SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Mencintai Takdir


__ADS_3

...Part 52...


...🍁🍁🍁...


“Sayang, makan dulu nak”.


Bocah laki-laki yang dipanggil menoleh, kemudian ia kembali melanjutkan larinya. Tanpa ia ketahui kalau di depan ada sepasang tangan nan kuat yang siap menangkapnya.


“Hap dapat...”


“Le-pas Ayaaah”.


“Gak mau”.


“Ayaaah.”


Zain tertawa melihat bocah laki-laki yang memberontak digendongannya, Arfan merungut kesal sambil terus mencubit-cubit tangan sang Ayah yang tentunya tidak berarti apa-apa.


“Arfan harus makan sayang, setelah itu baru lanjut main”.


“Gak au, Lam gak au akan”. Ucapnya terus mencoba melepaskan diri dari dekapan Ayahnya. Sementara Zain menahan tawa mendengar omelan dari mulut kecil itu, yang bahasanya masih banyak yang ia tak mengerti, sambil terus berjalan menuju kekasih hatinya yang terlihat bingung melihat kanan kiri mencari putra mereka.


“Bunda ni Arfan ni nda...” Teriak Zain


“Gak au gau au...”


Zareen menghela nafas dan berlari mendekat, dengan ngos-ngosan ia memelas didepan anaknya yang sangat aktif ini, “Sayang, Alam larinya kenceng banget sih, Bunda kan susah ngejarnya”.


Ia mendudukan diri di bangku disusul Zain dengan Arfan yang masih memberontak dalam dekapannya, “Le-pas Ayaaah... Lam gak au akan”.


“Undaaa...!".


Ia mengulur tangan hendak meminta bantuan kepada Zareen, dengan tatapan bak anak rusa itu yang tentunya akan mengetuk hati Bundanya, benar ia harus memelas dan meng-iba saja dihadapan Bundanya, Bunda pasti tidak akan tega dan meminta Ayahnya ini melepaskannya.


Zain tersenyum melihat tingkah bocah laki-laki yang memiliki hidung mancung persis seperti hidung kekasih hatinya ini dan mengusap kepalanya, “Alam sayang gak sama Ayah dan Bunda?”.


Arfan mengerucutkan bibir dan mengangguk, ia paham akan arti ‘sayang’, kata yang sering keluar dari mulut Bunda untuk dirinya.


“Kalau Alam sayang, Alam harus apa?”

__ADS_1


“Lam gak oleh bikin Ayah ma Unda nangis”.


“Jadi Alam harus Apa”.


“Lam ayus akan”.


“Masyaallah pintar anak Ayah, sekarang Alam buka mulut ya, Bunda suapin. Yok Bunda, Arfannya mau makan”. Zain mengode Zareen dengan matanya mengatakan ‘cepat’, sebelum putra mereka yang sangat susah untuk makan ini berubah pikiran. Zareen mengagguk dan mulai menyuapi Arfan. Arfan membuka mulutnya dan suapan demi suapan dari tangan sang bunda ia makan dengan lahap, hingga semua nasi itu habis.


“Al-ham-du-lillah....”


Zain mengeja mengucap syukur membantu Arfan yang bicaranya belum lurus.


“Enek... Atuk...”.


Zain yang tidak siap dengan pergerakan cepat putranya terkejut saat Arfan turun dari pangkuannya dan langsung berlari ke arah gerbang, ternyata ia melihat mertua bersama adik iparnya yang baru saja turun dari mobil yang dibawa Reza.


“Hati-hati sayang...!” Teriak Zareen yang hendak mengejar, namun tangannya di cekal Zain, “Gak apa-apa sayang, Alam dah gak sabar banget tuh ketemu Nenek sama Atuknya”.


Zareen mengangguk dan mereka hanya melihat dari jauh sang putra yang langsung menghambur ke pelukan Atuknya yang sudah satu minggu tidak ia temui. “Duh sayang Atuk beratnya, baru juga seminggu kita gak ketemu, tapi udah segede ini aja”. Amran menciumi cucunya yang membuat Arfan tertawa geli karena terkena jenggot Atuk dari Bundanya itu. Zain dan Zareen menyusul ke gerbang, menyambut Ayah, Ibu dan juga adik kesayangannya.


“Yuk Yah, Buk, Dek masuk”.


“Uni...”


Ningsih yang sibuk dibelakang bergegas ke depan begitu mendengar suara besannya yang sudah menetap di Jakarta dekat dengan mereka ini. Ia mengeringkan tangannya dan memeluk Ibu Fatma, “Pas sekali Uni datang, awak baru saja siap mencoba resep baru, Uni coba ya”. Ucap Bu Ningsih yang fasih menggunakan beberapa kata panggilan dari kampung halaman besannya itu. Semuanya tertawa melihat Ibu Ningsih yang berlari antusias ke dapur, Ibu yang jago masak ini begitu semangat untuk memperlihatkan kepada keluarganya resep baru yang ia temukan sendiri.


“Ibu gak usah buru-buru, mereka bisa menunggu kok”. Zareen tersenyum melihat Ibunya yang sibuk sana-sini dan ia membantu membawa kue yang cukup tinggi yang terlihat dari kotak yang menutupinya. “Ets penutupnya jangan dibuka dulu ya nak”.


“Ha ha enggak Bu, Za jaga sampai ke depan”. Zareen tertawa menggelang, ia juga penasaran temuan baru apa sebenarnya yang dibuat Ibu mertuanya ini, ia yang sibuk sedari pagi mempersiapkan resep baru ini tanpa mau dibantu sama sekali, bahkan masuk dapurpun dirinya tidak diperbolehkan. Zareen meletakan kue itu di atas meja kaca ruang tamu yang disana telah duduk berkumpul orang-orang yang terdiri dari tiga generasi itu. Semuanya memandang takjup kotak besar itu, namun Zareen mengatakan untuk menunggu sang empunya.


“Sayang duduk sini”. Zain menepuk sofa yang kosong disebelahnya, Zareenpun mengangguk dan mendudukan diri di dekat suami dan putranya.


Ningsih berjalan dengan senyuman yang mengembang, ia ikut bergabung, “Ok mari kita buka”. Serunya bersemangat, semuanya mengangguk tersenyum dan menatap tidak sabar pada penutup kotak yang mulai terangkat itu, hingga semuanya mendadak gelap.


“Mas...”


Zareen merasakan pergerakan disampingnya, suaminya beranjak. Begitu juga Arfan yang berada digendongan Ayahnya. Zareen yang mulai merasa takut hendak ikut berdiri, namun seketika lampu kembali menyala.


“Selamat ulang tahun Bunda Izaaa... Yeay”.

__ADS_1


Zareen menutup mulut terkejut, ia menahan suara, namun matanya mulai mengembun. Ia menatap kue yang indah dengan banyak replika kelopak sakura dengan berbagai warna yang mengelilingi tulisan ‘Happy Milad ke 28, Barakallah sayang’. Kemudian ia beralih pada semua orang yang berdiri didepannya dengan senyum hangat menatap dirinya.


Zareen memeluk satu persatu orang-orang yang ia kasihi ini, sungguh ia merasa sangat terharu dengan semua kasih sayang ini. Sedari kecil ia tak biasa memotong kue petanda bertambahnya usia, karena ketersedian nasi jauh lebih penting bagi mereka, bahkan ia tidak megingat kapan hari itu tiba. Ia memeluk mereka erat menumpahkan segala ungkapan terimakasihnya. Sungguh ia teramat mencintai keluarganya ini.


“Cup cup udah jangan nangis sayang, bisa-bisa Mas kena maklumat Ayah nanti nih karena biarin putri cantiknya ini nangis”. Zain menghapus air mata sang istri yang luruh begitu sampai padanya, “yuk kita coba kue buatan Ibu yang spesial buat Iza”.


Zareen menghentikan tangisnya dan mengangguk, mereka mulai mencoba kue yang terasa enak sama seperti tampilannya, menghabiskannya dengan diselingi canda dan tawa dua keluarga yang berbeda adat dan tradisi ini.


*


Zareen terbangun, dengan pelan ia mengerjapkan mata itu dan pemandangan didepannya membuat ia segera mendudukan diri, “Mas...”. Ucapannya terhenti saat sang suami meletakan satu telunjuk dibibirnya dan melihat ke arah sang putra yang tertidur di gendongannya. Zain meletakan Arfan ke box bayi dan menyelimuti hingga kesayangan mereka itu kembali tertidur lelap.


Zareen melihat jam, pukul satu dini hari, ia turun dan mendekat, “Mas kok gak bangunin Iza?”.


“Gak apa-apa sayang, Alam cuma nangis bentar karena popoknya penuh, lagian Iza tidurnya pulas banget”.


Zain tersenyum dan mengusap sudut mata istrinya yang mulai mengembun, istrinya ini sangat mudah menangis, ia tau itu. “Ush ush jangan nangis lagi donk dek, nanti di ketawain Arfan loh ha ha”.


“Makasih ya Mas, makasih untuk semuanya, makasih udah jadi imam dan Ayah yang baik buat Iza dan Arfan, makasih untuk kesedian Mas mengurusi segala keperluan keluarga Za, makasih banget Mas, Iza gak tau ngebalasnya dengan cara apa, atau entah apa Iza bisa ngebalasnya”.


Zain menangkup wajah Zareen yang menangis di dadanya, ia menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi tembem itu, “Iza adalah anugrah terindah dalam hidup Mas, Iza adalah alasan dari segala perjuangan Mas. Iza tempat berlabuh ternyaman, cinta dan kasih yang selalu Mas rindukan. Cukup selalu berada didekat Mas, dan terus mengenggam tangan Mas dalam mengarungi kehidupan ini, hingga kita bisa bersama-sama membawa rumah tangga ini menuju kepada keridho’an-Nya”.


Ia menatap mata itu, mata jernih yang menjadi kekuatannya, “Mas cuma membutuhkan Iza, itu saja cukup.Ya sayang ya?!”.


Zareen mengangguk dan melingkarkan lengan di leher suaminya, Zain terkejut saat bibir nan ranum itu mengecup dagunya. Ia menunduk dan mendapati tatapan sang istri yang bercahaya berbinar. Jantungnya berdebar saat kekasih hatinya tersenyum begitu manisnya.


Ia jatuh cinta, jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada orang yang sama, pada wanita yang merubah takdirnya, pada orang asing yang merusak mimpi indah yang telah ia susun sempurna.


Asheqo Zareen, adalah takdir yang sangt ia cintai, takdir paling indah yang melebihi kesanggupannya untuk menyusun kehidupan yang sempurna. Dan ia akan memegang erat cinta ini, cinta yang membawanya kepada cinta-Nya.


Dan kisahpun berakhir... ^o^


🌹


Pembaca yang budiman, akhirnya SDS sampai pada akhir ceritanya, yang hampir satu tahun ini aku tulis. Aku berharap semoga teman-teman semua bisa mengambil sedikit pelajaran dari kisah jatuh bangunnya Zain dalam menemukan cinta Tuhan-Nya, dan kekuatan cinta Zareen kepada Tuhannya dengan penerimaan segala cobaan dan ujian dalam hidupnya.


Pelajaran bisa kita dapat dari mana saja dan penulis hanya ingin tulisan ini tidak hanya menjadi kesia-siaan semata he he


Finally, salam hangat dari pulau Sumatera, dan jangan lupa mampir ke karya aku yang kedua ya “Makna Cinta”, silahkan di lirik dulu kakak ^o^

__ADS_1


Assalamu’alaikum Wr Wb...


__ADS_2