SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Flight to Japan


__ADS_3

...Part 38...


...🍁🍁🍁...


Dan benar saja, mulai hari ini satu persatu mimpi Zareen akan terwujud. Tanpa sepengetahuannya, suaminya Zain telah menyiapkan semua untuk itu. Zareen berlari kebawah dengan tangan yang memegang two flight ticket.


“Mas...Mas...”


“Hemmm...”. Dehememan Zain sembari terus mengikat tali sepatunya.


“Ini...?”. Dengan nafas yang tersengal Zareen menunjuk dua tiket tersebut.


“Kamu pripared ya, besok kita berangkat”.


“Ke Jepang Mas?”


“Iya sayang, ke Jepang”.


“Iya iya Mas”. Zareen mengangguk antusias. Dan senyum manis itu kembali berhasil membuat Zain terpana, tidak terhitung sudah berapa kali ia jatuh pada pesona gadis yang telah halal baginya ini. Lalu ia mendekat dan mencium kepala sang istri, sungguh ia menyayangi.


“Mas ke kantor dulu ya, buat menyelesaikan segala yang akan Mas tinggal selama kita pergi besok. Kamu hati-hati dirumah ya”. Ia mengusap rambut yang di ikat cepol itu.


“Iya Mas, Mas hati-hati juga ya di jalan”. Ucapnya sambil menyalim tangan sang suami.


“Assalamualaikum sayangku”.


“Waalaikumsalam Mas...


"Daa Mas”.


Zareen melambaikan tangan pada mobil yang mulai berjalan meninggalkan perkarangan rumah mereka, dan bergegas menutup pintu mengingat ia yang tidak memakai kerudungnya. Dengan senyum yang terus tertera di wajah nan tembem itu ia kembali ke kamar, menyiapkan segala keperluan ia dan suami nantinya selama di Jepang.


Bandara Soekarno Hatta, Jakarta


Ningsih dan Reza ikut mengantarkan mereka, Gema tentunya tidak bisa karena ia harus berangkat ke sekolah.


“Kamit pamit ya Bu”.


“Iya nak, semoga selamat sampai tujuan, jaga istrimu baik-baik”. Titah Ibu pada putranya yang baru saja mencium kedua pipinya.


“Pasti Zain jaga bu, karena ini adalah harta paling beharga Zain”.


“Pintar kamu menggombal sekarang ya”. Ibu terkekeh dan mencubit hidung putranya.


“Sayang, meskipun kalian kesana untuk liburan, tapi kamu gak boleh terlalu kecapean ya, ingat itu”. Ningsih beralih pada menantunya yang terus tersenyum melihat interaksi ia dan putranya.


“Iya bu, Za ingat bu”. Ningsih tersenyum mengusap pipi menantunya.


“Udah sayang, masuk sana!”.


“Tolong jagain Ibu dan Gema”. Zain beralih pada Reza, sahabat tengilnya ini.


“Siap itu, jangan kamu cemaskan, aman!”. Jawab Reza sambil mengacungkan satu jempol.


“Thanks, saya jalan dulu”.


“Have fun Boss”. Teriak Reza di belakang Reza dan Zareen yang sudah berjalan menuju boarding lounge utuk menunggu panggilan boarding penerbangan mereka.

__ADS_1


“Di dekat jendela kan?”


“Iya Mas”. Zareen menjawab cepat dan langsung duduk di dekat jendela.


Zain tersenyum, saat chek-in ia memang memilihkan kursi dekat jendela untuk sang istri. Dan iapun ikut duduk pada kursinya di sebelah Zareen.


“Bismillah...”. Zain melirik pada kekasih hatinya dan mengenggam tangannya.


Binar mata itu balik menatapnya, “Bismillah...”.


Dan dua insan itu memulai traveling mereka. Selama perjalanan Zareen yang memilih untuk tetap terjaga, ia tidak mau tidur, mungkin karena rasa senang yang membuncah sehingga matanya tidak sedikitpun mengantuk seperti kebiasaannya ketika perjalanan jauh.


Dan setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam dua puluh menit, pesawat mereka landing dengan selamat di International Airport Narita.


Zain memilih satu layanan antar jemput yang telah siap menunggu wisatawan seperti mereka di depan. Taxi itu mengantarkan mereka ke hotel berbintang yang telah Zain pesan sebelumnya.


“Thanks Sir”. Zain dan Zareen turun dari mobil, dan seketika pelayan concierge hotel dengan ramahnya langsung menyambut mereka membawakan barang bawaan mereka, kemudian menuntun mereka ke kamar yang telah mereka persiapkan sesuai permintaan.


“Sampai disini saja, biar saya sendiri yang membuka pintunya”. Petugas tersebut dengan sopan memberikan kunci kamar kepada Zain.


“Thanks”. Zain mengucap terimakasih dengan sedikit menundukan badan sama sepeti kebiasan dan budaya di sana.


Dan begitu pintu itu terbuka Zareen langsung dibuat terpana. Ia disambut dengan ratusan tangkai mawar putih yang mengisi setiap sudut kamar putih yang luas itu.


Ia mengalih pandang ke samping, pada suami yang memandangnya tersenyum.


“Silahkan masuk istrinya Mas”.


Zareen tersenyum simpul dan melanjutkan langkahnya memasuki kamar mewah yang berdesain modern.


Zareen melangkah pelan, dengan wajah yang terus dihiasi senyum Zareen mengedar pandang menyusuri setiap sudut yang dipenuhi mawar dengan warna putih dominan.


Ia berbalik, sungguh ia ingin melihat wajah suaminya.


“Mas...”


“Iya Sayang”.


“Terimakasih”.


“Kamu suka?”


“Iya Mas, lebih dari suka”


“Berarti cinta ya?”. Sanggah Zain terkekeh


“Kalau itu yang lebihnya, berarti iya Mas”.


“Berarti kamu cinta donk sama Mas?”.


Zareen menunduk malu, Zain terkekeh dan membawa sang istri ke dalam pelukannya. Mereka memilih untuk beristirahat dulu, melepaskan lelah selama diperjalanan tadi.


“Mas, Za lapar”.


“He he baiklah, Mas ke bawah dulu. Kita makan disini saja”.


Zain turun ke restaurant untuk mengambil beberapa menu untuk ia dan istri. Zain memilah makanan yang aman untuk muslim. Setelah dirasa cukup ia bergegas kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


“Kenapa gak makan di bawah aja sih Mas, kan repot Mas mesti jemput segala”.


“Kamu pasti capek kan, jadi gak apa-apa kita makan disini saja”.


“Iya juga sih Mas he he”.


Zain dan Zareen menikmati menu racikan tangan koki handal itu dengan khidmat. Setelah kenyang mereka selonjoran di atas sofa yang menghadap pada kaca besar yang memperlihatkan sebagian keindahan Tokyo dengan gedung-gedung pencakar langitnya.


“Mas...”.


“Hemmm”. Gumam Zain melirik pada wanita yang tengah bersandar di bahunya.


“Kapan sih Mas menyiapkan semua ini?”


“Gak Mas sayang yang menyiapkan, tapi orang-orang tadi”.


“Iyaaa... Mereka kerja kan karena ada permintaan”.


“He he iya iya.


...semalam sayang”.


“Hmmm... Makasih ya Mas.”. Zareen menegadahkan kepala mencari manik indah suaminya.


...Mas udah bawa aku ke sini, dan sudah mau repot-repot untuk menyiapkan semua ini”.


“Iya sayang, sama-sama”. Ucap Zain sambil menegakan tubuh menghadap Zareen.


“Berarti Mas udah bisa donk ya mendapatkan pengakuan cinta dari kamu?!”. Ucap Zain dengan kekehannya


“Dari dulu juga perasaan aku udah ngakuin deh”.


“Kapan?. Belum deh kayaknya”.


“Udah Mas”.


“Belum sayang, belum pernah kamu bilang cinta ke Mas”.


“Udah Mas, udah dua kali juga aku rasa. Ish masak Mas bia lupa sih moement itu”.


“Moment apa?”. Tanya Zain terus menggoda istrinya.


“Moment indah itu Mas, dimana kita saling mengungkapkan perasaan kita masing-masing waktu itu. Ya Allah, Mas lupain itu?”.


“Ha ha gak sayang, Mas gak lupa. Malam itu akan selalu Mas kenang, malam dimana Mas menemukan jawaban dari hati Mas, dan malam dimana Allah menjawab do’a Mas dengan kamu yang mau untuk membuka kembali hatimu untuk Mas”.


Zareen tersenyum, kemudian ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan nan kekar itu.


“I Love You My Love”.


Dan seketika senyum merekah terbit di bibir Zain.


“Love You To Sayang, More and More”.


Mendekat dan menyatukan kening mereka, kedua pasang manik yang saling tertaut, dan senyum manis yang sama-sama menyapa. Ditemani debaran jantung yang kian berirama, kedua insan itu terhanyut dalam manisnya asmara yang telah mengikat kedua hatinya.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


🌹


Nb: Di Jepang bukan suatu hal yang bagus untuk memberikan "Tip" yaaa, mereka tidak akan menyukainya dan sebaliknya mereka akan merasa tersinggung, jd berbeda dengan kebiasaan kebanyakan yang kita temukan😃


__ADS_2