SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Kemuliaan Wanita


__ADS_3

...Part 23...


...🍁🍁🍁...


Sehabis shalat subuh Zain tidak tertidur lagi, ia terjaga hingga saat sekarang, mentari sudah menyinsing, menampakan silau keemasan di ufuknya, hamparan sawah hijau yang dikelilingi bukit-bukit yang membiru.


“Fiuh..”. Zain menghembuskan nafas, sungguh Allah sang maha pencipta, kebaikannya melebihi langit dan bumi.


Panorama ini membuat Zain betah berdiri berlama-lama di depan jendela kamar Gema yang ia buka, bahkan tangannya yang mulai dingin karena hembusan angin pagi belumlah membuat ia surut, hingga barulah ketukan di pintu menghentikan Zain dari lamunannya.


Zain berjalan ke pintu dan membukanya, disana netranya menatap lekat sepasang mata nan indah, mata yang sering ia buat menangis karena pedihnya luka-luka yang ia goreskan.


Beberapa detik kemudian manik nan indah itu merunduk, Zain kehilangan.


“Mas, minum dulu, Ayah menunggumu di ruang tamu”


“Baiklah”, dengan senyum yang merekah Zain menyahuti.


Kemudian ia berjalan mengekori Zareen dengan mata yang tak lepas dari tubuh setinggi bahunya itu.


“Ya Allah, ku rasakan hatiku yang berdebar untuknya, bibir ini sering merekah karenanya, ku menyukai binar yang terbit dari matanya, ku menyukai senyum yang melengkung di kedua bilah bibirnya, ku menyukai kesantunan yang sering ia tawarkan untuk sesama, ku menyukai ujung jilbabnya yang bergerak karena hembusan angin, oh tuhan, sungguh ku menyukainya. Sudah sepatutnya aku merasakan ini kan ya Allah?. Sesalku kenapa semua ini baru ku rasa sekarang, saat ia tak lagi menawarkan senyum nan indah itu, saat ia lebih sering murunduk dan menyembunyikan binar yang ku suka itu, saat kesantunannya kepadaku tidak sehangat dan seramah dulu, sesal ku ya rob, sungguh ku ingin memutar kembali waktu, tolong kembalikan dia Ya Rob, istriku”


“Duduklah”.


“Baik Ayah”. Zain mengiyakan kemudian duduk di seberang Ayah.


“Ini minumlah, “Teh Talua”.


Zain melihat cangkir yang yang penuh dengan air kental bewarna kuning kecoklatan dengan gelembung-gelembung kecil di bagian atasnya. Sangat terlihat gurat pertanyaan di wajahnya, minuman apa ini.


Ayah sedikit terkekeh kemudian menjawab kebingungan Zain, “Kami menyebutnya “Teh Talua”, jika di bahasa nasionalkan itu artinya Teh Telur”.


Zain mengangguk, tampaknya ia mulai mengerti, dan Ayah melanjutkan.


Ini adalah minuman khas disini, Sumatera Barat. Kami yang terkusus kalangan laki-laki biasa meminumnya di pagi hari, sebagai sarapanlah istilahnya untuk orang kota. Itulah mengapa kami menyebutnya Minum pagi, bukan sarapan pagi.


“Oooo begitu Yah”. Zain kembali mengangguk dengan antusias memerhatikan Ayah, sesekali melirik “Teh Talua” itu.


“Teh talua ini berisikan campuran teh, gula, telur dan sedikit perasan jeruk nipis yang berguna menetralisir bau amis dari telurnya. Minuman ini mengandung banyak khasiat, diantaranya untuk menjaga kesehatan mata, menambah energi, memenuhi kebutuhan vitamin tubuh, dan yang jelas untuk mendunda lapar”. Tutur Ayah panjang lebar


“Cobalah”

__ADS_1


“Baik Yah”, dengan ragu Zain mengangkat cangkir kemudian menyesapnya sedikit. Zain mengerutkan kening, namun menyesap untuk kedua kalinya. Dan yeah, rasanya tidak seburuk yang ia bayangkan, manis yang dominan dengan aroma jeruk yang lebih kuat dibandingkan aroma amis telurnya.


“Tidak terasa aneh dimulutmu”?


“Sedikit yah, tapi tetap bisa di telan”. Tukas Zain diiringi tawa ringan


“Nah ini dia”. Ayah berseru saat Zareen datang membawa piring yang berisi goreng singkong dan meletakannya di meja.


“Termakasih nak”.


“Iy yah, masih panas yah, jangan di ambil dulu”. Zareen memperingatkan, kemudian berbalik untuk kembali ke dapur.


“Benarlah Islam sangat memuliakan wanita”.


Mendengar ucapan Ayah Zain memutar kepalanya dari punggung Zareen kembali menghadap Ayah.


“I-iya yah?”


“Saat kecil mereka menjadi anak, yang memiliki tanggung jawab untuk mentaati orang tuanya. Dan saat dewasa ia menjadi istri, yang mengemban tanggung jawab lebih besar untuk rumah dan suaminya”.


Zain merunduk menggulir pandang ke lantai, dengan tangan yang saling bertaut, “Benar yah”


Ayah melanjutkan


Saya dulu memiliki ibu yang mengutamakan kebahagian suami dan anak-anaknya di atas kebahagaiannya, dan Zareen juga menemukan ibu yang menjadikan kebahagian kami prioritas ketimbang kebahagiaannya. Dan insyaallah, Zareen juga akan menjadi wanita seperti itu, karena ia mengagumi sosok ibunya.


Zain menengadah dan melihat Ayah yang matanya terdapat genangan air jernih.


“Zareen telah menjadi wanita seperti itu yah, ia benar telah meneladani Ibuk, ia menjalankan segala kewajibannya sebagai istri, menjaga rumah kami, menghormati saya dan ia tidak pernah membantah apa yang saya katakan, Zareen telah berusaha sebaiknya untuk menjadi sebaiknya istri, yang sepatutnya saya muliakan”.


Zain kembali merunduk menyembunyikan air mata yang juga telah menggenang.


“Yang lalu biarlah berlalu, jadikan itu sebagai pembelajaran. Semoga Allah memberikan kalian kesempatan untuk dapat memperbaiki semua ini.


Sudahlah, gorenganya sudah dingin, makanlah”. Ayah mengheka nafas kemudian menyodorkan piring gorengan untuk lebih dekat kepada Zain.


“Iya yah”.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan, Ayah dan Zain menghabiskan teh telurnya ditemani beberapa potong goreng singkong hasil dari ladang sebelumnya.


Mentari mulai tinggi, Ayah dan Ibuk kembali ke ladang untuk menyelesaikan pekerjaan kemaren yang belum kelar. Sedangkan Zareen setelah membersihkan rumah bagian dalam, iapun keluar dan membersihkan beranda dan halaman depan, sambil merapikan ranting-ranting bunga yang mulai merambat liar.

__ADS_1


Zain yang tidak tau harus mengerjakan apa hanya melihat apa yang Zareen lakukan dari dalam, kali ini sepertinya ia tidak akan membantu, ia tidak mengerti soal merawat tanaman indah nan rapuh itu. lama Zain berdiri hingga atensinya teralihkan kepada seorang laki-laki yang mengendari motor matic nya, laki-laki itu berhenti tepat di depan pagar rumah.


“Assalamualaikum”


“Firman, Waalaikumsalam”. Zareen yang merunduk merapikan bungan rose berdiri menegakan badan tatkala ia mendengar suara Firman yang berada tidak jauh darinya, hanya di batasi pagar pembatas.


“Iya ini aku”. Firman berujar sambil tertawa ringan


Zareen tersenyum kikuk, ia tidak berbasa-basi seperti sebelum-sebelumnya, dan Firman menyadari itu.


Mereka dulunya cukup dekat, berteman sejak di sekolah dasar, hingga sekolah menengah atas. Zareen yang tidak mempunyai saudara laki-laki membuat Firman sering pasang badan untuk melindunginya, dan Firman tampak terbiasa dengan peran itu,,, hingga sekarang. Sayap patah Zareen di rumah tangganya membuat ia geram dan emosinya memuncak, alam bawah sadarnya kembali ingin melindungi Zareen. Namun ia melakukan kesalan, yang membuat Ayah dan Ibuk yang telah seperti orang tua baginya terluka, karena tindakannya untuk melamar Zareen tempo hari. Dan kekeliruannya ini jualah nampaknya yang membuat Zareen akhirnya membentang jarak seperti ini.


“Za, aku minta maaf”.


Dan akhirnya kata itulah yang keluar dari mulut Firman.


Zareen terus merunduk, dan pengabaian ini membuat hati Firman sakit. Ia kemudian turun dari motornya dan lebih mendekat ke pagar.


“Za, aku benar-benar tidak bisa melihat kau tersakiti, sejak dulu”.


Akhirnya Zareen mengangkat wajahnya,


“Aku tau, karena kau telah menjadi tameng untukku sejak dulu, sejak kita pertama kali bertemu di ayunan TK waktu itu. Dan aku sangat berterimakasih untuk itu, sangat berterimakasih Firman. Karena kau membuat aku merasakan perlindungan dari seorang saudara laki-laki”.


Firman yang mendengar penuturan Zareen terhenyak, kalimat terakhir Zareen seakan menghantam keras ke hulu hatinya, remuk redam dan sangat pilu.


Ya saudara laki-laki, inilah kenyataannya, dia adalah saudara laki-laki bagi Zareen, namun kenapa ia bisa melupakan semua ini, dan mencoba mengetuk dan berkeinginan masuk ke hati Zareen sebagai sosok yang lain. Ia sungguh keliru.


“Za...”


“Istriku,,,”


Perkataan Firman yang hendak kembali mengulang maaf terpotong oleh suara di balik punggung Zareen.


Zareen seketika berbalik kemudian matanya bertemu tatap dengan manik suaminya, dengan lengkungan di bilah bibirnya Zain mendekat.


Mas mau nasi goreng, tolong buatkan yah”


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2