
...Part 24...
...🍁🍁🍁...
“Za...”
“Istriku,,,”
Perkataan Firman yang hendak kembali mengulang maaf terpotong oleh suara di balik punggung Zareen.
Zareen seketika berbalik kemudian matanya bertemu tatap dengan manik suaminya, dengan lengkungan di bilah bibirnya Zain mendekat.
“Mas mau nasi goreng, tolong buatkan yah”
Zareen belum bergeming,
“Mas sudah lapar, kan biasanya jam segini Mas makan nasi goreng buatan kamu”
Zareen mengerutkan kening, memang benar biasanya di rumah mereka jam segini Zareen menyiapkan sarapan yang seringnya nasi goreng untuk Zain, namun karena tadi Zain sudah sarapan teh telur dan goreng singkong bersama Ayah, Zareen pikir ia tidak perlu lagi menyiapkan nasi goreng untuk Zain, tapi ternyata itu belum cukup untuk suaminya, ia masih lapar. Zareen mengangguk dan masuk ke rumah untuk kemudian bergegas ke dapur.
“Tidak baik berbicara terlalu dekat dengan istri orang”. Gumam Zain dengan wajah datarnya
“Jadi kamu suami Zareen?”
“Yah benar saya adalah laki-laki yang menjabat tangan Ayahnya Zareen”
Firman tersenyum miring, “Bukankah kau sudah menjatuhkan talak kepadanya?”
“Saya datang untuk memperbaiki rumah tangga kami, saya menjemput Zareen untuk kembali ke rumah kami di Jakarta”
“Lelaki yang tidak tau cara menghargai dan memuliakan wanita tidaklah pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua, itu terlalu berharga untuk dibuang si-sia hanya untuk orang seperti mu”. Tukas Firman menatap nyalang Zain
“Ck, kau bersikap seolah kau adalah lelaki yang paling bisa untuk itu”. Sarkas Zain tersenyum miring
“Ya, aku bisa untuk itu, untuk orang yang aku cintai aku bisa membunuh egoku dengan menghargai dan menyanjung tinggi wanita ku, dan aku telah terbiasa sejak dulu melakukan itu untuk Zareen”
Firman bertutur tegas, tersenyum miring, kemudian berbalik meninggalkan Zain yang terperangah dengan kata-katanya.
Satu lagi, kau tidak tau makna menjabat tangan seorang Ayah”. Tukas Firman final kemudian berlalu melajukan motor maticnya.
Zain yang masih termangu terdiam di tempat, kedua tangannya yang mengepal.
“Hahhh...” Zain membuang nafas kasar, dan mengangkat kedua tangannya kemudian mengusap wajahnya yang terlihat gusar.
“Lelaki itu menanti celah dari pernikahan ku dan Zareen”.
__ADS_1
Darahnya mendidih, hatinya memanas, amarah yang menyesak didadanya, ia berbalik arah dan bergegas masuk ke rumah, ia harus melihat Zareen, hatinya ingin.
Zain terus melangkahkan kaki hingga sampai di pintu dapur, berhenti disana bersandar pada pintu dan mata yang terus menatap dalam Zareen.
Zain menghela nafas, ia menemukannya, istrinya.
Hatinya tenang, bara api yang menyala membakar hatinya dari dalam beberapa detik yang lalu seketika padam. Tatkala matanya menemukan apa yang ia cari, aneh memang. Jelas-jelas Zareen ada disini, di dapur, tidak jauh darinya. Tapi beberapa menit yang lalu hatinya sangat gusar, ketakutan akan kehilangan. Takut Zareen hilang dari pandangannya, dari hidupnya. Yah ada pria lain yang menginginkan istrinya.
“Ya Allah aku lalai aku lalai, aku lengah sehingga memberikan celah kepada pria lain untuk coba mengambil posisiku. Aku bodoh ya tuhan, sungguh bodoh, istriku masih diinginkan pria lain”,
Sesal Zain merutuki diri sendiri, sesal yang menggerogoti hati sedalam-dalamnya. Termat sakit
“Mas, ini nasi gorengnya” Zain mengerjapkan mata tersadar oleh suara istrinya
Zain tersenyum dan bergegas menuju meja makan
“Wahhh ini pasti enak”. Ucap Zain antusias langsung menduduki kursi
Zareen meletakan satu piring berisikan nasi goreng dengan telur mata sapi separoh matang.
“Masyaallah, makasih yaaa”
Zareen hanya mengangguk dan meletakan satu gelas air putih, dan berbalik hendak pergi.
Zareen menoleh, “Ada apa Mas”. Tanyanya dengan alis yang terangkat
“Temani Mas makan”
“Itu Mas, halaman tadi belum...”
“Please...”. Lirih Zain memotong perkataan Zareen
Zareen menghelas nafas dan kembali ke meja makan, ia duduk di seberang Zain, duduk diam.
“Nasi gorengnya enak”.
Zareen mengangkat kedua alisnya terkesiap, kemudian Zain melanjutkan
“Mas suka”.
Tutur Zain sambil tertawa ringan melihat mata Zareen yang membola.
“Nasi goreng biasa kok Mas”. Jawan Zareen datar
“Mas selalu suka, nasi goreng buatan kamu”
__ADS_1
Zareen kembali termangu, penuturan ini terlalu membuatnya terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan barusan.
Zain yang melihat raut keraguan di wajah Zareen tersenyum lirih,
“Maafkan Mas ya”. Ucap Zain meletakan sendok menegakan punggung dan menatap dalam ke manik istrinya.
“Mas gak tau, apa maafmu pantas untuk Mas atau tidak, begitu banyak kesalahan yang Mas lakukan selama ini, selama rumah tangga kita ada Mas hanya melakukan kesalahan. Mas yang zolim, tidak pernah memenuhi tanggung jawab Mas sebagai suami, kewajiban Mas.
Mas mengabaikanmu, menutup mata seakan kau tidak ada, menutup telinga dan membisukan mulut.
Zain berucap dengan suara yang muai serak, terus menegakan kepala menatap Zareen yang memalingkan wajah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Mas yang bodoh za, dengan dangkalnya ilmu agama Mas, Mas terguncang dengan apa yang terjadi dalam hidup Mas”.
Mas terus berusaha mencari hikmah di balik semua ini za, namun kepiluan yang datang silih berganti membuat Mas putus asa dan berfikir kalau takdir memang sedang mempermainkan Mas. Mas menyalahi ketetapan Allah dan tidak memahaminya, Mas teramat kecewa sehingga amarah ini membuat Mas kalut dan menyalahkan kamu yang saat itu hadir dalam hidup Mas”.
Mas salah za Mas salah, tidak seharusnya kamu yang menjadi tempat pelampiasan kekecewaan Mas. Mas sadar dan Mas menyesal za”. Lirih Zain dengan air mata yang sudah jatuh berderai.
Air bening jatuh dipipi Zareen, dengan tenang ia menghadap Zain dan menatap balik mata sang imam.
“Aku tidak meminta Allah hadirkan dalam hidupmu Mas, ini semua telah menjadi keketapan-Nya, apa yang bisa ku perbuat?.
Jika boleh memilih maka akupun tidak menginginkan kecelakaan malam itu terjadi, dan akupun tidak mengharapkan pernikahan kita ini Mas, menikah dengan pria yang sudah memiliki wanita di hatinya, akupun tidak menginginkan ini Mas. Tapi aku hidup dengan tuhan, aku memiliki tuhan , dan aku mengimani qada dan qadarnya.”
Zareenpun mengungkapkan segala yang ada di hatinya, perasaan yang menumpuk yang selama ini ia sembunyikan.
Mereka sama-sama terisak.
Zareen mengangkat wajah dan menyeka air matanya, kembali berucap, “Aku percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, kita memiliki tuhan yang maha kuasa atas segalanya, kuasa atas diriku, dan kuasa atas dirimu. Aku percaya bahwa apa yang terjadi di hidup kita ini tidaklah untuk kesia-siaan, ia pasti membawa alasan bersama hadirnya, dan aku percaya itu. Dengan keringkihan imanku, ku mencoba terus berhusnudzon kepada Allah Mas, dengan kerapuhan hatiku ku terus berusaha mencari hikmah di balik semuanya. Banyak hikmah yang ku temukan dalam ikatan kita ini Mas, aku bersyukur atas itu”.
“Namun hatiku tidaklah sekuat hati ummul mukminin Mas, meski ku terus mencoba. Karena tusukan dan goresan yang berulang di tempat yang sama, hatiku ngilu. Karena itu kesanggupanku untuk bertahan tentu tidaklah selamanya kuat, terkadang ku berfikir untuk berhenti Mas, mengakhiri sakit dari tebasan-tebasan pedang itu, dan menyembunyikan diri”.
Bagai ombak memecah karang, kalimat terakhir Zareen menghantam jauh ke relung hati Zain yang paling dalam, deru nafasnya bersahutan bersama detak jantungnya yang menderu. Cairan bening dari mata yang terus bergulir, Zain mengangkat wajahnya yang tadi merunduk saat Zareen mengeluhkan segala kekecewaannya,
“Za, jangan berhenti, jangan menyembunyikan diri, berbaliklah, Mas mohon. Teruslah mengenggam tangan mas, terus temani Mas dalam pencarian ini, jangan pergi, Mas membutuhkan mu, Mas sadar bahwa Mas sangat membutuhkanmu, jangan pergi sayang”.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Memanglah benar kehilangan akan di rasa saat sesuatu itu tak lagi ada di depan mata.
Manusia cendrung lupa menghargai saat mereka ada.
Air mata penyesalan memang akan selalu ada di akhir cerita.
__ADS_1