SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Cherry Blossoms


__ADS_3

...Part 39...


...🍁🍁🍁...


Bulan Maret 2022 , mereka berada di waktu yang tepat, dimana pada bulan ini hingga bulan setelahnya musim semi umumnya berlansung. Dan bunga sakura adalah simbol dari musim ini di Jepang.


Senjanya, Zain mengajak Zareen keluar untuk memulai perjalanan mereka, dalam misi mewujudkan mimpi sang istri. Musim peralihan dari dingin ke hangat, hingga udara masih terasa sedikit dingin. Zain memastikan sang istri terbalut pakaian tebal yang cukup untuk menghangatkannya.


“Ready sayang?”


“Ready Mas”.


“Lets go”. Zain menarik tangan Zareen dan menuntunnya keluar.


Showa Memorial Park, adalah tujuan mereka saat ini. Taman yang sangat luas dengan hamparan warna-warni bunga ini dirasa akan mampu membuat sang istri terpana. Dimana disana terdapat koleksi sakura paling tidak 1.500 jenis sakura, dan juga masih banyak terdapat bunga-bunga lainnya, seperti tulip, shirley dan lainnya.


Zain dan istri memutuskan untuk berjalan kaki saja, karena jarak yang tidak jauh dari penginapan mereka. Lagian lelah berjalan tidaklah akan terasa, karena kota ini menyuguhkan keindahannya di setiap sudut.


Dan benar saja, belum saja sampai ke taman, Zareen sudah dibuat berdecak kagum akan pohon-pohon sakura yang mulai mereka jumpai di jalanan.


“Wahhh...


Masyaallah...”


“Ya Allah, cantik banget Mas”.


“Ya Allah cantiknya, sepanjang jalan dihiasi tanaman seindah ini”.


“Ini baru satu sakura sayang. Nanti banyak lagi yang lebih dari ini”.


“Ayok buruan Mas”.


Zain tersenyum melihat raut Zareen, hatinya menghangat melihat wajah yang menampakan antusias itu. Sungguh ia ingin menjaga senyum itu, ingin memberikan kebahagiaan untuknya. Ia semakin mengeratkan genggaman pada tangan mungil sang isti.


“Let’s get it”.


Mereka berjalan sedikit lebih cepat, hingga hamparan yang di dominasi warna putih itu tepat berada di depan mereka.


“Somei Yoshino”. Mata bulat itu semakin bersinar, seakan benar-benar terhipnotis akan pesona bunga sakura nan paling cantik itu.


Zain tersenyum dan menarik tangan istrinya untuk semakin mendekat pada bunga-bunga nan putih itu, ia adalah icon dari segala sakura, Somei Yoshino.


“Ayok sayang”.


Zareen mengangguk kemudian mengikuti langkah Zain. Tatapan kagum itu tidak lepas dari wajahnya, sangat terlihat.


“Masyaallah


Indahnya...”


“Hihi “. Zain terkekeh dan mengusap kepala sang istri yang terus menengadah pada pohon-pohon itu.


“Mas, kok bisa sebagus ini sih”. Gumamnya dan mulai melepaskan tangan dari genggaman Zain.

__ADS_1


“Liat jalannya sayang”. Tegur Zain cemas karena Zareen berjalan denga mata yang terus menatap ke atas. Istrinya seakan lupa kalau mereka masih menapaki tanah.


Angin musim semi berembus dan membuat kelopak-kelopak putih itu berjatuhan. Zain bergegegas mengambil gawai dari saku mantelnya kemudian mengarahkan pada sang istri.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Membidik terus menerus pada sang istri yang menengadahkan tangan menyambut sakura yang berjatuhan itu.


“Mas...!”. Teriaknya menoleh pada Zain. Seolah ingin menunjukan pada Zain semua keindahan itu, dan semua kebahagian itu.


Zain mendekat dan ikut mengumpulkan kelopak-kelopak itu. Setelah banyak ia menarok pada tangan istri yang juga telah sama banyaknya.


“Wangi Mas”. Zareen mencium tumpukan kelopak pada tangannya.


“Mana coba sini Mas cium”.


Zain menunduk namun bibir itu mendekat pada kening sang istri.


“Hmmm iya wangi, wangiiiiii sekali”.


“Ish Mas ini. Bunganya Mas”. Zareen merungut dan menundukan wajah, ia malu karena di sekeliling mereka banyak pengunjung lainnya.


“Iya bunganya sayang”.


“Ha ha jangan cemberut gitu sayang, nanti Mas makin cinta lo”.


Zareen menghamburkan kelopak itu dan berlari meninggalkan Zain.


“Sayang tungguin”.


Zain mengejar Zareen hingga tubuh mungil itu kembali dalam rangkulannya.


Sepasang suami istri itu kembali melanjutkan jalan mereka menyusuri bagian-bagian taman yang lain. Hingga jingga menghampiri, petanda bahwa matahari akan tenggelam. Zain melirik jam, dan benar saja tidak lama lagi sudah tiba waktu untuk shalat maghrib. Iapun membisikan pada sang istri dan merekapun kembali ke penginapan, kembali dengan banyak memori yang tersimpan abadi di hati dan ingatan mereka masing-masing.


...🍁🍁🍁...


Esoknya perjalanan kembali dilanjutkan, hari ini tujuan mereka adalah Sumida Park atau dikenal juga dengan Taito-ku. Zareen sangat bersemangat karena di sana akan berlansung festival Hanami, menikmati keindahan musim semi disepanjang sungai sambil makan-makan dengan menaiki kapal beratap Yakatabune.


Setelah itu mereka beralih ke Inokashira Park. Di dalam taman ini terdapat 500 pohon sakura. Yang dapat dinikmati mulai awal maret hingga april mendatang. Zain dan Zareen kembali menaiki kapal untuk menyusuri kolam Inokashira. Ranting-ranting bunga yang menjulur hingga ke kolam menghasilkan pantulan merah muda di atas permukaan airnya. Zareen menjulurkan tangan menyapu air kolam yang dipenuhi kelopak-kelopak sakura pink yang berjatuhan.


Zain hanya tersenyum menyaksikan keindahan itu, keindahan sang istri yang tengah bermain dengan keindahan serupa dengannya.


“Sudah berapa jenis bunganya sayang?”


Tanya Zain saat mereka telah naik kembali ke daratan.


“Somei Yoshino, Fugenzo, Shidarezakura, Kanzan, Kanhizakura, Edohigan, Ichiyou, Kawazuzakura, Yamazakura, Kikuzakura, dan Ukon. Sebelas Mas, beneran udah sebanyak ini Mas?”. Tanyanya tidak percaya sambil mengembangkan kesepuluh jari-jarinya.


“Kan kamu ngitung sayang, lagian kamu yang hafal nama-namanya”. Kata Zain terkekeh

__ADS_1


“Wahhh iya loh Mas. Udah sebanyak itu waahh”. Gumamnya kembali kagum


“Ha ha masih adakah yang belum?”


“Enggak Mas, Udah semua”.


“Yakinnn?”


“Iya Mas, umumnya yang ada di Jepang memang sebelas jenis ini Mas. Jadi sudah kita liat semuanya”.


“Alhamdulillah..., kamu seneng gak?”


“Seneng Mas, seneng banget , Masyaallah”.


“Alhamdulillah, lelah Mas terbayarkan”.


“Mas lelah?”.


“Iya lelah banget sayang”.


“Tenang ya Mas, lelah Mas akan berbalas pahala yang berlipat-lipat karena sudah menyenangkan istri, itu hadiahnya dari Allah”. Tutur Zareen dengan puppy eyesnya.


“Ha ha Aamiin ya Allah. Kalau hadiah dari kamu ada gak?”. Tanya Zain dengan sebelah alisnya yang ia naikan.


“Mas mau apa dari Za, Mas kan udah punya semuanya”.


“Mas mau...”.


“Mau apa?”


Zain semakin mendekat pada wajah sang istri yang mulai memerah.


“Apa Mas?”. Tanyanya gugup


“Mau disayang kamu”. Tuturnya dengan cengiran dangkal di bibirnya


Zareen menatap mata yang menatapnya lekat, mata indah kekasih hatinya. Ia mendekat,


Cup


Zareen mengecup kening sang suami


“Za sayang Mas kok, gak perlu Mas minta”.


Zareen tersenyum melihat pipi chubby nan makin memerah itu. Ia mengangkat tangan dan menangkupnya.


“Mas mau sayang kamu semuanya, semuanya untuk Mas, hanya Mas”.


“Hanya kamu Mas, karena Mas suamiku”.


“Love you honey”. Zain tersenyum puas dan balik mencium kening sang istri, lama.


Ia telah menjadi laki-laki yang posesif, yang membutuhkan pengakuan dari kekasih hatinya setiap saat, ia sadar itu. Tapi ia butuh itu, ia butuh disayang sang istri, ia butuh dicintai sang istri, butuh berada dalam hati sang istri, butuh semua rasa itu, dan ia butuh istrinya. Maka pengakuan ini adalah tameng untuk kegilasahan hatinya yang takut akan kehilangan semua ini.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2