SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Alasan Berjuang


__ADS_3

...Part 15...


...🍁🍁🍁...


Seperti biasanya, Zareen bangun lebih awal, ia mengambil wudhu dan melaksanakan dua rakaat sunnah tahajjud. Di sini, ia akan mencurahkan segalanya, segala keluh kesah, kesedihan, kegundahan dan kekecewaan yang ia rasa. Manusia normal tentu akan memiliki emosi-emosi ini, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya, dan Zareen memilih untuk mengembalikan kepada yang punya kuasa atas segalanya, karena dengan kembali kepada yang punya, meskipun terkadang tidak langsung Allah tunjukan solusi, tapi satuhal yang pasti, hatinya akan terasa lebih tenang, ketimbang bercerita kepada sesama makhluk.


Setelah itu, Zareen turun untuk menyiapakan sarapan ia dan suami. Dilihat suami yang turun dengan pakaian yang telah rapi, Zareen mengambil roti kemudian mengoleskan slai dan menarohnya di piring.


“Ini Mas”


“Hmm” Zain menjawab


Zain mulai memakan roti isi selai blueberry itu.


“Hari ini kamu tidak ke panti kan”?


“Hmm tidak Mas”


“Bagus, jangan keluar, stay di rumah saja”


“Baik Mas” Zareen mengangguk mengiyakan dengan tatapan sedikit membola.


“Apa bahan masakan yang harus saya beli”?


“Bentar bentar Mas, aku cek dulu”. Zareen yang masih tidak percaya sontak langsung berdiri dan memeriksa isi kulkas


Tidak lama setelah itu ia mengambil pena, mencatat dan menyerahkan catatan itu kepada Zain.


“Ini Mas”


Tanpa berucap apapun Zain mengambil kertas kuning itu kemudian beranjak dari tempat duduk dan tanpa salam ia keluar.


Zareen yang masih kebingungan, rasa tidak percaya dengan yang barusan terjadi, ini percakapan dan interaksi terpanjang mereka selama pernikahan. Tentunya interaksi tanpa debat dan saling mencari pembenaran.


*


“Sayang, aku sudah di cafe nih dari tadi, kamu udah dimana”

__ADS_1


“Astaga, oke oke baby, kamu tunggu aku ya, aku langsung ke sana”


“Iya, dah sayang”


Zain bergegas menuju lift, bagaimana ia lupa kalau ia ada janji bertemu dengan Ilna malam ini, mungkin karena mengejarkan proyek gedung yang akan dibangun dalam waktu dekat ini, ia jadi lupa waktu untuk bekerja. Untung saja kekasihnya mau mengerti dan tidak marah, Ilna memang wanita yang penuh kasih sayang, ia tau itu.


“Udah pesan kah”


“Sudah, thai tea seperti biasanya”


Ilna tersenyum dan Zain sangat suka senyum itu.


“Mengejar target boleh, tapi jangan lupa waktu juga donk yank,


Sampai-sampai aku dilupakan”


“I’m sorry baby, bukan sengaja ngelupain, kamu tau kan aku gimana, cuma sekarang memang aku tu harus fokus banget sama proyek kerja sama yang baru ini,bagaimana caranya agar aku dapetin tender ini, karena proyek kali ini bernilai triliunan baby, ini impian aku dari dulu sejak awal merintis perusahaan ini”


“I know that, dan aku sekarang bukan lagi apa-apa untukmu”


“Iyah, aku ngerasa kalau aku tu bukan apa-apa lagi buat kamu, bukan proyek besar, dan bukan calon istri yang sedang kamu perjuangkan”


“Kamu segala dari tujuan aku, kamu sesuatu yang tengah aku perjuangkan, kamu tau kan, aku kerja segininya itu buat kamu, dari dulu aku jatuh bangun mendirikan perusahaan ini, kamulah salah satu alasan aku, biar nanti aku bisa datang ke Mamah dengan keadaan siap dan mapan, kamulah prioritas aku, jadi tolong, temenin aku dalam berjuang hm”


“Sayang, maafkan aku ya, aku bukan maksud untuk menambah beban pikiran kamu, aku ngerti sayang, dan sekarang perusahaan kamu udah makin gede, aku rasa kamu udah bisa datang ke rumah dan nemuin Mamah”


“Beri aku waktu satu bulan lagi ya, setelah proyek ini benar-benar aku dapaetin, maka aku baru percaya diri untuk nemuin Mamah”


“Hmm yah, aku akan tunggu” Ilna tersenyum dan menggenggam tangan Zain


“Dan untuk Zareen, gimana”?


Zain menatap wajah Ilna, baru ia tersadar bahwa ada masalah lain yang menjadi halangannya untuk meminang Ilna, ialah seorang istri.


“Begitu proyek ini selesai, aku akan bilang semuanya ke Ibu, aku akan ceritain semuanya, dan saat itu juga aku akan jatuhkan talak untuk Zareen”


“Semoga saja Ibu negrti ya, dan setelelah itu kita benar-benar bisa untuk menikah”

__ADS_1


Zain tersenyum, dan mengiyakan apa yang Ilna ucap.


...🍁🍁🍁...


“Zain, sudah jam setengah sebelas, sudah sangat larut Zain, sebaiknya kita lanjutkan besok saja lagi”


“Tidak ada waktu lagi, desain ini harus benar-benar sempurna”


“Untuk apa kau memiliki tim desain grafis kalau semuanya tetap kau yang melakukan, apa kau tidak percaya kemampuan karyawanmu sendiri ha?”


“Semua ini benar-benar harus perfect, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun”


Reza menghela nafas, bagaimana cara mengingatkan sahabatnya ini bahwa tubuhnyapun memiliki hak untuk beristirahat, ia tau Zain itu gila kerja, itu sangat tampak sejak kematian sang Ayah, dan karena itu jualah MF Internasional Group bisa sejaya ini, tapi ini benar-benar sudah sangat berlebihan, sudah hampir satu minggu ini ia selalu lembur hingga tengah malam begini, memaksa untuk tetap terjaga.


“Zain, berjuang boleh, tapi juga tidak baik jika kau terlalu memaksakan diri seperti ini, jika rezki kita maka mereka akan memilih jasa kita”


“Kau tidak tau arti perjuangan yang sebenarnya, saya harus mendapatan proyek kerja sama ini, ini akan menjadi mahar untuk pernikahan saya dengan Ilna nanti”


“Ck, kau melupakan sesuatu Zain, tanggung jawabmu yang sebenarnya, alasan sebenarnya yang boleh membuatmu berjuang mati-matian seperti ini”. Reza tersenyum miring.


Gerakan tangan Zain berhenti seketika, ia melihat pintu yang ditutup Reza dari luar “kau melupakan sesuatu Zain, tanggung jawabmu yang sebenarnya, alasan sebenarnya yang boleh membuatmu berjuang mati-matian seperti ini”, kata-kata Reza barusan menyentil hatinya. Tidak tidak, alasan dia berjuang seperti ini adalah Ilna, dan dari dulu seperti itu, ia akan mewujudkan mimpi Ilna, mimpi mereka, rencana yang telah mereka susun dengan sempurna.


Akhirnya tepat jarum jam menunjukan jam dua belas, Zain baru sampai di rumah. Zain membuka pintu dengan kunci pegangannya. Dengan langkah lelah Zain masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Zain mengarahkan langkahnya ke dapur, dan benar saja, tubuh itu terlelap dengan berbantalkan tangan di meja makan, lagi. Zain menghela nafas kemudian ia mengambil tempat duduk tepat di depan Zareen, ia menatap wajah nan sendu itu,


“Kenapa kau mesti melakukan ini?, kau tidak harus memenuhi semua kewajibanmu sebagai istri, saya tidak menuntutnya”.


Zain juga meletakan kedua tangan di meja yang ia jadikan sandaran untuk kepalanya, sama seperti yang di lakukan gadis di depannya.


“Selama menjadi istri saya, kau telah melakukannya dengan baik, meski dipenuhi dengan kesenduan, dan itu sangat tidak mudah bagimu, saya tau itu”.


Zain menghela nafas, kemudian melanjutkan kata-katanya


Oleh sebab itu, saya segera akan mengakhiri semua ini, segala belenggu ini, setelah itu kita akan kembali ke jalan hidup kita masing-masing, takdir kita masing-masing, takdir indah yang telah kita susun”.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2