SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Jawaban Hati


__ADS_3

...Part 34...


...🍁🍁🍁...


“Sayang... Mas merindukanmu”.


Zain kembali memacu mobilnya namun kali ini dengan kecepatan yang ia tambah. Ia sungguh tidak sabar untuk bertemu dengannya, kekasih hati yang amat ia rindukan saat ini, wanita yang ia damba dan puja, sang istri yang menanti kepulangannya.


“Assalamualaikum”. Zain mengucap salam dan menunggu di depan pintu. Ia tidak menggunakan kunci yang ada padanya. Sengaja berdiri di depan menunggu sang istri membukakan pintu untuknya. Konyol memang, namun ia mulai menyukai hal-hal yang sederhana seperti ini. Ia menyembunyikan buket Lily tadi dan menunggu dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


“Waalaikumsalam”.


Klek


“Mas”. Dan moment inilah yang ia rindukan, kekasih hatinya membukakan pintu menyambut kepulangannya dengan senyum manis dibibirnya.


Zareen mengulur tangan dan Zainpun menerima uluran tangan itu dengan senang hati. Istrinya mencium punggung tangannya.


“Maaf ya Mas agak lama tadi aku lagi di kamar. Lagian kenapa gak dibuka aja sih Mas langsung pintunya, kan Masnya ada kunci cadangan”.


Coleteh Zareen sembari mengambil tas kerja sang suami.


“Mas pengennya dibukakan sama kamu”.


Zareen tertawa, “Lebih memilih capek berdiri di depan pintu ya”.


“Ha ha gak terasa capeknya sayang, karena Mas suka”.


“Mas ini ada-ada aja. Ya udah, mendingan Mas langsung mandi gih, udah mau magrib ini”.


“Iya Mas ke atas dulu ya”. Zain mengangguk dibalik punggung Zareen yang mulai sibuk di dapur. Dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyembunyikan buket bunga dibalik tubuhnya kemudian membawanya ke kamar.


Adzan Magribpun berkumandang, Zain telah siap dengan peci dan sarungnya.Ia keluar menuju kamar tamu, dimana istrinya berada. Ya mungkin karena sebelumnya Zareen tidur di kamar itu, tidak dikamar utama bersamanya, jadi sejak kepulangan mereka pagi tadi Zareen pun memilih menuju kamar itu. Mungkin ia masih canggung.


Zain mengetuk pintu tiga kali. “Za,,,”


Pada ketukan ke tiga pintu terbuka, dan tampaklah istrinya yang sudah siap dengan mukenah putihnya.


“Sudah siap?”


“Sudah Mas”.

__ADS_1


“Yuk”.


Zareen mengikutinya dari belakang hingga ke ruang tamu, dan disanalah mereka melaksanakan shalat bersama.


Selesai melaksanakan shalat, Zain memimpin membaca doa, kebiasan beberapa hari ini yang ia suka. Setelah itu hingga waktu isya tiba mereka menghabiskan waktu dengan mengaji, melanjutkan bacaan mereka kemaren.


Setelah segala kewajiban mereka tunaikan, Zareen merapikan sajadahnya dan berdiri, hingga suara suami menghentikannya.


“Za, tidur di kamar utama ya”.


Zareen termangu, ia bingung harus bagaimana. Ia telah siap dari dulu, sejak mengetahui kalau Zain adalah suaminya. Namun rasa sakit yang bertubi itu membuat hatinya mulai membeku, hingga kini ia sedikit kesusahan untuk menjalaninya kembali. Maaf telah ia berikan, dan bukanlah ia yang pendendam, hanya saja ini bukanlah sesuatu yang mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, jujur saja begitu.


Zain yang dapat merasakan kegundahan istrinyapun berdiri, “Za, kamu mau kan tidur bersama Mas”. Ucapnya dengan tangan yang telah mengenggam kedua tangan sang istri.


Masih belum ada tanggapan.


Zain membawa Zareen kepelukannya, “Sayang, maafkan Mas atas semua luka yang Mas torehkan dahulu, Mas tau bahwa memang tidak mudah untukmu mengubur kenangan pahit itu begitu saja. Tapi semuanya telah terjadi Za, Mas tidak dapat merubahnya, yang bisa Mas lakukan hanyalah memperbaikinya, dan semua itu hanya bisa saat kamu mau memberikan maaf dan menerima Mas kembali sayang”.


“Aku sudah memafkan Mas kok. Hanya saja...”


Zain melepaskan pelukannya beralih menangkup wajah sang istri, “Ilna memang cinta pertama Mas, dan ia adalah orang yang sangat berarti bagi Mas. Tapi itu dulu Za, sekarang yang bernaung di hati ini hanyalah kamu seorang, istri Mas. Memang waktu yang kita lalui tidaklah selama ketika Mas bersama Ilna, namun perasaan ini berbeda sayang. Rasa khawatir ini, rasa cemas ini, rasa takut ini, rasa peduili ini, rasa rindu ini, dan rasa cinta ini, semuanya berbeda saat Mas bersama Ilna dulu. Mas tidak tau kenapa bisa seperti ini, namun satu kemungkinan jawaban yang dapat Mas terka, yaitu karena rasa ini terikat dengan janji bersama-Nya. Dan itu yang tidak ada saat Mas bersama Ilna”.


Zareen mengangkat wajahnya dan menatap mata sang suami.


Zain mengusap pipi kekasih hatinya dengan lembut, ia mengakhiri penuturannya dengan senyum. Ia telah mengungkapkan segalanya, dan sekarang biarlah istrinya memutuskan.


“Mas, kamu tau, bahwa aku telah menerimamu sejak saat itu, sejak saat pertama kali aku mengetahui kalau Mas adalah suamiku. Dan jauh sebelum itu, sejak pertama kali mata ini terbuka dan melihatmu, jantung ini telah berdebar untukmu Mas”.


Zareen mengambil tangan Zain dari pipinya, dan berbalik sekarang ialah yang mengenggam.


“Aku tidak membencimu Mas, tidak pernah. Kehadiranmu adalah takdirku, nama yang Allah tulis dalam lahul mahfudz ku, bagaimana mungkin aku membencinya”.


...kamu imamku Mas, dan terimakasih karena sudah mau menjadikanku bagian dari hidupmu.


“Iya sayang, iya. Kamu sekarang adalah bagian dari hidup Mas. Mas telah menemukan alasan hadirmu, dan Mas meyadari bahwa kamu sangat berarti bagi Mas, karena kamu juga adalah nama yang Allah sisipkan dalam lahul mahfudz Mas, yang menjadi tulang rusuk Mas”.


Zain kembali membawa Zareen ke pelukan, mendekapnya sangat erat, dan mencium puncak kepala sang istri lama.


Zareen membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Zain, merasakan hangatnya pelukan itu.


“Yuk Mas istirahat”.

__ADS_1


Zain melepaskan pelukan itu dan mengangguk.”Kamu jalan duluan sayang”.


“Baiklah”. Zareen tersenyum, ia tau bahwa suaminya bermaksud menyerahkan semuanya padanya. Tidak ingin mengiring, biarlah ia sendiri yang menetukan arah mana yang ingin ia tuju.


Zareen berjalan pelan, dan yah, akhirnya ia menuju kamar utama. Zain tersenyum hangat di belakangnya.


Hingga sampai di pintu, Zareen memegang knop pintu hitam tersebut, “Bismillah...”


Iapun mendorong pintu, dan di sana, di atas king size yang bewarna navy itu tergeletak satu buket Lily Putih yang cukup besar. Zareen terkesiap, berbalik dan mendapati sang suami yang tersenyum menatapnya di belakang.


“Kamu suka?”


“Itu bunga untuk Za Mas?”


“Iya sayang, Lily Putih itu untuk kamu”


Zareen tersenyum simpul dan kembali melanjutkan langkahnya hingga mentok ke ranjang. Tangannya terulur untuk mengambil buket itu, dan membawanya mendekat ke wajah dan mencium aromanya yang semerbak.


Ia menghirup lama, sejenak dengan mata yang terpejam.


“Wangi gak sayang bunganya?”


“Wangi Mas he he”


“Berarti kamu suka kan ya?”


Zareen mengangguk dengan senyum manisnya, “Terimakasih ya Mas”.


“Iya sayang sama-sama”.


Zain mengusap kepala Zareen yang masih tertutup mukenah.


Zareen kembali tersipu malu. Hal manis yang dilakukan suaminya ini berhasil meluluh lantakan hatinya yang sempat ia pagar teguh. Lily putih, ia tau makna apa yang ada pada bunga ini.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mohon bersabar ya manteman, mulai sekarang kehidupan manis mereka akan dimulai kok 🤩


Untuk tau rasa manis, bukankah kita harus tau dulu akan rasa pahit 🤭

__ADS_1


bener gitu kan manteman? he he


__ADS_2