
...Part 8...
...🍁🍁🍁...
Menghabiskan waktu bersama orang yang dikasihi, memang tidak akan membuat jenuh, terlebih ketika kedua hati cukup lelah menyimpan lama rindu. Sekarang, setelah ada masa yang memberi ruang dan waktu, maka tidak ada alasan bagi keduanya untuk tidak menikmati.
Zain dan Ilna memasuki mobil, dengan senyum merekah di bibirnya Ilna berucap,
“Baiklah, kita mulai lagi traveling kita baby”
“Ready sayang”?
“Yah, let’s go”. Ilna berseru dengan girang
Zain menekan pedal gas, dan mobil hitam itu melaju membelah jalanan kota yang pernah membesarkan nama putra jenius kebanggan Indonesia, **. Habibie.
Cahaya pagi masuk menembus tirai kamar putih, sapaan hangatnya menyapa pipi nan tirus Zareen, masih terbaring lemah, tubuh kurus itu belum mengizinkan Zareen untuk segera bangun dari tidurnya.
Ell menaruh bunga yang baru, dan menata dengan indah dalam vas yang tembus pandang, dengan jasanya ruangan Zareen selalu bersih dan wangi, barulah terlihat kehidupan disana.
Setelah memastikan semuanya beres, Ell berbalik, sejenak ia melirik penghuni kamar, ia tersenyum dan bergumam “Nona, kau segeralah sadar, atau tidak ruangan ini benar-benar akan menjadi rumahmu, suamimu bisa melakukan itu”.
Setelahnya ia berjalan dan meninggalkan Zareen dalam ruangan VVIP nan megah itu.
Ilna tidak pernah memberi jarak dengan Zain, ia terus memeluk tangan kekar Zain, tentunya ia tidak ingin kehilangan pria tampan yang sangat menyayanginya ini.
“Sayang, aku mau foto disini”. Ilna lansung berlari dan mengambil posisi yang bagus di depan Bradenburg Gate,simbol utama gerang Berlin dan lambang dari penyatuan Berlin Barat dan Berlin Timur, Zain mengambil ponselnya dan mendapatkan beberapa foto Ilna dengan gaya yang berbeda-beda.
Tidak butuh waktu lama, ponsel Zain penuh dengan banyak foto Ilna, di setiap tempat, kekasihnya ini antusias untuk mengabadikan moment. Zain tidak akan keberatan dengan itu, baginya kebahagian kesayangan adalah tujuannya.
“Sekarang kita cari makan, aku lapar dan juga lelah”. Keluh Ilna dengan memasang wajah memelas andalannya, jurus setiap gadis pikirnya.
“Ha ha baiklah, sekarang waktunya mengisi tenaga lagi, come on Ms. Ilna, saya siap mengantarkan ke restoran mana nona hendak makan”. Gurau Zain dengan manis sembari mengulurkan tangannya pada Ilna layaknya menyambut seorang putri.
Ilna tertawa dan menyambut uluran tangan Zain. Zain menuntunnya ke mobil dan membukakan pintu untuk Ilna, setelah semua di rasa siap, Zain melajukan mobil menuju restoran yang telah di kenal banyak orang di dunia ini.
“Drrtt.. Ponsel Zain berdering, Zain mengambil dan melihat nama Ell tertera di sana, tidak berpikir panjang Zain lansung mengangkat dan suara perempuan di seberang sana membuat Zain lansung memutar setir kemudi dengan tajam. Tidak tau apa yang ia lakukan, hanya keadaan ini membuatnya panik, dan ia hanya ingin secepatnya berada di sana.
“Sayang, ada apa? Kenapa kita berputar balik?”. Ilna yang melihat kepanikan tiba-tiba Zain tidak bisa untuk tidak bertanya. Ia memegang erat tali seat bealt.
Zain hanya diam dan terus menatap lurus ke depan, memacu Buggati Veyron itu dengan kecepatan tinggi.
“Sayang ini terlalu cepat”
Suara Ilna tidak lagi dihiraukan Zain, speed deal terus ditekan, bahkan hingga hampir mencapai batas.
“Zain, Berhenti!!!”
__ADS_1
“Diam Ilna!!!,
Ilna terkejut mendengar Zain meneriakinya.
Sayang please” Aku akan mengantarkan kamu pulang, maaf tapi aku harus secepatnya pergi ke rumah sakit, kamu pesan aja makan di apartemen”
Ilna mengerti, Zain panik seperti ini dan bergegas untuk segera ke rumah sakit, apa yang yang terjadi dengan Zain? Ilna merungut dan rasa tidak senang memagut hatinya, ia benci kenyataan ini, kenyataan Zain mulai mengkawatirkan gadis itu.
Ilna turun dari mobil, dan tanpa menunggu Zain langsung melajukan mobilnya kembali. Ia hanya ingin segera sampai ke rumah sakit.
Zareen kesusahan, nafas yang tidak lagi tenang seperti beberapa minggu ini, alat monitor jantung terus berdenyit dengan cepat, kepanikan Ell tidak dapat di tutupi lagi, bagaimana ini bisa terjadi, bukankah beberapa menit yang lalu ia meninggalkan Zareen dalan keadaan stabail, setelah ia mengatakan sedikit kata semangatnya agar Zareen segera bangun, lantas kenapa begini.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?” Zain masuk tanpa mengindahkan larangan perawat di luar, kepanikannya memuncak saat melihat Zareen yang tengah kritis di bangkar.
“Tuan, tuan sebaiknya tunggu di luar dulu”. Ell mendekat dan mencoba menarik Zain untuk keluar
“Kamu tahu, kamu harus melakukan yang terbaik”. Zain menatap tajam Ell, dan berlalu keluar meninggalkan Ell dengan kekawatirkan di dadanya.
“Apa yang akan terjadi, yang ia tahu, ia harus melakukan yang terbaik, yang terbaik untuk saat ini”
Zain menatap lurus, suara monitor jantung, kepanikan mereka yang berjas putih di dalam, dan, air mata yang mengalir dari kedua mata hitam perempuan itu. Pilu, hatinya merasakan apa yang mereka rasakan, takut, cemas dan kekhawatiran yang teramat.
Setelah beberapa waktu, semuanya kembali tenang. Alat pendeteksi jantung terlihat stabil. Hembusan nafas Zareenpun terdengar kembali teratur.
Semuanya terdengar menghembuskan nafas lega, beberapa waktu lalu seketika semuanya serasa menyaksikan telur di ujung tanduk, panik dan ketakutan.
Ell kembali memastikan semuanya sudah aman sebelum akhirnya keluar dan meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
Zain menggeram tertaham dengan kedua tangan mencengkram besi pembatas bangkar Zareen.
“Kau tidak boleh mati, karena saya tidak ingin penyesalan membunuhmu akan menghantui saya selama hidup saya”
Zain mondar-mandir dengan satu tangan berada di pinggang dan satunya lagi mengusap ujung kening, nafasnya memburu.
Ia menatap wajah yang setia memejamkan mata itu, sisa air mata masih menggenang di sudut matanya.
“Apa yang kau mimpikan ha”?
“Apa yang kau lihat di dalam tidurmu”?
Tanpa ia sadari tangan kekarnya terangkat untuk menyeka genangan air mata Zareen.
“Jangan menangis, sudah saya katakan bahwa disini tidak hanya kau yang merasakan sakit, saya juga sakit. Harus menanggung semua ini, takdir yang menghancurkan segala rencana hidup yang telah saya susun dengan sempurna”
Zain tersenyum miring, ia menarik tangannya
tapi semuanya hancur, karena kehadiran kamu malam itu”
__ADS_1
Zain berbalik, meninggalkan Zareen, dan Zareen kembali sendiri, di ruangan VVIP itu.
*
“Seseorang yang dalam keadaan koma dapat berkomunikasi atau sadar tentang kondisinya. Ny. Zareen bisa melakukan sesuatu secara neurologis untuk mencoba melindungi dirinya sendiri”
“Melindungi diri”?
“Ya, sarafnya yang sanggup merespon dengan baik, secara alamiah akan merespon, seperti yang Ell katakan, bahwa beberapa kali Ny. Zareen tanpak mengangis”
“Saya mengerti”
Zain mengangguk paham, dan setelah keluar dari ruangan Dokter itu, Zain kembali ke ruangan rawat Zareen.
Ia menatap lama Zareen,
“Kau mendengarkan ku selama ini, ya kan”?
“Kalau begitu maka dengarkanlah saya sekarang, berhentilah menjadi lemah, kau tidak perlu terus menangis, yang harus kau lakukan adalah segera sadar dari ketidakberdayaanmu ini.” Zain diam untuk beberapa saat,
Kemudian ia kembali berucap, “ Karena semuanya akan usai saat kau sadar, dan tanggung jawab saya selesai. Maka kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing kembali, semuanya akan kembali seperti semula, kau kembali ke hidupmu, dan saya kembali ke takdir saya.”
Tak ada yang lebih ia nantikan saat ini selain perempuan ini sadar, ia sangat tidak sabar untuk semua itu. Pengobatan terbaik ia usahakan, segalanya tak lain agar gadis ini segera sadar dari komanya.
Ketika Zareen sadar, maka ia bisa segera lepas dari tanggung jawab insiden yang secara tidak sengaja ia perbuat. Ia akan mengakhiri status yang mengikat ini, setelah gadis itu sadar.
“Hallo sayang, hm iya, kamu tunggu ya, aku pulang”. Zain melangkah keluar setelah mengakhiri panggilan.
*
“What are you doing baby”? Kenapa kau tidak mengangkat telfon ku dari tadi”?
Ilna tidak bisa tidak bertanya ketika Zain memasuki apartemen.
“Gadis itu membuat ulah, hampir saja ia mati”
Zain melonggarkan dasinya, dan melepaskan suit navy yang melekat di tubuhnya sejak pagi tadi.
“Apa yang terjadi padanya”?
Ilna ikut duduk di samping Zain dan rasa khawatir seketika menghampirinya. Ia khawatir, karena melihat wajah dingin Zain. Kenapa lelakinya menampilkan wajah seperti ini, ketika bersamanya biasanya ia selalu memberikan senyumnya.
“Dia sering menangis, entah apa yang terjadi dalam tidurnya”
Ilna dapat dengan jelas melihat wajah Zain, ada apa dengan wajahnya, kenapa gerutan tidak bahagia terpampang jelas diwajah kekasihnya.
Ia sepertinya tidak bisa bersantai lagi, Zain tidak boleh seperti ini, ia harus secepatnya meresmikan hubungan mereka, harus.
__ADS_1
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹