
...Part 20...
...🍁🍁🍁...
Sayup-sayup suara itu derdengar lagi, seolah nyata hingga setiap ayat yang ia baca terdengar dengan jelas, bacaan yang fasih dengan lantunan irama tartil. Namun kali ini bayangan itu terlihat jelas, wanita yang tengah mengaji itu duduk di atas sajadah dengan mukenah putihnya yang menutup hingga seluruh tangannya. Zain terlarut dalam bacaan ayat-ayat nan indah itu, hingga saat wanita itu menolehkan wajah nya, sambil tersenyum ia berucap
“Mas udah pulang?”
“Zareen...!”
Zain terbangun dengan nafas yang memburu, dengan nafas yang tersengal-sengal Zain mengusap wajah dengan kedua tangannya. Zain melihat jam yang menunjukan jam 02.15 dini hari. Dengan dada yang masih belum tenang Zain turun dari ranjangnya dan bergeggas ke kamar mandi. Tidak lama setelah itu Zain keluar dengan sebagian anggota tubuh yang telah basah karena air wudhu’. Zain melangkah menuju lemari pakaiannya dan ia menemukan apa yang ia cari, sarung hitam dan sajadah yang dulu sering ia gunakan terletak di sebelah lipatan mukenah putih, mukenah yang ia lihat dalam mimpinya.
Zain menggelar sajadah kemudian melaksanakan dua raka’at sunnah taubat, dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya Zain mengangkat kedua tangannya dengan Takbiratul Ihram, bacaan do’a iftitah yang masih sangat fasih kemudian ditambah dengan surat pendek Zain menyempurnakan segala rukun-rukun sholat. Seakan meresap hingga ke hulu hatinya Zain dengan sangat tenang menyelesaikan sholatnya. Setelah mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri air mata Zain semakin luruh dengan isak yang makin keras,
“Ya Allah Ya Robbi, aku malu ya allah, aku malu, masih pantaskah aku untuk maafmu ya allah, aku ingin kembali, dekaplah hamba kembali dalam pelukanmu ya rob, maafkan hamba yang telah berpaling darimu, maafkan hamba ya allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan ku ya rob, kezoliman yang ku perbuat atas diriku sendiri, aku hamba yang hina ya allah yang dengan angkuhnya mencoba meninggalkan engkau, berpaling dari kehendak engkau, dari ketetapan engkau atas diriku, aku tidak bisa ya allah, hati ku lelah, hilangkanlah segala belenggu yang mengikat hatiku ini. Aku merayu padamu ya allah, aku membutuhkan rahmat dan ridhomu, hamba putus asa ya allah...
Hiks...” Isak tangis Zain semakin kencang, ia melepaskan segalanya, segala kesesakan yang menghimpit dadanya.
Maafkan hamba ya allah, benar apa yang engkau tetapkan atas diriku adalah yang terbaik ya allah, keimananku yang ringkih, sehingga ku tidak memahami semua ini, hingga dengan bodohnya aku berbalik dengan keputus asaan dari rahmatmu, maafkan hamba ya allah...”
__ADS_1
Zain menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dengan isak yang semakin terdengar lirih, kemudian Zain bersujud dan mencium sajadah putih yang terbentang di hadapannya, hingga akhirnya Zain terlelap dengan air mata yang terus membasahi sajadahnya.
Sementara itu di belahan bumi lain Zareen mencium Al-Qur’an yang baru selesai ia baca, kemdian air mata Zareen jatuh tatkala menengadahkan kedua tangannya memohon petunjuk Allah untuk rumah tangganya, Zareen menangis tersedu hingga matanya lelah dan iapun tertidur di atas sajadah birunya yang terbentang.
Zain terbangun tatkala mendengar suara adzan, ia melirik jam yang telah memasuki waktu shubuh, ia bangkit dan mengulang wudhu’nya, setelah itu Zain melaksanakan sholat subuh dengan khusu’. Setelah sholat Zain kembali berdzikir, ia bersyukur Allah tidak mengambil hafalannya. Setelah selesai Zain berdiri dan merapikan sajadahnya, saat hendak meletakan kembali tangan Zain terhenti, ia meraba mukenah putih itu, kemudian mengambilnya dan mmbawanya kepelukannya, “Engkau Allah hadirkan untuk kebaikanku, namun aku yang bodoh tidak mampu melihat semua kebaikan ini saat aku tenggelam dalam keangkuhanku. Tunggu aku istriku, aku akan menjemputmu”.
“Waalaikumsalan, iya nak ada apa, tumben sekali subuh begini menelfon ibu?”
“Bu, kirimkan Zain alamat rumah Ibuk Fatma bu, Zain mau menjemput Zareen”
“Masyaallah,,, serius kamu nak”?
“Iya bu, Zain ingin membawanya pulang bu
“Iya bu, do’akan Zain ya bu”
“Iya nak, semoga Allah mudahkan nak, aamiin”
Zain tiba di bandara dengan menaiki taxi, ia mengambil penerbangan jam 7.00. “Bismillah,,,Mudahkanlah ya Allah”. Dan setelah menempuh perjalanan udara lebih kurang dua jam lamanya, tepat pada jam 08.45 pesawat yang Zain tumpangi mendarat di Bandara International Minangkabau. Zain melihat kembali alamat yang dikirimkan Ibunya, dan melihatnya melalui maps, ternyata tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini, lebih kurang 25 menit dengan mobil. Zain memesan driver online dan tidak lama setelah itu mobil pesanannya pun tiba, Zain segera menaikinnya setelah memberikan salam kepada driver, “Tidak jauh kan pak ya”?
__ADS_1
“Tidak nak, karena kemungkinan besar jalan tidak macet, insyaallah kalau lancar sekitar 25 menitan. Kalau boleh tau ananda dari mana”? Tanya sopan bapak driver
“Saya dari Jakarta Pak”
“O jauh ya, ya sudah ananda istirahat saja, nanti kalau sudah sampai saya beritahu”
Zain yang memang sedikit kelelahan mengangguk dan memejamkan matanya sambil bersandar. Tidak lama setelah itu terdengar suara driver membangunkannya, Zain membuka matanya dan ia melihat bangunan-bangunan rumah sederhana di lahan yang masih banyak terdapat tanaman hijaunya, masih asri. Zain turun kemudian mengucapkan terimakasih kepada driver setelah ia memberikan sejumlah uang.
Zain berjalan dan tidak lama setelah itu ia melihat nomor rumah dengan angka yang sama pada alamat yang ada di layar ponselnya. Alhamdulillah, Zain mengucap syukur karena Allah mempermudah jalannya. Menghela nafas sejenak, “Bismillah” Zain mengayunkan kaki mendekat ke rumah tersebut. Jantung Zain berdebar saat netranya melihat seorang gadis yang mengenakan khimar bewarna hitam tengah menyapu di halaman rumah, karena besi pagar yang tidak terlalu tinggi sehingga Zain benar-benar bisa melihat dengan jelas, “istriku”.
Debar di hatinya semakin kuat saat kata itu keluar dari mulutnya, ia baru menyadari kalau kata ini ternyata sangat indah, indah untuk dia ucapkan dan mungkin, indah juga bagi yang mendengarnya, Zain tersenyum dengan mata yang terus memandang Zareen. Namun dalam waktu yang sama Zain juga merasa risau, ia menerka-nerka bagaimana reaksi Zareen nantinya, apakah akan sesuai dengan apa yang ia harapkan, atau ia justru akan mendapat pengabaian. Kata-kata yang melukai yang ia lontarkan waktu itu kembali terngiang-ngiang di benaknya, Zain menghela nafas dan berulang kali mengucap takbir di hatinya. Zain berserah diri kepada Allah, Allah yang maha kuasa atas segalanya, Allah yang maha membolak-balikan hati, yang mengenggam segala hati manusia, termasuk hati sang istri, sebelum melanjutkan langkahnya, Zain kembali memohon kepada Allah semoga niat baiknya ini Allah permudah.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Air mata bisa mendatangkan pertolongan Allah di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan ditolong Allah pada hari kiamat, ketika tiada lagi pertolongan selain pertolongan dari-Nya.
Salah satunya adalah orang yang menangis di keheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur. Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah. Air matapun bisa mempercepat ijabahnya do’a-do’a.
__ADS_1
Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan masuk neraka, seseorang yang menagis karena takut kepada Allah”.
Rasulullah SAW juga bersabda “Setiap mata akan menangis di hari kiamat kelak, kecuali mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang terpelihara dari hal-hal yang di haramkan Allah, serta mata yang berjaga di jalan Allah.