
...Part 16...
...🍁🍁🍁...
Hari ini adalah hari pertemuan pemegang saham dan para vendor perusahaan besar di Indonesia. Perusahaan yang sangat terkemuka di Dubai menyebar undangan bagi mereka untuk mengikuti tender baru yang akan melibatkan anak perusahaan mereka yang ada di Indonesia. Tender yang bernilai triliunan ini adalah mimpi bagi para direktur dan CEO musim ini. Dan, Zain adalah salah satu orang yang sangat berjuang keras untuk mewujudkan mimpi ini.
“Apa semuanya sudah clear?”
“Insyaallah sudah”. Reza menjawab dengan mantap
Zain menghela nafas, merapikan kembali dasi dan suit abu muda yang ia kenakan, ia melangkah memasuki ruangan rapat, Zain tertegun, netranya menangkap sosok pria yang tidak ingin ia lihat, Fery.
Zain terus melangkah mengabaikan tatapan dari seberang yang memandang dengan senyum miring di wajahnya.
Tidak lama setelah itu direktur Dubai Properties masuk, dengan hormat ia memberi salam dan menyapa tamunya yang datang dengan segala kesiapan.
Aula yang megah ini menjadi medan pertempuran bagi para vendor yang memperebutkan tender, segala yang terbaik mereka coba lakukan, hingga sampai kepada presentasi desain yang terakhir, Zain dengan langkah yang mantap maju kedepan, ia menarik nafas sejenak kemudian dengan tenang ia mulai menjelaskan rancangan desain bangunan yang akan ia tawarkan kepada direktur Dubai Properties. Dengan segala persiapan yang telah ia dan karyawan MF International Group usahakan dengan semaksimal mungkin, ia yakin bahwa tender ini akan menjadi milikny. Zain menutup presentasinya dan dengan hormat memberi salam.
“Terimakasih kepada tuan-tuan yang telah memperlihatkan rancangan desainnya. Ini adalah rancangan-rancangan yang luar biasa, kami merasa tersanjung dengan upaya dan usaha yang tuan-tuan lakukan. Dengan perusahaan manapun nantinya kami akan bekerja sama, kami yakin kami tidak akan kecewa”. Tutur pemimpin rapat
“Baiklah tuan-tuan semua, setelah kami melihat dan mempertimbangkan, maka kami memutuskan untuk mengambil desain dari United Agung Prakarsa, milik Tuan Fery Prakarsa”.
Zain termangu, matanya menatap tidak percaya kepada Fery, Fery yang menyadari arti tatapan Zain itu tersenyum miring.
Tangannya mengepal, sedetik kemudian Zain beranjak dari duduknya dan meninggalkan aula dengan sorak riuh manusia didalamnya.
MF Iternational Group
“Arghhh... **** ...!!!”
“Sialan, brengsek lo Fery brengsek”. Zain membanting benda-benda yang ada di atas mejanya.
“Zain, jangan seperti ini, tenangkan dirimu”
“Lo gak tau betapa berartinya tender ini bagi saya Reza, ini adalah mimpi saya”
“ Ini adalah hal yang berada di luar kendali kita, tugas kita hanya berusaha, berusaha semampu kita. Bukankah kita sudah mengupayakan segala yang terbaik selama ini, kita sudah mengerahkan segala yang kita mampu Zain. Dan sekarang tender itu tidak berhasil kita menangkan, maka kita bisa apa, berarti itu belum rezeki kita.
“Arghhhh brengsek, pergi lo, gw gak butuh ceramah lo, pergi!!!”
“Ingat Zain, kita itu ber-tuhan, jangan sampai kamu melupakan kodrat kamu sebagai seorang hamba”. Reza berbalik dan menutup pintu.
Zain duduk dan merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, merebahkan kepala ke belakang sambil terus memijatnya.
“Ilna”
Zain berdiri bergegas mengambil handphonenya dan mencari kontak kekasih, tidak lama panggilanpun tersambung,
__ADS_1
“Hallo sayang”
“Ah iya Zain, baru saja aku mau menghubungi kamu”
“Iya sayang, ada apa”?. Zain mencoba tetap tenang menanggapi Ilna, menekan segala kegelisahannya. Tidak tidak, ia akan menjelaskan dengan baik, bukankah Ilna selalu bisa memahaminya.
“Kita ketemu ya, di tempat biasa, aku udah nyampe ni”.
Deg.. Jantung Zain serasa di remas tangan tak kasat mata
“Oke sayang, kamu tunggu aku ya, aku jalan sekarang”.
Zain berlari ke mobil, mengabaikan pakaian yang tidak terlihat rapi lagi, ia bergegas menuju cafe langganan dirinya dan Ilna.
Sesampainya di sana Zain mengedarkan pandangan dan terlihat Ilna yang duduk sambil mengesap minumannya di meja paling kanan belakang.
“Sayang, aku gak telat kan”? Zain duduk dengan nafas yang sedikit memburu, ia benar-benar kacau.
“Kamu udah makan?”
Zain menggeleng
“Kita pesan makan dulu ya”. Ucap Ilna sambil terseyum, kemudian ia memanggil waiters dan memesan beberapa menu makanan dan minuman untuk Zain.
Setelah pesanan mereka tiba, Zain dan Ilna makan dalam keheningan, hingga makanan itu habis.
“Sayang..
Zain termangu mendengar perkataan kekasih, apa maksudnya ini?
“Sayang...
“Tapi aku yakin kebiasan buruk kamu ini akan segera berhenti, karena kamu memiliki istri yang teramat peduli denganmu, bukankah begitu?” Lagi Ilna mendahului Zain yang hendak berucap.
“Ilna stop!” Zain meninggikan suaranya
“Zain, aku sudah memutuskan, kita akhiri semuanya sekarang. Dan Zareen, dia adalah wanita yang baik, jangan ceraikan dia”.
Ilna beranjak dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan Zain yang masih belum sadar dengan keterkejutannya.
“No no no, Ilna, Ilna sayang...”. Zain berdiri dan langsung berlari mengejar Ilna
“Sayang please jangan gini, Ilna!!!”
Mobil Ilna sudah jauh meninggalkan cafe, meninggalkan Zain dengan nafas yang tersengal dan wajah yang gusar. “Arghh”
*
__ADS_1
Zain membuka pintu rumah dengan bantingan, sehingga menimbulkan suara dentuman yang menggema memenuhi rumah. Zareen yang berada di dapur berlari ke ruang tamu dimana Ningsih dan Gema berada.
“Ada apa Bu”? Tanya Zareen panik
“Perempuan ini, perempuan pembawa sial”. Dengan gerahang yang mengeras Zain berjalan mendekat dan mengacungkan telunjuknya tepat di wajah Zareen.
“Zain!!!”. Tegur Ibu
“Zain tenangkan dirimu nak, kita duduk dulu ya, kita bicara baik-baik sa sayang, ada apa ha, kenapa nak”?
“Hidup saya hancur karena perempuan ini bu, mimpi saya hancur, impian saya membangun rumah tangga bersama orang yang sangat saya cintai hancur bu, gara-gara perempuan ini Ilna pergi, Ilna meninggalkan saya, dia meninggalkan saya bu ! semua itu gara-gara perempuan sialan ini!!!”. Bentak Zain dengan teriakan yang menggema.
Gema yang sedari tadi hanya menyaksikan dari sofa, berlari dan memegang tangan sang kakak, ia cukup mengerti dengan apa yang terjadi ini.
“Zain, sabar sayang, jangan meninggikan suaramu di depan istrimu nak, jangan menakuti istrimu”
“Istri istri istri,,, Arghhhh....!” Zain memukul dinding di belakangnya dengan sangat keras, ruas-ruas jari itu meninggalkan jejak merah di dinding.
“Mas...” Dengan air mata yang telah bercucuran Zareen mencoba untuk memegang lengan Zain. Namun Zain menepis
“Kamu tidak seharusnya menjadi istri saya, dan kamu tidak pantas untuk itu. yang seharusnya saya nikahi sekarang itu adalah Ilna, wanita yang saya cintai. Bukan kamu!!!”
“Sekarang kamu pergi dari rumah saya, pulanglah ke rumah Ibumu”
“Zain!!!”
‘Pergi...!!!”
Zareen menggeleng dengan air mata yang terus berderai, tidak lama setelah itu ia berlari ke kamar dan mengemasi barang-barangnya. Hanya sedikit yang ia bawa, beberapa set pakaiannya dan satu tas jinjing.
“Iza Iza jangan nak, kamu gak perlu pergi, jangan dengarkan omongan Zain nak, dia sedang emosi”
“Gak buk, mungkin memang sudah seharusnya seperti ini, bahkan semestinya sejak awal”.
“Sayang,,, jangan berbicara seperti itu”
“Biarkan dia pergi Bu”
“Maafkan Iza Bu”
Zareen menarik tangan Gema, dengan derai aiar mata Zareen meninggalkan rumah yang ia tinggali tiga bulan ini, rumah pernikahan mereka, ya Zareen menggapnya begitu.
“Zain... Ini bukanlah Zain anak saya”. Ningsih menggeleng dan pergi.
“Arghhhh...” sekali lagi kepalan tangan itu menghantam dinding.
TO BE CONTINUE
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹