
...Part 13...
...🍁🍁🍁...
“Aku anterin yah”
“Gak usah baby, masih belum terlalu larut kok”
“Nggak naggak nggak, udah malam, aku gak tenang biarin kamu pulang sendiri”
Ilna melirik punggung yang terlihat sibuk mencuci piring
“Hmm ya udah deh, lagian aku tadi juga nge tes kamu doank”
Zain mengerutkan kening, “Kamu gak perlu nge tes apapun Ilna, kamu gak perlu mempertanyaan apapun, aku masih sama, masih Zain yang sama yang mencintaimu”
Ilna cukup puas dengan jawaban itu, senyum merekah menghiasi wajahnya yang cantik
“I know that, ya udah yuk” Ilna menarik tangan Zain, dan merekapun berbalik meninggalkan Zareen yang masih menyibukan diri dengan piring-piring yang tidak seberapa.
Tidak perlu disembunyikan lagi, air mata itu jatuh, mengalir membasahi pipi yang tidak berlapis blush on itu.
“Hiks... Apa ini ya Allah, kenyataan apa ini, kenapa seperti ini ya Allah”. Zareen melepaskan air mata yang sedari tadi ia tahan dengan isak yang menyesakan dada.
Satu persatu kenyataan-kenyataan pahit terungkap, kenyataan bahwa sang suami telah memiliki kekasih hati yang sangat ia jaga dan ia cintai. Inilah jawaban dari segala sikap dingin suaminya, ternyata bukan karena ia belum bisa menerima hadir dirinya sebagai orang asing, namun karena hatinyalah yang telah dimiliki seorang, dan Zain telah mengunci rapat hatinya sehingga bagi orang asing hanyalah ada pengabaian dan penolakan. Rasa hangat hanyalah untuk Ilna seorang.
Sudah sangat larut, Zain kembali pulang, sesampainya di apartemen ia melirik jam yang ada di ruang tamu, jam telah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Setelah mengantar Ilna ia tidak langsung pulang, namun ia terus memutar kemudi, yang ia lakukan hanya mengitari jalanan ibu kota. Ia enggan untuk pulang rasanya, enggan untuk melihat wajah wanita yang pasti akan menyambutnya dengan senyuman itu, senyuman yang memuakkan pikirnya.
Zain membuka pintu kamar, ia akan mengambil set piyamanya, namun tidak sengaja mata hitamnya menatap ke wajah yang tengah tertidur itu, dengan kepala yang masih di tutupi kerudung Zareen tidur menghadap jendela kamar mereka. Zain mendekat, dan benar saja, di tepi mata nan sering menatapnya sendu itu terdapat jejak air mata, yang belum seutuhnya mengering.
“ck” kau memiliki kebiasaan menangis saat tidur ha? Kenapa harus di saat tidur kau menangis, lepaskan saja tangismu, aku tidak akan keberatan melihat kau menangis, memang takdir itu kejam, dan kau tidak seharusnya menahannya”
Zain berbalik setelah menutup rapat jendela yang Zareen biarkan sedikit terbuka, dengan satu set piyama yang ada di tangannya.
...🍁🍁🍁...
Keesokan paginya Zain tampak dengan tenang menikmati nasi goreng yang Zareen buat sehabis sholat shubuh tadi.
“Mas..”
Tidak ada sahutan dari Zain
Zareen dengan gugup tidak berani melihat kemata suaminya, ia meneruskan
“Maaf Mas, aku cuma mau minta izin, hari ini bolehkah aku ke rumah Ibu?”
Masih tidak ada tanggapan
Zareen menunduk dan melanjutkan makannya, ia tidak akan bertanya lagi, percuma, suaminya sangat enggan berbicara dengannya. Ia hanya sangat merindukan Gema, sejak ia di bawa pulang ke Indonesia, hanya satu kali mereka bertemu, dan itu hanya sebentar, setelah itu, sudah hampir satu bulan Zain tidak pernah lagi membawa Ibunya dan Gema berkunjung.
Entah apa yang suaminya ini lakukan, memisahkan dirinya dengan satu-satunya keluarga yang dekat dengannya saat ini. Zareen benar-benar tidak tau harus berbuat apa, dengan tak mampu membuka sangkar yang suaminya sendiri buat untuk mengungkungnya.
__ADS_1
Tanpa salim tanpa mengucapkan sepatah katapun, Zain berdiri dan mengambil tas serta kunci mobil, kemudian yang terdengar hanyalah pintu yang kembali di tutup.
“Ya Allah, tidak sedikitpun dia menoleh ke arah ku, sebegitu benci kah suamiku pada ku ya Allah”. Zareen tersenyum hambar
Saat hendak memasukan satu sendok lagi ke mulutnya, handphone Zareen berdering, Zareen langsung berlari mengambil benda pipih itu yang tertinggal di kamar.
Di sana tertulislah nama ibu mertua
“ Iya Bu, Waalaikumsalam”
“Zareen kamu apa kabar nak, sehat-sehat aja kan?”
“Iza sehat Bu, Alhamdulillah bahkan sekarang Za rasa tubuh Za terus saja membaik Bu”
“Alhamdulillah ya Allah... Kamu kok gak jadi-jadi ke sini nak? Katanya kemaren kamu yang bakalan ke sini lagi mengunjungi Ibu sama Gema, ini sudah hampir satu bulan juga setelah Ibu dari sana, kamu gak jadi-jadi kesini”
“Eh iya Bu, itu..”
“Apa? Apa Zain tidak mengizinkanmu nak?”
“Hmm Iya bu” Jawab Zareen ragu-ragu
“Ya tuhan, ada apa dengan anak itu, apa dia tidak tahu kalau disini ada Gema yang sangat merindukan kakaknya. Ya udah, gini aja, sebentar lagi Gema pulang dari sekolahnya, nanti sambil menjemputnya Ibu sama Gema mampir ke apartemen ya”
“Iya iya bu, Iza tunggu di sini ya bu” Jawab Zareen antusias. Ya, di memang sudah sangat rindu untuk memeluk adik satu-satunya.
“Ya sudah, Ibu tutup dulu ya telfonnya, kamu gak usah masak apa-apa, jangan capek-capek, nanti Ibu bawa aja apa yang akan kita makan disana, kamu dengar kan sayang”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam Bu” Zareen tersenyum melihat nama sang mertua yang telah mengakhiri panggilan di sana, Zareen mengucap syukur, karena sekarang ia tidak hanya berdua lagi di tanah asing ini, namun sudah ada sosok Ibu yang dapat menemaninya, dan juga... seorang suami.
Zareen kembali ke meja makan, kemudian merapikan sisa-sisa sarapan dan mengangkatnya ke wastfhel. Ia membuka kulkas, dan melihat apa yang bisa ia masak, meskipun Ibu mertua sudah memperingatkannya tadi, namun ia tetap harus menyajikan masakan yang ia masak sendiri untuk Ibu, memasak sedikit saja tidak akan membuat dia kelelahan bukan.
Zareen menata masakan sederhana yang ia siapakan di atas meja, tidak lama setelah itu terdengar suara bel di depan, Zareen yang sudah mengetahui siapa yang datang langsung bergegas dan membuka pintu.
“Kakak...” Gema langsung menghambur ke pelukan Zareen
“Sayang...” Zareen mengusap sayang kepala Gema yang masih berada di pelukannya
“Kakak aku kangen banget tau, kangennnn banget”
“Ha ha kakak juga kangen sayangg” Zareen melepaskan pelukan mereka dan mengusap pipi chuby adiknya yang tampan.
“Kalau kakak kangen kenapa gak ke rumah Ibuk?”
“Hmm kakak belum bisa kesana, abang Zain akhir-akhir ini sangat sibuk di kantornya dek”
“Sudah... yuk masuk dulu yuk, pegel ni Ibu berdiri terus” Sela Niingsih
“Oh iya, maaf ya Buk, Gema jadi lupa sama Ibuk di belakang”
__ADS_1
“Ha ha bocah, gitu ya, kalau sudah sama kakak Zareen itu, Ibuk aja langsung di lupakan”
“Ampunnn Ibukk”. Gema memelas sambil berlari ke dalam
“Sini Buk” Zareen mengambil tentengan di tangan Ningsih yang lumayan banyak
Mereka menghabiskan waktu dengan makan, benar-benar melepas rindu, sampai tidak terasa mentari telah menyisakan senja. Gemapun yang sempat tertidur bangun untuk melaksanakan sholat magrib.
Tidak lama setelah itu, Zain pulang, dan ia terkejut karena keberadaan Ibu dan Gema di apartemennya.
“Salam dulu kek nak”. Ningsih menegur Zain yang langsung saja berjalan masuk dan menutup pintu dibelakangnya.
“Ibu kok disini”?
“Pertanyaan apa itu”? Ibu merasa tersinggung
“Bukan gitu maksud Zain Bu, Zain Cuma kaget karena tiba-tiba Ibu di sini”
“Yaa karena ada yang kangen sama istrimu, makanya kami langsung ke sini”
Zain menatap Zareen, Zareen yang di tatap seperti itu hanya menunduk
“Sudah sangat lama kami terakhir bertemu Zareen, kamu gak menepati janji kamu untuk bawa Zareen ke rumah, ya Ibu berinisiatif sendiri untuk berkunjung bersama Gema, kamu mungkin lagi banyak kerjaan di kantor pikir Ibu”
“Maaf Bu, akhir-akhir ini memang banyak yang harus Zain selesaikan di kantor, Ibu sudah makan”?
“Sudah, tadi Zareen memasak rendang untuk makan kami”
Ningsih berkemas, dan membantu Gema memakaikan tasnya.
“Aku antar Ibu pulang”
“Sayang, Ibu pulang dulu ya, lain kali aja Ibu sama gema nginap, kasihan besok harus bangun pagi-pagi sekali kalau harus nginap, jarak sekolahnya jauh sama aprtemen ini”
“Iya Bu, Ibu hati-hati ya, makasih udah datang ngunjungin Zareen” Zareen menyalim tangan Ibu mertuanya.
“Adek, ingat ya pesan kakak, jangan pernah nyusahin Ibu sa sayang, dengerin kata-kata Ibu”
“Iya kak, Gema ingat”
“Ya udah, yuk sayang”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Zareen menutup pintu, dan melipat mukenah yang tadi Ibu pakai, dan juga sarung Zain yang tadi ia pinjamkan untuk Gema.
Zareen mengusap sarung yang bewarna hitam itu, teringat tangis Ibu mertuanya tempo hari, saat mengatakan kalau Ibu rindu Zain yang dulu, Zain yang dekatNya.
TO BE CONTINUE
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹