SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
First Flight Together


__ADS_3

...Part 30...


...🍁🍁🍁...


“Terimakasih ya sayang”. Zain mengambil kedua tangan Zareen dan mengenggamnya.


Zareen tersenyum, “Untuk apa Mas?”


“Untuk kesempatan kedua ini, untuk maaf ini, untuk kelapangan hatimu menerima segala kesalahan yang telah Mas lakukan, dan... untuk kesediaanmu menjadi istri Mas”.


Zareen mengurai senyum dan mengangguk.


“Terimakasih juga Mas”


Zain mengangkat kedua alisnya.


“Karena telah mau berbalik, menjemput Iza, mempertahankan rumah tangga kita ini, pernikahan kita ini, dan sudah mau berusaha untuk menjadi imam yang lebih baik untuk Iza”


“Bantu Mas ya”. Ia mendekatkan wajah kedepan, dan mencium kening sang istri, lama.


Zareen memejamkan mata, menikmati debaran jantung yang kembali berpacu. Untuk pertama kalinya kening ini dicium sang suami.


“Bersama-sama sayang, kita arungi bahtera ini, jangan pernah melepas genggaman tangan Mas istriku”.


19.00 WIB


Setelah shalat magrib, keluarga Ayah Amran berkumpul di meja makan. Ibuk dan Zareen seperti biasa sibuk menyiapkan segala keperluan makan malam mereka. Menu sederhana yang dimasak sore tadi menemani nasi pulen yang mengepulkan asap. Saat makan dimulai tidak ada lagi satu katapun yang terdengar, yang nyaring hanyalah suara sendok dan piring.


“Alhamdulillah...”. Ayah berucap hamdalah dan meletakan gelas air putih yang baru saja di minum.


“Ayah, rencana besok Zain sama Zareen akan berangkat yah”


Gerakan tangan Ibuk yang sedang melap meja terhenti.


“Secepat itu nak”. Ibuk bergumam lirih


“Eh tak apa Buk, Zain harus kembali ke kota, pekerjaannya pasti sudah menumpuk”


Ibuk menaroh kain lap tadi dan duduk kembali di kursi diantara mereka, sedangkan Zareen terus mencuci piring.


“Tidak bisakah sedikit lebih lama lagi disini nak”?


“Buk,,, mereka sudah harus kembali, lagian Zareen sudah terlalu lama disini, satu bulan lebih”


“Iya Yah, cuma....”


“Zareen sekarang tidak hanya milik kita Buk, tidak lagi. Putri kita telah menjadi istri, kewajiban taatnya tidak hanya lagi kepada kita, namun ada suaminya sekarang, yang lebih berhak atas dirinya. Orang yang patut ia hormati, patuhi dan turuti, bukan lagi kita. Orang yang memikul tanggung jawab atas dirinya, yang semulanya ada pada Ayah”.


“Iya Yah, Ibuk mengerti”. Jawab Ibuk sendu, berusaha menampilkan senyumnya.


“Buk, Ayah, atau enggak gimana kalau Ayah dan Ibuk ikut kami saja ke Jakarta?”.


Ayah dan Ibuk saling melirik, “Tidak nak, disini tanah kelahiran kami, kampung halaman kami, Ayah dan Ibuk tidak bisa meninggalkan rumah yang membersemai pertumbuhan Zareen dan Gema ini nak”.


....tak apa, Ayah dan Ibuk ikhlas melepas Zareen padamu”.

__ADS_1


Zain mengangguk, “Iya Yah, doakan saja kami sehat-sehat terus ya Yah, Insyaallah Zain akan sering membawa Zareen dan juga Gema pulang kesini Yah”.


Ibuk jangan risau, Zareen akan sering pulang Buk”. Ayah melanjutkan perkataan menantunya.


Ibuk mengiyakan. Zareen yang membelakangi ketiga orang yang berarti baginya itu tersenyum, mendengarkan semua perkataan yang penuh kasih dan sayang atas dirinya.


07.30 WIB


Mereka mengambil penerbangan jam 08.00 WIB. Saat ini Zain dan Zareen kembali memastikan semua barang bawaannya, segala yang penting dipastikan tidak ada yang tertinggal.


Ayah dan Ibuk telah siap dengan pakaian yang rapi dan bersih, mereka akan ikut mengantarkan anak-anak mereka ke bandara, ketika melihat mereka memasuki bandara Ibuk baru lega katanya.


Zain dan Zareen mengangsur keluar, mengantarkan koper mereka kedepan agar lebih mudah ketika mobil jemputan sudah sampai nantinya. Zain menarik koper dulun sementara Zareen menyusul di belakang membawa tas kecil dan beberapa bawaan yang berisi rendang dan oleh-oleh khas Padang lainnya yang Ibuk siapkan tadi malam, untuk Gema dan besan Ibuk katanya.


“Hati-hati Mas”.


“Iyaaa....”. Zain tersenyum membalas peringatan sang istri


Zain menyandarkan koper di tembok pagar, kemudian mengambil tas dari tangan istri dan meletakannya di atas.


“Za, kamu sudah mau balik ke Jakarta”


Firman yang tidak menggunakan sepeda motornya berjalan mendekat.


“Iya Fir”. Jawab Zareen lugas


“Penerbangan jam berapa?”


“Jam dela..”


Zareen terkesiap, ia menoleh kesamping dan menatap wajah Zain yang terhiasi senyum yang tertuju pada Firman. Ia canggung, dan kemudian memilih menunduk, mengulir pandang pada tanah yang ia pijak.


“Ah ya, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan”. Jawab Firman kikuk


“Aamiin. Makasih Fir do’anya”. Tutur Zain. Setelah itu langsung mencium kepala Zareen yang masih menunduk. Zareen membulatkan mata sempurna dan menatap Zain, ia canggung dan malu. Sementara yang di tatap, hanya membalas dengan senyum yang merekah di kedua bibirnya.


Ayah dan Ibuk menyusul setelah mengunci pintu rumah.


“Ado Firman sakironyo”


(Ada Firman sekiranya)


“Eh iyo Yah”


“Rancak lah, Ayah titip rumah yo, Ayah samo Ibuk pai maantan Zareen samo suaminyo ka bandara sabanta”


(Baguslah, Ayah titip rumah ya, Ayah sama Ibuk pergi mengantarkan Zareen sama suaminya ke bandara sebentar)


“O iya iya yah”. Firman mengangguk


“Terimakasih ya nak, kami pergi dulu ya”. Pamit Ibuk


Tidak lama mobil yang akan mengantarpun sampai, dan merekapun berjalan menuju Bandara Internasional Minangkbau (BIM). Meninggalkan Firman yang menatap kepergian mereka dengan senyum getir di wajahnya.


Bandara Internasional Minangkabau (BIM)

__ADS_1


“Ibuk, Iza pergi yah”. Zareen memeluk Ibunda dan mulai terisak disana.


“Iya sayang, doa Ibuk menyertai kalian. Sudah-sudah jangan nangis lagi kak, malu tu diliatin orang”. Ibuk melepaskan pelukan Zareen dan menghapus air matanya.


“Ayah sama Ibuk jaga kesehatan yah”.


“Iya nak”. Ayah mengusap kepala Zareen


“Ayah, Ibuk kami pamit ya”. Giliran Zain yang menyalim tangan keduanya.


“Jaga Zareen ya nak”. Pinta Ibuk yang diangguki Zain


“Ia makmummu, yang perlu bimbinganmu”. Ayah menambahkan


“Iya yah, doakan kami ya Yah”.


Ayah dan Ibuk mengangguk, dan melepas kepergian keduanya dengan diiringi doa.


Zain dan Zareen duduk pada bangku mereka, mengaktifkan mode pesawat pada ponsel keduanya.


“Zaa..”


Zareen yang tengah menatap keluar kaca jendela terkejut dan tergesa mengapus air di kedua celah matanya.


“Iya Mas”.


Zain tersenyum dan mengusap pipi Zareen yang masih terdapat sisa air matanya.


“Kita akan sering-sering ngunjungin Ayah sama Ibuk, ya”. Zain berucap sambil tersenyum.


....Jangan nangis lagi sayang, disini sakit”. Zain mengambil tangan Zareen dan membawanya ke arah jantungnya.


Zareen termangu, menatap bola mata sang suami.


“Mas gak bisa liatnya”.


“Maafkan Za ya Mas”. Ucapnya menunduk


Zain membawa Zareen ke pelukan. Ia sangat paham dengan apa yang istrinya sekarang rasakan, memang tidak akan pernah menjadi mudah untuk berpisah dari kedua orang tua, apapun alasannya itu sangat menyakitkan. Ia paham betul bagaimana rasanya. Zain mengusap punggung Zareen memberikan ketenangan, elusan itu begitu lembut, kehangatan tangan nan kekar itu mampu membuat kesedihan hati Zareen lenyap, hingga matanya terpejam dan tenggelam dalam lautan mimpi.


Zain menunduk, melihat wajah istri yang tertidur dalam dekapannya. Zain mengangkat tangan dan menyeka genangan air di sudut matanya, hidung yang memerah karena tangis, dan helaan nafasnya pelan.


“Hatimu begitu lembut sayang, Mas tau itu. Sejak saat itu, saat Mas melukaimu untuk pertama kalinya”.


“Terimakasih sayang, untuk mau bertahan dengan orang bejat seperti Mas”


Zain mengusap tangan Zareen yang setia dalam genggamannya, dan mengecup puncak kepala sang istri lama.


Tak hentinya ia memuji sang Ilahi. Dengan kebaikan-Nya sedia mendatangkan Zareen dalam hidupnya. Menghadirkan wanita yang begitu baik untuk menemani ia lelaki yang kufur, angkuh dan penuh dengan dosa. Ia mengucap syukur.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Saat kehidupan baru mereka benar-benar akan di mulai, as a Zain and Zareen to be a new person, let's see 😊

__ADS_1


__ADS_2