Survive In The Last Days : My Second Life

Survive In The Last Days : My Second Life
|(28) Analisa|


__ADS_3

Warning : Karya ini hasil orisinal aku dan hanya karangan fiktif semata. Bahasa bisa saja kasar jadi dimohon untuk tidak menirukan nya.


...•...


...•...


...•...


Sebelumnya :


‘Kuharap kak Zen baik-baik saja saat menghadapi fenomena aneh ini,’ batin Leo sambil menatap gorden yang sudah menutupi jendela tersebut.


...| (❁❁) |...


Max kini menatap Zen dengan bingung setelah mendengar permintaan yang di ajukan olehnya.


“Apa maksud permintaanmu?” tanya Max dengan serius.


“Rekan? Apa maksudmu dengan rekan selamanya dan tidak pernah meninggalkan sisimu?” tanya Max dengan tatapan mata tajam.


“Kamu ingin aku melayani mu seumur hidupku?” lanjutnya yang membuat Zen menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Bukankah aku mengatakan untuk menjadi rekanku bukan menjadi pelayan ku?” ucap Zen.


“Lalu kenapa harus selamanya?” tanya Max yang membuat Zen terdiam.


“Kamu tahu, aku akan dengan senang hati menuruti permintaan aneh mu itu jika kamu memberiku alasan yang cukup masuk akal,” ucap Max yang membuat Zen menghela nafas gusar.


‘Aku tahu ini tidak akan berhasil dengan mudah,’ batin Zen lalu menatap Max dengan ragu.


‘Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya dan membuat taruhan? Aku yakin setidaknya jika Max bukanlah seseorang yang gampang mengkhianati seseorang jika sudah menetapkan jika orang itu harus di lindungi olehnya.'


'Ditambah Max adalah orang yang sangat cepat beradaptasi, kurasa tidak akan terjadi masalah dengan memberitahunya setengah informasi dengan kebohongan-kebohongan tipis,’ batin Zen setelah memikirkannya beberapa menit.


“Jika kamu tidak bisa memberikan alasan apapun, maka aku tidak akan menangapi permintaan aneh mu itu dan pergi dari sini sekarang,” jelas Max yang membuat Zen sedikit panik.


“Hei, percayakah kamu jika aku mengatakan bumi akan segera mengalami kiamat?” ucap Zen dengan tiba-tiba yang membuat Max menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kenapa kamu bisa memuntahkan omong kosong tidak jelas seperti itu?” tanya Max sambil menatap Zen dengan aneh.


Zen yang mendengar ucapannya hanya tersenyum kesal lalu mengubah ekspresinya sedetik kemudian dengan tatapan serius.


“Aku serius dengan apa yang ku ucapkan,” jelas Zen membuat Max yang tadinya berdiri kini duduk bersila di atas matras berhadapan langsung dengan Zen.


“Bisa kamu jelaskan apa maksudmu itu?” tanya Max.


“Aku akan menjelaskannya tapi pastikan jika kamu harus menepati permintaanku setelah aku selesai menceritakan semuanya,” pinta Zen yang membuat Max tersenyum miring.


“Sayang sekali tetapi aku tetap tidak akan menerima semua permintaanmu sebelum kamu memberikan sebuah bukti yang nyata,” jelas Max sambil memasang senyum menjengkelkan di wajahnya yang menurut Zen itu amat sangat menjengkelkan.


“Huh! Aku sudah mengetahuinya jika kamu akan mengatakan hal itu. Lalu aku akan memberikan sebuah bukti pertama yang akan membuatmu percaya,” jelas Zen membuat Max mengangkat satu alisnya.


“Dalam dua menit lagi, bumi akan mengalami fenomena aneh yang terjadi pada langit sehingga membuat langit menjadi gelap gulita,” jelas Zen membuat kening Max berkerut.


“Kamu bercanda? Bagaimana mungkin langit cerah didepan akan tertutupi awan hitam?” tanya Max dengan tidak percaya.


“Maka dari itu kamu hanya perlu membuktikannya saja bukan?” tanya Zen sambil melihat jendela lapangan indoor yang langsung menghadap kearah langit.


“Aku akan membuktikannya, jika ucapan mu benar aku akan mendengarkan penjelasan mu lebih lanjut, jika ucapan mu salah, maka jangan salahkan aku jika aku tidak akan menangapi permintaanmu bahkan jika kamu mengajukan permintaan lain,” jelas Max yang membuat Zen terdiam dan tidak


menanggapinya.


Setelah tidak ditanggapi oleh Zen, kini mata milik Max hanya terpaku melihat kearah jendela lapangan yang masih menampilkan langit berwarna biru dengan teriknya matahari yang bersinar.


Tanpa terasa Max sudah menatapnya selama dua menit dan langit itu masih belum menunjukkan perubahannya. Bahkan setelah memeriksa kembali waktu yang digunakan mengunakan jam tangan elektronik yang baru saja di pakainya.


“Hah! Kamu hanya berbicara omong kosong! Kalau begitu aku akan pergi,” seru Max sambil mengambil tas miliknya dan berjalan menuju pintu lapangan untuk membuka pintu tersebut dan keluar.


Tangannya berhenti dengan tiba-tiba saat matanya menangkap titik hitam yang menutupi sebagian langit dan dengan cepat menyebar menuju langit yang belum tertutupi.


“Bagaimana bisa?” tanya Max dengan tidak percaya.


“Tambahan untuk kondisi ini adalah seluruh peralatan elektronik bahkan handphone sekalipun tidak dapat dihidupkan setelah langit seluruhnya tertutup menjadi gelap gulita,” ucap Zen dengan pelan dan benar saja setelah langit itu tertutup menjadi gelap gulita seluruhnya lampu ruang lapangan tiba-tiba saja mati menjadikan seluruh lapangan itu menjadi gelap gulita.


“Hahaha, ini sangat mustahil untuk dipercaya,” ucap Max setelah melihat lampu lapangan mati secara tiba-tiba.

__ADS_1


Dengan segera tangan miliknya terulur kembali untuk menutup pintu lapangan dan jangan lupakan jika dia mengunci pintu lapangan itu dari dalam sehingga orang diluar tidak bisa masuk kedalam. Dengan Langkah perlahan, kini dirinya mulai duduk kembali di atas matras tempat dia duduk sebelumnya.


“Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Max dengan serius yang membuat kening Zen sedikit mengkerut.


“Tidakkah kamu ingin membuktikan terlebih dahulu dengan mengecek handphonemu?”


“Itu tidak perlu, lagipula jam tangan yang baru saja kupakai sudah mati sejak langit itu tertutup menjadi gelap gulita, kukira kondisinya akan sama dengan handphone karena jam tangan ini adalah jam tangan elektronik,” jelas Max dengan tenang yang membuat Zen menghela nafas kagum.


‘Aku sangat kagum dengan ketenangannya, bahkan disaat seperti ini dirinya masih bisa berpikir jernih. Di kehidupanku yang pertama, aku sudah menangis dengan panik karena mengalami fenomena yang janggal,’ batin Zen.


“Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Max mengulangi pertanyaannya kembali.


“Huhh, bukti yang kedua adalah langit akan kembali terang saat 1 jam kemudian, lebih tepatnya di jam 14.01,” jelas Zen.


“Apa itu termasuk alat elektronik?” tanya Max yang dibalas dengan anggukan oleh Zen.


“Lalu apa yang kamu maksud dengan langit yang akan kembali menjadi terang? Bukankah langit akan kembali seperti semula?” tanya Max setelah merasa janggal dengan ucapan Zen.


‘Sial kenapa dia sangat peka terhadap kalimatku?!’ batin Zen dengan frustasi tapi berekspresi datar diwajahnya.


“Yah, langit memang akan kembali terang hanya saja bukan berwarna biru seperti biasanya, melainkan berwarna merah ke oranye,” jelas Zen yang membuat Max mengangguk pelan.


Dengan tiba-tiba Max berdiri sambil menuju gudang yang membuat Zen menatapnya dengan bingung. Tidak berselang lama kini Max kembali dengan membawa bantalan tinju dan memasangnya di tempatnya lalu mulai berlatih tinjunya dengan tiba-tiba.


“Kenapa kamu berlatih dengan tiba-tiba?” tanya Zen dengan bingung.


“Hm? Bukankah seseorang dapat menebaknya dengan cukup jelas melalui perkataan mu? Jika benar apa yang kamu bilang itu terbukti maka sudah bisa dipastikan jika bumi mengalami kiamat,” ucap Max tanpa menghentikan gerakan tinjunya.


“Tapi apa hubungannya dengan berlatih?”


“Huft, jika menganalisis dari perkataan mu. Kiamat yang kamu maksudkan bukanlah fenomena yang terjadi oleh alam. Jika kiamat ini terjadi karena alam, maka seharusnya tidak akan terjadi fenomena seperti langit yang tertutupi sesuatu yang menjadikannya gelap gulita. Bukankah lebih baik jika menjatuhkan meteor saja secara langsung?” ucap Max dengan analisis yang bisa dilakukan dengan otaknya.


“Jika bukan oleh alam, maka ini adalah buatan manusia. Jika ini semua buatan manusia maka kiamat yang terjadi bisa diperkecil, seperti penyebaran virus aneh? Mutasi hewan yang diakibatkan oleh penelitian? Atau bahkan zombie?” tanya Max sambil mengingat salah satu novel bertahan hidup bertemakan zombie yang dibacanya dulu.


“Hahaha, zombie? Tapi itu tidak mungkin bukan?” tanya Max sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu melanjutkan latihan yang dilakukannya.


Tanpa Max sadari mata milik Zen sedikit membulat saat mendengar ucapan terakhir Max mengenai zombie.


‘Sial! Bagaimana bisa dia menganalisis hampir mencapai kebenarannya? Apakah dia seekor monster?’ batin Zen sambil bertanya-tanya lalu menetralkan kembali ekspresi wajahnya.


“Aku tidak mempunyai keluarga,” jawab Max lalu melanjutkan gerakannya akan tetapi dengan lebih keras dan cepat.


“Huh? Bukankah kamu memiliki seorang ibu? Dan lagi aku pernah melihat pria paruh baya mendatangi sekolah atas namamu, kukira dia ayahmu? Lagipula kamu terlihat mirip dengannya,” balas Zen.


“Ayahku sudah lama mati begitu juga dengan ibuku,” balas Max dengan acuh bertentangan sekali dengan gerakan latihannya yang semakin kuat seolah sedang melampiaskan amarah.


“Hahhhh, bagaimana denganmu? Tidakkah kamu mengkhawatirkan keluargamu?” tanya Max kembali sambil menyisir rambut biru tuanya kebelakang yang sudah dibasahi oleh keringat.


“Huh? Aku tidak memilikinya, lebih kearah aku tidak menganggap mereka berdua orang tuaku. Aku hanya mengkhawatirkan kakakku tetapi aku yakin kakakku pasti akan baik-baik saja, lagipula dia adalah seorang jenius. Ah, aku juga sedikit mengkhawatirkan kedua anak kecil yang berada di rumahku,” jelas Zen.


“Anak?” tanya Max dengan ekspresi aneh sambil menatap kearah Zen.


“Adopsi,” ralat Zen yang membuat Max mengangguk pelan.


“Kamu mengadopsi dua anak kecil di umurmu yang baru saja menginjak 17 tahun?” tanya Max.


“Awalnya iya, tapi surat adopsi itu di alihkan menjadi nama kakakku,” jelas Zen.


“Jika kamu mengetahui ini semua, bukankah berarti kamu sudah memberitahu mereka?”


“Yah, aku sudah memberitahu mereka, tapi tetap saja mereka berdua adalah anak kecil dengan yang paling tua berusia 13 tahun dan yang termuda berusia 7 tahun, bagaimana mungkin aku tidak khawatir?” ucap Zen yang diakhiri dengan gumaman pelan.


“Sekecil itu? Kenapa kamu mengadopsi mereka?”


“Kekerasan terhadap anak kecil,” jelas Zen yang membuat Max menghentikan gerakannya.


“Bagaimana dengan kedua orang tuanya?” tanya Max sambil menatap lurus kearah Zen.


“Aku tidak tahu mengenai ayah mereka karena mereka juga tidak menceritakan kepadaku, entahlah tapi kurasa mereka berdua tidak mengenal ayah mereka. Ibu mereka menjual mereka ke pengurus panti asuhan yang hanya menginginkan uang subsidi dari pemerintah,” jelas Zen dengan singkat tanpa mengetahui jika tangan milik Max sudah terkepal erat.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak segera pergi menemui mereka?” tanya Max lalu melanjutkan latihannya.


“Kurasa tidak perlu lagipula mereka berdua adalah anak yang pintar, tapi tetap saja aku tidak bisa menghentikan perasaan khawatirku. Sepertinya aku sudah benar-benar menjadi kakak mereka berdua.”


“Begitu, mereka beruntung bisa bertemu dengan orang sepertimu,” gumam Max dengan pelan.

__ADS_1


“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Zen yang dibalas gelengan pelan oleh Max.


“Jika apa yang kamu katakana itu benar, lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Max yang membuat Zen menoleh kearahnya.


“Kenapa aku harus memberitahumu jika aku saja belum yakin apa kamu akan bergabung denganku atau tidak?” ucap Zen yang membuat Max mengeram kesal.


“Kalau begitu beritahu aku satu kalimat saja agar aku bisa memiliki beberapa pemikiran untuk bisa menyamai tindakanmu nanti,” jelas Max yang membuat Zen semakin yakin jika semua bukti yang diucapkan olehnya benar maka Max akan berada di kelompoknya.


“Tentu saja bertahan hidup,” jelas Zen singkat yang membuat Max mengerti.


...----------------...


“Fin! Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?” tanya Mia setelah membuka pintu laboratorium dengan keras.


“Mia? Mengapa kamu ada disini? Bagaimana dengan mahasiswa dibawah?” tanya Fin saat menyadari jika yang membuka pintu laboratorium dengan keras adalah Mia.


“Huh! Aku sudah mengurus mereka semua dan sekarang mereka berada di aula sambil menunggu dengan tenang. Lalu dimana para professor dan kenapa hanya ada kamu disini?” tanya Mia yang dibalas dengusan keras oleh pria berambut perak dengan mata berwarna senada dengan rambutnya.


“Tidakkah kamu melihat jika aku juga berada di sini, nona?” tanya Neo dengan sinis.


“Ah, aku tidak melihatmu karena warna kulitmu yang hampir menyatu dengan kegelapan,” balas Mia dengan tidak kalah sinis.


Neo yang mendengarnya hanya tersenyum kesal dengan tangan yang terkepal dengan erat dan mulut yang bersiap untuk melayangkan protes.


“Hei, warna kulitku ini eksotis kamu tahu? Ditambah warnanya adalah coklat! Bukan hitam seperti kegelapan!” seru Neo dengan kesal yang hanya dibalas dengan dengusan ringan oleh Mia.


“Si-“


“Para professor sedang mengadakan rapat untuk membahas fenomena aneh ini dan kerja bagus Mia karena sudah menenangkan para mahasiswa,” ucap Fin memotong kalimat kasar yang akan dilontarkan oleh Neo.


“Begitu, lalu apa yang kalian berdua sedang lakukan?” tanya Mia sambil melihat berbagai tabung reaksi kimia yang berada di atas meja.


“Aku hanya sedang membuat pengukur elektronik atau bisa juga kita sebut dengan Sel Volta dengan menggunakan alat sederhana,” jelas Fin sambil menunjuk kearah batangan besi dan tembaga yang berada di atas meja.


“Pengukur elektronik? Tapi mengapa kamu membutuhkan tabung reaksi kimia dan zat kimia ini?” tanya Mia sambil menunjuk kearah tabung zat kimia yang menampilkan warna aneh menurut Mia.


“Aku tidak bisa menemukan batangan besi di dalam lab, aku hanya menemukan batangan besi yang sudah berkarat dan bahkan ukurannya sangat kecil, tapi aku bersyukur karena batangan besi sekecil itu masih bisa membuat Sel Volta. Semua tabung reaksi yang ada di atas meja adalah hasil perbuatan ku saat membuat natrium hidroksida untuk melunturkan korosi yang ada di dalam besi tersebut,” jelas Neo Panjang lebar yang mendapat anggukan kecil dari Mia sebagai balasan.


“Lalu bagaimana dengan hasil pengujian yang kalian lakukan?”


“Aku sudah menguji Sel Volta yang kami buat hanya saja kedua batangan besi ini tidak menunjukkan adanya tanda-tanda terjadinya reaksi reduksi atau penerimaan electron,” jelas Fin yang membuat Mia mengerutkan keningnya.


“Kalau begitu hanya ada dua kemungkinan, alat yang kalian buat gagal karena masih terdapat sebuah karat di besi tersebut atau tidak ada partikel listrik sehingga batangan besi tersebut tidak mengalami reaksi reduksi,” jelas Mia sambil menatap batangan besi dan tembaga tersebut.


“Kurasa aku lebih mempercayai analisis kedua, tapi tidak menutup kemungkinan jika analisis pertama juga berlaku, bagaimanapun natrium hidroksida hanya bisa mencegah berkaratnya besi sehingga membuat besi layak untuk digunakan sementara waktu untuk menyalurkan energi listrik,” gumam Mia sambil memandang besi yang berwarna kecoklatan akibat karat.


“Tapi yang menciptakan larutan natrium hidroksida itu adalah Neo, kurasa kamu tidak perlu meragukan itu,” balas Fin.


“Aku tahu itu, justru karena aku tahu, aku lebih berharap jika analisis pertamaku benar dan analisis keduaku yang salah,” ujar Mia dengan pelan yang membuat kedua pria itu memalingkan mukanya kearah lain.


“Lalu bagaimana dengan fenomena gerhana matahari tidak normal ini?” tanya Mia sambil menatap kearah langit yang masih gelap gulita.


“Aku tidak bisa melakukan apapun ditambah aku tidak bisa melihat matahari menggunakan teleskop,” ucap Fin yang membuat kening Mia berkerut.


“Kenapa?”


“Para professor itu tidak mengijinkannya,” jelas Neo singkat yang membuat Mia mengangguk mengerti.


“Hufft, aku harap fenomena aneh ini berakhir dengan cepat dan bumi tidak akan mengalami sesuatu yang buruk,” gumam Mia yang membuat Fin menunduk khawatir.


‘Bagaimana dengan keadaan Zen dan kedua anak kecil itu? Kuharap mereka baik-baik saja,’ batin Fin lalu menghela nafas untuk meredakan perasaan khawatirnya.


...| (❁❁) |...


...•...


...•...


...•...


Maaf jika ada typo yang tidak menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote, Komen nya ya Reader~San o(〃^▽^〃)o


Instagram : lmnr_vv

__ADS_1


__ADS_2