
...Part 12...
...🍁🍁🍁...
“Baby, bagaimana kalau kita lansungkan saja pernikahan kita disini sekarang”?
Zain diam, ia termangu mendengar perkataan ilna. Ia memutar arah duduk menghadap Ilna, mengenggam kedua tangan sang kekasih.
“Sayang, kita akan menikah, tapi tidak sekarang hm”. Zain bertutur lembut mencoba memberi pengertian dengan tenang.
“Kenapa, bukan kah dulu kamu yang selalu bertanya kapan aku siap menikah”?
“Ilna, kamu percaya kan sama aku?, Demi apapun saat ini aku sangat senang, mendengar kamu menanyakan perihal pernikahan. Tapi...
“Tapi apa”?
“Aku tidak mau menjadikan kamu istri kedua, kamu adalah satu-satunya bagi ku,dan selamanya akan terus begitu. Kita akan menikah setelah kami bercerai, maka kita bisa menjalani rumah tangga kita dengan tenang, dengan tidak adanya hadir orang asing di antara kita”.
Zain mengusap pipi Ilna, “Please, bersabar sebentar lagi ya”.
“Secepatnya akhiri semua ini, aku gak tau sejauh mana lagi aku bisa menunggu”.
“Aku sayang kamu”. Zain menarik Ilna dan membawanya ke dekapan.
“Zareen, kau harus lekas sadar, dan segera pergi dari hidup kami, karena saya tidak akan pernah memafkan kamu jika Ilna lah yang pergi dari hidup saya, saya tidak akan melepaskanmu jika itu terjadi”
...🍁🍁🍁...
Indonesia
“Assalamu’alaikum dek...”.
“Waalaikumsalam Ibuk, Ibuk apa kabar, sehat-sehat kan”?
Jawab Gema antusias
“Iya nak, Ibuk sama Ayah Alhamdulillah sehat disini, adek gimana, sehat kan, adek udah makan”?
__ADS_1
“Gema juga sehat buk, udah donk buk, Ibunya bang Zain pantengin terus makan Gema kayak minum obat, tiga kali sehari” Hihi, Gema terkikik dengan candanya sendiri.
Ningsih ikut tertawa mendengan ocehan anak itu.
“Kakak gimana kabarnya sayang”? Suara Fatimah seketika berubah lirih, ia sangat merindukan putrinya, Zareen”
Gema melihat ke arah Ningsih, seakan bertanya apa yang harus ia jawab, karena ia bingung, apa harus memberi tahukan keadaan yang sebenanrnya atau ia harus berbohong.
Ningsih menggelang, “Bilang sekarang kakak semakin membaik”. Bukan apa-apa, Ningsih hanya tidak ingin Fatimah dan Pak Imran kembali syok mendengar keadaan Zareen seperti kemaren, dan ini akan mempengaruhi kondisi sepasang suami istri renta itu. lagian, Ningsih tidak sepenuhnya berbohong, karena hari ini, Zareen memang sudah kembali membaik, biarlah hanya kabar baik ini saja yang di dengar Ayah dan Ibunya Zareen.
“Kakak sekarang baik buk, Ibuk sama Ayah terus do’akan kakak ya, do’a Ayah sama Ibuk yang paling kakak butuhkan saat ini, semoga Allah segera ijabah do’a kita ya buk”
“Aamiin sayang, iya nak, Ibuk sama Ayah tidak pernah berhenti berdo’a untuk kakak, kebahagiaan adek sama kakak, Ayah dan Ibuk selalu meminta itu”
Gema tersenyum, dan air mata membasahi pipinya, ia sangat merindu, merasakan hangatnya pelukan Ayah, Ibuk dan kakaknya yang sampai saat ini masih terbaring lemah di sana. Entah kapan kakaknya akan bangun, sudah empat puluh hari sang kakak tidak menyapanya, kondisi yang tidak stabil, sewaktu-waktu ia akan menunjukan tanda-tanda membaik, tapi tak selang berapa lama, Zareen akan kembali drop, seperti kemaren. Gema tak bisa membendung air matnya.
“Ya udah, Buk, disini udah adzan, Gema sholat dulu ya buk”
“Oh iya sayang, ya udah, besok-besok kita telfonan lagi ya”
“Iya buk, Insyaallah, Ibuk sama Ayah jaga kesehatan ya di kampung, makannya di jaga ya Buk, bilangin Ayah juga”
“Waalaikumsalam Ibuk”
“Insyaallah kakak lekas membaik, Gema do’akan terus kakak ya”. Ningsih mengusap air mata Gema, dan berucap dengan lembut menenangkanya.
...🍁🍁🍁...
Waktu terus berganti, musimpun bergulir. Masih di negeri Fatherland sana, gadis berkerudung baby blue itu masih setia memejamkan matanya, masih lengkap dengan segala alat yang melekat di tubuhnya. Dan, musabab kenyataan ini Zain meraung, sangat membenci. Sang kekasih hati, akhirnya memilih pergi meninggalkannya, ya, terhitung satu setengah bulan yang lalu Ilna kembali ke Indonesia dan benar-benar mengakhiri segalanya, sejak permintaanya untuk dinikahi Zain tidak jua di iyakan. Sebenarnya tidak hanya karena statusnya yang masih beristri, tapi bagaimana bisa ia dan Ilna akan melansungkan pernikahan mereka di sini, di negeri yang jauh dari keluarga mereka. Terlebih Ilna menghendaki pernikahan ini disembunyikan saja, berniat untuk tidak memberi tau keluarga mereka di Indo, bagaimana bisa! Zain tidak bisa melakukan itu, ia ingin menikahi Ilna, gadis yang ia cintai itu dengan cara baik-baik, dan dengan sebaiknya moment yang bisa ia berikan, meminta dirinya pada walinya dengan cara yang baik dan juga menikah atas izin dari sang Ibunda, Ningsih.
“Kau puas sekarang a?, kau Puassss...!!!
Kedua tangan kekar itu menekan kuat besi bangkar Zareen.
“Aghhhh...” Dia mengusap kasar wajah yang telah menahan amarah.
“Kau tau, ingin sekali rasanya ku cabut saja semua alat ini, agar semuanya selesai”
__ADS_1
“Iya, apa begitu saja!”.
Tangan Zain memegang alat bantu pernafasan Zareen, diangkatnya.
“Ah Shiit... Sialan!!!” Melepaskan satu pukulan ke tembok disebelah, jari itu meninggalkan jejak darah, kesal sangat kesal, dan ia sangat frustasi.
Zain bergegas keluar meninggalkan Zareen yang baik-baik saja, yah, sebelum ia benar-benar kehilangan akal sehatnya dan membunuh wanita yang semestinya ia lindungi.
“Allah..”, untuk kesekian kalinya hanya kata itu yang terucap. Zareen menangis dalam kelemahannya.
*
Zain membuka kedua matanya, mentari pagi yang menembus lapisan tipis di jendela membuatnya menyerngit, ia kesiangan lagi, tidak ada lagi subuh-subuh seperti dulu yang sering ia kerjakan bertiga bersama mendiang Ayah dan sang ibunda. Yah telah banyak yang berubah dari hidupnya, dan itu diawali dari kepergian sang Ayah, ia menyesali takdir, sejak hari itu.
Zain duduk, memijat kepala yang terasa berdenyut hebat, rasa sakit baru yang ditimbulkan dari minuman-minuman haram yang ia teguk semalam, hingga berbotol-botol banyaknya, yah jalan yang mulai ia sukai untuk pelampiasan amarah sejak Ayah pergi. Ia berjalan gontai dan mengambil handponenya di nakas, nama Ell yang tertera membuat ia segera mengangkat panggilan tersebut.
“Ya Ell?”
“Sir, segeralah datang kerumah sakit, Your wife is wake up”. Tutur Ell diseberang sana.
“W-what! Seriously?”
“Yes Sir, segeralah”
“O- Ok ok, saya akan lansung kesana, tolong... tolong tetap di dekatnya sampai saya kesana”
“Okey sir”
Setelah mendengar jawaban dari Ell, Zain lansung turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Hampir saja Zain tersandung di kaki meja, jika saja ia tidak cepat berbelok. Ia sangat tidak sabar untuk segera sampai ke rumah sakit.
Zain memacu mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja keadaan jalanan di negara orang tersebut tidak membuat gerah, terhindar dari macet, maka Zain merasa sangat bersyukur negara ini mau bekerja sama dengannya, eh maksudnya jalanannya.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Besok aku lanjutin yak, biar ada time deg degan nya gitu kayak pilem indosiar gitu kan wkwk...
__ADS_1
Enjoy reading guyss...
Baca setelah segala kewajiban ditunaikan yak ^^