Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(66) Sama|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Baguslah kalau begitu, ayo kita makan daging malam ini!" ujar Zen yang membuat Max menatapnya dengan aneh.


'Tempat mana yang masih memiliki daging bersih di akhir dunia yang kacau seperti ini?' batin Max dengan aneh tetapi tetap diam dan mengikuti arahan yang diberikan oleh Zen untuk mengemudikan mobilnya menuju tempat yang ingin dituju oleh Zen.


...| (❁❁) |...


"Tentara? Apa tentara diijinkan untuk mengangkat senjatanya kearah warga biasa seperti ini?" tanya Mia dengan senyum sinis yang tertera di wajahnya


"Memang tidak, tapi kurasa kalian bukan warga biasa yang termasuk kedalam jajaran orang yang harus dilindungi oleh tentara bukan?" ucap tentara itu dengan santai tanpa menurunkan pistolnya sama sekali.


"Jika dilihat dari penampilanmu, sepertinya kamu seumuran dengan kita?" tanya Neo dengan tenang sambil mencari ruang negoisasi dengannya.


"Kurasa itu benar, lalu apa mau mu?" tanyanya dengan acuh.


"Kasar sekali untuk seukuran pria sepertimu, apa kamu putus sekolah dan mendaftar sebagai tentara hingga bisa mendapatkan pangkat letnan di usia muda?" ucap Mia saat memperhatikan sebuah lencana yang berada di bahu pria itu.


"Hah! Tau apa kau tentang diriku? Lebih baik kalian turunkan senjata kalian dan ikut aku untuk interogasi singkat sebelum aku memutuskan untuk membunuh kalian atau tidak," ujarnya yang membuat Neo menatapnya dengan kesal.


"Jika kamu ingin mengetahui informasi diluar sana, kamu bisa berbicara secara baik-baik dengan kami bukannya malah menodongkan senjata mu seperti ini," ujar Fin dengan tenang.


"Apa maksudmu?! Aku bisa saja mengetahui itu menggunakan ponselku, jadi untuk apa aku mencari tahu informasi itu dari kalian?!" bantah laki-laki itu dengan keras yang membuat Mia menatapnya dengan datar.


"Kamu sangat buruk dalam berbohong," ujar Mia lalu melepaskan sikap waspada nya dan memasukkan kembali pisau lipat itu kedalam saku celana yang dipakainya.


"Itu benar, ditambah kamu sangat menjengkelkan," ujar Neo dengan ketus tetapi melakukan hal yang serupa seperti yang dilakukan oleh Mia.


"Halo, mungkin ini bukanlah kondisi yang tepat tapi kenalkan, namaku Fin Westerlock salah satu mahasiswa dari universitas E," ujar Fin sambil tersenyum tipis yang membuat laki-laki itu berteriak dengan kesal.


"Aku tidak menyuruhmu untuk memperkenalkan namamu kepadaku!" ujar laki-laki itu dengan keras yang ditanggapi dengan dengusan malas dari Neo.


"Ya, ya, ya, namaku Neo. Hanya Neo karena aku malas menyebutkan nama marga ku," ujar Neo yang membuat remaja laki-laki yang sepertinya malu itu bertambah semakin malu, bahkan di kedua pipinya sudah timbul rona merah aneh yang membuat Mia yang melihatnya tertawa kecil.


"Hahaha, salam kenal! Namaku Mia Lavigne, senang bertemu denganmu. Omong-omong wajahmu saat malu sangat lucu," ujar Mia dengan senyuman diwajahnya yang membuat laki-laki itu bertambah merah dengan cepat.


"Ahhh! Dasar orang-orang aneh!" ujar laki-laki itu lalu menurunkan pistolnya dan menatap mereka dengan tatapan kesal.


"Yang aneh itu adalah kamu, Kei," ujar pria paruh baya dengan tiba-tiba sambil berjalan menuju kearah mereka.


"Maafkan ketidaksopanan dia terhadap kalian, dia memang anak yang cukup menyebalkan tetapi dia adalah anak yang baik," ujar laki-laki paruh baya itu sambil membungkuk singkat dan tak lupa menekan kepala remaja laki-laki yang dipanggil Kei itu untuk ikut membungkuk.


"Hei apa yang kamu lakukan?!" tanya Kei sambil mencoba untuk memberontak dari tekanan yang diberikan oleh pria paruh baya dengan setelah tentara itu.


"Sopan lah kepada orang asing lain kali Kei, terlebih lagi aku adalah komandan mu, aku adalah atasanmu saat ini bocah!" ujar pria paruh baya itu yang membuat Kei cemberut kecil.

__ADS_1


"Kalian, kenalkan, namaku Ben Rodriguez, salam kenal," ujar pria paruh baya itu yang membuat Fin menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.


'Rodriguez?' batin Fin lalu melirik singkat visual pria paruh baya di depannya.


'Mata miliknya sangat mirip dengan mata Lin, sedangkan warna rambutnya adalah warna rambut Leo,' batin Fin lalu kembali fokus saat merasakan tepukan pelan di lengannya.


"Apa yang kamu pikirkan, Fin?" tanya Mia dengan khawatir.


"Tidak ada, kamu tidak perlu khawatir, Mia," ujar Fin sambil menepuk pelan kepalanya.


"Kalau begitu jangan tiba-tiba terdiam seperti tadi," ujar Mia dengan kesal yang dibalas dengan tawa kecil dari Fin.


"Aku hanya tanpa sadar mengingat keluargaku," ujar Fin yang membuat Mia terdiam.


"Kurasa keluargamu akan baik-baik saja," ujar Mia sambil memberikan senyum penyemangat untuknya.


"Yah, semoga saja," ujar Fin dengan pelan.


"Hei kalian berdua! Sampai kapan kalian akan berpacaran seperti itu? Ayo segera ikuti pria paruh baya itu dan bocah menjengkelkan ini agar kita bisa lebih cepat untuk beristirahat!" ujar Neo dengan keras yang membuat Mia memerah malu.


"Siapa yang kamu bilang sedang berpacaran?!" tanya Mia dengan kesal lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah Neo.


"Dan siapa yang kamu bilang dengan sebutan bocah menyebalkan?!" tanya Kei dengan tidak terima.


Neo yang mengalami protes dari dua arah itu hanya mengangkat bahunya dengan acuh.


"Bukankah itu adalah fakta?" tanya Neo yang membuat kedua orang berbeda gender itu kembali tersulut amarah.


Fin yang memperhatikan itu hanya tertawa singkat sebelum merasakan tepukan kembali di bahunya.


"Anda menyadarinya?" tanya Fin tidak terlalu terkejut.


"Aku adalah seorang tentara, sudah puluhan pertempuran aku lewati hingga saat ini. Untuk menyadari tatapan mu itu bukanlah hal yang sulit," ujar Ben dengan senyuman hangat diwajahnya.


Fin yang mendengar itu hanya bisa terdiam sejenak sebelum kembali membuka mulutnya untuk berbicara.


"Mungkin ini adalah kalimat yang tidak sopan, tapi apakah anda memiliki seorang anak?" tanya Fin dengan jujur yang membuat Ben terdiam di sana.


...----------------...


"Ukhhh, kenapa kita harus pergi ke tempat menjijikan ini?" tanya Max sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan rasa mual yang ada.


"Tentu saja untuk mencari bahan makan malam kita, bukankah sudah kubilang jika aku menginginkan daging?" tanya Zen dengan pelan.


"Hanya untuk daging kita harus melawan 20 zombie yang berlalu lalang di depan sana?!" tanya Max dengan tidak percaya.


"Bukankah pengorbanan selalu dibutuhkan untuk mendapatkan sesuatu?" tanya Zen sambil mengarahkan senternya ke depan.


"Itu adalah hal terkonyol yang pernah aku dengar," ujar Max dengan sinis.


"Apa yang kamu cari saat ini?" tanya Max saat melihat Zen yang sudah berjalan-jalan di sekitar gedung terbengkalai dengan bau menjijikan yang terus-menerus keluar.


"Ughh, bau darah dan daging busuk yang menjijikan!" ujar Max dengan pelan sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Jalan menuju ruangan pendingin tempat menyimpan daging beku," ujar Zen dengan singkat sebelum berjalan menuju salah satu ruangan yang diyakininya sebagai ruangan yang baru saja dia sebutkan.


"Sepertinya ini adalah ruangan pembeku itu," gumam Zen dengan pelan.


"Menyingkir lah dan biarkan aku yang membukanya, aku tahu kamu tidak bisa membuka pintunya bukan?" tanya Max yang dibalas dengan senyum penuh bahagia dari Zen.


"Seperti yang diharapkan dari asistenku yang kompeten!" ujar Zen yang membuat Max mendengus dengan pelan.


Dengan sekuat tenaga, Max mulai membuka pintu keras dihadapannya hingga terbuka lebar yang membuat Zen bertepuk tangan riang sebagai apresiasi terhadapnya.


"Hentikan itu dan cepat ambil daging yang kamu inginkan lalu segera pergi dari tempat menjijikan ini," ujar Max yang membuat Zen tertawa dengan pelan.


Dengan segera ia langkahkan kakinya untuk memasuki ruangan pendingin itu dan memilih daging yang masih terlihat bagus untuk dibawa olehnya.


"Bukankah kita tidak memiliki bumbu untuk mengolah daging itu? Apa mungkin kamu ingin memakan daging itu tanpa menaburkan garam diatasnya?" tanya Max yang membuat Zen mendengus pelan.


"Tentu saja kita akan pergi mencari bumbu yang dibutuhkan setelah ini, baru kita akan pergi menuju toko peralatan untuk mencari kawat berduri yang dibutuhkan," ujar Zen.


"Lalu kembali ke rumah sakit menggunakan lubang ventilasi kecil itu?" tanya Max dengan kening berkerut.


"Tentu saja, memangnya kamu ingin memanjat gedung hingga sampai ke atap? Maaf saja tapi aku masih ingin menjaga kewarasan ku," ujar Zen dengan pelan.


"Ah, aku jadi ingat kembali mengenai ide bisnis mu itu terhadap pemerintah. Apa kamu kenal seseorang di pemerintah sehingga bisa seyakin itu jika bisnismu akan berhasil?" tanya Max yang membuat Zen menjawabnya dengan pelan.


"Aku tidak mengenal siapapun di dalam pemerintah, tapi apa salahnya menghubungi presiden untuk menjual informasi ini? Kurasa presiden akan menerimanya dengan senang hati," ujar Zen dengan senyum tipis diwajahnya.


Max yang mendengar itu mulai memikirkan seseorang yang menjengkelkan di dalam hidupnya.


"Hei, bisakah aku menggunakan ide bisnismu ini untuk menjualnya kepada seseorang?" tanya Max yang membuat Zen terdiam lalu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Max.


"Apa itu akan menguntungkan?" tanya Zen yang membuat Max mengangguk pelan.


"Kurasa aku bisa memintanya untuk membayar menggunakan helikopter yang sama dengan yang kedua anak kembar itu gunakan," ujar Max yang membuat Zen menatapnya dengan tatapan berseri-seri.


"Kalau begitu silahkan saja lakukan itu. Memangnya siapa yang kamu maksud?" tanya Zen sambil kembali fokus kearah para daging-daging yang sudah dipilihnya.


"Hanya penjabat menjengkelkan yang sialnya kaya raya," jawab Max yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


"Lakukan sesukamu tapi pastikan untuk mendapatkan helikopter itu," ujar Zen yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Max.


"Tentu saja."


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2