
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
‘Suara itu berhenti. Apa kak Zen yang mengatasinya?’ batin Leo sambil menatap sekali lagi kearah pintu yang sudah tidak terdengar suara gedoran dari luar sana.
...| (❁❁) |...
“Apa itu apartment mu?” tanya Max sambil melihat kearah pintu apartemen dihadapannya yang sedang dipukul secara brutal oleh dua zombie.
“Iya,” balas Zen dengan suram.
‘Sial, aku tidak memprediksi jika akan ada yang memukul pintu apartment ku, bagaimana dengan keadaan mereka berdua, apa mereka berdua saat ini sedang ketakutan?’ batin Zen yang membuat aura suram di tubuhnya bertambah menjadi semakin suram.
“Hentikan pergulatan batin mu itu, lebih baik kita susun rencana untuk membunuh kedua zombie itu,” jelas Max sambil menatap kedua zombie dihadapannya.
“Mereka terlihat berbeda dengan yang sebelumnya, mereka jauh lebih brutal,” ucap Max dengan pelan.
“Ah, kamu akan sering menjumpai zombie seperti mereka di masa depan,” jelas Zen menarik kembali aura suram di sekitarnya.
“Apa ada yang membedakan mereka?” tanya Max yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Zen.
“Ada, apa kamu ingin mendengarnya?” tanya Zen yang membuat Max menggeleng pelan.
“Kurasa tidak sekarang, kita harus menyelamatkan kedua adik kecilmu itu terlebih dahulu. Beritahu saja apa yang membedakan mereka dengan zombie yang sebelumnya?” ucap Max.
“Yang membedakannya hanyalah kekuatannya sedikit lebih kuat dari zombie sebelumnya dan mereka sangat agresif, hanya saja mereka sangat amat bodoh sehingga kamu bisa mengalahkannya dengan menggunakan gerakan yang sama berulang-ulang,” balas Zen yang membuat Max menatapnya.
“Maksudmu mereka tidak akan terbiasa dengan gerakan bertarung ku walaupun aku mengulanginya beberapa kali?” tanya Max untuk memastikan kembali apa yang dia dengar.
“Iya, bahkan jika kamu mengulanginya ratusan kali mereka tidak akan terbiasa, berbeda bukan dengan zombie sebelumnya?” tanya Zen dengan senyum mengerikan diwajahnya.
“Hehehe, maksudmu mereka itu bodoh bukan?” tanya Max dengan wajah yang tersenyum persis seperti senyum di wajah Zen.
“Kalau begitu aku akan mencoba menyerangnya untuk melihat seberapa kuat mereka,” ucap Max sambil bangkit berdiri menuju kearah kedua zombie itu.
Sedangkan Zen hanya duduk dengan diam di tempat tadi sambil memasang sikap siap untuk menonton pertunjukan yang tersaji di depannya. Bahkan dihadapannya kini sudah tersedia beberapa biskuit yang entah dari mana dia dapatkan.
‘Menonton sebuah pertunjukkan memanglah yang terbaik!’ batin Zen dengan semangat.
“Hei, kalian berdua!” ucap Max untuk mengalihkan atensi kedua zombie itu.
Kini kedua zombie itu sudah menghadap kearah Max sambil mengeram pelan dan menatap Max seolah-olah mereka sedang mendapat mangsa yang bagus.
“Iya kalian berdua, kalian berdua adalah orang XXX” ucap Max sambil mengarahkan jari tengahnya kearah kedua zombie itu.
Demi kenyamanan kita semua mari kita sedikit sensor ucapan Max saat sedang memancing amarah seseorang. Jika kalian mendengarnya tidak berlebihan jika mengatakan kalian juga akan ikut merasa kesal saat mendengarnya.
‘Huh? Memangnya zombie mengerti ucapan manusia?’ batin Zen bertanya-tanya sambil terus mendengarkan rangkaian kalimat kasar yang dilontarkan oleh Max dengan sepenuh jiwa.
Seolah mengerti ucapan kalimat kasar yang dilontarkan oleh Max, kini kedua zombie itu mulai berlari menuju kearah Max dengan marah yang membuat Max menatap dengan sedikit kejutan.
‘Mereka bisa berlari? Kukira mereka hanya bisa berjalan dengan Langkah terseok-seok seperti zombie sebelumnya,’ batin Max lalu mulai mengguncangkan baton stik miliknya kearah kepala zombie itu.
Bunyi benturan terdengar lumayan keras. Max yang awalnya dengan percaya diri jika pukulannya bisa membuat lubang di kepala zombie itu kini harus menelan fakta pahit jika serangannya tidak memberikan efek apapun.
Zombie yang mendapat pukulan dari Max hanya bisa mengeram kesal dan mulai berlari kembali menuju kearah Max.
"Sial, kamu tidak mengatakan apapun jika mereka lebih tangguh dari sebelumnya?!" teriak Max yang dibalas dengan tatapan polos dari Zen yang melihat dari tempat penonton.
"Memangnya aku tidak mengatakan itu?" tanya Zen yang membuat kening Max berkerut kesal.
__ADS_1
"Kamu tidak mengatakan apapun kepadaku!" Teriak Max sambil memukul kembali kepala zombie itu dengan kuat.
'Sial, masih tidak memberikan efek juga?!' batin Max sambil menatap tidak percaya.
"Oh, kalau begitu akan kukatakan sekarang, mereka juga jauh lebih tangguh dari para zombie sebelumnya," jelas Zen yang membuat Max ingin melempar kedua zombie yang sedang dihadapinya kearah Zen.
"Hahaha, lain kali tolong jangan memberikan informasi yang setengah-setengah kepadaku!" ucap Max sambil tertawa pelan menyembunyikan kekesalannya.
Tidak juga, kekesalannya itu kini sedang ia lampiaskan kepada zombie dengan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi lalu menghantamnya kembali dengan kuat kearah kepala zombie itu.
Mungkin karena sudah terkena hantaman dua kali sebelumnya, untuk hantaman yang ketiga kepala zombie itu mulai memunculkan celah atau lubang di tengkoraknya.
Max yang melihat celah itu dengan cepat mengangkat kembali tangannya dan menusukkan baton stik miliknya dengan dalam hingga mencapai bagian otaknya.
Dengan perlahan zombie itu mulai terjatuh dengan kepala yang terus mengeluarkan darah.
"Satu sudah selesai, sekarang aku akan mengurus mu," ucap Max kearah zombie yang tersisa.
Tidak terasa sepuluh menit sudah berlalu sejak Max bisa membunuh zombie yang pertama. Zen yang melihat Max sudah selesai harus menunda kembali acara makan-makan nya dan bangkit untuk menghampiri Max.
"Kamu dalam keadaan yang sangat buruk," ucap Zen sambil melihat kearah pakaian dan wajah milik Max yang seluruhnya tertutup dengan darah berwarna hitam.
"Kalau begitu cepatlah masuk kedalam apartemen mu itu, aku ingin membersihkan diriku! Ini sama sekali tidak nyaman," ucap Max sambil menggerak-gerakkan tangannya yang terasa lengket.
"Hahh, baiklah, aku akan mencoba untuk mengetuk pintunya terlebih dahulu, mengingat jika kedua zombie itu saja bahkan tidak bisa membukanya, sepertinya kedua adikku meletakkan barang berat di balik pintu," jelas Zen yang di angguki oleh Max.
Dengan perlahan tangan Zen mulai terangkat untuk mengetuk pintu apartemennya dengan lumayan keras.
"Leo, Lin, apa kalian mendengar ku?!" tanya Zen dengan keras agar suaranya bisa tersampaikan ke dalam sana.
...----------------...
"Kak, suara para zombie itu sudah berhenti, tidakkah kakak ingin mengeceknya sebentar?" tanya Lin yang membuat Leo berpikir sejenak.
"Tapi bagaimana jika ada hal yang lebih menakutkan dari zombie yang kini sedang berdiri di luar sana?" tanya Leo sambil memikirkan kemungkinan buruknya.
"Lebih baik kita periksa sebentar untuk mengetahui siapa yang berada di balik pintu sekarang," jelas Lin yang membuat Leo semakin bimbang.
"Baiklah kita hanya akan melihatnya saja! Aku tidak akan mengijinkan jika kamu membukakan pintunya, bahkan jikapun di depan kita adalah manusia sama seperti kita," ucap Leo dengan final yang tentu saja di angguki oleh Lin.
"Aku mengerti kak, lagipula kak Zen sudah berpesan kepada kita, aku tidak mungkin mengingkari pesannya," jelas Lin yang membuat Leo tersenyum tipis.
Belum sempat Leo membalas ucapan Lin, bunyi ketukan pintu terdengar dari luar yang membuat kedua bersaudara itu langsung memasang sikap waspada.
"Kakak...."
"Tenang Lin, ada aku disini," balas Leo sambil menggenggam tangan Lin dengan erat.
'Tidak mungkin jika para zombie yang mengetuknya, bunyi ketukan itu terlalu teratur! Ini hanya bisa dilakukan oleh manusia,' batin Leo dengan terus menatap tajam pintu yang masih tertutup dengan lemari dan sofa dibaliknya.
"Leo, Lin, apa kalian mendengar ku?!"
"Kakak! Itu suara kak Zen!" pekik Lin dengan pelan dan jangan lupakan ekspresi senangnya yang tertulis jelas di wajahnya.
"Kamu benar, suara itu adalah suara milik kak Zen," gumam Leo dengan pelan.
"Haruskah kita membuka pintunya sekarang?" tanya Lin sambil menatap Leo untuk mendapatkan persetujuan.
"Tunggu sebentar Lin, tetap berada di belakangku biar aku saja yang memeriksanya," ucap Leo yang hampir ingin mendapatkan protes dari Lin.
"Ini perintahku, Lin," ucap Leo dengan tegas yang berakhir dengan Lin menelan kembali kalimat protesnya.
"Siapa di depan?!" balas Leo dengan berteriak.
"Ah, apa itu Leo? Ini aku Zen! Cepat bukakan pintunya sebelum para zombie di lantai pertama naik menuju sini," ucap Zen yang mana membuat Leo mengerutkan keningnya.
"Apa kamu benar-benar kak Zen? Bagaimana jika kamu hanya orang yang menirunya?" tanya Leo yang membuat tawa Max lepas dari mulutnya.
__ADS_1
"Pfttt, adikmu saja tidak mengenalimu, Zen," ucap Max yang dibalas dengan tatapan tajam dari Zen.
"Hahh, apa yang akan membuatmu percaya jika aku adalah Zen, kakakmu?" tanya Zen setelah menghela nafas pelan.
"Apa kamu tahu nama panjang kami berdua?" tanya Leo yang dengan spontan di balas dengan anggukan oleh Zen.
"Tentu saja aku tahu, lagipula aku yang mengadopsi kalian untuk pertama kali, nama kalian adalah Leo Rodriguez dan Lin Rodriguez," ucap Zen dengan yakin.
"Dia benar, kak!" pekik Lin dengan pelan sambil menarik-narik ujung lengan baju milik Leo.
"Lalu kapan kak Zen mengadopsi kita?" lanjut Leo kembali bertanya.
"Dihari jumat, tanggal XX dan bulan XX," balas Zen yang membuat Leo memiliki sedikit keraguan lagi dihatinya.
"Lalu apa kak Zen tahu makanan kesukaan Lin?" tanya Leo dengan pelan.
"Hm? Aku tidak mengetahuinya dengan jelas karena aku baru saja bertemu dengan kalian kemarin, tapi kurasa makanan kesukaan Lin adalah tteokbokki," balas Zen dengan sedikit ragu.
"Dia benar!" pekik Lin dengan keras sekaligus senang karena kak Zen mengetahui makanan yang dia suka.
Leo yang mendengar nada ragu dari Zen tersenyum puas lalu percaya jika dibalik pintu sana adalah kak Zen yang sesungguhnya.
"Aku akan membuka pintu sebentar, tolong tunggu selagi aku memindahkan sofa dan lemari di balik pintu!" ucap Leo dengan keras.
"Baiklah aku akan menunggunya," balas Zen dengan ceria.
"Jadi itu alasanmu mengambil satu dus dengan isi tteokbokki instan di dalamnya?" tanya Max yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Zen.
"Kamu bisa menganggapnya seperti itu, lagipula aku terlalu bingung untuk memikirkan jika harus mengambil apa," ucap Zen yang membuat Max mengangguk pelan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Max sambil menyandarkan tubuhnya di dinding sambil menutup matanya.
"Tidak mungkin bukan jika kamu akan terus berada di sini? Tempat ini bukanlah tempat yang aman," jelas Max sambil membuka salah satu matanya untuk melihat kearah Zen.
"Kamu benar, mungkin aku akan tinggal di sini sampai nanti malam sekitar jam 8," jelas Zen.
"Lalu kamu akan pergi kemana?"
"Pertama-tama kita harus mengambil persediaan bensin dari pom bensin terdekat akan sangat buruk jika mobil yang kita pakai berhenti di tengah jalan," ucap Zen yang di angguki oleh Max.
"Ide yang bagus, Apa kamu memiliki botol besar di dalam?"
"Aku memiliki beberapa tangki besar di dalam," ucap Zen sambil memberikan jempolnya kepada Max seolah mengatakan jika dia sudah mempersiapkan segalanya.
"Itu bagus, kemudian?"
"Kurasa kita harus pergi menuju salah satu rumah sakit yang ku kenal," balas Zen yang membuat Max mengerutkan keningnya.
"Salah satu orang mu?" tanya Max yang dibalas gelengan pelan oleh Zen.
"Bukan, lebih tepatnya aku harus mengambil beberapa zat kimia yang hanya terdapat di rumah sakit, akan lebih bagus lagi jika kita. bisa pergi ke rumah sakit elit," jelas Zen yang membuat Max berpikir.
"Bahan kimia? Apa kamu berencana membuat sesuatu untuk melawan para zombie itu?" tanya Max saat memiliki beberapa tebakan di dalam pikirannya.
"Tepat sekali! Aku akan membuat beberapa bahan yang setidaknya sangat cocok dan sangat diperlukan untuk bertahan hidup di akhir dunia seperti ini," jelas Zen dengan senyuman penuh perhitungan diwajahnya.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
__ADS_1
Instagram : lmnr_vv