Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(41) Awal Cerita Asli|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Tepat sekali! Aku akan membuat beberapa bahan yang setidaknya sangat cocok dan sangat diperlukan untuk bertahan hidup di akhir dunia seperti ini," jelas Zen dengan senyuman penuh perhitungan diwajahnya.


...| (❁❁) |...


"Kalau begitu, kurasa aku tahu rumah sakit mana yang harus kita-"


//Suara pintu terbuka......


"Kak Zen?" tanya Leo dengan pelan sambil memunculkan sedikit kepalanya di balik pintu.


Zen yang mendengar suara Leo berjalan mendekat kearahnya dan menundukkan dirinya untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Leo.


Kini tangan kanannya sudah terangkat untuk menepuk pelan kepala Leo sebelum harus menarik paksa saat melihat tangannya yang memiliki bercak darah kotor dan hanya bisa memasang senyuman biasanya.


"Kamu berhasil menuruti perintahku untuk bertahan selama ini, sekarang kamu tidak perlu khawatir karena aku yang akan menghadapi mereka semua sebelum kamu," jelas Zen yang membuat mata Leo berkaca-kaca.


"Ah ... itu benar," gumam Leo sambil menghela nafas pelan.


"Kak Zen!" pekik Lin sambil berlari menuju Zen dengan kedua tangannya yang terentang untuk memeluk Zen dan tentu saja dengan gerakan refleks, Zen menghindarinya dengan mudah.


"Aku senang kamu baik-baik saja Lin, tapi kondisiku sedang kotor jadi tidak ada pelukan untuk saat ini, " ucap Zen sambil memasang senyum permintaan maafnya.


Lin yang mendengar ucapan Zen hanya tersenyum cerah dan mengatakan,


"Tidak apa-apa dan Ini semua berkat perintah darimu, kak Zen! Ditambah kakak melindungi diriku dengan sangat baik, jadi aku tidak perlu khawatir tentang keselamatan ku karena ada kakak dan kak Zen!"


"Hahaha, kamu benar Lin, sekarang ada aku yang akan melindungi kalian berdua," jelas Zen lalu menatap Leo dengan tatapan hangatnya.


'Yah, sangat bagus jika Leo tidak mengambil tangung jawab yang besar, walaupun dia bersikap dewasa, dia hanyalah anak kecil yang baru berusia 13 tahun,' batin Zen saat melihat jika tubuh Leo sedikit bergetar, mungkin karena menangis dalam diam?


Oh ayolah, Leo hanya anak kecil berusia 13 tahun. Tapi anak sekecil itu baru saja mengalami fenomena yang bahkan tidak akan pernah terlintas dipikirannya.


Yang dia ketahui adalah dia memiliki seorang adik yang harus dilindungi. Dia satu-satunya orang dewasa di antara dia dan adiknya. Dia satu-satunya orang yang harus diandalkan oleh adiknya.


Bagaimana mungkin Leo harus takut dalam situasi ini? Jika dia takut lalu siapa yang akan menyakinkan adiknya, siapa yang akan melindungi adiknya?


Bahkan sebelum fenomena ini terjadi, hanya dia satu-satunya yang bisa adiknya andalkan. Tapi sekarang ada orang dewasa yang akan memasangkan tubuhnya untuk melindungi dia dan adiknya.


Orang dewasa yang selalu Leo nantikan sehingga adiknya bisa mengandalkan orang itu agar walaupun dirinya gagal, setidaknya adiknya akan baik-baik saja dengan orang dewasa itu.


Dirinya tidak harus lagi menanggung beban ini semua karena ada orang dewasa itu.


"Ekhm, maaf menginterupsi acara pertemuan kalian, tapi setidaknya kita harus berbicara di dalam atau kalau tidak para zombie di lantai bawah atau di luar sana akan segera berada di sini dan mengacaukan segalanya," intrupsi Max sambil terbatuk pelan yang mengakhiri momen pertemuan ketiga orang itu.


"Ah, kamu benar Max, ayo kita masuk dan bicarakan ini semua di dalam," ucap Zen sambil melangkah masuk diikuti dengan Leo, Lin dan yang terakhir adalah Max.


"Omong-omong, Zen...?"


"Ya?" tanya Zen setelah berhasil mengunci pintu rumahnya.


"Bisakah aku mandi terlebih dahulu? Tubuhku benar-benar lengket karena darah hitam menjijikan ini," ucap Max sambil menatap dirinya jijik.


"Tentu saja! Hanya saja kamu harus memakai air dingin di sini karena aku tidak memiliki pasokan untuk air panas," jelas Zen yang dibalas anggukan oleh Max.

__ADS_1


"Tidak apa, lalu dimana kamar mandinya dan pakaian siapa yang akan aku kenakan?" tanya Max yang membuat Zen mengacungkan jarinya menuju kesebuah ruangan.


"Di sana, dan untuk baju yang akan kamu pakai tentu saja bukan bajuku. Jika kamu memakai bajuku itu, bajuku akan robek karena tidak muat saat kamu pakai. Kamu akan memakai baju kakakku," jelas Zen panjang lebar dan membuat Max sangat senang.


Setidaknya dia tidak perlu memakai baju yang tidak nyaman itu. Pikir Max tentu saja di dalam pikirannya.


"Baiklah kalau begitu aku akan mandi terlebih dahulu, kamu bisa melanjutkan aksi pertemuan mu itu dengan kedua adikmu," ucap Max lalu pergi menuju ruangan yang di tunjuk oleh Zen.


"Ya, ya, ya, terserah apapun yang ingin kamu lakukan itu," mengibas-ngibaskan tangannya tanpa melihat kearah Max.


"Kemari lah Leo, Lin, aku harus mendengar penjelasan kalian sebentar mengenai apa saja yang terjadi dari awal sampai akhir saat aku tidak ada di sini," jelas Zen yang membuat kedua anak kecil itu duduk mendekat dan mulai menceritakan semuanya.


...----------------...


"Hei, Fin, ada apa denganmu? Kenapa dari tadi kamu seperti tidak fokus?" tanya Neo yang membuat Fin tersentak kembali.


"Ah, aku melamun lagi...," ucap Fin dengan pelan yang membuat Neo menghela nafas pelan lalu meletakkan kembali pisau bedah yang berada di tangannya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Neo dengan serius.


"Entahlah, tapi aku merasakan firasat buruk, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi segera," balas Fin yang membuat Neo mengerutkan keningnya.


"Itu mungkin hanya perasaanmu saja, sepertinya kamu masih menganggap serius fenomena aneh tadi. Bukankah para profesor sudah mengatakan jika itu hanya sebuah fenomena yang tidak bisa mereka prediksi tapi masih termasuk kedalam fenomena alam."


"Ditambah tidak ada sesuatu yang aneh setelah fenomena itu terjadi, jadi hentikanlah rasa khawatir mu," ucap Neo yang membuat Fin menghela nafas pelan.


"Aku tahu itu, tapi bukankah kita sudah mengeceknya melalui penelitian? Apa yang diucapkan oleh profesor dan apa yang dihasilkan oleh penelitian kita berbeda," jelas Fin.


"Tidakkah kamu merasa curiga?" tanya Fin sambil menatap wajah Neo dengan lama.


"Curiga? Tentu saja aku merasa curiga. Siapa yang tidak curiga saat partikel listrik yang seharusnya ada di bumi menjadi tidak ada selama satu jam penuh?" tanya Neo dengan pelan.


"Hanya saja kita tidak harus mencemaskan hal ini, itu hanya akan menambah beban pikiran saja, lebih baik kamu fokus dan selesaikan operasi ini!" seru Neo yang membuat Fin terkekeh.


"Bukankah ini sudah selesai? Aku hanya perlu melakukan hal terakhir dan boom, operasi selesai," jelas Fin dan benar saja setelah langkah akhir operasi itu selesai.


"Kurasa kamu benar, tidak ada yang perlu ku khawatirkan," ucap Fin dengan pelan.


"Tentu saja aku benar!" balas Neo dengan bangga yang dijawab dengan tawa pelan oleh Fin.


Tidak terasa waktu mulai terlewatkan oleh mereka, kini jam sudah menandakan pukul 14.50, hanya tersisa sepuluh menit lagi sebelum mata pelajaran mereka berakhir. Kini Fin dan Neo sedang bersiap-siap merapihkan peralatan prakteknya dan bersiap untuk kembali ke kelas mereka.


"Bagaimana dengan perasaanmu itu? Apa sudah jauh lebih tenang? " tanya Neo yang dibalas dengan tatapan sendu oleh Fin.


"Tidak, kamu tahu? Firasat buruk ku semakin terasa buruk," balas Fin yang membuat Neo mengerutkan keningnya.


"Kalau begitu seharusnya kamu berdoa jika firasat mu itu tidak akan terjadi," ucap Neo yang dibalas dengan anggukan oleh Fin.


Gerakan tangan Fin yang sedang merapihkan peralatan operasi itu harus berhenti dan memandang kearah luar pintu laboratorium dengan ekspresi aneh. Neo yang memperhatikannya hanya menatap dengan bingung sebelum bertanya kepada Fin.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di depan sana?" tanya Neo.


"Tidak tahu, tapi aku mendengar suara teriakan dari luar," ucap Fin dengan pelan.


"Teriakkan? Tapi aku tidak mendengar apapun," ujar Neo.


"Mungkin hanya perasaanmu sa-" kalimat Neo terputus saat mendengar suara ketukan pintu dari luar dengan keras.


"Huh? Siapa yang mengetuk pintu?" tanya Neo dengan pelan dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Belum lima langkah Neo berjalan tangannya harus ditahan oleh Fin. Neo yang merasakannya hanya memandang Fin dengan tatapan bertanya. Sedangkan Fin hanya membalas dengan gelengan pelan.


"Apa tidak ada yang mau membukakan pintu itu?" seru laki-laki di sana dengan kesal.

__ADS_1


"Hei ketua mahasiswa! Bukalah pintu laboratorium itu," perintahnya kepada Fin.


Neo yang mendengarnya hanya mengerutkan kening atas tindakan tidak sopan dari laki-laki tersebut dan bersiap untuk melayangkan protes sebelum dirinya ditahan oleh Fin.


"Maaf tapi aku tidak berkewajiban untuk melakukan apa yang kamu katakan," jawab Fin dengan senyuman yang membuat laki-laki itu mengeram marah.


"Hah! Kamu harus melakukannya karena kamu adalah ketua mahasiswa!"


"Atas dasar apa kamu yakin dengan mengatakan hal itu?" tanya Neo dengan tajam.


"Tentu saja karena dia adalah perwakilan dari mahasiswa, bukankah aku adalah mahasiswa jadi dia harus menuruti ucapan ku itu!" balas laki-laki itu sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.


"Hah! Bagaimana dia bisa mengatakan omong kosong itu dengan wajah bangga?" cibir Neo dengan pelan.


"Apa yang kamu katakan?!"


"Aku bilang bagaimana bisa kamu mengatakan omong kosong dengan wajah bangga?" ucap Neo dengan suara keras yang membuat laki-laki itu memerah karena malu dan marah.


"Berani sekali kamu mengatakan itu?!" ucap laki-laki itu lalu berjalan menuju kearah Fin dan Neo.


"Hentikan itu! Jika kamu melakukan kekerasan disini maka aku akan melaporkan mu kepada profesor," ancam seorang perempuan yang menggunakan kacamata tebal.


"Cih, berani sekali wanita seperti mu mengatakan hal seperti itu?" tanya laki-laki itu dengan jari terangkat ke arahnya.


"Kenapa aku tidak berani melakukan itu kepada laki-laki berotak kosong seperti mu?" tanyanya dengan senyum sinis di wajahnya.


"Jika kamu memang ingin menghentikan suara ketukan pintu itu buka saja sendiri dan jangan menyuruh orang lain!" ucap perempuan itu yang membuat laki-laki itu berdecak pelan.


"Hanya seorang wanita saja berani memerintah ku?" tanya laki-laki itu dengan cibiran di wajahnya.


"Tentu saja aku berani karena aku adalah siswi yang ditugaskan sebagai penanggung jawab di kelas profesor, sedangkan kamu hanyalah laki-laki pengecut yang hanya tahu tentang cara memerintah saja," cibir perempuan itu yang membuat laki-laki itu kesal.


"Baiklah akan aku buka pintunya! Aku bukanlah laki-laki penakut sepertinya!" ucap laki-laki itu sambil berjalan menuju pintu.


"Laki-laki berotak kosong ini...!" pekik Neo dengan pelan yang tentu saja harus ditahan oleh Fin sebelum temannya kembali berulah.


"Tenanglah, jika kamu berulah kamu akan mendapatkan skors atau hukuman dari para profesor!" peringat Fin yang hanya dibalas dengan dengusan kasar oleh Neo.


Walaupun Fin baru kenal beberapa hari dengan Neo, tapi dia mengetahui bagaimana tingkah laku temannya ini. Temannya ini sangat pandai memprovokasi seseorang dan juga sangat gampang untuk tersulut emosi kembali.


Jangan lihat tubuh Neo yang kecil, tapi yakin lah kekuatan yang dimiliki Neo itu sangat besar. Sampai-sampai jika dia melakukan latih tanding dengan Fin, mungkin dia akan memenangkan dua dari lima pertandingan.


"Huh. mari kita lihat siapa yang mengetuk pintu ini sampai-sampai mengangguk kelas ku," ujar laki-laki itu lalu membuka pintu laboratorium.


Tepat setelah pintu terbuka, orang dibalik pintu itu menerjang kearah laki-laki itu sambil mengincar bagian lehernya untuk digigit. Dengan keras laki-laki itu berteriak saat merasakan jika leher miliknya sedang dikoyak oleh orang itu.


Seluruh mahasiswa di dalam laboratorium menjadi panik dan berteriak histeris karena kejadian itu dan dengan cepat beberapa diantara mereka mulai berlarian keluar dan beberapa diantara mereka mulai membantu laki-laki itu untuk terlepas dari mahkluk aneh yang mengigit lehernya.


"Jadi ini perasaan aneh yang kamu rasakan?" tanya Neo dengan pelan yang dibalas dengan anggukan ragu dari Fin.


"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Neo dengan cepat seolah-olah sudah bisa beradaptasi dengan kejadian ini.


"Kita harus pergi dari sini," jawab Fin dengan tegas sambil memandang kearah satu set pisau bedah yang mereka rapihkan tadi.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2