Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(58) Rencana dan Rute|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


"Tidak mungkin bukan aku akan membiarkan orang dibawah ku mati kelaparan? Tapi aku tidak berbohong jika aku juga ingin bertemu dengannya," ujar Ken yang membuat Kim kembali terdiam.


"Tapi tentu saja fakta jika kau adikku yang paling aku say-"


"Yak, bukankah aku sudah mengatakan untuk menghentikan itu?! Aku tidak cemburu sama sekali!" ujar Kim dengan sedikit frustasi yang justru dibalas dengan tawa tidak berdosa dari Ken.


...| (❁❁) |...


"Tuan muda, maafkan saya menyela pembicaraan kalian, tetapi kita harus segera memilih lokasi untuk mendarat," ujar Jin memutuskan pertengkaran kedua saudara kembar tersebut.


"Huh? Mendarat? Tapi kita masih berada di perbatasan, belum benar-benar memasuki area sektor barat," ujar Ken dengan kening berkerut.


"Maafkan saya tuan muda, tapi angin di depan terlalu kencang dan lagi kita harus mengisi bahan bakar helikopter. Saya tidak ingin mengambil resiko," ujar Jin yang membuat Ken mengangguk pelan.


"Kalau begitu mari kita cari tempat mendarat untuk malam ini dan melanjutkan perjalanan besok pagi," jawab Ken yang di angguki oleh Jin.


"Bagaimana jika kita mendarat di atap rumah sakit itu? Itu cukup luas karena terdapat landasan untuk helikopter," ucap Kim yang membuat kedua atensi pria di sana teralih.


"Anda benar tuan muda, kalau begitu saya akan menyiapkan pendaratan di sana," ujar JIn lalu mengemudikan helikopternya di landasan tersebut.


"Hm? Kak apa kakak melihat itu?" tanya Kim sambil menunjukkan tangannya kearah tenda-tenda yang berdiri di atap rumah sakit.


"Tenda? Sepertinya ada orang lain yang tinggal di atap ini," ujar Ken dengan senyuman tipis diwajahnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan mengenai ini kak?" tanya Kim dengan pelan yang membuat Ken menatapnya dengan senyuman.


"Bagaimana dengan bersekutu?" tanya Ken yang membuat Kim mengerutkan keningnya tidak setuju.


"Bagaimana jika mereka adalah orang jahat?" tanya Kim.


"Tidak ada orang baik di dunia ini, Kim," ujar Ken yang membuat Kim terdiam.


"Aku ingin mengajak mereka bekerja sama dengan kedua belah pihak yang akan saling mendapatkan keuntungan. Kurasa dengan memiliki keuntungan yang sepadan mereka akan mau bekerja sama dengan kita," jelas Ken.


"Lalu apa yang akan kakak tawarkan dan apa yang akan kita dapatkan?" tanya Kim.


"Yang akan kita dapatkan mungkin tenaga kerja dimana ini adalah salah satu hal yang paling dibutuhkan di dunia yang hancur sedangkan yang akan mereka dapatkan itu akan tergantung dengan apa yang mereka butuhkan," ujar Ken.


"Tenaga kerja? Apa kakak yakin mereka berguna? Bagiamana jika mereka hanyalah orang bodoh yang tidak bisa diatur?" tanya Kim membuat Ken mendengus jengah.


"Apa kamu tidak lihat dengan semua perlengkapan yang mereka punya saat ini? Apa itu mirip dengan orang bodoh, Kim?" tanya Ken yang membuat Kim terdiam.


"Terserah kakak saja, tapi aku rasa mereka akan menolak kita, bahkan sebelum kita mengutarakan tujuan kita," ujar Kim saat melihat orang di luar sana sudah menodongkan pistol kearah helikopter mereka.


...----------------...


"Kak Zen kami sudah menyelesaikan keperluan tenda kami!" lapor Lin dengan semangat yang membuat Zen mengusap kepalanya dengan pelan.


"Kerja bagus Lin, begitu juga dengan mu Leo," ucap Zen lalu beralih mengusap kepala milik Leo.


"Aku juga sudah menyelesaikan bagian ku, kurasa atap ini sudah cukup layak untuk ditinggali," ucap Max sambil tersenyum puas.


"Yah, kerja bagus juga untukmu, apa kalian haus?" tanya Zen sambil mengeluarkan botol air mineral yang berada di tas ranselnya.


"MInumlah dengan perlahan LIn," ujar Zen menyerahkan botol tersebut kepada Lin.


"Apa kawatnya cukup untuk pembatas yang kita bicarakan?" tanya Zen yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Max.


"Itu tidak cukup, tapi tenang saja aku sudah mengakalinya dengan sesuatu yang setidaknya bisa menutupi daerah itu. Yah, walaupun keamanannya tidak terjamin," ujar Max yang membuat Zen tertawa pelan.


"Itu sudah lebih dari cukup, lagipula tidak mungkin ada zombie yang cukup gila untuk memanjat gedung ini begitu saja," ujar Zen.

__ADS_1


"Tapi untuk jaga-jaga kedepannya, aku dan kamu akan pergi sebentar untuk ke toko terdekat dan mengambil kawat berduri yang dibutuhkan," ujar Zen yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Max.


"Kapan kamu akan pergI? Apa itu setelah kamu menyelesaikan penelitian mengenai racun pelumpuh itu atau sebelumnya?" tanya Max yang membuat Zen berpikir sebentar.


"Kurasa lebih baik sebelum aku meneliti racun pelumpuh itu, aku tidak ingin membahayakan kedua anak itu," ujar Zen.


"Baiklah, omong-omong dimana kamu meletakkan selimut lebih yang kita sediakan sebelumnya?" tanya Max yang membuat kening Zen berkerut.


"Ada di bagian belakang, memangnya untuk apa selimut itu?" tanya Zen dengan bingung.


"Apa kamu tidak merasakan jika anginnya jauh lebih kencang dari sebelumnya? Selimut itu untuk mereka berdua, aku tidak ingin mereka terkena flu hanya karena angin dingin," jelas Max yang membuat Zen mengangguk.


"Kalau begitu ambilah di sana," ujar Zen sambil menunjukkan tempat tersebut dengan ibu jarinya.


"Apa kamu ingin satu?" tanya Max yang dibalas dengan gelengan singkat oleh Zen.


"Leo, Lin kemari lah dan ambil selimut tambahan kalian," ujar Max yang membuat kedua anak yang tadinya asyik dengan dunia mereka berdua segera bergegas menuju kearah Max.


Zen yang melihat itu hanya tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya kearah timur dimana sumber dari angin yang bertiup kencang itu.


'Hahh, ini masih menjadi misteri, kenapa angin bisa berhembus dengan kencang dari sektor timur menuju sektor barat? Seharunya kejadian seperti ini tertulis di buku, tetapi buku itu tidak menjelaskan secara detail,' batin Zen.


"Yah, setidaknya itu bukan sesuatu yang berbahaya. Bagaimana jika kita tidur setelah ini?" gumam Zen dengan pelan sambil merenggangkan otot tubuhnya yang kaku.


'Besok aku akan pergi bersama Max untuk mencari peralatan untuk bertahan hidup yang dibutuhkan, jika bisa aku harus mencari persediaan makanan juga, ' batin Zen sambil memikirkan rencana yang harus dia lakukan besok.


"Huh? Kenapa anginnya tiba-tiba saja terasa sangat kencang?" tanya Zen dengan bingung saat merasakan angin kencang yang menerbangkan helaian rambut pendeknya.


"Zen! Mundur lah ke sini!" seru Max dari belakang tumpukan persediaan makanan dengan Lin dan Leo disampingnya.


Zen yang melihat itu segera berjalan menuju tempat mereka sambil menutup matanya akibat angin yang bertiup terlalu kencang.


"Kak Zen, kakak tidak apa-apa?" tanya Leo setelah Zen tiba di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa, kurasa mataku hanya terkena debu yang membuatnya terasa sedikit sakit," ujar Zen yang membuat Leo dan Lin merasa lega.


"Yang lebih penting, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Zen sambil mencoba mengintip kearah angin tersebut.


"Tunggu ... helikopter?! Apa itu ingin mendarat di landasan atap rumah sakit ini?" tanya Zen dengan panik.


"Yah, kurasa memang seperti itu," ujar Max yang membuat Zen membulatkan matanya dengan kesal.


"Lalu bagaimana dengan tenda yang kita dirikan tadi?!" tanya Zen dengan kesal.


"Itu bergeser terlalu jauh dari posisi saat tenda itu didirikan sebelumnya," ujar Lin dengan sedih saat melihat tenda yang dibangun olehnya dan sang kakak bergeser akibat angin yang terbuat dari helikopter tersebut.


"Kita bisa memindahkannya kembali dan mungkin memasang penguat di setiap sisi tenda nanti," ujar Max yang membuat Leo menghela nafas sedih dan Lin yang sedikit murung.


"Bukankah bagus jika itu tidak rusak? setidaknya kita bisa tahu kualitas dari tenda yang kita ambil," hibur Max yang membuat kedua anak itu tersenyum kecil.


"Oh, Zen apa yang ingin kamu lakukan?!" tanya Max dengan panik.


"Apa yang ingin aku lakukan? Tentu saja membuat orang yang mengendarai helikopter itu bertanggung jawab atas kerja keras kita!" ujar Zen sambil mengisi ulang peluru di pistol miliknya dan berjalan menuju helikopter itu.


"Aish, kamu tidak bisa gegabah seperti itu Zen!" teriak Max dengan frustasi.


"Hahh, kalian berdua lebih baik tunggu di sin-" ucapan Max terhenti saat dirinya tidak melihat keberadaan dua kakak beradik itu.


Dengan cepat, kini dia putarkan kepalanya untuk melihat kearah Zen dan benar saja kedua anak itu sudah berada di sampingnya dengan tatapan membara yang seakan menyiratkan kata tanggung jawab dengan jelas di mata mereka.


"Aish, mereka itu!" desis Max dengan kesal tapi mulai mengisi ulang pistol miliknya dengan peluru dan ikut bergabung dengan anggota party nya segera sebelum kekacauan dibuat lebih lanjut lagi oleh mereka bertiga.


...----------------...


"Kerja bagus, Fin, Neo," ujar Mia dengan singkat saat Fin dan Neo masuk kedalam mobil dengan bahan makanan yang lumayan di tangan mereka.


"Ck, supermarket itu tidak memiliki banyak makanan yang bersih," gerutu Neo dengan kesal.


"Bukankah itu wajar? Lagipula kota E merupakan kota dengan jumlah penduduk yang cukup padat," ujar Fin sambil membersihkan pisau bedah yang ada di tangannya.


"Entah itu karena bahan makanan yang bersih sudah di ambil atau karena terlalu banyak penduduk yang sudah berubah menjadi zombie," lanjut Fin lalu menyimpan pisau bedah yang sudah bersih di tempatnya dan meletakkannya di saku celana miliknya.

__ADS_1


"Tapi ini sudah supermarket ketiga dan hasilnya benar-benar zonk!" jelas Neo dengan kesal sambil melihat singkat kearah kegiatan yang sedang Fin lakukan.


"Tiba-tiba saja aku merindukan persediaan senjata yang dimiliki oleh adikku," ujar Neo dengan tiba-tiba yang membuat Mia mengerutkan keningnya dengan aneh.


"Apa? Memangnya hanya keluargamu saja yang memiliki izin memegang senjata?" tanya Neo dengan senyum menjengkelkan.


"Huh, aku penasaran bagaimana reaksi rakyat di sini jika mengetahui keluarga pejabat pemerintah memiliki akses ke senjata api," ucap Mia dengan kalimat penuh sarkasme.


"Lalu aku juga penasaran, bagaimana reaksi para mahasiswa jika mengetahui dewi kampus mereka adalah anak dari seorang mafia terkenal di Prancis," ujar Neo dengan tidak kalah sinis.


"Aku sudah tidak memiliki hubungan dengan keluargaku itu," ujar Mia.


"Jika kamu lupa aku juga sudah tidak memiliki hubungan dengan ayahku itu," ujar Neo membalas perkataan Mia.


"Hahh, mari kita akhiri disini dan kembali ke topik utama. Apa kamu ingin pergi ke supermarket berikutnya?" tanya Mia yang dibalas dengan tatapan tajam dari Neo.


"Aku tidak ingin pergi ke supermarket lagi hanya untuk mempertaruhkan nyawa demi jumlah makanan yang tidak seberapa," ujar Neo dengan sinis.


"Baiklah kalau begitu kita akan langsung pergi ke kota C," ujar Mia sambil menyalakan mobilnya.


"Apa bensinnya cukup?" tanya Fin yang dibalas dengan gelengan singkat oleh Mia.


"Tidak cukup, tapi kita bisa mengambil beberapa persediaan di pom bensin nanti," ujar Mia.


"Kalian membawakan botol kosong pesanan ku bukan?" tanya Mia yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Fin dan dengusan pelan oleh Neo.


"Bagus kalau begitu, omong-omong rute mana yang ingin kamu ambil menuju kota C, Fin?" tanya Mia di sela-sela kegiatan menyetirnya.


Fin yang mendengar itu terdiam sejenak untuk berpikir.


"Jika kita mengambil rute dari kota S langsung menuju kota C itu terlalu beresiko mengingat kota S adalah kota dengan jumlah penduduk terbanyak nomor satu di negara," ucap Fin dengan pelan.


"Tapi itu adalah rute yang memakan waktu paling singkat, mungkin kita akan sampai di kota C dalam dua hari ke depan," timpal Neo yang membuat Fin mengangguk pelan.


"Tapi terlalu beresiko dan aku tidak ingin mengambil resiko untuk keselamatan kita," ucap Fin yang membuat Mia mengulas senyum tipis diwajahnya.


"Bagaimana dengan jalan memutar melewati daerah selatan yaitu kota Y dimana jumlah penduduknya relatif sedikit lalu dilanjut menuju kota M dan mengambil arah memutar menuju kota N sebelum pergi ke kota C?" ucap Mia yang membuat kedua pria dibelakangnya berfikir.


"itu memakan waktu sekitar lima hari atau bahkan satu minggu penuh," ujar Neo dengan pelan.


"Tapi jika kita melewati rute itu dapat meningkatkan presentase keadaan kita, tidak apa untuk dicoba," ujar Fin dengan final yang membuat kedua rekannya tidak bisa membantah.


"Baiklah, kalau begitu tujuan kita selanjutnya adalah kota Y di distrik selatan," ujar Mia dengan senyuman tipis dan menekan gas mobilnya dengan cepat kearah pom bensin terdekat.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Penjelasan singkat!


Negara dimana Zen tinggal memiliki lima sektor yaitu :


• Sektor Utara dimana kota I, kota O dan kota P berada.


• Sektor Selatan dimana kota Y, kota R dan kota M berada.


• Sektor pusat dimana kota S dan kota E berada.


• Sektor Barat dimana kota A, kota F dan Kota Q berada.


• Sektor Timur dimana kota C, kota N dan kota L berada


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2