Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(50) Hasil Akhir Rencana|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


Leo yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dengan kuat sebelum membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


Tapi sebelum mulutnya mengeluarkan suara, Zen dengan cepat menutup mulutnya agar tidak mengucapkan apapun dan membiarkan Lin menangis dengan keras sambil memeluk Max yang setia menenangkan Lin yang masih terisak di pelukannya.


...| (❁❁) |...


Kini keadaan di dalam mobil sangat hening, hanya ada suara mesin mobil yang berbunyi dengan Max yang sedang mengemudi.


Sedangkan Zen sedang memandang kearah luar kaca mobil yang dipenuhi dengan pemandangan zombie yang sedang berlalu lalang.


Leo yang duduk di kursi belakang hanya menatap sedih kearah adiknya yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya setelah mengakhiri sesi tangis-menangis tadi.


“Hei, tidak adakah dari kalian yang ingin membahas ini? Terutama kamu, Leo,” ucap Max dengan tiba-tiba yang membuat Leo sedikit tersentak.


“Memangnya apa yang harus aku bahas?” tanya Leo dengan kepala tertunduk.


“Yah, tentu saja ini mengenai masalah adikmu, apa kamu benar-benar tidak ingin mengubah prinsip mu?” tanya Max.


“Aku dan Lin seorang yatim piatu, kita memang mempunyai seorang ibu, tapi kurasa wanita itu tidak bisa kita sebut sebagai seorang ibu,” ucap Leo dengan suara pelan yang masih bisa di dengar oleh Max dan Zen.


“Awalnya aku memang hidup sendiri dan kurasa itu tidak apa-apa mengingat jika aku memang bisa bertahan hingga umurku menginjak 6 tahun. Tapi semua itu berubah saat wanita yang merupakan ibuku itu datang dan membawa Lin hadir.”


“Saat itu Lin masihlah bayi yang baru saja berumur beberapa bulan, bahkan kulit bayi itu masih memiliki beberapa tanda merah, walaupun tidak menutup kemungkinan jika bayi itu sangatlah imut bagiku,” ucap Leo dengan senyuman penuh nostalgia.


“Di satu sisi aku bahagia karena kedatangannya aku tidak akan merasa kesepian lagi tapi di sisi lain diriku sangat takut, benar-benar takut jika tidak ada yang melindungi bayi itu termasuk wanita itu,” ucap Leo dengan pelan.


“Dan benar saja, wanita itu tidak mempedulikan Lin, bahkan di saat Lin menangis dengan keras karena lapar, Wanita itu hanya menatapnya dengan acuh bahkan tidak jarang menyumpal mulut Lin dengan kain yang ia bulatkan. Yah, itu wajar saja, lagipula sampai sekarang saja aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa aku masih bisa bertahan saat hidup dengannya sejak kecil?”


“Apapun itu, dari situ aku sadar jika aku harus mencari makanan untuk bayi mungil itu. pada awalnya banyak tetangga yang simpati kepada ku hingga memberikan beberapa susu bubuk dan perlengkapan bayi bekas anak mereka, aku memang bersyukur hanya saja yang ku butuhkan saat itu susu bubuk setidaknya hingga Lin bisa mencapai usia dimana dia bisa memakan nasi sama sepertiku.”


“Mungkin aku yang terlalu naif, hingga selalu berpikir jika para tetangga itu akan terus memberikanku susu bubuk untuk Lin tapi itu semua hanya bertahan hingga 1 minggu dan tidak ada lagi yang akan memberikanku susu bubuk untuk Lin” ucap Leo sambil menunduk sedih.


“Sejak aku menyadarinya, pikiranku mulai kalut dan dengan segera emosi negatif memenuhi kepalaku, aku mulai berpikir bagaimana jika Lin tidak memiliki susu bubuk yang cukup? Atau bahkan bagaimana jika tubuh Lin yang kecil itu tidak bisa menahannya dan pergi meninggalkan ku?” gumam Leo sambil menahan air mata yang ingin turun dari matanya.


“Karena kondisi tersebut, aku mulai memikirkan jalan yang bisa terbilang nekat dan berdosa, aku mulai mencuri hanya untuk satu dus susu bubuk untuk Lin, bahkan seringkali aku tertangkap oleh warga sekitar dan dipukuli habis-habisan oleh mereka, jika itu terjadi yang bisa kulakukan adalah merobek dus susu itu dan menggenggam dengan erat susu bubuk yang berhasil aku amankan hingga mereka berhenti memukulku lalu berjalan pulang ke rumah dengan satu genggam susu bubuk yang bahkan diriku sadari jika itu tidak akan cukup untuk Lin.”


“Yang dikatakan oleh Lin memang benar, jika aku sudah kembali dengan kondisi seperti itu, bagaimana mungkin aku memiliki tenaga yang cukup untuk mencari makanan untuk diriku sendiri? Seringkali aku berpikir untuk menyerah dan berhenti tapi berbagai pikiran selalu terlintas di benakku, seperti bagaimana nasib Lin jika aku juga menyerah? Lin tidak akan memiliki siapapun sebagai tempatnya bersandar dan harus melakukanya sendiri seperti apa yang sudah pernah kulakukan selama 6 tahun itu. Tentu saja aku menolaknya!”


“Aku tidak ingin adikku mengalami nasib yang sama seperti apa yang kurasakan, karena itu aku terus berjuang walaupun pukulan lah yang selalu kudapatkan dan yah, aku berhasil. Aku berhasil menumbuhkan bayi kecil itu menjadi balita gemuk yang manis. Kakak tidak tahu seberapa bahagia dan bangganya diriku saat menyaksikan adikku tumbuh dengan sehat,” ujar Leo lalu terkekeh pelan bersamaan dengan air mata yang menetes dari matanya.


“Kamu memang berhasil membuat adikmu menjadi gemuk dan juga berhasil membuat dirimu kurus seperti itu,” ujar Max sambil menatap tubuh Leo yang kurus menurutnya.


“Aku tahu itu, lalu apa? Dengan fakta jika adikku baik-baik saja memangnya apa yang harus kupikirkan lagi?” tanya Leo yang membuat Zen terdiam.


“Tidakkah kamu berpikir jika adikmu akan sangat sedih jika kamu, sebagai kakaknya tidak baik-baik saja?” tanya Zen yang membuat Leo terdiam.


“Tentu saja aku memikirkan itu dan aku tahu jika Lin merasa sedih akan hal itu. Tapi aku selalu menjaga diriku dengan baik setidaknya hingga aku bisa bertahan untuk bersamanya agar bisa selalu melindunginya. Sejak aku dikirim di panti asuhan aku sadar jika hanya Lin satu-satunya keluargaku dan hanya aku satu-satunya keluarga Lin,” ucap Leo lalu mengelus kepala Lin dengan sayang.


“Yah, apa yang kamu pikirkan memang tidak salah, tapi dengan sifat mu ini, kamu terlalu mengekang Lin. Kamu memang boleh melindunginya tapi bukan berarti kamu melarang dirinya untuk mencoba melindungi dirinya sendiri. Kamu bukanlah dewa yang bisa menutupi dunia dengan satu tangan,” ucap Zen yang membuat Leo kembali terdiam.


“Sepertinya kamu memiliki pemikiran yang sama denganku, kalau begitu Lin yang akan menjadi inti rencana ini,” ujar Max dengan final yang di angguki setuju oleh Zen.


“Tunggu tapi kak-“


“Aku tidak menerima penolakan, apa kamu tidak percaya dengan kita yang akan memastikan ini berjalan dengan sempurna?” tanya Max yang membuat Leo bungkam.

__ADS_1


“Kamu mungkin merasa bangga saat kamu berhasil melindungi adikmu hingga saat ini, tapi apa kamu tidak memikirkan betapa bangganya dirimu saat adikmu berhasil melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan mu? Atau bagaimana dengan adikmu lah yang akan melindungi mu suatu saat nanti?” tanya Zen.


“Jadi Leo berhentilah menanggung semuanya sendirian, kamu memiliki kita berdua sebagai orang dewasa disini yang akan memastikan dirimu dan adikmu baik-baik saja,” ujar Max dengan seringai pelan diwajahnya.


“Itu benar, kau tahu aku tidak mungkin membicarakan rencana ini jika aku tidak yakin setidaknya 98% untuk tingkat keberhasilannya,” ujar Zen dengan menyakinkan yang membuat Leo menatap Zen dalam diam.


“Dan aku akan menyempurnakan dua persen terakhir sehingga semuanya akan aman dan terkendali,” ujar Max yang membuat Leo menatapnya.


“Ah….”


“Aku … bisakah aku mempercayainya?” tanya Leo dengan pelan.


“Tentu saja,” ucap mereka berdua dengan bersamaan dan percaya diri.


“Jika kamu bersedia percaya kepadaku kali ini maka aku yakin kamu akan percaya kepadaku untuk kedepannya,” ujar Zen yang akhirnya membuat Leo mengangguk dengan pelan.


“Oke, karena ini semua sudah selesai. Apakah kamu bisa bangun? Putri tidur?” tanya Max yang membuat Lin membuka matanya yang bengkak dengan perlahan.


“Huh? Bagaimana kakak bisa tahu ini?” tanya Lin dengan pipi yang menggembung.


“Butuh setidaknya seratus, ah tidak, seribu tahun untuk mengelabui ku, gadis kecil,” ujar Max dengan senyuman andalannya.


“Yah, apapun itu. Terimakasih kak karena sudah menyetujui ini dan kakak akan merasakan rasa bangga karena sudah membesarkan adik pemberani sepertiku!” ujar Lin lalu memeluk Leo yang tepat berada di sebelahnya.


“Hahaha, kalau begitu aku akan segera melihatnya,” ujar Leo dengan tawa kecil yang justru membuat Lin tertawa juga.


“Oke, jadi mari kita bahas rencana yang sempat tertunda itu,” ucap Zen dengan tiba-tiba yang membuat keduanya kini menatap Zen dengan serius.


“Karena Lin yang akan menjaga persediaan itu maka kita harus menentukan pembagian tim. Tim akan dibagi menjadi 2 orang tentu saja dengan masing-masing kalian akan diawasi salah satu diantara kita,” ujar Zen sambil menunjuk dirinya sendiri dan Max dengan bergantian.


“Tim pertama adalah aku dan Lin yang akan tetap berada dibawah untuk memindahkan persediaan makanan menuju tanah luas yang akan menjadi tempat rencana kita berlangsung.”


“Sedangkan tim kedua adalah Leo dan Max yang akan naik ke atap rumah sakit sambil menerobos sekumpulan zombie dan membawa persediaan kita yang cukup berat dengan kain terpal yang juga menjadi inti rencana kita,” ucap Zen yang membuat Leo mengerutkan keningnya.


“Tidak, pertama karena aku tau kamu kuat dan bukan masalah besar untuk menarik kain terpal yang bermuatkan Lin dan persediaan makanan kita di sana dan menariknya keatas dengan Max. Yang kedua adalah aku tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan nyawa, bagaimana jika ada zombie yang menyerang dibawah?” tanya Zen yang membuat Leo bungkam.


“Bagaimana dengan kak Zen sendiri? Maksudku apa kakak akan naik keatas sendiri dengan resiko keberadaan zombie?” tanya Lin dengan khawatir.


“Tenang saja tentang itu, aku bisa menjamin jika aku bisa naik keatas dengan aman walaupun memerlukan waktu yang lama,” ujar Zen dengan percaya diri.


‘Tentu saja aku yakin karena aku percaya dengan mataku!’ batin Zen dengan bangga.


Lin yang mendengar penjamin seperti itu hanya mengerutkan keningnya sebelum membuka mulutnya untuk melayangkan protes.


“Yap, dilarang untuk membantah apa yang aku ucapkan,” potong Zen yang membuat Lin cemberut dan menatap Max seolah mencari bantuan.


Sedangkan Max yang ditatap seperti itu hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh tanda jika dia menyerah.


“Kau tahu, sebelum dirimu, aku sudah melayangkan protes kepadanya dan hanya dianggap sebagai angin lalu olehnya,” ujar Max yang membuat Lin semakin cemberut.


“Tenang saja aku akan baik-baik saja,” ujar Zen.


“Jika dia kembali dengan keadaan mengerikan maka kita akan membiarkan dia duduk diam tanpa melakukan apapun selama batas waktu tertentu,” ucap Max yang membuat Zen menatap kearahnya dengan tidak setuju dan Lin yang menatapnya dengan mata berbinar.


‘Bagaimana itu bisa?! Jika aku tidak melakukan apapun, maka tidur 8 jam sehari ku akan terganggu!’ batin Zen berteriak horror.


“Itu tidak bis-“


“Deal!” ujar Lin memotong ucapan Zen.


“Kurasa itu ide yang bagus,” ujar Leo sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan.


“Kau juga?!” tanya Zen dengan tidak percaya.


“Maaf kak Zen, tapi kurasa ini adalah ide yang bagus,” ujar Leo dengan senyuman permintaan maaf.

__ADS_1


“Baik, 3 lawan 1 dan kurasa tiga lah yang menang,” ujar Max yang membuat Zen mendengus pelan.


“Huh, baiklah.”


“Ada apa kak?” tanya Lin sambil memperhatikan Leo yang terdiam selama beberapa saat.


“Ah, aku hanya berpikir, bukankah kak Zen pergi ke rumah sakit untuk membuat racun pelumpuh? Bagaimana kak Zen akan membuatnya?” tanya Leo yang membuat Zen menoleh kearahnya.


“Hm? Tentu saja dengan mendapatkan zat kimianya dari rumah sakit itu dan membuatnya,” ujar Zen.


“Apa itu berarti jika kak Zen akan membuatnya di dalam laboratorium rumah sakit?” tanya Leo yang di angguki dengan santai oleh Zen.


“Itu berbahaya kak Zen! Bagaimana jika ada zombie di saat kakak sedang membuat racun itu?” tanya Lin yang dibalas dengan helaan nafas ringan oleh Zen.


“Yah, aku tidak pergi sendiri, aku akan pergi dengan Max setelah semua rencana ini selesai,” ujar Zen yang membuat Leo dan Lin menatapnya dengan bingung.


“Hanya berdua?” tanya Leo memastikan.


“Yah, aku tidak mungkin membawa kalian di saat aku akan bereksperimen dengan zat kimia? Salah Langkah saja itu akan membuat satu laboratorium meledak,” ujar Zen yang dibalas dengan dengusan oleh Max.


“Dia hanya ingin membuat kalian terbiasa di dunia yang sudah berakhir ini, ini sebagai ajang latihan menembak mu, Leo,” ujar Max memperjelas maksud dan tujuan Zen dan justru membuat Zen mendengus pelan.


“Aku tidak mungkin membiarkan kalian berada di dalam bahaya, jadi aku akan menyerahkan ponselku ini kepada kalian, jika ada bahaya apapun itu, kalian bisa menelpon ponsel Max menggunakan ponselku,” ujar Zen lalu menyerahkan ponsel miliknya.


“Ahh, begitu,” ujar Leo lalu menghela nafasnya lega.


“Bukankah ini hal yang bagus juga untukmu, Lin? Kamu bisa mengamati pola tingkah laku zombie dari sana sebelum aku akan mengajarimu seni combat dengan pisau lipat,” ujar Max yang membuat Lin menatapnya dengan berbinar.


“Benarkah itu?!” tanya Lin dengan bersemangat yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Max.


“Baiklah! Terimaka-“ seruan bahagia Lin terputus dengan tiba-tiba dan digantikan dengan tatapan suram.


“Ada apa? Kupikir kamu akan bahagia dengan ini,” tanya Max.


“Apa kakak dan kak Zen setuju? Jika tidak maka kurasa aku akan melupakannya,” ujar Lin.


“Huh, tentu saja pria kolot di sampingku setuju mengenai ini,” ujar Max yang membuat Zen menatapnya dengan marah.


“Apa yang kamu katakana?!”


“Tapi bagaimana dengan kakak?”


“Kamu bisa menanyakannya sendiri kepadanya,” ujar Max sambil mengacuhkan teriakkan Zen.


Lin yang mendengar itu kini harus menatap takut-takut kearah Leo.


“Hahh, aku menyetujuinya, jika itu membuatmu bahagia,” ujar Leo dengan pasrah.


“Benarkah?! Terimakasih kak!” seru Lin dengan sangat gembira hingga memeluk kakaknya dengan erat.


Sedangkan Leo yang dipeluk dengan erat hanya bisa tertawa pelan dan menahan beban tubuh adiknya agar mereka berdua tidak terjungkal kebelakang.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2