium bau manusia,' batin Zen mengalihkan pandangannya kearah gerbang rumah sakit lalu kembali kearah Lin yang berada di atas sana.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
__ADS_1
Instagram : lmnr_vv