
...Part 50...
...🍁🍁🍁...
Zain melepaskan mukenah Zareen dan menggantikannya dengan hijab bergonya. Ia menggendong sang istri dan membawanya ke mobil, Zain bergegas ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil dengan kepanikan yang coba ia sembunyikan.
“Sakit banget Mas...”.
“Sabar sayang, kamu tenang ya. Istighfar terus sayang.” Zain terus menenangkan Zareen yang meremas tangannya dengan kesakitan yang sangat terlihat jelas diwajahnya, matanya yang terpejam dengan keringat yang membanjiri keningnya.
Hal yang sama dilakukan Zain, ia mengulang dzikir dalam hati guna menenangkan dirinya. Ia mengemudi dengan kecepatan yang lebih dari biasanya menuju rumah sakit tempat Zareen melakukan pemeriksaan rutin.
“Tolong istri saya.”
Begitu sampai Zain langsung menggendong Zareen yang kemudian dipindahkan ke brankar. Ia mengusap tangan Zareen yang mengenggam tangannya erat.
“Tahan ya sayang, Iza kuat, Iza kuat sayang.”
Dokter Mira berlari menghampiri mereka, ia yang dikabarkan asistennya Ami langsung bergegas menyusul mereka kedepan, “Mbak tarik nafas ya, atur nafasnya.”
Mereka masuk mendorong brankar Zareen ke ruang UGD. Zain menyeka air mata istrinya yang terus mengalir. Seandainya rasa sakit itu bisa dipindahkan, ia rela jika membiarkan tubuh ini menggantikan sang istri, hatinya meng-iba, melihat air mata itu terus mengalir dari mata yang terpejam menahan sakit.
“Mas seperti yang kita bicaraan saat itu, Mbak Zareen tidak bisa lahiran normal.”
__ADS_1
“Iya Dok, silahkan lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya.”
Dokter Mira mengangguk dan mulai mempersiapkan segalanya di ruang operasi yang dibantu Ami dan beberapa asiten lainnya. Setelah segalanya dirasa siap Zareen dibawa kesana. Tubuh Zareen yang tidak bisa lagi menunggu lebih lama, membuat Dokter Mira harus segera mengambil tindakan untuk memulai operasi caesar tanpa adanya proses puasa terlebih dahulu, yang membuat Zareen harus dibius total dan kehilangan kesadarannya secara menyeluruh.
“Mas, Iza gak bisa lahiran normal Mas.” Ia terus mengenggam tangan suaminya sesaat sebelum proses anestesi itu dimulai.
Zain mengusap kepala Zareen yang menatapnya sendu, “Gak apa-apa sayang, sakitnya melahirkan normal dengan sakitnya pisau itu sama berkahnya. Iza sama-sama berjuang untuk anak kita, agar nyawa yang Allah titipkan ini lahir di dunia dengan selamat”.
Zain terus mengecup kepala sang istri memberikan kekuatan, ia yang dulu sangat ingin lahiran normal, ia ingin benar-benar merasakan bagaimana perjuangan seorang Ibu itu untuk melahirkan anaknya. Tapi karena keadaanya Dokter Mira memutuskan untuk mengambil jalan operasi saja, dan ini untuk kebaikan keduanya, Ibu dan anak.
“Mas Iza takut.” Air matanya kian berderai yang membuat sepasang mata yang menatapnya ikut meneteskan airnya. Zain bergegas mengusap air matanya yang hampir jatuh. “Iza bisa ya, Iza tenang ya sayang, istighfar, Mas ada disini.” Zain mengeggam erat tangan Zareen dan kembali mengecup keningnya saat Zareen akan disuntikan bius, bius yang akan membuatnya kehilangan kesadaran secara total.
Zareen mengatur nafas dan mengangguk, ia tersenyum dan memejamkan mata saat pedih jarum yang kecil itu mulai ia rasa. Hingga beberapa waktu setelah itu Zareen tidak lagi berkata apa-apa dan yang terdengar hanya deru nafasnya yang halus.
“Bismillah, kita mulai ya Mas.”
“Mas sudah harus rela nih berbagi kasih sayang.”
Zain berbicara banyak hal menemani sang istri yang dalam ketidaksadarannya bagian tubuhnya telah digores benda tajam sang Dokter.
“Mas sayang kamu, sayang dedek. Iza sehat-sehat yang sayang, untuk anak kita, dan untuk Mas.”
Zain tersenyum dengai air mata yang kini membasahi pipinya. Ia merapalkan do’a di dalam hati semoga operasi ini berjalan lancar, dan segala harapan mereka Allah Aamiin-kan, dan juga ia mengucap syukur untuk segala yang telah ia miliki hari ini.
__ADS_1
Ia terus berdoa dalam memberikan kekuatan yang dirangkul pengharapan, hingga suara tangis yang kecil dan melengking mengisi ruangan itu dan memecah keheningan.
Zain mengangkat matanya dan melihat makhluk mungil yang putih memerah di gendongan Dokter Ami. “Anak kita sayang,” dengan raut kebahagian yang menghiasi wajahnya yang disertai air mata Zain mengecupi semua wajah wanita kuatnya itu.
“Baby Boy Pak.”
“Masyaallah... Terimakasih ya Allah.” Ia kembali mengecupi seluruh wajah pucat sang istri yang masih memejamkan mata dalam ketidaksadarnnya.
Dokter Ami membedong bayi mungil nan merah itu dan memberikannya pada Zain, Ayahnya untuk di adzankan. Zain menimang dengan hati-hati sang buah hati dan mendekatkan mulutnya ke telinga anaknya. Air matanya menetes tak kuasa menahan haru saat melafadzkan kalimat demi kalimat kemenangan itu. Ia mengecupi wajah putranya yang diam hingga kalimat terakhir itu usai ia bacakan. Ia menatap lama sang putra, kembali mengucap syukur karena putranya lahir dengan kesempurnaan dan sehat. Ia mengusap pipi nan lembut itu dengan senyuman yang mengiasi wajah tegasnya.
“Jagoan Ayah yang bakal bantuin Ayah jagain Bunda.”
Dengan pengarahan dokter, Zain mendekatkan putranya ke sang istri, mendekatkan pada pangkuannya, membiarkan bayi mungil itu merasakan detak jantung Ibundanya untuk pertama kali dan membiarkan ia menerima suapan asi dari tubuh Ibundanya. Lama hingga baby boy itu terlelap, kemudian Dokter Ami memindahkannya ke keranjang bayi.
Zain kembali pada sang istri yang masih dalam penanganan dokter, mengenggam erat tangan sang kekasih menemaninya dalam perjuangan. Hingga semuanya usai, Zareen sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap. Zain mengiringi sang istri yang masih memejamkan mata diantar perawat ke ruanganny.
Ia duduk menunggu Zareen sadar, dengan tangan yang terus ia genggam. “Ya Allah jagalah istri dan anakku, berilah mereka kesehatan, perlindunganmu dan penjagaanmu. Dan berilah aku kekuatan agar bisa membahagiakan mereka selalu, menjaga agar air mata kesedihan tidak akan pernah jatuh dari mata mereka. Sungguh ku menyayangi keduanya ya Allah, kekasihku, dan darah dagingku. Hartaku yang paling berharga.”
Zain mengenggam erat tangan itu, tangan yang juga telah memberikan segala kasih dan sayang pada dirinya. Segala pengabdian dan penghormatannya, kebahagian yang Allah berikan melalui dirinya, dan ia sangat mencinta. Wanita lembut yang telah melunakan hatinya, hati yang membeku karena amarah, penolakan atas ketetapan takdir. Dan ia kembali mengucap syukur, atas ketetapan yang kini ia kagumi.
TO BE CONTINUE
🌹
__ADS_1
Readers ku yang masih setia dengan SDS, maaf banget aku up-nya lama, beberapa hari ini sibuk banget dengan hajatan sahabat ku dan dilanjut dengan bahan yang menumpuk di kantor 😣🙏🏻
Sampai dapat notif dari pihak NT, tapi aku bisa apa, jadi tolong bantuannya kaka2 semua ya biar NT gak ngurungin niatnya buat promosiin karya aku yang amatir ini 😂🙏🏻