
...Part 18...
...🍁🍁🍁...
“Iya buk, Alhamdulillah Iza sehat buk”
“Syukurlah buk, sekarang Iza sedang apa buk?”. Ningsih menghela nafas
“Iza baru selesai mengaji buk, ibuk mau bicara sama Iza”?
“Aah gak usah buk, sampaikan saja salam saya kepada Iza ya Buk Fatma, bilang kalau saya sangat merindukannya”
“Baiklah buk, nanti saya sampaikan”
“Jagain Iza ya buk, sampai nanti Zain menjemputnya lagi”
“Iya buk, semoga Allah menuntun hati mereka ya buk, menunjukan jalan yang terbaik untuk mereka”
“Aamiin allahumma aamiin, semoga saja ya buk, kita sama-sama berdo’a saja buk”
Fatma menatap sendu putrinya yang tengah merapikan mukenah dan sajadahnya,
“Kak..”
“Iya buk”
“Mertua kamu menyampaikan salam”
Zareen termangu, Fatma melanjutkan “dia bilang dia rindu sama kakak”
“Apa ibu baik-baik saja buk?”
“Alhamdulillah mertuamu baik-baik saja nak”
“Syukurlah buk”
“Dan juga buk Ningsih meminta kepada ibuk, agar menjaga kamu dengan baik”
Zareen menatap sang ibu, “Ibu ada-ada aja, tanpa dimintapun ayah sama ibuk sudah pasti menjaga Iza dan Gema”, Zareen tersenyum dan menggeleng
“Menjaga menantunya ini agar tidak dilirik laki-laki lain, bisa bahaya katanya” Fatma berkata sambil tertawa
Zareen berdiri dan merapikan buku-bukunya yang berserakan di mejanya.
__ADS_1
“Jikapun Iza dilirik laki-laki lain, atau Iza yang melirik laki-laki, za bisa apa buk, za gak bisa mengajak cowok itu kawin lari”
“Ha ha ya gak bisalah nak, kamu kan istri orang”
Fatma berjalan dan membalikan tubuh Zareen yang masih menyibukan diri dengan buku-buku yang tidak seberapa.
“Teruslah menjaga diri seperti ini ya nak, menjaga hatimu, jangan sampai ia membenci nak, Allah maha tau yang terbaik untuk hambanya”
Zareen memeluk Fatma, “Ibu do’akan yang terbaik untuk kakak dan Zain”
Air mata yang kembali mengalir, membasahi pundak Ibunda, Zareen menangis dalam diam, pilu sangat pilu, luka yang sangat sukar sembuhnya ini menyisakan pedih meremukan hatinya. Luka dalam pernikahan
Zain POV
Dalam ketidaksadaranku sayup-sayup ku mendengar lantunan bacaan ayat-ayat nan indah itu, bacaan yang sangat fasih dengan tartil yang sangat menyejukan hati. Suara ini, ku sangat mengenal suara ini
Zain terbangun kemudian melirik jam di sebelahnya, jam setengah tiga dini hari. Zain membuang nafas dan mengusap wajah dengan kedua tangannya, ia turun dari ranjang dan berjalan ke balkon kemudian menyalakan satu batang rokok, menghisap kuat aroma tembakau sambil menatap jauh ke kegelapan malam. Angin yang menyapa tubuhnya bersama hembusan asap seakan mampu memberikan ketenangan untuknya saat ini. Pikiran yang tidak pernah bisa diajak beristirahat dan kegelisahan hati yang menyiksanya siang dan malam, dan ini sangat menyiksa. Panas bara yang terasa membakar ujung jari, Zain tersadar dan membuang puntung rokok. Zain berbalik ke kamar dan dengan kegusaran matanya tidak dapat lagi terpejam hingga pagi datang, hal yang terus berulang dalam malamnya saat-saat ini.
Di pagi harinya, Zain turun ke lantai bawah sekedar untuk menyegarkan tenggorokan yang pedih karena rokok dan alkohol semalam, saat hendak membuka pintu kulkas tangannya tiba-tiba berhenti, zain menatap tiga lembar kertas kuning yang tertempel di pintu kulkas, pada kertas pertama tertulis kata-kata “Mas, sarapannya aku letakan di lemari kanan atas, aku masakin nasi goreng jamur”,
pada kertas kedua tertulis “Aku minta maaf karena aku keluar sebelum kamu izinkan, aku harus ke panti Mas, saat masak tadi aku dapat telfon kalau penyakit Rani kambuh mas.”
Kemudian pada kertas ke tiga tertulis “Tolong beri maaf aku karena minta izinnya melalui kertas saja ya Mas, tadi aku mau ngomong langsung, cuma ku lihat Masnya lagi sibuk menerima telfon dari Reza, dan itu membicarakan hal yang penting, semoga apa yang kamu dan karyawan usahakan untuk proyek baru ini berhasil ya Mas, Bismillah”
“Assalamualaikum sayang”
“Waalaikumsalam Bu”
“Iya nak ada apa? Apa kamu lapar”?
“Tidak buk”
“Apa Zain sudah makan?”
“Sudah bu”
“Terus ada apa nak”
“Bu, apa Zain bisa kembali ya bu?”
“Kembali, kembali kemana nak?”
“Rasanya menyesakan sekali bu, ingin rasanya Zain membelah dada ini dan mengeluarkannya”
__ADS_1
Ningsih terdiam beberapa saat, ia mengerti maksud perkataan putranya ini
“Hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang nak, ingat Allah, kembalilah padaNya, hatimu gersang karena sejatinya ia merindukan penciptanya, pemilik hatimu sendiri. Berhenti melampiaskannya kepada minuman-minuman haram itu sayang, percayalah itu tidak akan membantu, justru itu akan membuat kamu semakin putus asa. Allah juga merindukanmu sayang, Allah menegurmu dengan semua ini karena Allah juga merindukanmu, karena sudah terlalu lama kamu mencoba menarik diri dariNya, kembalilah nak”
Zain menutup telfon dengan sepihak, dengan keheningan tanpa ada kata-kata yang terucap lagi dari bibirnya. Dengan tatapan kosongnya Zain bermenung, kata-kata Ibu terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah Allah menegurnya benar karena Allah mencintainya?, atau justru semua ujian dan musibah ini adalah siksa karena Allah membencinya.
Namun rasa sakit ini, kehilangan ini, dan kekecewaan ini, bukankah berarti kalau Allah membencinya, Allah tidak memberikan mengambil kebahagiannya, Allah memisahkan dia dengan orang-orang yang di cintainya, Allah merenggut apa yang seharusnya menjadi miliknya, Allah hanya membiarkan ia hidup dalam kehilangan, hanya ada kekecewaan, hatinya tidak cukup kuat untuk menanggung semua ini.
Zain mengambil kunci mobil dan kemudian ia mengendarai mobilnya dengan kencang, ia mengemudi tanpa arah dan tujuan, zain memacu kecepatan dengan pikiran yang kalut, dan seketika Zain menekan tuas rem dengan segenap kekuatan kakinya, “Ciiittttt...” Bapat tua yang berada tepat di depan mobil Zain berhenti dengan keterkejutannya. “Arhghhhh sial sial sial” Zain menarik rambutnya dan memukul setir sehingga tangannya membiru. Lampu kuning baru berganti ke hijau, dan mobil-mobil di belakang Zain membunyikan klason dengan heboh, zain tersadar dan kembali menjalankan mobilnya dengan pelan. Kejadian yang sama hampir terulang kembali.
...🍁🍁🍁...
“Ada apa ya Firman”?
Firman mengedarkan pandangan matanya dan ia tidak menemukan apa yang ia cari, Fatma dan Ayah menatap heran dengan apa yang Firman lakukan.
“Firman..”
“Eh iya Buk, Ayah” Firman kembali melihat ke arah ayah dan ibu
Buk, mohon maaf sebelumnya, maksud dari kedatangan saya kemari adalah untuk meminang Zareen buk”
“A-apa?”. Fatma terkejut dan mengalihkan pandangannya ke Ayah
“Firman, kamu kan tau nak kalau Zareen sudah menikah”
“Iya saya tau buk”
“Terus apa maksud kamu ini?”
“Zareen kan tidak lagi bersama suaminya buk, yah”
“Astaghfirullahal’adzim...” Fatma membuang mungka dengan mata yang sudah memerah, dari mana mereka tau tentang aib rumah tangga putrinya ini, Fatma beranjak ke dapur dan membiarkan air matanya jatuh disana.
“Apapun yang kau dengar di luar sana, putri saya dan suaminya baik-baik saja, rumah tangga mereka baik-baik saja”.
Ayah melanjutkan kata-katanya “Dan jikapun Zareen dan suaminya berpisah, bukankah kamu memahami cara mendatangi perempuan yang diceraikan oleh suaminya, tidakkah kamu mengerti cara menjaga kehormatan seorang wanita ”?
“Maafkan saya ayah, saya tidak bermaksud seperti itu, niat saya baik ayah”. Firman berucap dengan cemas, ia sudah mengetahui segala masalah yang terjadi saat ini di rumah tangga teman semasa sekolahnya itu, dan ia benar-benar memiliki niat yang baik kepada Zareen, namun ia menyinggung hati ayah dan ibu Zareen, ia lupa bahwa status pernikahan zareen dan suaminya belumlah benar-benar terputus, ia merutuki diri, bagaimana bisa ia mempeturutkan egonya dan melupakan syariat yang sudah ia ketahui.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1