Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(37) Lia Amerston|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


'Tapi itu lebih baik, bukankah aku bisa memanipulasinya lebih mudah jika mentalnya tidak baik-baik saja?' batin Zen sambil menyeringai.


'Yah, itupun jika dirinya masih hidup,' lanjut Zen lalu kembali berjalan mengikuti langkah Max yang sudah berada di depannya terlebih dahulu.


...| (❁❁) |...


"Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Lia dengan ekspresi khawatir kepada sahabatnya.


"Ah, ya. Aku baik-baik saja," balasnya dengan lemah.


"Wajahmu pucat, aku khawatir kepadamu," ucap Lia dengan sedih.


"Aku baik-baik saja Lia, hanya mungkin sedikit terkejut karena segerombolan zombie tadi," balas temannya dengan pelan.


"Ck, itu semua karena kedua laki-laki berhati iblis itu!" maki Lia dengan kasar.


"Ayo aku bantu kamu untuk berjalan," ucap Lia sambil membantu sahabatnya untuk berdiri.


"Te-terimakasih," jawabnya dengan pelan sambil menahan rasa panas aneh yang mulai menjalar di tenggorokannya.


"Kamu temanku, sahabatku. Jangan mengucapkan terimakasih seperti itu," ucap Lia dengan pelan.


"Sa, karena tim kita sudah berkumpul semua maka ayo kita segera menyusul kedua siswa tadi agar bisa menemukan jalan keluar dari sini, " ucap ketua untuk menarik atensi dari ketiga siswa itu.


"Baiklah! Ayo kita pergi dan segera susul kedua siswa sombong itu agar aku bisa mendaratkan satu pukulan di masing-masing wajah mereka," ucap laki-laki berbadan besar dengan semangat.


Dengan segera kelompok mereka menyusuri jalan yang berada di balik tembok itu. Tiga menit telah berlalu tetapi mereka belum juga menemukan jalan keluar maupun kedua siswa tersebut.


"Sial! Sebenarnya dimana mereka berdua?" tanya laki-laki berbadan besar itu dengan kesal.


"Ketua kurasa di sekitar sini tidak ada jalan keluar karena terhalangi oleh tembok tinggi," ucap Lia sambil menatap kearah tembok tinggi di hadapannya.


"Terlebih lagi sangat tidak mungkin mereka memanjat keatas," lanjut Lia saat mengamati seberapa tinggi tembok itu.


"Kamu benar, kalau begitu mereka sepertinya pergi melewati sebuah lubang yang berada di bawah tembok," ucap ketua dengan pelan.


"Tapi dimana lubang itu berada?" tanya Lia sambil memandang sekitarnya.


"Akkhh...!"


"Kamu tidak apa?!" tanya Lia sambil berjalan mendekat sahabatnya yang tiba-tiba saja terjatuh.


"Hahh, ak-aku ti-tidak apa-apa," balasnya dengan terbata-bata karena nafasnya yang terlalu cepat.


"Apa kamu bisa berdiri?" tanya Lia sambil mensejajarkan dirinya dengan sahabatnya yang tengah terduduk.


"A-aku ... kurasa bisa," jawabannya sambil tersenyum pelan di wajah pucat nya.


"Kalau begitu ayo ku bantu," ucap Lia sambil menjulurkan tangannya dan memajukan sedikit tubuhnya agar dapat mempermudah membantu sahabatnya berdiri.


'Huh? Aroma ini...? Kenapa isi kepalaku selalu berkata untuk menggigitnya? Tunggu...? Apa aku akan berbuah menjadi salah satu zombie itu?' batin sahabatnya degan tatapan mata yang memerah serta perasaan takut.


"Ada apa? Kenapa kamu melamun seperti itu?" tanya Lia saat melihat sahabatnya yang melamun.


'Ahh, aku kehilangan fokus ku kembali,' batin perempuan itu sambil mengalihkan pandangannya.


"Maafkan aku, hanya saja tadi kepalaku sedikit pusing," ucapnya sambil memegang kepalanya yang berdenyut pusing sedari tadi.


"Ah, begitu ... Apa itu dibelakang mu?!" ucap Lia dengan tiba-tiba yang menarik atensi dari kedua laki-laki dibelakangnya.


"Apa? Ada apa? Apa ada zombie lagi?" tanya laki-laki berbadan besar itu dengan panik dan takut.


"Tidak! Aku menemukan sebuah lubang! Ketua lihatlah di sana," ucap Lia sambil menunjuk lubang yang dia lihat tadi.


Yang dipanggil namanya hanya berjalan lurus kearah yang ditunjuk oleh Lia dan mulai menyibak rerumputan yang menghalangi di hadapannya.


"Kamu benar, sepertinya dibalik kayu ini adalah sebuah lubang seukuran tiga jengkal orang dewasa," ucap ketua sambil mengira-ngira ukurannya.


"Lalu apa kayu itu bisa dilepaskan agar kita bisa melewati lubang itu?" tanya Lia yang membuat ketua menggelengkan kepalanya pelan.


"Kurasa ini sedikit sulit, karena aku sudah berusaha mengguncangnya tapi tidak mengalami perubahan. Sepertinya papan kayu ini sengaja diletakkan oleh seseorang untuk menghalangi kita," ucap ketua setelah mencoba mengambil kayu tersebut.


"Apa ini perbuatan kedua laki-laki itu?" tanya Lia sambil memikirkan kedua laki-laki menyebalkan itu.


"Kurasa iya, siapa lagi jika bukan mereka yang meletakkan ini?" tanya ketua.

__ADS_1


"Coba aku yang akan melepaskan batang kayu itu," ucap laki-laki berbadan besar sambil berjalan mendekat kearah lubang kecil itu.


"Setidaknya aku cukup percaya diri dengan kekuatan otot ku," lanjutnya dengan percaya diri sambil menggeser balok kayu dengan sekuat tenaga.


"Ohh, kamu benar-benar berbakat untuk masalah ini," seru Lia saat melihat laki-laki itu berhasil dalam menggeser balok kayu yang terpasang di lubang itu.


"Hah! Ini tidak ada apanya!" balas laki-laki itu dengan narsis karena sudah dipuji.


""Kamu melakukannya dengan baik," ucap ketua saat melihat jika potongan kayu itu sudah berhasil di singkirkan dengan seutuhnya oleh laki-laki berbadan besar itu.


"Siapa yang ingin masuk pertama kali?" tanya laki-laki itu sambil memandang lubang di hadapannya.


"Bagaimana dengan aku? Biar aku saja yang pergi pertama kali sehingga bisa mengecek keadaan di sebelah sana," jawab Lia sambil menawarkan dirinya sendiri.


"Apa tidak merepotkan? Jika tidak tolong pergi dan lihatlah di sana dan pastikan jika daerah sana aman untuk kita semua," ucap ketua dengan senyum tipisnya.


"Baiklah tapi tolong jaga sahabatku untukku," ucap Lia yang tentu saja di angguki oleh ketua.


"Kamu tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik," ucap ketua dengan mata menyipit seolah tersenyum.


'Tentu saja aku akan menjaganya, lagipula dia memiliki wajah yang cantik. Bagaimana mungkin aku tega menyakiti wajah cantik sepertinya?' batin ketua dengan senyuman menjijikan di batinnya.


Dengan perlahan, Lia mulai memposisikan tubuhnya untuk mencoba merangkak di bawah sana. Perlahan tapi pasti kini dirinya mulai bergerak masuk kedalam lubang itu dan berhasil melewatinya dalam waktu satu menit.


Dengan segera dirinya bangun sambil mengecek keadaan sekitar. Di dalam hatinya ia bersyukur karena tidak ada satupun zombie di sana.


"Tidak ada satupun zombie di sini, ketua!" balas Lia dengan semangat.


"Dan sepertinya jalan pintas yang kita ambil ini menuju tempat parkir area belakang sekolah," ucap Lia saat melihat beberapa hal yang familiar dengan tempat parkir area belakang sekolahnya.


"Baguslah kalau begitu, setidaknya kita menuju lokasi yang tidak memiliki satu zombie pun di sana," balas ketua dengan lega.


"Untuk orang kedua yang masuk bagaimana dengan diriku?" bertanya kepada anggotanya yang tersisa.


"Ah, kenapa tidak wanita ini duluan, ketua?" bertanya sambil menunjuk kearah wanita berambut coklat.


"Tentu saja karena dia sedang sakit sekarang jika dia duluan itu akan memakan banyak waktu, terlebih kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Bagaimana jika ada zombie yang tiba-tiba muncul? Di sana hanya ada wanita seorang jika wanita yang kita kirimkan lagi, aku takut mereka kenapa-napa," jelas ketua dengan panjang lebar yang mampu menarik simpati laki-laki itu dan Lia yang berada di luar tembok.


'Cih, aku tidak bisa menjadi yang terakhir untuk pindah bukan? Bagaimana jika para zombie di sebelah sedang menyusul kita? Aku tidak ingin berubah menjadi zombie!' batin ketua yang sangat bertentangan dengan apa yang diucapkannya.


"Baiklah kalau begitu, silahkan pergi dahulu ketua," ucap laki-laki itu yang membuat ketua tersenyum tipis.


"Terimakasih," ucap ketua lalu mulai memposisikan dirinya untuk tiarap di bawah tanah agar bisa masuk kedalam lubang itu.


Sepertinya mereka tidak menyadari gelagat dari perempuan berambut coklat itu yang sempat mengalami kejang sebentar sebelum mulai berhenti dan perlahan membuka matanya menjadi mata yang tidak memiliki titik fokus.


'Bagus sedikit lagi aku bisa keluar dari sini!' batin ketua saat sudah setengah dari perjalanan merangkaknya itu.


"Huh? Ada apa?" tanya laki-laki berbadan besar itu saat merasakan tepukan di bahunya.


Setelah tidak mendapat jawaban dirinya kembali berputar kebelakang lalu menatap wanita berambut coklat itu yang sedang menundukkan kepalanya sehingga laki-laki itu tidak bisa melihat wajahnya.


"Ada apa? Apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya laki-laki itu sekali lagi yang membuat wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu dengan pupil mata memerah dan tidak memiliki titik fokus itu.


Laki-laki berbadan besar itu sedikit terkejut dan tanpa sadar mundur beberapa langkah.


"Hei, a-apa yang terjadi denganmu?" tanyanya dengan gugup.


Wanita itu tidak membalas dan hanya berjalan menuju laki-laki itu dengan langkah terseok-seok yang membuat laki-laki itu semakin takut.


"Zombie!" pekiknya dengan keras sampai membuat Lia yang berada di luar sana dan ketua yang hanya tinggal menggerakkan bagian kakinya untuk keluar terkejut.


"Apa? Dimana zombie nya?" tanya Lia dengan cemas.


Tapi sayang sekali, belum sempat pertanyaan Lia terjawab kini harus mendengarkan teriakan keras dari laki-laki berbadan besar itu.


"Hei ada apa itu?!" tanya Lia dengan khawatir.


Ketua yang mendengar teriakan itu dengan cepat mulai menyelesaikan merangkaknya agar segera terbebas dari lubang itu. Namun naas dia merasakan sesuatu yang menarik kaki sebelah kirinya itu dengan keras.


Dengan cepat ketua membalikkan tubuhnya agar bisa melihat kejadian yang ada di dalam sana dengan kaki kirinya yang masih di cengkram erat oleh laki-laki itu.


Alangkah terkejutnya mereka berdua yang kini sedang melihat hal di sana, laki-laki berbadan besar itu sedang tiarap sambil memegang kaki ketua seolah itu adalah penyelamat hidupnya tapi disisi lain leher milik laki-laki itu sedang digigit dengan kuat oleh wanita berambut coklat hingga mengeluarkan darah berwarna merah.


"Kyaaa!!!" seruan Lia terdengar sangat keras saat melihat penampilan aneh mereka terutama keadaan sahabatnya itu.


Tanpa pikir panjang ketua dengan cepat menendang-nendangkan kakinya kearah laki-laki itu agar cengkeraman tangan itu terlepas dari kakinya.


"Cepat lepaskan dasar brengsek! Aku tidak ingin berubah menjadi zombie seperti dirimu!" maki ketua dengan penuh ketakutan.


Mungkin karena telah merasakan kepalanya yang berdenyut pusing, cengkraman di tangan laki-laki itu melemah sehingga bisa terlepas dari kaki laki-laki itu.


Ketua yang menyadari cengkraman kakinya sudah terlepas kini bangkit dengan cepat dan mulai menarik tangan Lia yang masih mematung karena syok dan menyeretnya bersama untuk menghindari mereka berdua.


Laki-laki berbadan besar itu hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan ekspresi marah.

__ADS_1


'Kenapa mereka meninggalkanku dengan zombie ini? Tidakkah mereka ingin membantuku terlebih lagi ketua? Bukankah kita satu kelompok? Kenapa dia malah melepaskan cengkraman tanganku?!' batin laki-laki itu dengan marah dan dengan tenaganya yang tersisa kini mendorong zombie wanita itu hingga membentur tembok dan mulai merangkak keluar dari lubang itu tanpa memikirkan kepalanya yang berdenyut pusing.


...----------------...


"Ketua! Lepaskan aku! Aku harus memeriksa keadaan sahabatku!" seru Lia sambil memberontak.


"Dengarkan aku! Kita tidak bisa kembali ke sana! Atau kamu akan berubah menjadi zombie juga seperti mereka!" jelas ketua sambil berteriak.


"Tapi masih ada laki-laki itu di sana! Bagaimana mungkin anda tega meninggalkan mereka?!" tanya Lia dengan tidak percaya.


"Tapi apa kamu tidak lihat jika leher laki-laki itu sudah digigit oleh zombie?! Dia sudah berubah menjadi zombie!" jelas ketua dengan kesal.


"Tapi-"


"Aha, aku menemukan mobilnya, Max," ucap seseorang secara tiba-tiba yang berhasil membuat ucapan Lia terpotong.


"Baguslah kalau begitu berikan kuncinya kepadaku dan aku akan menyetirnya," ucap Max yang membuat Zen menyerahkan kunci mobil ditangannya itu kepada Max.


"Kalian...?"


Ucapan pelan dari seseorang itu sukses membuat Max dan Zen menolehkan kepalanya ke asal suara.


"Ck," decakan keluar begitu saja dair bibir Max saat melihat siapa yang berbicara.


"Kukira mereka akan terjebak di sana," gumam Zen dengan pelan sambil menatap Max.


"Aku sudah menutup lubang itu dengan kayu yang pas sehingga dapat merekat kuat di lubang itu, walaupun mereka menemukannya mereka tidak akan mampu untuk membukanya," jelas Max kepada Zen.


"Tapi sepertinya tidak seperti itu," balas Zen yang membuat Max kembali mendecakkan lidahnya.


"Kalian! Ini semua karena kalian hingga membuat sahabatku berubah menjadi zombie!" teriak Lia dengan keras.


"Huh? Zombie?" gumam Zen dengan bingung.


'Tunggu bagaimana mungkin sahabatnya berubah menjadi zombie? Kurasa di kehidupan sebelumnya tidak terjadi hal seperti itu. Apa ini efek kupu-kupu yang kubawa?' batin Zen sambil berpikir tentang peristiwa aneh di depannya.


Tanpa Zen sadari kini Lia sedang bergegas menuju arah Zen dengan tangan kanan yang terangkat untuk memukulnya. Max yang menyadarinya dengan cepat menghalau pukulan itu dan balas memukul Lia dengan keras hingga membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang.


Zen kembali sadar saat melihat Lia mundur kebelakang sambil memegang perutnya.


"Kamu terlalu kasar kepada seorang wanita, Max," ucap Zen yang membuat Max mendengus pelan.


"Maaf saja jika dia sudah menjadi musuhku, walaupun wanita sekalipun aku tidak akan menunjukkan belas kasihan kepadanya," ucap Max.


Zen kembali mengalihkan pandangannya kearah Lia.


"Maaf, tapi sahabatmu berubah menjadi zombie bukan karena kami, tapi karena dirimu sendiri yang tidak bisa menjaganya dengan benar," ucap Zen yang dibalas gelengan kuat oleh Lia.


"Tidak itu semua karena kalian! Kalian yang memancing zombie itu hingga membuat sahabatku berubah menjadi zombie!"


"Huh, terserahlah. Aku malas menjawabnya, ayo Max kita pergi saja." ucap Zen lalu menaiki mobil itu.


"A-apa kalian tidak akan mengajak kami juga?" tanya ketua dengan lugas yang hampir membuat Zen tertawa.


"Untuk apa aku mengajakmu?" tanya Zen.


"Tentu saja karena kita berasal dari sekolah yang sama!"


"Maaf saja tapi aku tidak menerima anggota sepertimu, terlebih lagi sepertinya kalian masih harus berbicara dengannya," ucap Zen sambil menunjuk seseorang yang dikenalnya yang mungkin sudah berubah menjadi zombie.


"Aku harap aku tidak akan melihatmu lagi," ucap Zen setelah menaiki mobil tersebut.


"Ayo pergi Max," ucap Zen yang membuat Max mulai menjalankan mobilnya.


"Kalian benar-benar manusia berhati iblis!" teriak ketua dengan keras sambil menghindar dari serangan laki-laki berbadan besar itu yang kini sudah berbuah menjadi zombie.


"Kamu akan mendapatkan makian seperti itu lagi untuk kedepannya," jelas Zen yang membuat Max mengangguk pelan.


"Aku tahu itu dan aku tidak mempermasalahkannya," jelas Max yang membuat Zen tersenyum puas.


"Kalau begitu arahkan mobil ini menuju minimarket terdekat," ucap Zen yang di angguki oleh Max.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2