Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(24) Sabtu|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


Yah, begitulah kira-kira keadaan harmonis diantara mereka bertiga. Mari kita berikan applaus untuk Zen yang akhirnya bisa memasak tanpa harus mengalami kekacauan seperti gosong, keasinan, ataupun kekacauan lainnya.


...| (❁❁) |...


“Umm, jadi bagaimana kami berdua akan tidur kak?” tanya Leo dengan ragu sambil memandang kasur yang hanya muat untuk dua orang.


“Yah, karena rencana pengadopsian kalian sangat terburu-buru, aku tidak sempat untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan,” ucap Zen sambil mengalihkan pandangannya kearah lain selain menatap mata kedua anak itu.


“Jadi sudah ku putuskan jika kalian berdua akan tidur di kasur dan aku akan tidur di sofa ruang tamu. Mungkin besok aku akan pergi untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk kalian berdua,” jelas Zen.


‘Yah, sebenarnya bukan karena itu sih, aku hanya terlalu malas menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak akan terpakai nantinya.’ batin Zen.


“Tentu saja tidak bisa seperti itu kak! Bagaimana bisa kakak tidur di sofa padahal kakak adalah pemilik rumah?” seru Leo dengan tidak puas.


“Itu benar! Bagaimana jika aku saja yang tidur di sofa? Lagipula badanku itu kecil, kurasa aku bisa tidur dengan nyaman di sana,” ucap Lin mengungkapkan pendapatnya.


“Tidak Lin, walaupun tubuhmu kecil tetap saja kamu akan menderita nyeri otot besok pagi,” ucap Zen dan melarangnya dengan keras.


“Biar aku saja kalau begitu! Kami sudah sangat cukup untuk merepotkan kakak, setidaknya biarkan aku meringankan sedikit beban kakak. Bukankah kakak sudah terlalu lelah untuk mengurus pengadopsian kami dan bahkan sampai membawa kami ke rumah sakit untuk berobat,” ucap Leo dengan nada pelan diakhir kalimat.


“Setidaknya aku ingin kakak bisa tidur dengan nyenyak malam ini karena rasa lelah seharian,” lanjut Leo.


‘Hahaha, bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak dengan semua hal yang akan terjadi besok?’ batin Zen sambil tertawa dengan miris di dalam hatinya.


“Bukankah kamu sendiri melihat jika tempat tidur itu cukup untuk kalian berdua? Jika aku tidur di tempat tidur, tempat tidur itu tidak akan bisa muat untuk dua orang. Lagipula aku tidak merasa lelah sama sekali, ditambah masih ada hal yang harus kulakukan,” ucap Zen.


“Tapi-“


“Yak! Hentikan bantahan mu itu. Aku hanya tidur di sofa untuk satu hari saja. Jangan terlalu melebih-lebihkan itu semua,” ucap Zen yang ditanggapi dengan gerutuan pelan oleh Leo dan cebikan bibir oleh Lin.


“Kalian berdua tidurlah di tempat tidur dan aku akan tidur di sofa depan,” ucap Zen dengan keputusan final.


“Tapi kak-“


“Aku tidak menerima bantahan. Lagipula sofa di depan cukup empuk sebagai tempat tidur dan tidur di sana tidak akan membuat badanku pegal-pegal,” jelas Zen.


“Tapi kurasa sofa itu tidak cukup empuk untuk ditiduri oleh mu, kak,” bantah Leo.


“Kalau begitu aku bisa menambahkan bantal agar empuk bukan?”


“Tapi bagaimana jika kakak kedinginan?” balas Lin yang masih tidak terima.


“Aku bisa memakai selimut yang tebal nanti,” jawab Zen dengan acuh.


“Tapi-“


“Hahh, hentikan bantahan kalian itu, bukankah sudah kubilang untuk hari ini saja?” tanya Zen sambil menatap Leo dan Lin yang bungkam.


“Jadi pergilah untuk menggosok gigi dan mencuci kaki kalian sebelum naik ke tempat tidur,” ucap Zen sambil duduk di atas Kasur dan menatap mereka dengan tajam.


Leo dan Lin yang ditatap tajam seperti itu hanya bisa berjalan menuju kamar mandi dengan lemah dan melakukan kegiatan mereka dengan cepat. Zen yang melihat mereka menuruti ucapannya tersenyum senang dan menunggu tenang di atas kasur.


“Sudah?” tanya Zen dan menutup buku catatan ditangannya itu.


“Sudah,” jawab mereka bersamaan dengan lesu.


“Naiklah ke tempat tidur dan segera tidur. Ini sudah jam 9 malam, tidak bagus untuk anak-anak tidur di atas jam 8 malam,” jelas Zen sambil membantu mereka untuk bersiap tidur.


“Kakak, apa ini baik-baik saja?” tanya Lin sambil mencengkram selimut di tubuhnya dengan erat.


“Tentu saja, aku sudah menyiapkan bantal dan selimut tebal ku untuk tidur di depan. Ini hanya sehari, Lin,” jelas Zen sambil mengelus pelan rambutnya.


“Kakak, kamu terlalu baik,” gumam Lin yang masih di dengar oleh Zen dan Leo.


Leo yang mendengarnya mengangguk setuju sambil menatap Zen dengan tatapan keluhan.


“Tidak bisakah kakak sedikit egois?” tanya Leo dengan mata sedikit mengantuk.


“Haha, asal kalian tahu, aku sangat egois. Kalian saja yang tidak mengenalku dengan baik,” jawab Zen dengan sesungguhnya.

__ADS_1


‘Bukankah membawa mereka berdua untuk keuntunganku di masa depan termasuk egois?’ batin Zen sambil menatap Lin yang sudah memejamkan matanya dan Leo yang masih tersadar walaupun dengan mata yang mengerjap pelan.


“Kamu berbohong, kak,” gumam Leo dan dibalas tawa pelan oleh Zen.


“Tidurlah dan aku akan mematikan lampunya untuk kalian,” ucap Zen yang dibalas dengan gumaman pekan oleh Leo.


Setelah memastikan kedua anak itu tertidur, ia mematikan lampunya dan mengambil buku catatan yang dibacanya tadi lalu berjalan menuju keluar.


Jangan lupakan pintu kamarnya yang ditutup dengan sepelan mungkin olehnya agar tidak membangunkan kedua anak tersebut.


Ku buang nafasku dengan pelan lalu ku dudukan diriku di sofa ruang tamu dengan bantal dan selimut yang menemaniku. Oh, jangan lupakan buku catatan milikku yang ku bawa keruang tamu.


“Ck, bagaimana aku bisa mengalahkan Max dengan cara yang tidak terlalu aneh?” gumam Zen sambil membuka kembali buku catatan yang berisikan beberapa taktik untuk mengalahkan Max.


“Pertandingannya adalah besok siang dan aku masih belum bisa menemukan taktik yang cocok untuk menghadapinya,” ucapnya dengan pelan dan kembali menuliskan beberapa taktik cara yang terlintas di otakku.


“Max adalah tipe petarung yang agresif, tapi tidak menutupi jika teknik perlindungan dirinya juga sangat bangus. Akan sangat susah untuk menyerangnya sambil mempertahankan diri dengan baik.”


“Ditambah lidah berbisa milik Max yang bisa saja membuatku terbawa emosi saat bertarung dengannya,” gumam Zen sambil menelaah kemampuan bertarung Max.


“Berapa kali pun ku pikirkan tetap saja, melawan Max adalah Tindakan yang bodoh! Aku beruntung karena ini adalah latih tanding biasa, bisa diprediksi jika aku tidak akan terlalu babak belur di tangannya.”


"Mungkin aku hanya bisa menang darinya setidaknya adalah 3 kali dari 10 pertandingan dengan kondisi tubuhku saat ini,” berucap dengan pelan sambil membuka tutup tangannya dengan pelan.


“Huftt … ditambah aku tidak bisa mengeluarkan semua kemampuanku agar tidak membuat Max merasa curiga dengan perubahan ku yang tiba-tiba,” ucap Zen dengan lelah sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


“Setelah melihat semua taktik ini aku hanya bisa memilih cara ini yang cocok dengan setiap kondisiku,” berucap sambil melingkarkan salah satu taktik yang di tulisnya di dalam buku catatan.


“Huhh … kenapa aku harus berurusan dengan hal yang merepotkan seperti ini? Tapi tenangkan dirimu Zen, ini semua demi keberlangsungan tidurmu selama 8 jam sehari!” ucap Zen dengan semangat yang tiba-tiba saja membara.


Bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur dengan kertas robekan yang berisikan taktik miliknya dan membakarnya dengan api kompor.


”Setidaknya dengan ini aku akan berhasil membawa Max ke sisiku.” Ucap Zen sambil menyaksikan kertas itu terbakar dengan perlahan.


“Jaa, haruskah aku memuaskan rasa kantukku dan pergi tidur sekarang sebelum menghadapi besok dan kekacauan yang dibawanya?” gumam Zen sambil menatap linglung kearah sofa ruang tamunya.


‘Entah kenapa aku merasa jika besok akan menjadi hari yang memuakkan?’ batin Zen dengan penuh tanda tanya.


“Sudahlah, lebih baik tidur dan bertemu dengan nona mimpi segera daripada memikirkan masalah yang selalu saja terpikirkan di otakku. Selamat malam untuk diriku,” gumam Zen lalu menutup matanya dan tertidur.


...----------------...


//Bunyi alarm yang berdering……


Dengan perlahan, Zen bangkit dari duduknya dan dengan cepat melakukan perenggangan ringan terhadap tubuhnya yang terasa kaku.


“Yah, setidaknya ini tidak separah yang aku pikirkan,” ucap Zen lalu mengambil handphonenya untuk melihat jam.


“Jam 05.34, aku harus segera bergegas untuk bersiap dan melakukan lari pagi,” ucapnya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


Membuka pintu dengan pelan dan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.


“Syukurlah mereka tertidur dengan nyenyak, aku tidak perlu khawatir mengenai mereka yang tidak nyaman tertidur di tempat yang berbeda,” gumam Zen lalu bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk menyikat giginya dan membasuh wajahnya.


Berkaca di depan cermin dengan baju yang sudah berganti menjadi hoodie berwarna putih dan celana training berwarna hitam.


“Dilihat bagaimanapun, aku ini tetap tampan!” ucap Zen dengan narsis dan mengambil handphone serta kartu tabungan miliknya.


“Aku harus mampir ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa makanan instan, air dan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup,” gumam Zen dan berjalan keluar dengan pelan sambil menutup pintunya dengan perlahan agar kedua anak kecil itu tidak terbangun dari tidurnya.


“Yosh, mari kita mulai berlari dengan perlahan dan melakukan pemanasan ringan untuk menghadapi Max nanti,” ucapnya dan melangkahkan kakinya keluar rumah.


...----------------...


“Hufttt … mau berapa kali pun aku melakukannya tetap saja aku tidak sanggup,” gumam Zen dengan nafas terengah-engah sehabis melakukan lari paginya.


“Aku melakukan semua ini hanya demi tubuhku agar bisa menahan bebannya, tapi bagaimanapun juga jika aku tidak memiliki tenaga dan kekuatan yang cukup, tetap saja ini akan sia-sia,” ucapnya dengan pelan sambil menundukkan kepalanya kebawah.


‘Mau bagaimana lagi? Aku memang lemah bukan?’ batin Zen sambil tersenyum miris.


“Hentikan itu dan lebih baik aku segera berbelanja kebutuhan untuk bertahan hidup kedepannya,” ucap Zen sambil memandang minimarket yang berada dihadapannya.


‘Dan kuharap tidak ada gangguan kembali seperti kejadian beberapa hari yang lalu,’ batin Zen sambil melangkah menuju minimarket tersebut.


...----------------...


“Apakah aku sudah membeli semua yang ku butuhkan?” gumam Zen sambil mengecek barang yang berada di keranjangnya satu per satu.


“Sepertinya sudah semua, haruskah aku menghabiskan uang yang tersisa?” lanjutnya sambil memperhitungkan uang yang tersisa.

__ADS_1


“Sepertinya lebih baik menambahkan biskuit kering untuk kedua anak itu,” ucap Zen lalu mengambil kembali beberapa biskuit yang menurutnya enak.


“Totalnya 728 ribu!” seru kasir itu setelah selesai menghitung semua belanjaan Zen.


“Ini uangnya.”


“Baik dan ini kembalian anda tuan, silahkan datang kembali di lain waktu,” ucap kasir itu dengan senyuman ramah yang dibalas senyuman ramah kembali oleh Zen.


“Melihat kasir tadi aku jadi terpikirkan dengan kak Eva, apa dia menangapi nasihatku atau tidak ya?” gumam Zen bertanya-tanya sambil melangkahkan kakinya menuju apartment kecil miliknya.


“Aku pulang….” Ucap Zen saat membuka pintu.


“Ah, kakak kembali,” balas Leo dari arah dapur.


“Hm? Apa yang kamu lakukan di dapur, Leo?” tanya Zen sambil berjalan menuju dapur.


“Ahh, aku hanya memasak beberapa mie instan untuk makan,” ucap Leo dengan canggung.


“Tidak apa-apa bukan?” tanya Leo dengan hati-hati.


“Aku tidak masalah, yang ku takutkan adalah terjadi sesuatu denganmu saat mengunakan dapur, ditambah aku tidak ada di rumah tadi,” balas Zen sambil menatap Leo yang membuat Leo menundukkan kepalanya.


“Maafkan aku, aku hanya ingin sedikit membantumu, kak. Lagipula aku sudah terbiasa memasak mie kok,” ucap Leo.


“Aku tahu, tapi tidak menutupi fakta jika kamu adalah anak-anak di mataku. Aku hanya takut terjadi hal yang tidak dinginkan, kamu paham?” balas Zen sambil mengelus kepalanya dengan pelan.


“Aku mengerti,” jawab Leo sambil mengangguk pelan.


“Dimana Lin?” tanya Zen sambil mengambil alih kegiatan Leo yang sedang memasak tadi.


“Dia berada di kamar dan sedang mandi, mungkin saja dia akan segera kemari kak,” balas Leo yang membuat Zen menganggukkan kepalanya.


“Kakak! Aku sudah rapih,” ucap Lin sambil berlari menuju Leo.


“Jangan berlarian seperti itu, Lin.” Tegur Zen sambil memindahkan mangkuk mie yang sudah matang di atas meja.


“Kak Zen! Kapan kakak kembali?” tanya Lin sambil memeluk kaki Zen.


“Baru saja dan cepat makan mienya sebelum mie ini mengembang,” ucap Zen yang di angguki oleh Lin dan Leo.


“Kak, apa kakak akan pergi ke sekolah hari ini?” tanya Leo yang dibalas anggukan oleh Zen.


“Memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanya Zen dengan bingung.


“Tidak ada, aku hanya bertanya saja.”


“Huh? Apakah di hari sabtu juga harus pergi ke sekolah?” tanya Lin dengan bingung.


“Tentu saja,” balas Zen dengan singkat.


“Kukira pergi ke sekolah hanya sampai di hari jumat saja,” balas Lin yang mendapatkan kekehan dari Leo.


“Itu hanya berlaku untuk sekolah dasar dan taman kanak-kanak Lin, jika kamu sudah menginjak ranah sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, kamu harus masuk hingga hari sabtu,” jelas Leo yang di angguki oleh Zen.


“Itu benar, kenapa kamu menanyakan ini tiba-tiba Lin? Apa kamu ingin memasuki sekolah dasar?” tanya Zen yang ditanggapi dengan gelengan keras oleh Lin.


“Tidak! Itu akan membuat kita mengeluarkan uang yang sangat banyak!” balas Lin dengan tegas.


“Pftt … baiklah aku tidak akan memaksa, tapi jika kamu menginginkannya kamu bisa membicarakannya lagi kepadaku,” ucap Zen yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Lin.


“Kapan kakak akan berangkat?” tanya Leo sambil membawa piring kotor menuju wastafel.


“Aku akan berangkat setelah pengacara yang diutus kakakku datang, sekitar jam 8 pagi ini,” jelas Zen.


“Ah, sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada kalian,” lanjut Zen yang membuat atensi Leo dan Lin teralihkan kepadanya.


“Apa yang ingin kakak katakan?” tanya Lin dengan hati-hati.


“Aku hanya ingin meminta kalian jangan keluar rumah apapun alasannya untuk hari ini,” ucap Zen dengan serius.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2