
Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.
...•...
...•...
...•...
Sebelumnya :
“Kamu benar, sialan! Padahal aku tidak ingin berurusan dengan kelompok bodoh seperti mereka. Mereka pasti akan sangat merepotkan,” ucap Max sambil melihat kearah seorang wanita dengan rambut hitam seleher yang berhasil mendarat pertama kali di sana lalu disusul dengan seseorang yang disebut ketua oleh mereka yang kini sudah berada di atas tembok dan bersiap untuk meloncat turun.
...| (❁❁) |...
"Bukankah aku sudah berteriak untuk meminta pertolongan kepada kalian?! Kenapa kalian tidak membantu kami?!" seru wanita berambut pendek itu dengan marah.
"Lalu apa? Apa kita harus membantu kalian? Maaf saja tapi aku lebih menyayangi nyawaku," tolak Max yang membuat wanita itu semakin marah.
"Kenapa kalian tidak memiliki rasa kemanusiaan seperti itu?! Bukankah tidak ada salahnya untuk membantu seseorang yang mengalami kesulitan?"
"Membantu kalian dan mengorbankan nyawaku demi orang asing yang tidak dikenal? Maaf saja aku bukan seorang pahlawan," ucap Max.
"Ditambah apa kalian tidak waras menginginkan kita membantu kalian menghadapi segerombolan zombie itu?" tanya Max dengan nada mencibir
"Jika kalian di posisi kami, kalian juga tidak akan membantu kami bukan?" tanya Zen yang sedari tadi diam.
"Apa?! Tentu saja kami akan membantu! Kami bukanlah kalian yang tidak memiliki rasa kemanusiaan seperti kalian!" seru wanita itu dengan mata memerah menahan emosi.
"Lalu kenapa kamu sudah berada di balik tembok sedangkan temen mu belum berada di sini? Tidakkah kamu bilang kamu akan membantu mereka?" tanya Max dengan sinis yang membuat wanita itu terdiam di tempat.
"Apa maksud kalian? Aku sampai lebih dulu disini karena akulah yang paling handal dalam memanjat!" ucap wanita itu tidak terima di salahkan.
"Ya, apapun alasanmu aku tidak peduli, tapi yang kulihat disini adalah kamu meninggalkan temanmu di belakang. Ah, siapa dia? wanita yang berambut coklat sebahu itu bukan?" tanya Max yang memancing amarah wanita itu.
"Ck! Jika bukan karena kalian yang memancing para zombie itu, kami juga tidak akan terserang oleh segerombolan dari mereka!" bantah wanita itu dan menyalahkan semuanya kepada Max dan Zen.
"Diam! Aku malas berdebat dengan orang bodoh sepertimu! Apa kamu masih menganggap jika zombie takut dengan kegelapan? Apa kamu tidak pernah menghadiri kelas? Setidaknya berpikirlah mengunakan otak kecilmu itu!" maki Max dengan kasar.
"Kamu mengatakan aku bodoh?! Apa kamu mempunyai kualifikasi itu? Terlebih lagi orang yang mengemukakan pendapat ini adalah ketua perwakilan seluruh siswa sekolah!" ucap wanita itu dengan bangga.
"Bukan begitu ketua?" tanyanya terhadap laki-laki yang berada di belakangnya.
"Tentu saja," ujar laki-laki itu dengan penuh percaya diri.
"Kalian...-"
"Max hentikan itu, kamu hanya akan menguras tenaga dan emosimu jika terus berbicara dengan mereka," ucap Zen yang membuat Max bungkam.
"Lebih baik kita lanjutkan saja perjalanan kita dan acuhkan mereka. Ditambah mereka harus membantu teman mereka yang berada di balik tembok itu bukan?"
"Kamu benar, kalau begitu ayo kita pergi," ucap Max lalu membalikkan badannya berniat pergi.
"Tunggu! Apa kalian benar-benar tidak ingin membantu kami?!" seru wanita itu dengan tidak percaya.
"Maaf saja tapi nyawaku lebih berharga," ucap Zen yang di angguki oleh Max.
Wanita tersebut yang mendengarnya hanya bisa mengeram dengan marah dan mulai memaki mereka berdua dengan keras.
"Dasar manusia berhati iblis!"
Max dan Zen yang mendengar makian itu hanya berjalan acuh meninggalkan mereka berdua dan segerombolan zombie di balik tembok itu.
"Apa yang harus kita lakukan, ketua?" tanya wanita itu kepada laki-laki di sampingnya.
"Bagaimana dengan membantu mereka dari atas sambil melempar batu di sana ke semua zombie itu dari atas tembok?" tanya laki-laki itu sambil menunjuk kearah bongkahan batu lumayan besar yang berada di ujung tembok.
__ADS_1
"Ide bagus! Tapi siapa yang akan melemparnya?"
"Bagaimana denganmu? Bukankah kamu mengatakan jika kamu sangat pandai dalam memanjat tembok? Aku sedikit kesusahan untuk memanjat tembok karena memang tidak pernah melakukan hal itu," jelas laki-laki itu yang membuat wanita itu berpikir sebentar.
"Baiklah kalau begitu ketua yang akan mengoper batu itu kepadaku," ucap wanita itu yang di angguki oleh laki-laki itu yang kini sedang menampilkan senyum tipisnya.
'Bagus! Lebih baik kamu saja yang memanjat tembok itu dan mempertaruhkan nyawamu dibandingkan dengan aku yang harus mempertaruhkan nyawaku,' batin laki-laki itu.
Andai saja wanita itu mengetahui isi hati laki-laki tadi mungkin dia akan sangat menyesal menuruti ide yang berbahaya bagi nyawanya itu.
"Ketua aku sudah di atas! Tolong berikan aku batu itu," ucap wanita itu yang dibalas anggukan kecil oleh laki-laki tersebut.
Dengan cepat mereka berdua berkerja sama untuk memukul para zombie itu dimana dapat membuat celah waktu agar teman mereka bisa naik keatas. Laki-laki berbadan besar adalah orang ketiga yang berhasil menaiki tembok dan turun ke bawah sana dengan selamat berkat bantuan mereka berdua.
"Kamu tidak apa-apa bukan?" tanya laki-laki yang diyakini sebagai perwakilan ketua siswa.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah saja," jawab laki-laki itu sambil mengatur nafasnya.
"Syukurlah jika begitu, aku sangat senang jika kamu tidak terluka," berucap dengan senyum tipis diwajahnya.
'Baguslah dia tidak terluka sehingga aku tidak perlu kehilangan salah satu tameng pelindungku. Terlebih lagi dia adalah laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan berat, aku bisa memaafkannya untuk waktu yang lama,' batinnya sambil tetap menahan senyum tipisnya.
"Ketua, kamu sangat baik...!" ucap laki-laki berbadan besar itu dengan nada terharu.
"Bukankah sesama manusia harus saling membantu?" ucap ketua dengan nada serius.
"Itu benar," ucapnya sambil mengangguk pelan.
"Dasar para zombie sialan! Berhenti mendekati temanku!" seruan tiba-tiba terdengar dari atas tembok.
"Ada apa di sana?" tanya ketua kepada perempuan berambut pendek itu.
"Para zombie itu membuat temanku terluka!" balasnya sambil terus memantau kondisi temannya yang kini memiliki goresan tipis di lengan kirinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya ketua dengan khawatir.
"Cepatlah dan pegang tanganku! Aku akan menarik mu keatas!" berseru dengan keras sambil mengulurkan tangannya.
"Lia...." lirih wanita berambut coklat itu sambil berusaha menggapai tangan temannya.
"Cepatlah! Aku akan menarik mu keatas!" berucap dengan tegas sambil menatap temanya dengan khawatir.
Wanita berambut coklat itu mulai mencoba lagi untuk menggapai tangan temannya itu walaupun kepalanya kini terasa pusing disertai dengan rasa panas aneh yang mulai menjalar di tubuhnya.
"Aku mendapatkan mu! Aku akan menarik mu, jadi bertahanlah!" ucap wanita berambut pendek yang diyakini memiliki nama Lia tersebut.
Dengan sekuat tenaga, Lia mulai menarik sahabatnya itu untuk menuju ke balik tembok. Tentu saja karena hasil usahanya itu dia dan sahabatnya kini sudah berada di balik tembok dengan keadaan lelah.
Lia yang kelelahan akibat menarik sahabatnya, serta sahabatnya yang lelah entah karena apa.
Tapi setidaknya mereka semua berhasil menyelamatkan diri dengan berada di balik tembok itu bukan?
Mari kita beralih kepada Max dan Zen yang kini harus merangkak di bawah lubang kecil dengan tinggi yang hanya tiga jengkal tangan orang dewasa dan lebar yang hanya memiliki dua kali lipat dari tinggi lubang tersebut.
"Sial, lubang ini terlalu kecil!" ucap Zen sambil mencoba untuk merangkak di lubang itu.
"Kamu seharusnya bisa melewati itu, bagaimanapun badanku lebih besar dari mu dan aku bisa masuk ke dalam sini, bagaimana mungkin kamu tidak bisa?" ucap Max dengan santai karena dirinya yang menjadi orang pertama untuk berada di balik tembok itu.
"Sial, walaupun badanku lebih kecil darimu, tapi tidak menjamin jika aku bisa melakukan ini!" ucap Zen saat dirinya sudah berhasil keluar dari lubang kecil itu dengan kondisi wajah dan baju yang sudah berantakan.
"Bukankah kamu bisa sekarang?" tanya Max yang melihat Zen sedang menepuk debu yang menempel di bajunya.
"Terserah apa katamu," ucap Zen sambil mendengus pelan.
Max yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berjongkok untuk menutupi lubang itu dengan sebuah papan dan rerumputan.
__ADS_1
"Kamu menutup lubang itu? Apa kamu tidak ingin membiarkan mereka melihatnya?" tanya Zen sambil memperhatikan tindakan Max.
"Maaf saja, tapi tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi ini berhubungan dengan nyawa seseorang. Terlebih lagi wanita itu sudah mengatai diriku sebagai iblis? Bagaimana mungkin hatiku tidak sakit mendengarnya?" ucap Max dengan dramatis yang membuat Zen memutar matanya dengan jengah.
"Hentikan itu, kamu membuatku muak. Lebih baik beritahu aku apa artinya tindakan mu itu," tanya Zen sekali lagi yang membuat Max terkekeh.
"Aku hanya memberi mereka kemudahan, kamu tidak ingin mereka merepotkan kita dengan atas nama kebaikan bukan? Jadi aku menutup akses ini agar mereka tidak mengikuti kita."
"Terlebih aku yakin jika mereka akan sangat senang mendapatkan ruangan yang tidak memiliki satupun zombie di dalamnya. Mungkin jika aku bertemu dengan mereka aku akan memaksa mereka untuk berterima kasih kepadaku," ucap Max dengan tawa kecil yang keluar dari bibirnya.
"Apa kamu benar-benar tidak memiliki rasa kasihan terhadap mereka?" tanya Zen memastikan kembali.
'Akan sangat merepotkan jika aku membawa seseorang yang masih memiliki rasa kasihan kepada mahkluk lain, ini sudah akhir dunia dan rasa kasihan tidak akan banyak membantu,' batin Zen dengan dingin.
Katakanlah jika Zen adalah iblis tapi sayangnya itu adalah fakta. Dibandingkan dengan sifatnya sekarang, masih banyak sekali sifat manusia yang lebih iblis dibandingkan nya.
Lagipula di kehidupannya yang pertama, dia sudah sangat mengetahui berbagai macam sifat iblis yang berada di hati manusia. jadi menurutnya, sifatnya yang sekarang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia yang sudah pernah ditemuinya dahulu.
"Kasihan? Maaf saja tapi aku sudah muak dengan bersikap seperti itu. Bukankah sudah kubilang? Rasa kemanusiaan ku sudah menghilang di umurku yang ke delapan tahun," jelas Max dengan wajah datar.
Zen yang mendengar itu harus menahan lengkungan di sudut bibirnya agar tidak naik keatas. Dengan cepat dirinya memalingkan mukanya dan mengangguk pelan.
"Begitu, kuharap kamu tidak menyesal dengan apa yang kamu katakan karena untuk kedepannya akan ada banyak hal yang akan terjadi seperti saat ini," ucap Zen.
"Aku tahu, lagipula menurutku mau itu akhir dunia ataupun tidak, banyak sekali manusia yang tetap memiliki sifat iblis," ucap Max.
"Hanya saja yang membedakan mereka adalah sebelum akhir dunia, manusia akan memasang topeng malaikat untuk menyembunyikan sifat iblis mereka sedangkan di akhir dunia mereka akan sepenuhnya melepas topeng itu dan menunjukan sifat iblis mereka," lanjut Max sambil menatap kearah langit.
"Kamu benar, semua sifat manusia akan terbongkar jika menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan nyawa mereka," ucap Zen dengan pelan.
"Tapi apa kamu tidak ingin mengambil salah satu dari mereka? Wanita itu cukup berguna mengingat dia adalah siswa yang memiliki prestasi di bidang bela diri," ucap Max sambil mengingat-ingat dimana dia melihat wajah wanita itu.
"Ah, aku ingat dia adalah orang yang menghentikan aksi tawuran ku dengan sekolah seberang atas nama kebaikan," lanjut Max dengan geli.
"Tidak perlu, sebenarnya aku ingin membawanya tapi mengingat isi kepalanya itu lebih baik ku lupakan saja, lagipula masih ada dirimu," ucap Zen dengan yang sebenarnya.
'Itu benar, wanita tadi sebenarnya adalah wanita yang cukup berpotensi untukku bawa sebagai anggota party ku seperti Max, hanya saja aku tidak terlalu suka dengan sifatnya. Jika dia bisa merubah sifatnya mungkin aku akan sedikit mempertimbangkannya,' batin Zen sambil menganalisis kemungkinan yang ada.
'Tapi kemungkinan itu terjadi hanya 10% jika aku menganalisis melalui sifatnya dari kehidupan lalu,' lanjut Zen sambil memikirkan identitas wanita tadi.
Lia Amerston adalah wanita yang memiliki sifat tomboi dengan rasa keadilan yang sangat tinggi. Itu terbukti dari dia yang selalu membela orang baik. Hanya saja dia tidak cukup pandai untuk melihat sesuatu dengan pikiran yang terbuka.
Itu terlihat dari cara berpikirnya, seperti jika dia menganggap mereka adalah orang jahat maka selamanya akan dia anggap sebagai orang jahat, begitupun sebaliknya.
'Tapi kurasa dia akan berbalik dari keyakinannya itu jika menghadapi secara langsung akibat dari salah penilaiannya itu, walaupun sebagai gantinya adalah mental miliknya yang akan sedikit terguncang.' batin Zen sambil mengingat kembali akhir dari kehidupan Lia di masa sebelumnya.
Ya, Lia mati karena depresi. Penyebabnya? Tentu saja karena dia melihat sendiri tindakan yang diambil oleh ketuanya yang dia ketahui adalah orang baik saat mendorong sahabatnya ke dalam segerombolan zombie.
Tidak sebenarnya dia sudah melihat sesuatu hal yang lebih buruk hingga membuat mentalnya terguncang dan penyebab kematian temannya itu hanyalah salah satu dari pemicu yang ada. Ya, dia melihat sahabatnya itu ditarik paksa untuk dilecehkan oleh ketuanya itu.
Hanya saja Zen tidak mengetahui pemicu pertama kali depresinya itu. Zen hanya tahu jika Lia memiliki riwayat depresi setelah melihat sahabatnya menjadi makanan zombie di depan matanya sendiri.
'Tapi itu lebih baik, bukankah aku bisa memanipulasinya lebih mudah jika mentalnya tidak baik-baik saja?' batin Zen sambil menyeringai.
'Yah, itupun jika dirinya masih hidup,' lanjut Zen lalu kembali berjalan mengikuti langkah Max yang sudah berada di depannya terlebih dahulu.
...| (❁❁) |...
...•...
...•...
...•...
Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o
Instagram : lmnr_vv