
...Part 41...
...🍁🍁🍁...
Setelah menjelaskan aturan meminum obat, Bima pamit dan Ibu Ningsih mengantarkannya kedepan. Zain melepaskan jilbab bergo yang dipakai istrinya, kemudian ia beranjak mengambil ikat rambut kecil di meja hias dan mengikat cepol rambut sang istri.
Ia bergegas turun menuju dapur untuk mengambil nasi dan air putih, dan dengan langkah yang cepat kembali lagi ke kamar.
“Sayang makan dulu dikit ya”.
Zareen menggeleng dengan lemas, karena sungguh ia tidak berselera untuk makan, bahkan air liurnya saja terasa sangat pahit.
“Dikit sayang, yah”.
Zain mengambil sedikit nasi yang dicampur sayur, kemudian menyuapi Zareen. Zareen membuka mulutnya dan hanya seperempat nasi dari sendok itu yang masuk ke mulutnya. Ia mengunyah nasi itu dengan gerakan teramat pelan.
“Aaa...”. Zain kembali menyuapi satu sendok lagi.
“Udah Mas”. Zain mengelakkan tangan suaminya diiringi gelengan kepala.
“Dikit lagi dek please”. Bujuk Zain, namun Zareen terus menolak, dan tidak lama setelah itu ia memuntahkan nasi yang baru saja ia makan.
“Ueekkk...”.
Seketika Zain lansung meletakan piring yang ada di tangannya menghindarinya dari kepala Zareen yang maju kedepan. Dan kini ia mengusap punggung sang istri yang tertunduk ke dadanya.
“Ueekkk...”
Muntahan itu mengenai bajunya dan seprei mereka.
“Keluarkan saja semuanya sayang”. Ia terus mengusap pelan punggung lemah itu.
“Hiks...”
Zain terbelalak dan merenggangkan tubuh Zareen yang masih menunduk di dadanya, dengan panik ia mengangkat wajah itu.
“Sayang apa yang sakit, bagian mana?”
“Maaf Mas hiks...”. Jawab Zareen dengan isakan lemahnya.
“Ada apa sayang, kenapa minta maaf, ? apa kepalanya sakit banget a?”. Tanya Zain dengan tangan yang kini mengusap-ngusap kening sang istri.
“Baju Mas kena muntah hiks hiks”.
“Allahuakbar...” Zain menghela nafas dan menyeka air mata sang istri dengan ibu jarinya.
“It’s ok sayang,,, gak masalah ini, Mas bisa cuci bajunya, kamu gak perlu minta maaf”.
“Mas pasti jijik”. Gumamnya yang kembali menundukan matanya.
“Apa muntahan Mas yang mengenai bajumu besok akan membuatmu jijik?”. Zain balik bertanya, yang membuat Zareen cepat mengangkat pandangannya, mata yang sayu itu menatap mata suaminya.
__ADS_1
“Enggak Mas”.
Zain tersenyum, “Begitupun dengan Mas Za”.
Ia mengusap kepala istrinya sayang. Hingga hatinya tenang, tatakala bibir yang pucat itu baru melukiskan senyumnya, meskipun sangat samar.
“Tunggu di sini sebentar ya”.
Zain berdiri dan membuka bajunya, kemudian meletakannya di kamar mandi. Mengambil handuk putih kecil di gantungan sebelah kaca di kamar mandi itu, membasahinya dan membawanya menuju sang istri.
“Sini sayang”. Ia mengangkat wajah Zareen dan mengusap wajahnya dengan handuk yang lembab itu, lehernya, tangan, hingga telapak kakinya.
“Dah, sekarang minum obat ya”.
Zain memberikan tiga pil kehadapan istrinya, dan segelas air putih.
“Mas...”. Panggil Zareen dengan ragu
“Apa dek?”
“Di dapur apa ada pisang?”
Zain mengerutkan kening, dan seperdetik kemudian ia mengerti, dan mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Ada-ada, Mas ambil dulu ya, tunggu bentar”.
Zain kembali berlari kebawah dan bersyukur apa yang ia cari ada di meja makan Ibunya.
Ia mengangkat nampan pisang itu, dan membawa semuanya ke atas.
“Nih”.
Dengan rona malu Zareen menerima pisang yang telah dikupas suaminya. Dan setelah mengucap basmalah ia menelan tiga butir pil itu setelah mengunyah buah kuning itu. Yah ia termasuk orang yang tidak ahli meminum obat, sedari kecil ia selalu membutuhkan buah ini untuk membantunya meminum obat-obat yang berbentuk pil seperti ini.
“Sembuhkan istriku Ya Allah, angkat rasa sakitnya, dan kembalikan senyumnya”. Zain mengusap kepala Zareen dan mengecup keningnya lama.
Ia membantu Zareen berbaring dan menyelimutinya.
“Istirahatlah”.
Zareen mengangguk, “Makasih ya Mas”.
“Cepat sembuh sayang”
Zain mengulang mengecup kening nan terasa panas itu, sungguh hatinya perih tatkala menatap wajah pucat ini. Benar sayangnya telah tertumpah untuk wanita ini, dan hatinya terluka, tatkala orang terkasih ini lemah dalam kesakitannya.
Zain menutup pintu pelan, agar sang istri yang telah tertidur tidak terganggu. Kemudian ia turun ke bawah menyusul Ibu dan Gema yang sibuk di dapur.
“Gimana Zareen bang? Udah minum obat”.
“Udah bu, dan sekarang ia lagi tertidur”
__ADS_1
“Gema udah makan dek?” Tanya Zain pada Gema yang sibuk membantu Ibu
“Belum bang”.
“Yuk makan bareng dek”
Gema mengangguk kemudian menarik kursi disebelah abang iparnya itu setelah membantu Ibu menata masakan di atas meja, dan mereka bertiga dengan tenang menikmati masakan yang dibuat sang bunda.
Setelah selesai makan, Zain langsung kembali ke kamar. Begitu sampai di kamar ia membuka jendela kamar membiarkan udara masuk. Zain menghampiri Zareen yang terlihat lelap dalam tidurnya, ia mengulur tangan menyentuh kening sang istri.
“Alhamdulillah...”. Zain berseru karena panas istrinya sudah mulai turun, namun masih menyisakan keringat. Zain kembali mengambil handuk dan mengelapnya. Setelah itu ia ikut merebahkan tubuh di sebelah Zareen, tangannya terangkat merapikan anak-anak rambut yang menempel di kening sang istri.
“Cepat sembuh sayangnya Mas, sakitnya jangan lama-lama ya, Mas rindu tawa kamu”.
Zain menguyel hidung istrinya yang memerah, kemudian iapun ikut tertidur menyusul sang istri.
Sayup-sayup terdengar suara adzan, Zareen terbangun dengan pelan ia membuka kedua matanya, dan pandangannya menatap pada wajah suami yang terlelap tepat di depannya. Zareen mengangkat tangannya dan menyentuh pipi sang suami, ia tersenyum.
“Terimakasih Mas”.
Zareen menatap lama mata nan tertutup itu, kembali, hatinya menghangat mengingat perlakuan suaminya beberapa jam yang lalu, yang penuh kelembutan dan ikhlas merawatnya.
“Mas...”.
“Mas...”.
Zain mengerjapkan mata, tatkala suara serak sang istri menembus pendengarannya.
“Iya sayang, kenapa? Apanya yang sakit?”. Zain langsung duduk dan menimpakan pertanyaan yang bertubi-tubi ini.
“Gak kenapa-kenapa kok Mas”. Jawab Zareen terkekeh
Zain menghela nafas, dan kembali menempelkan tangannya pada kening Zareen, memastikan, dan benar saja suhu tubuh sang istri sudah mulai stabil.
“Alhamdulillah, udah mulai turun dek panasnnya”.
“Iya Mas, karena Mas ini”
Zain mengerutkan kening bingung.
“Karena cinta dari Mas, itu penawar yang paling manjur, Za langsung sembuh”.
“Wahhhh ternyata ini demam buat nambah kepandaian ya ha ha”. Jawab Zain terbahak sambil memegang perut, sungguh kata-kata gombal sederhana yang keluar dari mulut istrinya menggelitik hatinya.
“Ha ha bisa jadi Mas”. Zareen ikut tertawa menimpali.
“Shalat yuk Mas”.
Zain mengangguk, kemudian ia memapah sang istri dan membantunya mengambil wudu, hingga memasangkan mukenah kekasih hati, dan mereka menggelar sajadah bersama melaksanakan kewajiban mereka sebagai muslim.
Setelah selesai shalat Zain kembali bergegas ke dapaur, mengambilkan makanan untuk Zareen, ya ia akan memastikan sang istri meminum obat tepat waktu, sungguh ia ingin sang istri lekas pulih seperti sedia kala.
__ADS_1
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹