SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Kencan


__ADS_3

...Part 36...


...🍁🍁🍁...


“Mas, nanti telat lo ke kantornya”.


Zain tersenyum menanggapi peringatan Zareen dengan tangan yang terus menyisir rambut sang istri.


“Mas gak masuk kantor hari ini”


“Kenapa?”. Tanya Zareen dan memutar kepalanya menengadah hendak melihat wajah suami.


Zain kembali menghadapkan Zareen ke depan, menghadap kaca.


“Mas malas sayang, maunya hari ini di rumah aja bareng kamu”.


“Mas sakit?”. Tanya Zareen terlihat khwatir


“He he gak kok, Mas baik-baik aja”. Tutur Zain terkekeh sambil mencubit hidung mancung istrinya. Ia tersentuh melihat wajah khwatir istrinya barusan.


“Dah”.


Zain selesai menjalin rambut panjang istrinya, yang diikat dengan pita bewarna pink.


“Pake kerudungnya sayang, kita keluar cari sarapan”.


Zareen yang masih bingung mengiyakan saja titah suaminya. Ia mengambil jilbab bergonya yang bewarna senada dengan tunik yang ia kenakan. Tidak butuh waktu lama Zareen telah siap dengan penampilannya yang sederhana. Ia mengambil tas rajut maroonnya yang muat untuk hpnya dan bergegas ke bawah dimana suaminya menunggu.


“Sudah sayang?”


“Sudah Mas”.


Zain tersenyum dan mengusap kepala Zareen. “Yuk”.


Zareen mengikuti langkah Zain di belakang.


Duk


Zain berhenti dan saat itu juga Zareen menubruk punggungnya. Ia berbalik dan mendapati sang istri yang mengusap-usap keningnya.


“Aduh aduh sayang maaf-maaf, sakit?”. Zain menahan senyum seraya ikut mengusap kening istrinya.


“Gak Mas”.


“Ha ha gak sakit tapi mukanya merengut gitu?”.


“Masnya ngapaian berhenti mendadak, akunya kan gak tau”


“Mas tadi mau ngomong sama kamu sayang makanya berhenti, ha ha maaf- maaf ya”


“Iya gak papa Mas. Mau ngomong apa Mas?”


“Mau bilang kalau kamu ganti sendalnya sama sepatu”.


“Kenapa Mas?”


“Ganti aja sayang, biar lebih nyaman jalannya”. Ucap Zain sambil mengusap kepala Zareen. Zareen menurut saja, dan kemudian mengambil sepatu sneakers putihnya di rak dekat pintu.


Zain menyetir dengan pelan. Mengelilingi kota metropolitan itu yang mulai ramai dengan orang-orang yang mulai sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.


“Mas mau makan apa?”. Tanya Zareen yang melihat suaminya dari tadi sibuk lihat kiri-kanan disepanjang jalan.

__ADS_1


“Kamu mau makan apa sayang?”


“Apa aja deh Mas”.


“Ha ha jawabnya pasrah amat. Ya udah, kita cari bubur ayam aja ya”.


“Boleh Mas, kebetulan aku juga lumayan lama gak makan itu”.


Zain tersenyum kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Dan tidak lama kemudian mereka berhenti di salah satu warung pinggir jalan yang menyediakan sarapan pagi dengan berberapa menu. Zain mengambil tempat duduk dan memesan dua porsi bubur ayam.


Dan tidak menunggu lama pesanan merekapun datang.


“Terimakasih Pak”.


“Sama-sama Den”.


Merekapun mulai menikmati bubur mereka masing-masing.


Zain tersenyum saat melihat istrinya yang makan secara bertahap, dimana ia dengan hati-hati menyendok satu persatu bagian agar tidak tercampur.


“Ternyata istri Mas tim gak diaduk ya”.


“Ha ha iya Mas. Aku lebih suka menikmatinya bagian perbagian gini. Jadi lebih jelas aja masing-masing rasanya”.


“Gini juga enak sayang, jadi semuanya terasa dalam satu suapan”. Ucap Zain sambil mengaduk semua bagian di bubur ayamnya.


“Aku gak suka Mas. Rasanya jadi aneh”


“Aneh gimana?. Enggak kok, malahan lebih enak”.


“Enggak Mas. Gak jelas gitu rasanya”.


“Enak sayang, kamu coba deh”.


“Ha ha aduk atau enggak, ia akan tetap bubur ayam Den, Mbak. Jangan sampai karena beda cara makan Den sam istrinya jadi berselisih paham pula”.


“Ha ha enggak donk Pak. Kami tim yang akur kok pak, toleran”. Canda Zain menanggapi bapak penjualnya yang ikut tertawa melihat perdebatan kecil mereka terkait tim aduk dan tim gak di aduk.


“Kok gak muter Mas. Kita mau kemana lagi?”


“Kita main-main dulu ya”.


Zareen menautkan alisnya hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya.


“Mau kan ya?”


“Main kemana sih Mas? Jadi Mas beneren lagi boring kerja ya?”


“Ha ha sesekali tak apa sayang”.


“Iya Mas, lagian selama ini aku liat Mas emang terlalu keras kerjanya. Mas emang butuh refreshing sesekali Mas”.


Dan disinilah mereka sekarang berada, di taman. Zain memarkirkan mobilnya kemudian mencari tempat duduk, hingga Zain melihat satu bangku besi putih yang terletak di bawah pohon. Zain mengenggam tangan Zareen dan menuntunya untuk kesana.


Udara di taman hijau yang dipenuhi beberapa tanaman pagar dan bunga itu terasa sejuk. Karena masih pagi jadi taman tidaklah ramai. Zain merasa bersyukur karena ia memilih waktu dan tempat yang tepat. Yah, ia memang mengharapkan bisa menghabiskan waktu bersama sang istri dengan waktu yang tenang.


“Baguskan tempatnya, gak salahkan Mas ngajak kamu kesini?. Gak rame sayang, jadi beneran serasa dunia milik kita berdua ha ha”.


“Ya iyalah Mas, siapa juga yang akan ke taman pangi-pagi”


“Kita sayang”.

__ADS_1


Zain tersenyum simpul. Ia tidak tau kalau suaminya ternyata bisa sangat lembut begini, bahkan terlihat manja.


“Lagi sayang”.


“Apanya Mas?”. Tanya Zareen bingung


“Senyumnya”.


Zareen melotot dengan kedua alis yang terangkat.


“Ha ha senyum sayang, bukan melotot”


Zain tertawa spontan melihat wajah cengo istrinya itu. Ia jadi gemas dan mencubit hidung mancung Zareen, melakukan hal yang ia sukai akhir-akhir ini.


“Om nya jahat, kenapa tante cantiknya di cubit?!”.


Zain dan Zareen terkejut melihat kearah bocah yang berdiri tepat di depan mereka dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.


“Lepasin tangannya Om!!!”. Bentaknya sekali lagi dengan suara yang sudah meninggi.


“Eh eh..” Zain tergagap dan langsung melepaskan cubitan pada hidung kekasihnya.


“Tante gak sakit kan?”. Bocah laki-laki itu mendekat menggapai wajah Zareen. Zareen yang terngangapun menunduk.


“Eh enggak kok sayang, Omnya becanda kok”. Zareen tersenyum geli merasakan tangan kecil itu mengusap hidungnya.


Zain terkekeh melihat interaksi yang tersuguhkan didepan matanya.


“Azril...”.


Seorang wanita yang dilansir Ibu dari bocah tampan ini berlari dengan tangan yang membawa layang-layang.


“Mama...”.


Bocah yang di panggil Azril itu berlari dan menghambur dalam pelukan mamanya.


“Aduh Mbak, Mas maafin anak saya ya”. Ucap Mama Azril yang malu karena anak laki-lakinya yang sangat pemberani ini mengacaukan acara kencan dua insan yang terlihat sedang di mabuk asmara ini. Anaknya sungguh tidak bisa melihat keadaan, hufh


“Iya Mbak, gak papa”.


Zareen mengusap kepala Azril yang telah sibuk dengan layangannya.


“Saya pamit ya Mbak”. Wanita itu membawa anaknya dalam gendongan dan pergi kembali ke tempat duduk mereka yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.


“Kira-kira seperti itulah nanti kalau kita punya anak ya”.


Ucapan Zain membuat Zareen yang masih melihat ke arah Azril langsung menoleh kearahnya.


“Lucu kan sayang?”.


“Iya Mas”. Gumam Zareen teramat pelan


“Tapi gak lucu kalau nanti mereka juga mengacaukan kencan kita seperti ini”. Zain terkekeh.


“Tapi Mas tidak sabar untuk itu sayang, untuk waktu dimana Mas akan menjadi Ayah”.


Zain beralih mengenggam tangan istrinya yang menatapnya dalam.


“Semoga kamu sehat-sehat selalu ya. Biar Allah segera amanahkan mereka untuk kita”. Zain mengusap pipi istrinya yang mengangguk dengan senyum indah di bibirnya.


“Aamiin, Iya Mas”.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2