Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(42) Penyusunan Rencana|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Neo dengan cepat seolah-olah sudah bisa beradaptasi dengan kejadian ini.


"Kita harus pergi dari sini," jawab Fin dengan tegas sambil memandang kearah satu set pisau bedah yang mereka rapihkan tadi.


...| (❁❁) |...


"Oh, apa kamu sudah selesai?" tanya Zen kepada Max yang kini sedang berjalan menuju arahnya.


"Kamu bisa melihatnya sendiri bukan?" balas Max dengan dengusan pelan yang sukses membuat Zen memutar matanya dengan malas.


"Tidakkah kamu ingin memperkenalkanku kepada kedua adikmu itu?" tanya Max dengan santai sambil berjalan menuju tempat kosong di sebelah Zen.


"Ah, kamu benar. Lalu Leo dan Lin kenalkan, dia adalah Max orang yang akan ikut bersama kita untuk kedepannya," ucap Zen sambil menunjuk kearah Max.


"Dan Max mereka berdua adalah kedua adikku, yang laki-laki itu adalah Leo Rodriguez, umurnya saat ini adalah 13 tahun. Lalu yang perempuan itu adalah Lin Rodriguez, umurnya 7 tahun," jelas Zen yang di angguki oleh Max.


"Halo, emm ... kakak?" sapa Leo dengan ragu-ragu.


"Yah, kurasa kalian bisa memanggilku dengan sebutan kakak," jelas Max yang membuat Lin memekik pelan.


"Aku memiliki 3 orang kakak sekarang!" seru Lin dengan bersemangat.


Zen yang mendengar itu hanya tertawa pelan sambil mengelus pelan kepala Lin dengan sayang, tentu saja sebelumnya dia sudah mencuci tangannya itu hingga bersih.


"Yah, karena sesi perkenalannya sudah selesai. Maka ada yang harus kukatakan kepada kalian semua," ucap Zen dengan serius yang membuat ketiga orang itu menatapnya dengan serius juga.


"Ah, kamu berhutang cerita kepadaku mengenai penjelasan kedua zombie tadi," ucap Max sambil mengingat kembali pertarungannya dengan kedua zombie itu.


"Apa kamu mau mendengarnya sekarang?"’ tanya Zen yang tentu saja di angguki oleh Max.


"Bukankah kamu bilang kita akan menghadapi beberapa zombie seperti itu kedepannya?Kurasa tidak masalah untuk mengetahui beberapa informasi mereka," balas Max yang membuat Zen tersenyum tipis.


"Baiklah akan ku ceritakan sedikit. Kalian tahu bagaimana zombie menyebarkan virusnya?" tanya Zen dengan tiba-tiba yang di dapat gelengan pelan dari kedua anak di bawah umur itu.


"Bukankah itu dengan cara mengigit manusia lain dan menularkannya melalui air liur mereka?" ucap Max sambil mengingat kembali tindakan yang dilakukan oleh para zombie itu dan sedikit mencampurnya dengan istilah yang pernah dia tonton di film-film apocalypse.


"Betul sekali! Mereka menularkan virus mereka dengan cara seperti itu, tapi apa kamu tahu apa yang terjadi dengan manusia yang ditularkan virusnya oleh zombie?" ucap Zen yang membuat ketiganya terdiam.


"Mereka akan mengalami sebuah proses yang menyakitkan selama kurang lebih sekitar lima menit. Dalam waktu itu manusia yang menjadi korban akan mengalami siksaan berupa rasa sakit seakan-akan setiap pembuluh darah milikmu ingin meledak," jelas Zen yang membuat Lin bergidik ngeri.


"Pembuluh darah yang ingin meledak? Apa hanya itu saja yang mereka rasakan?" tanya Leo dengan penasaran.


"Tentu saja ada beberapa hal lain yang akan mereka rasakan, seperti panas yang tinggi, rasa pusing dan mual, serta rasa haus akan darah manusia. Jika kalian berubah menjadi zombie maka perlahan tapi pasti rasa rasionalitas kalian akan terputus," jelas Zen yang membuat Leo mengangguk paham.


"Lalu apa hubungannya dengan kedua zombie yang tadi?" tanya Max yang membuat Zen tersenyum kecil.


"Tentu saja ada hubungannya!" balas Zen dengan berseru bangga.


"Bukankah rasa sakit yang ku jelaskan tadi sangat mengerikan? Menurut mu berapa banyak orang yang bisa menahan rasa sakit seperti itu?" tanya Zen yang membuat Max terlihat berpikir sejenak.

__ADS_1


"Karena manusia merupakan mahkluk yang paling rentan terhadap rasa sakit, sudah bisa dipastikan hanya seperempat dari populasi manusia di dunia, itupun dengan kemungkinan jika mereka memiliki mental yang kuat ataupun pernah memiliki riwayat penyakit tertentu yang sama menyakitkannya dengan apa yang kamu jelaskan," jelas Max dengan panjang yang hampir saja membuat Zen bertepuk tangan karena bangga.


"Mengingat jika manusia menciptakan sebuah obat yang mana obat itu berfungsi untuk mengurangi rasa sakit dan memperpanjang hidup, kurasa kemungkinan itu akan ku perkecil lagi menjadi dua puluh persen. Ah, tidak sepuluh persen karena manusia sangat takut terhadap kematian," ucap Max dengan senyuman tertentu yang membuat Zen merinding melihatnya.


'Sial, senyumnya sangat menakutkan!' batin Zen sambil mengalihkan pandangannya.


"Tidak, lima persen karena manusia juga memiliki perasaan takut akan sesuatu yang tidak pernah dia duga," ucap Zen sambil menunjukkan lima jarinya dan mengguncang dengan pelan.


"Yah, kurasa kamu benar, lalu apa hubungannya dengan ini semua?" tanya Max.


"Menurutmu apa yang terjadi jika manusia itu tidak berhasil dalam menahan rasa sakit yang terjadi?" jawab Zen yang justru malah balik bertanya.


"Huh? Mereka akan tetap menjadi zombie?" ucap Leo dengan bingung.


"Itu benar, mereka akan menjadi zombie. Hanya saja mereka akan sedikit berbeda dengan zombie yang lainnya," jelas Zen yang membuat kening Lin berkerut.


"Apa yang membedakannya?" tanya Lin setelah merasa jika dirinya tidak menemukan jawaban yang pas.


"Rasionalitas, itu bukan maksudmu?" ucap Max yang membuat Zen bertepuk tangan.


"Seratus persen untukmu! Aku sedikit tidak menyangka jika seorang Max yang merupakan berandalan sekolah dapat menebak ini mengunakan otaknya," ucap Zen yang membuat Max geram.


"Si-"


"Dilarang memaki di depan kedua adikku!" peringat Zen yang membuat Max berdecak kesal.


"Kalau hanya lima persen dari populasi manusia, kenapa kita baru menemukan dua di antara mereka?" tanya Max yang membuat Zen menatapnya dengan datar.


"Apa kamu lupa dengan segerombolan zombie yang berhasil mengejar ketua atau apalah itu? Bukankah mereka semua berlari?" tanya Zen dengan datar.


"Oh! Kamu benar, tapi zombie seperti itu tidak pernah berhadapan denganku?" tanya Max.


"Hentikan itu! Memangnya apa yang salah dengan wajah tampan ku ini?" tanya Max dengan percaya diri yang membuat Zen berdecak pelan.


'Cih, percaya diri sekali dia mengatakan itu, walaupun harus ku akui dia memang termasuk ke dalam golongan laki-laki berwajah tampan,' batin Zen dengan sedikit tidak ikhlas.


"Hentikan pembahasan ini, tapi apa mereka memiliki kelemahan?" tanya Max yang mendapat gelengan pelan oleh Zen.


"Tidak, cara mengalahkannya tetap sama dan mereka tidak memiliki kelemahan apapun kecuali yang aku beritahu sebelumnya, hanya saja kamu bisa membuat mereka takut dengan sedikit gertakan. Bukankah sudah ku bilang jika rasionalitasnya sangat buruk setelah menjalani rasa sakit itu?" jelas Zen.


"Lalu apa yang membedakannya dengan zombie yang bisa bertahan selama proses rasa sakit itu? Apa mungkin jika mereka memiliki rasa rasionalitas?" tanya Max.


"Yah, mereka memiliki rasionalitas itu walaupun hanya sebatas umur anak-anak tapi itu sudah cukup untuk menganggap mereka sebagai mahkluk yang persis sama seperti manusia," ucap Zen yang mengundang kerutan di keningnya Leo.


"Apa mereka juga bisa berkembang? Maksudku bukankah rasionalitas seseorang hampir mirip dengan iq, bagaimana jika iq mereka dapat dinaikkan?" tanya Leo yang membuat Zen terdiam.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu, mereka memang bisa berevolusi atau yang kamu bilang tadi berkembang lebih baik lagi. Hanya saja untuk sekarang mereka tidak akan bisa melakukannya," jelas Zen.


"Jika mereka memiliki kesempatan untuk berevolusi, apa kita masih bisa mengalahkannya untuk bertahan hidup?" tanya Max.


"Tentu saja!" jawab Zen dengan percaya diri.


"Apa itu menggunakan serangan nuklir?" tanya Lin dengan mata penuh binar.


"Tidak, darimana kamu mengetahui tentang nuklir?" jawab Zen dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.


"Ck, itu tidak seru!" cibir Lin dengan pelan dan tentu saja itu langsung mengundang tangan Leo untuk menutup mulutnya.


"Maafkan aku kak Zen, kak Max," ucap Leo sambil menundukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda permintaan maaf.

__ADS_1


"Tidak masalah, lagipula kita dapat mengalahkan mereka tanpa menggunakan kekuatan nuklir seperti itu," ucap Zen.


"Lalu bagaimana caranya?" tanya Max yang dibalas dengan senyum cerah di wajah Zen.


"Bukankah sangat tidak adil jika hanya zombie yang mengalami evolusi? Tentu saja kita juga akan mendapatkan hak yang sama seperti para zombie itu," ucap Zen dengan semangat yang mengundang tatapan bingung dari ketiganya.


...----------------...


"Sebisa mungkin, tolong jangan sampai membunuh mereka," ucap Fin yang hanya dibalas dengan senyuman tanpa dosa di wajah Neo.


"Jika aku mengingatnya!" jawab Neo dengan nada ceria yang membuat Fin harus menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.


Kini tangan kiri miliknya ia gunakan untuk menyisir rambutnya kebelakang agar tidak menghalangi pandangan matanya.


Sedangkan tangan kanannya sedang asik menguncang-guncangkan tempat pisau bedah ditangannya. Ah, tolong ingatkan jika tangan kanannya kini terdapat beberapa bercak darah samar baik di tangannya langsung maupun ujung lengan kemeja berwarna putih miliknya.


"Ah, tidak aku kembali membunuh seseorang lagi," seru Neo dengan pelan sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya yang membuat darah di kedua tangannya itu menempel di pipinya.


"Sudah ku bilang untuk berhati-hati bukan?" tanya Fin dengan pelan yang hanya dibalas dengan tawa tidak berdosa oleh Neo.


"Yah, ini bukan sepenuhnya salahku, bagaimana mungkin aku harus diam saja sementara mahluk aneh ini ingin menggigitku?" ucap Neo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


"Kamu bisa membuatnya pingsan, aku menyuruhmu untuk tidak membunuhnya karena aku masih belum mengetahui mahkluk apa itu. Bagaimana jika mereka adalah manusia? Kamu bisa dilaporkan kepada pihak berwajib atas tuduhan pembunuhan," ucap Fin diakhiri dengan dengusan pelan.


"Aku sebenarnya juga ingin membuat mereka pingsan, hanya saja mereka tidak mudah untuk dibuat pingsan, jadi daripada ribet aku langsung membunuh mereka saja! Lumayan untuk menghemat tenaga dalam menghadapi mereka dua kali bukan? Lagipula siapa yang berani melaporkan diriku ini?" tanya Neo dengan bangga dan percaya diri akan identitasnya.


"Sadarlah jika identitas mu saat ini adalah karena ayahmu, bukan karena mu," ucap Fin dengan dengusan pelan.


"Aku tahu itu dan aku tetap bangga! Adakah alasan yang harus membuatku malu menghadapi itu?" tanya Neo yang membuat Fin harus ekstra sabar menghadapi temannya yang gila itu.


Iya, gila. Fin tahu jika yang berada di depannya bukanlah Neo yang kalem ataupun Neo yang sabar. Yang sedang berada di depannya ini adalah Neo yang gila dan beringas. Kalian bisa melihat itu melalui tatapan matanya yang sedikit tidak fokus serta senyum ceria di wajahnya yang penuh dengan bercak darah baik di wajah maupun di baju yang sedang di pakainya.


"Aku malas berdebat denganmu, bergeraklah sedikit lebih cepat menuju ruang tata usaha untuk mengambil alat komunikasi kita. Aku khawatir mengenai adikku," ucap Fin yang diakhiri dengan gumaman pelan di kalimat terakhir.


"Aku tahu, kamu kira hanya kamu saja yang mengkhawatirkan adikmu? Aku juga sedikit mengkhawatirkan adikku," ucap Neo dengan dengusan pelan.


"Sedikit?" tanya Fin dengan tidak pasti.


"Yah, sedikit. Lagipula adikku itu cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri. Lebih dari itu lebih baik kamu sedikit menolongku untuk membunuh mereka semua, karena mereka benar-benar banyak sekali," ucap Neo sambil menatap beberapa zombie yang menghalangi jalannya.


"Ck, bukankah sudah kubilang untuk mengambil jalan memutar?" tanya Fin sambil mengeluarkan beberapa pisau bedah dari tempat yang dibawanya.


"Itu memakan waktu yang lama! Ditambah kita harus menemui teman kita bukan? Aku tahu kamu khawatir mengenai Mia, maka dari itu aku mengambil jalan ini yang menuju gedung sastra sekaligus ruangan tata usaha!" ujar Neo yang membuat Fin menghela nafas pelan.


"Tidak perlu berterimakasih karena aku adalah orang yang cukup murah hati ditambah aku juga cukup pintar untuk mengambil keputusan ini," lanjutnya sambil bergerak dengan lincah mengincar leher dari gerombolan zombie itu.


"Dasar, tidak bisakah dia berhenti membanggakan dirinya itu?" gumam Fin sambil bergerak untuk membunuh para zombie itu.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o

__ADS_1


Instagram : lmnr_vv


__ADS_2