SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Kehilangan


__ADS_3

...Part 19...


...🍁🍁🍁...


Zain mengerjapkan matanya kemudian turun dari ranjang, hari ini ia bangun lebih awal, tidak lagi seperti hari-hari yang lalu. Zain bergegas ke kamar mandi, dan tidak butuh waktu lama Zain telah siap dengan pakain kantornya, ya hari ini Zain akan kembali ke kantornya, setelah sekian lama ia berlepas tangan.


Dengan tas ditangannya Zain turun dari lantai dua, saat berjalan menuruni tangga Zain melihat ke arah dapur, potongan bayangan punggung seorang wanita dengan khimar dalamnya terlintas di pikiran Zain. Zain menghela nafas kemudian melanjutkan jalannya kembali.


Zain mengambil kunci mobil di gantungan sebelah kanan, saat hendak keluar, Zain kembali termangu, menatap lama ke dalam, kemudian menutup pintu dengan pelan.


MF International Group Building.


“Allah... Terimakasih ya Allah, engkau sudah mengembalikan kesadaran direktur kami ini, terimakasih ya Allah”. Reza berucap riuh dengan menengadahkan kedua tangannya dan kemudian mengusapkannya ke wajahnya. Dengan semangatnya Reza berjalan menuju meja yang terdapat papan nama direktur, Zain yang melihat apa yang dilakukan sahabatnya ini hanya mengerutkan kening.


“Apa yang akan kau laporkan”. Sanggah Zain menghentikan tingkah Reza


“Huhhh...” Reza menghembuskan nafasnya


Banyak yang akan ku laporkan kepada anda Tuan Zain Malik Fahad, hanya saja saya bingung harus melaporkan dari mana”. Reza berjalan mundur dan memijat kepalanya


“Maaf saya telah sangat menyusahkanmu selama satu bulan ini, dan terimakasih atas kesediaan kau itu”


Reza berhenti dari kegiatan memijat-mijat kepalanya, dan menatap Zain “Ah ya benar, kau memang harus meminta maaf kepada ku, dan ya benar, bapak Direktur MF International Group yang terhormat, kau benar sangat-sangat menyusahkan saya, kau tau apa yang terjadi kepada saya selama satu bulan ini, tanggung jawabmu sebagai pemimpin perusahaan ini sangatlah besar Zain, dan saya tidak memiliki kapasitas untuk menanggung semua itu, saya benar-benar kewalahan”. Reza mengucapkan semua kata-katanya dengan satu tarikan nafas.


“Bapak Reza Mahardika yang terhormat, saya sudah meminta maaf dan mengucapkan terimakasih, jika anda merasa belum cukup dengan itu semua, maka saya akan menaikan gaji anda”.


“Ah ya benar, anda benar harus melakukan itu Pak, benar”. Ucap Reza girang sambil mendekat dan memeluk Zain yang membulatkan matanya.


“Ck, ini kan yang kau mau, dasar, memang ya sejak benda mati bernama uang hadir di dunia ini tidak ada lagi yang namanya teman sejati, yang ada hanya teman uang”.


“Hey hey hey, apa maksud kamu mengatakan itu?!” Reza melepaskan pelukannya dan menatap Zain dengan wajah tidak terima.


Jangan pernah sandingkan persahabatan dengan uang, karena mereka dua hal yang sangat jauh berbeda tuan, persahabatan ya persahabatan, uang ya lain lagi”. Tutur Reza nyengir


“Sudahlah, sekarang pergilah bekerja”. Zain mendengus


Lakukanlah sebaik gaji kamu yang saya naikan!”.


Reza tertawa ringan mendengarkan sarkas kemurkaan sahabatnya ini, ia sudah biasa mendengarkan kata-kata kejam yang keluar dari mulut berbisa itu, “tak apa asal kau senang Zain, lampiaskanlah kepadaku, tak apa”. Reza berbalik dan meninggalkan ruangan direktur yang mulai menyibukan diri kembali dengan kertas-kertas laporan perusahaan satu bulan ini.

__ADS_1


Hingga jam sudah menunjukan pukul 11.45, Zain masih saja berkutat dengan kertas dan laptop di depannya dengan satu tangan yang berada di kepalanya, sesekali keningnya terlihat berkerut.


“Huhh...” Zain menghembuskan nafas dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dengan tangan yang terus memijat kepalanya Zain melirik jam yang melingkar ditangannya, tepat jam 12.00. Zain beranjak dari duduknya kemudian mengambil tas dan kunci mobilnya.


“Eh kamu mau kemana”?. Tanya Reza yang berusaha mengejar langkah Zain yang baru saja keluar dari lift.


“Saya mau pulang”?


“Pulang, ngapaian? Kamu sakit?”


“Tidak, saya hanya ingin pulang saja”


“Kamu mau makan, kalau makan di sini saja, kita makan bareng, lagian sudah sangat lama kita tidak makan bareng kan, saya juga rindu kebersamaan kita”. Tutur Reza dengan terkikik.


Zain terus melangkah mengabaikan ocehan Reza yang sudah mulai tertinggal di belakangnya. Reza hanya menatap punggung Zain yang meninggalkannya dengan acuhan, Reza banyak berbicara hari ini karena ia melihat sahabatnya ini terlihat murung, sangat murung dengan tatapan kosongnya.


Zain mengemudikan mobil di tengah hari dengan pelan, jalan yang lumayan sepi membuat Zain sedikit tenang, syukurlah.


Sesampainya di rumah Zain memarkirkan mobilnya di bagasi, setelah itu ia bergegas membuka pintu rumah, keheningan menyambutnya. Zain melangkah masuk dan menutup pintu kembali, merebahkan tubuhnya di sofa tanpa melepaskan suit yang melekat di tubuhnya hingga ia terlelap.


...🍁🍁🍁...


“Halo dek, adek udah dari tadi pulang sekolahnya”?


“Sholatnya udah sayang”?


“Sudah kak, sholat dulu baru makan”


“Pinter adek kakak. Ibu mana dek?”


“Ibu ada di belakang kak, lagi nyuci piring, kaka mau ngomong sama Ibu?”


“Iya dek, coba liat apa udah selesai Ibu nyuci piringnnya”


Gema berlari ke dapur dan mendapati Ningsih yang sedang mengeringkan tangannya


“Udah kak, ini Gema kasih ke Ibu hp ny”


Ningsih yang mendengar suara Gema melihat ke arah Gema dan bertanya, “Apakah itu kak Iza”

__ADS_1


Gema mengangguk dan menyerahkan hp ke Ningsih.


“Assalamualaikum sayang”


“Waalaikumsalam Bu”. Suara Zareen terdengar lirih menjawab salam Ningsih


Ibu apa kabar, Ibu sehat-sehat aja kan?”


“Alhamdulillah Ibu sehat nak, Iza apa kabar nak, baik juga kan, Ibuk dan Ayah?


“Alhamdulillah kami semua juga sehat bu di sini”


“Alhamdulillah sayang, sampaikan salam ibu kepada Ayah dan Ibuk ya”


“Iya bu, nanti za sampaikan. Bu, za mau ngucapin terimakasih karena ibu sudah bersedia menjaga Gema selama ini, makasih banget ya bu. Za merasa tidak enak karena sudah merepotkan ibu”


“Ibu tidak merasa direpotkan za, kamu jangan berpikir seperti itu nak”


“Za minta maaf ya bu, za benar-benar merasa bersalah kepada ibu dan juga Gema”


Ningsih menghela nafas, hatinya iba mendengar menantunya di seberang sana berucap lirih dengan isakan yang coba ia tahan.


“Sudah nak, jangan berbicara seperti itu, kami disini baik-baik saja sayang, dan Gemapun sudah mengerti dengan keadaan ini. Gak apa-apa sayang, ambilah waktu secukupnya yang kamu butuhkan, tenangkan hati dan pikiranmu. Dan teruslah meminta petunjukNya nak, jalan yang terbaik untuk rumah tangga kalian. Tapi, ibu berharap semoga kamu ataupun Zain tidak mengambil waktu lebih lama lagi nak, karena masalah tidak akan baik jika terlalu lama didiamkan. Perenungan diri masing-masing memanng dibutuhkan, tapi jangan terlena sehingga melupakan mencari penyelesaian masalahnya nak”.


Zareen yang tidak bersuara di sana, hanya terdengar isakan tangis yang semakin menjadi.


Mendengar itu Ningsih kemudian melanjutkan kata-katanya, ia harus menyelesaikan nasihat ini, “Kamu masih mau menunggu Zain kan nak”?. Tanya Ningsih dengan hati-hati


Lama, baru terdengar suara Zareen, “Kita serahkan saja semuanya kepada Allah bu, bagaimana baiknya saja menurut Allah”


Ningsih terdiam dalam waktu yang lama, jujur ia tidak menginginkan jawaban ini dari menantunya, namun Ningsih tersadar bahwa ia juga tidak bisa menyalahkan jawaban Zareen ini, ia yang saat itu melihat sendiri, bagaimana derai air mata itu jatuh saat Zain menghina dan mencerca dirinya, kemudian mengkhianati ijab kabul pernikahan yang dulu ia ucap sendiri. Ia mengerti kepiluan yang Zareen rasakan saat ini, sudah pasti hati itu sangat rapuh.


Zareen menatap layar hp yang tidak lagi menyala, isak tangis yang sedari tadi coba ia tahan akhirnya pecah, dengan deraian air mata Zareen menangkup kedua wajahnya dan menenggelamkan wajah pada lututnya yang di tekuk.


“Allah yang tau betapa aku sangat menjaga pernikahan ini bu, ikrar suci yang terucap dari mulut suamiku adalah syair-syair yang paling indah yang aku abadikan dalam pikiran dan hatiku,


hiks....” Zareen terisak sendu


jiwa ku sudah jauh tenggelam dalam rasa ini bu”. Zareen kembali terisak dalam ringkukan itu hingga ia terlelap. Terlelap dalam kesenduan yang memilukan.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2