Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(38) Minimarket|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Kamu akan mendapatkan makian seperti itu lagi untuk kedepannya," jelas Zen yang membuat Max mengangguk pelan.


"Aku tahu itu dan aku tidak mempermasalahkannya," jelas Max yang membuat Zen tersenyum puas.


"Kalau begitu arahkan mobil ini menuju minimarket terdekat," ucap Zen yang di angguki oleh Max.


...| (❁❁) |...


“Kukira kamu akan mengajaknya,” ucap Max kembali mengungkit tentang Lia.


“Mengajak? Mengajak siapa yang kamu maksud?” berpura-pura tidak tahu.


“Huh, tentu saja Wanita itu,” ucap Max dengan dengusan pelan.


“Lia? Aku tidak tertarik dengannya,” ucap Zen sambil melihat kearah luar yang dipenuhi oleh zombie yang mulai mengejar mereka, tentu saja semua zombie itu kini sudah tertabrak oleh Max yang membawa mobil tersebut dengan kecepatan cukup cepat.


“Tapi dia berguna,” balas Max.


“Aku tahu, bukankah sudah kubilang sebelumnya? Aku tidak terlalu menyukai sifatnya,” jelas Zen.


“Tapi sifatnya itu bisa dirubah,” jelas Max.


“Diubah? Bagaimana caranya?” tanya Zen.


“Bukankah kamu sudah melihat tatapan matanya? Sepertinya dia terlalu terguncang mengenai sesuatu. Ditambah aku tidak melihat perempuan berambut coklat itu, sepertinya dia sudah berubah menjadi zombie,” analisis Max yang membuat Zen memutar matanya dengan malas.


“Mengacaukan emosinya untuk mendapatkan kekuatannya? Maaf saja tapi aku tidak ingin lebih menjadi iblis,” jelas Zen yang membuat Max mencibir pelan.


“Sepertinya rasa kemanusiaan mu itu masih ada ya? Walaupun hanya beberapa persen yang tersisa,” ucap Max diakhiri dengan gumaman pelan.


“Rasa kemanusiaan ya? Tapi aku hanya tidak ingin menjadi lebih iblis dibandingkan dengan sekarang,” gumam Zen dengan pelan yang membuat Max terdiam.


“Yah, terserah apa katamu itu,” ucap Max dengan senyuman tipis lalu memberhentikan mobilnya.


“Kita sudah sampai di minimarket, apa kamu ingin turun juga?” tanya Max sambil membuka sabuk pengaman miliknya.


“Tentu saja aku turun, lagipula aku yang menyarankannya bukan?” tanya Zen yang kini juga ikut membuka sabuk pengamannya.


“Kalau begitu jangan merepotkan ku,” ucap Max yang dibalas dengan dengusan pelan oleh Zen.


“Kita lihat siapa yang merepotkan siapa,” jelas Zen yang dibalas dengan tawa kecil oleh Max.


Dengan cepat kedua remaja itu mulai memasuki minimarket yang diawasi oleh tiga zombie setelah turun dari mobil. Max yang melihat itu mulai berlari menuju kedua zombie yang berada di sisi kananya sedangkan Zen mengurus satu zombie di sisi kirinya.


Para zombie yang menyadari mereka berdua mulai mengeram pelan sambil menuju kearah mereka dengan mulut terbuka lebar seolah bersiap untuk menggigitnya.


Max yang melihat itu mulai mengarahkan baton stiknya kearah mulut zombie itu untuk menghalangi mereka menggigitnya.


“Max! jangan sampai terkena oleh air liur mereka! Air liur merekalah yang membawa virus itu sehingga bisa mengubah manusia menjadi zombie,” jelas Zen ditengah pertarungannya.


“Baiklah!” balas Max sambil berteriak lalu mengangkat kakinya untuk menendang zombie itu hingga mundur kebelakang.


Tanpa memberikan jeda, tangan milik Max mulai melayangkan baton stik miliknya kearah kepala zombie itu dengan sekuat tenaga hingga menancap di kepala zombie itu.


Dengan gemetar, kini ia tarik kembali tongkat itu lalu memandang satu zombie yang sudah dekat dengannya dengan mulut terbuka lebar yang membuat Max mengerutkan keningnya jijik.


‘Sial, tanganku sulit untuk dikendalikan,’ batin Max saat merasakan tangan miliknya masih bergetar ringan.


Zen yang melihat itu segera berlari kearah Max dengan tongkat besi ditangannya yang bersiap untuk memukul kepala zombie itu.


“Bukankah sudah kukatakan untuk tidak merepotkan ku?” tanya Zen yang membuat Max mendengus pelan.

__ADS_1


“Tanganku gemetar karena sudah melawan zombie lebih banyak dari yang kamu lawan,” alibi Max sambil mengalihkan pandangannya.


Zen yang mendengar alasan Max hanya mencibir pelan lalu mengocok pelan tongkat besi ditangannya sehingga membuat darah hitam yang berada di sana terjatuh keatas tanah.


“Bersihkan baton stik mu itu, aku tidak ingin jika air liur zombie itu masuk kedalam salah satu luka yang kamu terima hingga membuatmu menjadi zombie,” ucap Zen.


“Tentu saja aku akan membersihkannya dan lagi aku ingatkan, jika aku tidak mengalami luka sama sekali. Memang benar jika bajuku penuh dengan bercak darah, tapi ini bukan darahku melainkan darah para zombie itu,” jelas Max dengan kesal.


“Ya, ya, terserah dirimu,” ucap Zen sambil berjalan menuju minimarket tersebut.


“Yak! Tunggu aku! Apa kamu ingin menjadi mangsa zombie didalam sana hah?!” tanya Max sambil berjalan menyusul Zen.


“Maaf saja tapi aku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri,” jelas Zen yang membuat Max memutar matanya dengan malas.


‘Hah, jika kamu cukup kuat kamu tidak akan membutuhkanku,’ batin Max sambil melihat kearah tangan Zen yang gemetar pelan.


“Aku akan memeriksanya di dalam untuk melihat berapa banyak zombie yang ada,” jelas Max lalu mengintip kedalam minimarket itu dengan pintu sedikit dia buka.


“Apa ada zombie di sana?” tanya Zen yang melihat Max menutup kembali pintu minimarket tersebut.


“Ada, tetapi hanya ada satu di sana, sepertinya para pelanggan sudah keluar terlebih dahulu saat itu,” ucap Max sambil menatap kearah zombie yang berada di balik pintu minimarket dengan tangan yang mulai mengetuk-ngetuk pintu itu dengan kuat.


“Kalau begitu kamu buka pintunya dan aku akan memukul kepala zombie itu,” jelas Zen yang membuat Max menggeleng pelan.


“Tidak, kamu yang tahan pintu ini dan aku yang akan memukul zombie itu. Tidakkah kamu menyadari jika tanganmu masih gemetaran seperti itu?” tanya Max sambil menatap kearah tangan Zen.


“Huh! Tidakkah kamu sadar jika tanganmu juga-“ ucapan Zen terpotong saat Max mengangkat kedua tangannya kearah Zen yang kini sudah berhenti gemetar.


“Aku tidak lemah sepertimu,” ucap Max dengan tampang polosnya hingga membuat Zen mengeram kesal.


“Huh! Dasar monster, kalau begitu minggir dari sana dan bersiaplah untuk memukul zombie itu,” ucap Zen sambil mengantikan Max untuk menghalangi gedoran pintu itu dengan punggungnya.


Max mulai mengambil ancang-ancang untuk bersiap memukul zombie itu.


“Jangan terlalu lama, kita sedang diburu oleh waktu,” ucap Zen sambil mengkhawatirkan kondisi Lin dan Leo di rumah.


“Aku tahu, cepat buka pintu itu, aku sudah siap,” ucap Max yang membuat Zen langsung menarik pintu itu hingga zombie itu sedikit linglung saat merasakan penghalang yang ada menghilang.


Dengan sekuat tenaga, Max kembali melayangkan pukulan di kepala zombie itu hingga membuat zombie itu mati untuk yang kedua kalinya.


“Tentu saja karena ini aku yang melakukannya,” balas Max yang membuat Zen memutar matanya malas.


“Ayo masuk kedalam sebelum aroma kita menjadi incaran zombie di luaran sana,” ucap Zen berjalan masuk yang disusul oleh Max dibelakangnya.


“Barang apa saja yang kamu butuhkan?” tanya Max sambil membuka tas besar miliknya itu setelah memasuki minimarket.


“Makanan instan serta beberapa makanan kaleng dan biskuit yang tahan lama. Ah, utamakan makanan yang mengenyangkan,” ucap Zen yang membuat Max mengangguk pelan.


“Kalau begitu aku akan mengecek gudang untuk melihat stok minimarket ini,” ucap Zen.


“Apa kamu perlu ditemani?” tanya Max yang membuat Zen menggeleng pelan.


“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Zen lalu berjalan pergi menuju gudang minimarket.


...----------------...


“Ck, dimana saklar lampu gudang ini?” gumam Zen dengan kesal.


“Kenapa juga lampu gudang ini harus mati?” tanya Zen dengan pelan.


“Ah, akhirnya aku menemukan saklar lampunya,” ucap Zen dengan senang lalu mulai menyalakan lampu tersebut.


‘Sudah kuduga jika di gudang lebih banyak tersedia makanan yang aku butuhkan!’ batin Zen dengan gembira sambil memandang rakus kearah kardus mie instan yang ada di sana.


“Berapa banyak yang ku butuhkan ya?” gumam Zen.


‘Distrik ini akan diledakkan tiga bulan kemudian, tiga bulan setara dengan 90 hari dan untuk berjaga-jaga aku akan menghitungnya sebagai 93 hari. Satu dus mie instan ini berisi 40 buah, total anggota ku ada 4 orang di tambah kita akan memakan ini sehari sekali, tentu saja aku tidak bisa membiarkan kita terus-terusan memakan mie instan selamanya mengingat Leo dan Lin masihlah anak-anak, aku harus menyeimbangkan gizi dalam makanan mereka.’


‘Kurasa cukup dengan dua dus mie instan dan satu dus tteobokki instan ini,’ batin Zen saat melihat dus tteobokki instan yang berisi 20.


‘Mengingat Lin sangat menyukai tteobokki kurasa tidak apa-apa memberikan ini kepadanya, walaupun tteobokki instan juga sangat tidak baik untuk makanan anak kecil,’ batin Zen sambil mengangkat ketiga kardus itu.

__ADS_1


‘Ah, aku hampir lupa untuk mengambil susu untuk kedua anak itu terutama Lin yang masih berumur 7 tahun, akan aku suruh Max untuk mengambilnya,’ batin Zen lalu berjalan keluar dengan ketiga dus ditangannya.


“Apa kamu sudah selesai?” tanya Zen saat melihat Max sedang memainkan ponselnya.


“Sudah, sudah ku letakkan semua makanan di tasku dan menurutku ini akan bertahan untuk satu bulan ke depan,” ucap Max lalu meletakkan kembali ponselnya di dalam saku celananya.


“Apa masih ada sinyal?” tanya Zen.


“Tentu saja.”


“Siapa yang kamu hubungi?” tanya Zen dengan ragu.


“Aku hanya mengirim pesan kepada kakak tiri ku,” ucap Max dengan acuh yang membuat Zen mengerutkan keningnya.


‘Kakak tiri? Apa Max mempunyai kakak tiri? Di kehidupanku sebelumnya dia tidak pernah menyinggung masalah kakak tiri ini sama sekali bahkan di dalam buku juga tidak tertulis,’ batin Zen bertanya-tanya.


“Apa tidak ada lagi yang kamu butuhkan?” tanya Max yang membuat Zen kembali sadar dari pemikirannya.


“Ah, aku hampir lupa. Apa kamu memasukan susu kedalam sana?” tanya Zen mengabaikan pikirannya yang masih penasaran.


“Untuk kedua adikmu itu?” tanya Max yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Zen.


“Aku hanya mengambil beberapa susu putih. Aku tidak tahu preferensi mereka jadi aku mengambil preferensi dari internet, jangan salahkan aku jika mereka tidak menyukainya,” jelas Max.


“Tidak apa, lagipula aku yakin jika mereka tidak memilih makanan ataupun minuman,” balas Zen yang membuat Max mengangguk.


“Lalu apa kita tidak akan mengambil minuman sama sekali?” tanya Max sambil membawa tas miliknya yang berat itu.


“Itu tidak perlu tapi untuk berjaga-jaga tolong ambil 4 botol besar air mineral di sana, ,” jelas Zen yang membuat Max segera mengambil botol mineral itu.


“Aku sudah mengambilnya,” ucap Max dengan empat botol air mineral yang berada di lengannya.


“Kalau begitu ayo segera pergi ke mobil sebelum mobil kita dikerumuni oleh para zombie,” ucap Zen lalu mulai melangkahkan kakinya menuju mobil.


“Oho, cukup beruntung karena tidak ada zombie di sekita mobil,” ucap Max dengan tatapan heran.


“Bukankah bagus jika tidak ada zombie selama kita pergi?” tanya Zen dengan acuh.


“Yah, ku anggap ini adalah keberuntungan,” ucap Max sambil meletakkan tas besarnya di kursi belakang.


‘Tentu saja tidak ada zombie di sekitar sini karena aku menggunakan kekuatan mataku,' ucap Zen sambil memandang kembali kearah supermarket yang tidak memiliki kabut ungu sama sekali di sana.


“Omong-omong apa kamu sudah memprediksi ini, mengingat jika kita sudah menganti minimarket sebanyak tiga kali sebelumnya?” tanya Max sambil menjalankan mobilnya.


“Bisa kamu anggap seperti itu,” ucap Zen dengan acuh.


Yah, mereka sudah pergi ke tiga minimarket yang berbeda tempat sebelumnya. Saat Max ingin turun untuk mengecek keadaan di sana, dia dihentikan oleh Zen. Zen dengan lugas mengatakan untuk mencari minimarket lain yang tentu saja dibalas dengan pandangan heran oleh Max.


Karena tidak ingin ikut campur dan membantah ucapannya, Max dengan segera pergi menuju minimarket lain hingga sampai di minimarket sekarang yang tidak diprotes oleh Zen sehingga mereka bisa mencari perbekalan di minimarket ini.


Sebenarnya alasan Zen menolak ketiga minimarket tadi karena Zen melihat kabut ungu tipis yang beredar di sekitar minimarket.


Tidak ingin mengambil resiko, tentu saja Zen mengatakan kepada Max untuk mengubahnya hingga sampai di minimarket ini.


Walaupun minimarket ini masih memiliki kabut ungu tipis tapi hanya sedikit sehingga membuat Zen bertaruh untuk pergi ke minimarket ini dan seperti tadi hasilnya, mereka hanya melawan 4 zombie yang ada di minimarket sehingga tidak membahayakan kedua nyawa mereka.


“Haruskah kita pergi kearah apartemen mu?” tanya Max yang dibalas dengan anggukan oleh Zen.


“Tentu, ayo pergi ke jalan XX tempat apartemenku berada,” ucap Zen yang di angguki oleh Max.


Dengan kecepatan konstan, Max mulai menggerakkan mobil itu sambil menabrak para zombie yang menghalangi jalan mobilnya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2