SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Janjiku


__ADS_3

...Part 29...


...🍁🍁🍁...


Zain mengedarkan pandang, tidak lama menemukan apa yang ingin ia lihat, matanya bertemu dengan mata nan menatapnya sendu, Zain tersenyum dan mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja”.


Zareen mengangguk, dan membalas dengan senyum yang merekah.


Jumat, hari dimana Zain akan mengulang kembali mengikrarkan ijab dan kabul untuk pernikahan mereka, mengulang mengucap janji sucinya, untuk menjemput kembali sang istri, wanita yang sedari awal telah Allah tetapkan untuknya, kekasih hati yang semestinya ia damba sejak enam bulan yang lalu. Karena dialah takdirnya.


“Apa semuanya sudah siap?”


“Sudah Da, saksinya juga telah hadir Da".


“Zain, apa kamu sudah siap nak”?. Buya beralih pada Zain


“Insyaallah Buya, saya siap”. Tutur Zain menegakan punggungnya


Dihadapan Ayah, Ibuk, Buya Ramli, Umi Halimah dan dua orang saksi, Zain akan mengikrarkan ijab kabulnya.


Ayah mengulurkan tangan, Zain menerima uluran tangan Ayah menjabatnya.


Deg deg...


Deg deg...


Hatinya berdebar, tidak pernah terbayangkan bahwa ia akan kembali menjabat tangan Ayah, wali wanita yang telah ia nikahi. Namun, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Hatinya menginginkan, hatinya mengharapkan, dan mendamba. Rasa tegang dan canggung ini ia nikmati, ia menyukainya.


Zain mengulang melapalkan bait-bait zikir dalam hatinya, menarik nafas panjang dan mengangkat wajah memberanikan diri membalas tatapan Ayah yang menatapnya lekat.


“Bismillahirrohmaaniirrohim...


“Ananda Zain Malik Fahad bin Habiburrahman Fahad, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Asheqo Zareen dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, Tunai.”


Deg


Deg


Deg


Zareen menunduk menatap kedua tangan yang saling bertaut.


Sama, hatinya berdebar saat kalimat itu usai Ayah ucapkan, ikrar yang dulu tidak ia dengar, tidak dapat melihat jabatan tangan itu.


Sekarang, kalimat nan sakral itu keluar dari mulut sang wali, terdengar sangat indah, tatkala beriringan dengan detak jantungnya yang berirama.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


(mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan).


Ibuk menggumamkan do’a dalam hatinya tatkala ijab usai Ayah bacakan.


Zain menatap dalam Ayah, menghirup nafas panjang, dan dengan tenang Zain mengikrarkan,


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Asheqo Zareen binti Amran Rusyadi dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”


Dalam satu tarikan nafas Zain mengucap kalimat kabul, jawaban dari ikrar yag Ayah ucapkan beberapa detik yang lalu.


Bagaimana saksi?”. Buya melirik kepada kedua orang saksi yang duduk disebelah Ayah dan Zain

__ADS_1


Kedua saksi saling menoleh, kemudian bersama mengangguk, “Sah, sah”


“Alhamdulillahirrobbil aalamiin”. Buya berseru dan mulai membaca do’a untuk kedua penganten.


Semua orang mengangkat tangan mengaminkan bait-bait doa yang di baca Buya Ramli.


“Aamiin allahumma aamiin”.


Dengan khuyuk sampai pada Al-Fatihah sebagai pengakhiran munajat, kemudian menangkupkan kedua tangan pada wajah masing-masing.


Zain kembali mengambil tangan Ayah kemudian menundukan kepala menciumnya, “Ayah, terimakasih untuk sudi menerima kembali Zain sebagai menantu Ayah, terimakasih untuk restu dan ridho yang Ayah berikan untuk kembali berikan”.


Ayah mengusap kepala Zain yang masih menunduk pada kedua tangannya, “Dengan kesadaran kau kembali mengucapkan janji itu, di rumah-Nya yang suci, dan dihadapan dua orang saksi yang bersedia memikul tanggung jawab yang berat atas ikrarmu, maka jangan sampai kau kembali melupakan ini nak, ingat ini adalah perkara yang akan kau pertanggung jawabkan nanti dihadapan-Nya”.


Zain mengangkat kepalanya, “Iya Yah, janji ini akan Zain ingat yah, sepanjang hidup Zain”.


Ayah mengangguk, dan tersenyum.


Zain bergeser, dan beralih menyalim tangan Ibuk, melakukan hal yang sama.


“Maafkan Zain ya Buk, Zain tidak akan mengulang kesalahan yang sama, Zain tidak akan menyia-nyiakan Zareen lagi Buk”


“Yang lalu biarlah berlalu nak, sekarang mulailah menjalani hidupmu dengan baik, bersama istrimu, di rumah tangga kalian. Yang telah terjadi cukup jadikan itu sebagai pelajaran, karena tidak ada sesuatu yang sia-sia nak, segalanya memiliki tujuan dengan hadirnya”


“Iya Buk, terimaksih untuk kesempatan kedua ini Buk, untuk kelapangan hati Ayah dan Ibuk, Zain sangat bersyukur Buk”.


Ibuk tersenyum, mengusap pipi menantunya itu, “Ibuk titip Zareen ya nak, kasihi dia, sayangi, dan bimbing ia sebagai makmummu”.


Zain mengangguk, dan tersenyum, “Iya Buk, Zain janji Buk, Zain akan menjadi imam yang baik untuk Zareen kedepannya”.


Ibuk mengambil tangan Zareen, dan meletakannya di dalam genggaman Zain.


“Iya Buk”


Zain dan Zareen menatap wajah Ibuk, kemudian mengangguk dengan senyum merekah yang menghiasi wajah keduanya.


“Berkahi keluarga putriku ya robb”.


***


Ibuk, Umi dan Zareen pulang terlebih dahulu, Ayah, Buya, Zain dan dua orang saksi tadi tinggal karena tidak lama lagi sudah tiba waktunya untuk shalat Jumat.


Zareen memakai sepatunya, dan hendak berjalan menyusul Ibuk dan Umi yang telah mendahuluinya.


“Tunggu”


Langkahnya terhenti dan menoleh ke belakang, Zareen menautkan dua alisnya melihat suami yang berlari kecil ke arahnya.


Jantungnya kembali berdebar, hingga sang suami telah sampai tepat di hadapannya.


“I-iya Mas”. Kenapa jadi segugup ini gerutu Zareen dalam hati.


“Tunggu Mas pulang yah”.


Zareen melongo, matanya membola terperangah dengan apa yang ia dengar barusan, suaminya berkata apa?, Sudah pasti ia kan menunggunya di rumah, emang dia mau kamana?”


Zain mengangkat tangannya dan mengusap kepala Zareen yang ditutupi khimar putih, tersenyum dan sedetik kemudian berbalik kembali ke dalam masjid.


Meninggalkan Zareen yang kembali terpaku dengan keterkejutannya.

__ADS_1


12.30 WIB


"Assalamualaikum,,,"


Serempak Ayah dan Zain mengucap salam.


“Waalaikumsalam”. Sahut Ibuk dan langsung membuka pintu


Ibuk menyalim tangan Ayah dan setelah itu Zainpun mengulur tangan menyalim tangan Ibuk.


“Zareen mana Buk”?


“Iza ada nak di dalam, masih shalat kayaknya”?


Zain mengangguk dengan senyum yang mengembang di wajahnya, “Zain pamit ke dalam ya Yah, Buk”.


“Ah iya iya nak”.


Ibuk memberi jalan dan melirik Ayah, yang ternyata Ayah sama bengongnya dengan Ibuk, Ayah mengerutkan keningnya dan mengangkat bahu mengisyaratkan iapun memiliki kebingungan yang sama dengan tingkah menantunya barusan. Zareen sudah jelas ada di rumah lah, kemana lagi istrinya itu akan pergi.


Zain bergegas menuju kamar Zareen, pintunya tertutup.


“Ketuk enggak, ketuk enggak”?


Ah ketuk aja dulu deh ya, eh tapi tadi kan Ibuk bilang Zareen masih shalat, ya ganggu lah saya”


Akhirnya Zain memutuskan untuk tidak mengetuk, dan langsung menarik knop pintu dan menariknya pelan, ia ingin melihat sang istri segera.


Assalamualaikum warahmatullah...


Assalamualaikum warahmatullah...


“Eh Mas”.


Zareen terperanjat dan memegangi dadanya, ia terkejut saat mendapati Zain yang telah duduk di belakangnya.


Zain tersenyum, “Iya, ini Mas”


Zareen menghela nafas dan berbalik, “Udah dari tadi Mas pulangnya?”


Belum lama juga”


Trus Mas ngapain duduk di situ”?


“Nunggu kamu”


“Ada apa Mas?”. Mas mau makan?


“Mas cuma mau liat kamu”


Mata Zareen kembali membola, dengan ekspresi cengo di wajahnya yang amat kentara.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Heem... Udah mulai kecium aroma2 bucin nya yah 🤭


Mas Zain nampak2nya jago soal ini ha ha

__ADS_1


__ADS_2