
...Part 10...
...🍁🍁🍁...
Zain membuka pintu ruang rawat Zareen, seketika netra hitamnya bertemu dengan sepasang mata indah nan sendu. Mata itu...
Zain tersadar, menetralkan kembali raut wajahnya, ia melangkah dan berhenti tepat di depan Zareen.
“Jadi kau bangun setelah saya hampir saja membunuhmu semalam?” Ck... Zain tertawa sumbang
Zareen masih berbaring, cuma tidak lagi memakai alat bantu pernafasan yang telah menemaninya hampir dua bulan ini. Zain menatap tubuh yang masih sangat lemah itu, tubuh yang jauh berbeda dengan saat pertama mereka bertemu, sekarang bagaikan kapas yang ringan, ia baru menyadari perubahan ini.
“Thanks Ell..”
“You are welcome sir, selamat untuk kesembuhan istri anda, perjuangan yang anda lakukan satu bulan lebih ini membuahkan hasil, sekali lagi selamat”. Ell tersenyum setelah melepas pandang ke arah Zareen, ia sungguh ikut bahagia dengan sadarnya Zareen dari koma, yang telah ia saksikan selama ini, perjuangan Zareen, dan juga... perjuangan suaminya.
“Katakan yang ringan-ringan saja dulu, jangan mengatakan sesuatu yang memberatkan pikirannya, keadaanya masih sangat lemah”.
Begitulah pesan yang Ell sematkan kepada Zain sebelum perawat yang baik hati itu pergi meninggalkan sepasang suami istri yang masih saling pandang tersebut.
“Anda siapa”?
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Zareen, sangat tampak guratan kebingungan di wajahnya yang masih terlihat pucat.
“Kau sudah sadar”?
Tidak menjawab, Zain malah balik bertanya
“I-Iya”
“Bagus, segeralah pulih, maka kita bisa pulang”.
Tak banyak yang Zain katakan, ia pun bingung harus mengatakan apa kepada Zareen. Apa ia sudah bisa mengatakannya sekarang? Menceritakan segala yang terjadi diantara mereka, dan mengatakan masalah “perceraian”. Tidak, dia tidak sekejam itu, Ell berpesan tadi untuk berbicara yang ringan-ringan dulu kepadanya, Zareen belum akan sanggup untuk memahami ini, biarlah dia istirahat dulu, nanti baru akan ia jelaskan semuanya.
Zareen bermenung, banyak pertanyaan yang bersarang dikepala urung ia tanyakan, tatapan pria itu sangat dingin, mengintimidasi, siapapun akan merasakan hal yang sama jika berada di posisi Zareen, dalam keadaan yang belum stabil, dihadapkan kepada orang yang hanya bisa memberikan tatapan membunuh, ya tuhan..
Keesokan harinya
“Apa kau sudah makan”?
“Tadi sudah, disuapi perawat barusan” Zareen menjawab dengan pandangan yang coba ia alihkan dari tatapan Zain
“Apa kau makan banyak”?
Terlihat guratan kebingungan diwajah Zareen
“Ah sudah pasti tidak, pasti makanannya terasa hambar dimulutmu. Kau mau makan apa, biar saya belikan”
“Tidak usah, biar saya makan masakan di sini saja”. Sanggah Zareen cepat, ia tidak mengenal Zain, jadi ia merasa tidaklah pantas baginya untuk merepotan Zain sebegininya.
“Ck, saya hanya menuntaskan tanggung jawab saya, dan saya tidak mau kau nanti tidak bisa berjalan sehabis keluar dari rumah sakit ini, lihatlah tubuh yang rapuh itu”
Zareen menunduk dan memainkan jarinya.
“Saya belikan apa saja, dan kamu harus memakannya.
__ADS_1
Zain beranjak keluar kemudian bergegas menuju cafe terdekat. Bagaimana bisa tubuhnya kurus sekali, umpat Zain kesal sendiri di dalam mobil. Ck apa dia lupa kalau istrinya itu selama dua bulan ini tidak makan dan minum layak dirinya, hanya melalui infus tuan, infus. Hufh.
*
“Hm iya bu, tunggu pemulihan dulu, setelah itu baru dia bisa dibawa pulang”
“Dia siapa”? Sanggah Ningsih
“Buuu....” Lirih Zain
“Dia yang dimaksud istrimu kan”?
“Iya ibu, Zareen, siapa lagi”. Zain hanya mendengus malas
“Sudahkah kau berdamai dengan hatimu nak?, Ikhlaskan segalanya, Allah maha tau apa yang terbaik buat hambanya, jangan pernah menyesali takdir hm, Semoga putra ibu mengerti”
“Ibu tunggu kepulangan kalian, jaga istrimu baik-baik ya nak, semoga ia lekas pulih, ibu gak sabar ingin bertemu kalian ” Ucap Ningsih kembira
“Hmm baik bu, ya sudah, Zain tutup dulu, nanti Zain kabarin lagi, Assalamu’alaikum Bu”
“Yang terbaik untuk Zain itu Ilna bu, dia sudah yang terbaik untuk Zain, takdir yang Zain dambakan, tapi semuanya hancur, karena dia”
Zain kembali melajukan mobil menuju rumah sakit, sejenak tadi ia berhenti di tepi jalan karena mendapati ponselnya berdering karena panggilan Ibu di Indonesia.
Sesampainya di rumah sakit, Zain memarkirkan mobil di bacement dan bergegas menuju ruang rawat Zareen.
“Ell, bisa ke ruangan sebentar”
“Ada apa Sir, apa terjadi sesuatu?”
“Oh tidak, saya membelikan beberapa makanan untuk Zareen”
“Ya tuan?”
“Ini, kau bantu suapi Zareen makan”. Zain menyodorkan dua bungkus makanan box ke hadapan Ell.
“Apa ini tuan”? Ell bingung dengan apa yang Zain lakukan
“Dia harus makan banyak, biar dia cepat pulih. Lihatlah badannya, sangat lemah dan kurus.
“Ya I know, dan Ms. Zareen sudah makan”
“Makan tapi sedikit”
Ell mencoba tetap tersenyum, mencoba memahami jalan pikiran laki-laki didepannya ini. Bukankah untuk saat ini istrinya tidak diperbolehkan makan makanan luar.
“Tenang saja, saya tidak membeli makanan junkfood sembarangan, ini hanya salad sayur dan nasi goreng”. Seakan mengerti dengan kekhawatiran Ell.
“Baiklah, saya akan pastikan Ms.Zareen memakan semua ini”
“Thanks Ell”.
“You Are Welcome sir”
Ell tersenyum melihat punggung Zain yang menghilang di balik tembok, “Rasa peduli itu ada tuan, di hatimu”
__ADS_1
“Exuesme Ms. Zareen”
Ell memasuki ruang Zareen
“Apa nyonya sudah tidur”?
“Oh Ell, belum, saya belum bisa tidur, ada apa Ell”. Zareen melihat jam di dinding, sudah hampir tengah malam, tidak waktunya untuk Ell mengganti infusnya.
“Nyonya makan dulu ya”. Ell membantu Zareen untuk duduk
“Tapi kan saya sudah makan tadi Ell”
“Sedikit, sekarang nyonya pasti akan makan banyak, Taraaa... Nasi goreng” Ell membua box tersebut dengan antusias.
“Nasi goreng Ell? Dimana kamu mendapatkannya?”
“Ada nyonya disini, orang-orang negara nyonya yang membuka restaurant dengan menu masakan Indonesia”
“Wahh beneran Ell”? Ada di Jerman?
“Benar nyonya, nyonya jangan kaget, malahan banyak nyonya, dari info yang pernah saya baca di salah satu tabloid, bahkan di Belanda ada rumah makan Padang ha ha, hebatkan nyonya” Oceh Ell sambil terus menyuapi Zareen
“Terimakasih Ell”. Ucap Zareen setelah memberikan gelas air minum kepada Ell
“You are welcome, saya ikut senang kalau akhirnya nyonya bisa makan sedikit lebih banyak, itu akan mengembalikan lagi tanaga nyonya”
“Iya Ell, mungkin obatnya memang masakan rumah" Zreen tertawa malu
“Ha ha iya nyonya, dan ini saya membawa beberapa buku, nyonya bisa baca jika nyonya merasa suntuk, saya letakan di laci ya”
“Oh thanks Ell”
“Lekas sembuh nyonya”. Ell berbalik keluar dan menutup rapat pintu ruang Zareen.
“Oh hello sir?”
“Apa dia memakan makanannya?” Tanya Zain di seberang sana
“Memang tidak sia-sia perjuangan tuan mencari masakan Indonesia di Jerman, Ms Zareen makan banyak sir”
“Baguslah, thanks Ell”
“You are welocome sir”
Zain meletakan handphonenya di nakas samping, dan merebahkan tubuh ke king size kamarnya, ia akan tertidur dengan tenang hari ini, akhirnya.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hy Readers...
Yah akhirnya aku mendapatkan juga kesempatan untuk menyapa-nyapa pembaca kayak gini ha ha
Makasih buat yang udah membaca cerita amatir dari @momijizaeen ini sampai part ini, ini cerita pertama ku, sudah jelas juga ya kalau ini sangat amatir, yaa hanya mencoba aja, berawal dari hobi membaca novel, sekarang jadi penasaran ingin mencoba nulis juga, gak berharap banyak kok, hanya semoga ada yang suka hihi dan juga cerita ini memberi manfaat.
__ADS_1
Thanks yaa,,, untuk yang udah mau membuka coretan awal ku ini, mudah-mudahan besok jadi banyak deh yang baca ha ha. Aamiin...
Mohon suportnya ya readers, seperti di awal, jikalau ada kesalahan, baik dalam penulisan atau dalam penggunaan kata, mohon di kasih tau ya, agar aku bisa lansung memperbaiki, thanks ya guyssss ☺