SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Cuitan


__ADS_3

...Part 46...


...🍁🍁🍁...


“Sayang,,, tadi ngapain aja bareng Bunda, dedek gak bikin Bunda capek kan?”


Zareen tersenyum dan menahan tawa melihat suaminya yang terus saja sibuk mengelus perutnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya hanya dapat dijawab oleh Bundanya. Zareen tertawa geli, “Mas, coba tanya Bundanya deh, Bundanyanya juga pengen diperhatiin tau”. Ujarnya sambil tertawa


“Bundanya emang ngapain aja seharian ini?". Sekarang ia menengadah beralih pada Zareen. "Aaa Mas tau, pasti mikirin Ayah aja kan”. Celetuknya


“Ha ha enggak kan dek, pede banget ya Ayah”.


“Ah masak, bohong nih?". Rayu Zain beralih menggelitiki pinggang istrinya yang mulai gemukan itu.


“Ha ha geli Mas ha ha”


“Jujur aja deh, ayooo”. Ia terus menjahili Zareen


“Ha ha udah udah Mas, geli banget Mas”. Zareen terus mencoba menghindar, berdiri hingga...


Aghhh...


Mas...!!!


“Sayang...”. Zain menangkap dengan cepat pinggang sang istri hingga mereka terlentang di lantai beralaskan tikar yang berbulu lembut itu.


“Sayang kamu gak apa-apa kan? Ada yang sakit ? Perutnya gak sakit kan yang?


Zain mendudukan Zareen, dengan paniknya ia memeriksa tubuh sang istri.


“Gak apa-apa Mas, gak ada yang sakit”.


“Serius yang?”


“Iya Mas, dedeknya aman”. Zareen mengusap wajah sang suami yang tegang karena kepanikannya.


“Hufh Ya Allah”. Zain membawa Zareen ke pelukannya, membuang nafas panjang.

__ADS_1


“Ha ha Mas sih, jahilin Iza mulu”


“Maaf sayang, Mas gak akan ulangi lagi, Maaf ya”


Zareen hanya mengangguk dalam dekapan suaminya yang mengerat, ia memejamkan mata membalas pelukan itu. Membayangkan kembali wajah suaminya barusan yang begitu ketakutan, sangat ketakutan. Kepanikan dari sosok yang biasanya sangat tenang ini, baru pertama kali ia lihat. Ia memejamkan mata dan semakin mengeratkan pelukan pada punggun lebar kekasih hatinya. Ia mengucap syukur, Allah telah hadirkan seseorang yang begitu baik untuk menjadi suaminya, seseorang yang menjadikannya seperti wanita yang sangat berharga. Ia mencinta, sungguh ia teramat mencintai suaminya ini. Dalam do’anya ia terus meminta kepada Allah, agar Allah panjangkan jodoh mereka hingga ke Jannah, karena ia ingin ia dan suami bersama tidak hanya di dunia ini saja, namun juga di alam yang kekal nantinya.


...🍁🍁🍁...


Waktu terus berputar, musim berganti dan kini usia kandungan Zareen semakin bertambah, hari ini tepat memasuki bulan ke empat. Zareen berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang terlihat semakin berisi, ia memutar kanan dan ke kiri, terus menatapi, pipi yang semakin bulat, lengan, hingga kakinya.


“Sayang, Bunda semakin kelihatan gendut nih. Ini karena Bunda harus lebih banyak makan buat kamu, ngasih nustrisi lebih buat kamu, makanya kamu sehat-sehat ya nak disana, yang kuat, hingga kita bertemu nanti di dunia, Bunda sangat menantikanmu”. Tuturnya menunduk ke perut yang terus ia usap.


Zain yang baru selesai dari ruang kerjanya menutup pintu pelan, ia mendengar kata-kata yang istrinya ucap barusan.


“Bunda juga harus sehat, jangan ngebantah lagi saat Ayah larang buat kerja”. Ia meletakan tangan di atas tangan Zareen yang masih berada di perutnya.


“Mas...”, Zareen menoleh pada sang suami yang meletakan wajahnya di bahu kanannya.


“Bunda ngapain?”


“Iza gendutan banget ya Mas!?”. Ucapnya kembali menatap kaca


“Huffh...” Zareen menghela nafas


“Hey it’s ok baby”. Zain memutar tubuh istrinya yang terdengar menghela nafas lemah, “Iza berisi kan demi si dedek, its nothing wrong”


“Bulet banget Iza, kayak semangka ha ha”.


Zain menangkup wajah istrinya, “Iza, seperti apapun bentuk tubuh Iza, itu gak ada masalah untuk Mas, yang terpenting Iza sehat, dan selalu bisa nemenin Mas, itu saja cukup untuk Mas. Okey sayang, dont worry about this”. Zain mencubit hidung mansung istrinya.


“Iya Mas”.


“Senyumnya mana?. Dek, Bunda cemberut nih, Ayah gak suka, adek pasti gak suka juga kan?”. Canda Zain yang berhasil membuat Zareen tertawa.


*


“Sayang, Mas jalan dulu ya”.

__ADS_1


“Iya Mas, hati-hati ya, jangan lupa makan, sholatnya”.


“Iya sayang, Insyaallah”. Ia melepas pelukan dan mencium kening sang istri lama, kemudian beralih pada perut Zareen, “Anak Ayah, jaga Bunda ya Nak, adek dan Bunda sehat-sehat yah, ingetin Bunda makan, ok”. Ia juga mengecup perut nan semakin penuh itu.


“Mas jalan yah”. Zareen mengangguk dan mencium tangan sang suami.


“Bu, Zain jalan ya”.


“Iya nak, hati-hati ya, tenang aja, Ibu dan Gema yang akan jagain Iza di sini”.


Zain tersenyum dan menyalim tangan Ibunya, “Gema jagain kakak ya dek”. Ia mengusap kepala adik iparnya itu. Zain bergegas naik ke mobil yang di kemudikan oleh sopir pribadinya, ia berangkat menuju bandara ditemani Reza.


Zain menatap mobil yang semakin menjauh, sejujurnya saja ia tidak ingin suaminya pergi, namun ia tidak bisa meminta untuk itu, karena ini adalah perjalan bisnis yang sangat penting untuk sang suami.


“Eh iya bu”. Zareen tersadar dari lamunannya setelah Ningsih memegang bahunya. Ia masuk mengikuti Ibu dan adiknya, menutup pintu. Selama Zain pergi Ibu dan Gema akan menginap disini, mereka akan menemani Zareen. Kembali Zareen merasa bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang yang sangat menyayanginya, mertua yang kasih dan sayangnnya layak Ibu kandung yang melahirkannya, adik yang begitu melindunginya, dan juga suami yang begitu mencintainya. Zareen meletakan ponselnya di nakas, menutup aplikasi berlogo biru itu, merebahkan diri di king size mereka.


Pagi harinya Zareen melihat ponselnya, kenapa tidak ada juga panggilan dari suaminya. Zareen menghela nafas saat ingatannya kembali pada cuitan yang ia baca beberapa hari yang lalu. Ia beristighfar dan duduk menegagkan diri. Kembali menarik nafas dan menekan panggil pada nomor sang suami.


“Nomor yang anda tuju... Tut...”


Zareen mematikan layar ponsel, jawaban yang sama sejak semalam, suaminya tidak mengabari sudah sampai atau belum, dan sekarang nomornya sibuk. Zareen terus berdzikir dalam hati dan berdoa semoga suaminya baik-baik saja.


“Buk sarapannya sudah siap”. Suara Rini menyadarkannya


“O iya, panggil Ibu sama Gema ya Rin”.


Rini bergegas memanggil Ibu dan Gema, dan sekrang semuanya menikmati sarapan yang dibuat Rini dengan tenang.


“Bu, apa Mas ada menelepon Ibu?”


“O iya nak, Ibu lupa memberitahu Iza, Zain sampai dengan selamat, dan on time semalam".


Zareen mengangguk, namun bertanya dalam hati, “Kenapa suaminya tidak memberitahu dia juga, malahan telepon darinya tidak diangkat”. Zareen kembali menghela nafas gusar, ia menyesal telah menyempatkan diri membaca tulisan diaplikasi burung itu, ia jadi seperti ini, takut, takut jika hal itu juga terjadi pada dirinya.


“Jauhkanlah prasangka buruk dari hati dan pikiranku Ya Allah, suamiku berjalan untuk mencari nafkah, untuk istri dan anaknya. Jagalah suamiku dimanapun ia berada, buat ia selalu mengingat engkau ya Robb”.


Zareen mengucap aamiin, dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


🌹


__ADS_2