SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Imam dan Makmum


__ADS_3

...Part 30...


...🍁🍁🍁...


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang selama dua jam, akhirnya Zain dan Zareen mendarat di tanah Jawa itu, dengan selamat.


“Bos”. Teriak Reza nyaring sambil melambaikan satu tangannya


“Kau membuat semua mata tertuju pada kita”. Gerutu Zain yang membuat Reza tertawa nyengir


“Hy kakak ipar”. Sapa Reza mengalihkan pandang pada wanita yang berjalan di belakang Zain.


Zareen tersenyum dan mengangguk sopan.


“Masyaallah senyumnya, aura pengantin baru memang beda ya”. Bisik Reza mendekat ke telinga Zain yang berakhir mendapat pelototan tajam dari CEO sekaligus Direktur MF International Group itu.


“Ampun Pak Bos, canda doank”. Zain mengangkat tangan dan menjauh dari Zain, menjaga jarak aman.


Zain menaikan semua barang bawaan di bantu Reza kemudian membukakan pintu penumpang untuk Zareen, setelah Zareen masuk iapun masuk dan duduk di sebelah Zareen.


“Kalau masih ngantuk tidur lagi aja”. Ujar Zain melihat Zareen yang mengucek kedua matanya


“Enggak Mas, ini gak tau kenapa perih”. Jawab Zareen dengan tangan terus mengucek matanya


“Jangan dikucek Zaa, itu udah merah”. Zain menarik tangan Zareen, kemudian meniup pelan kedua mata itu bergantian.


“Kemasukan debu ini”.


Zareen mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Masih sakit”?


“Udah gk terlalu Mas, makasih ya Mas”


Zain tersenyum kemudian mengusap kepala Zareen yang membuat Zareen tersipu, sangat jelas terlihat di mata Reza melalui kaca kecil di depannya. Interkasi keduanya membuat ia ikut tersenyum,


“Alhamdulillah”. Reza berseru dalam hati.


***


Ningsih sibuk menata masakan diatas meja, beberapa menu sederhana dengan bahan utama jamur yang menjadi makanan kesukaan Zain. Yah, wanita yang sudah berumur itu sangat antusias menanti kedatangan sang putra dan menantunya.


Tidak lama terdengar deru mobil memasuki halaman, Ningsih menghentikan kegiatannya dan langsung bergegas membuka pintu.


“Ibuuu... “. Zain langsung memeluk Ibundanya begitu Ibu membuka pintu utama.


“Uhuk”.


Zain segera melepaskan pelukannya , “Kekencangan ya Bu, maaf maaf Bu”. Tutur Zain nyengir sambil mengusap punggung Ibu.


“Sayanggg...”


Ningsih menggeser tubuh Zain dan beralih memeluk Zareen.

__ADS_1


Reza terkikik melihat pak bos nya yang diabaikan Ibunya.


“Ibu Iza kangen”. Gumam Zareen dalam pelukan Ibu


“Ibu jauh lebih kangen sayang”.


Ningsih melepaskan pelukan saat merasakan air membasi bahunya.


“Eh kenapa nangis”?


“Maafkan Iza ya Bu”.


“Gak ada yang perlu Ibu maafin sayang, kamu gak salah, yang salah itu tu suami kamu”. Tukas Ningsih melirik sinis pada Zain yang terpaku dengan mata yang membulat sempurna.


“Sudah sudah, kamu pasti capekan, yuk masuk sayang”.


Zareen berjalan beriringan dengan Ibu, meninggalkan Zain yang menghelas nafas panjang.


“Yuk pak bos”. Seru Reza menepuk bahu sahabatnya itu.


Entah kenapa, Zain merasa terabaikan, "hufh".


“Wah Ibu masak jamur saus tiram”. Seru Zain excited dan langsung duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar itu.


“Baik kan Ibu?”


“He he makasih Ibuku sayang”. Ucap Zain sambil memberikan fly kiss untuk Ibunda.


“Iza yuk nak makan”. Ibu mengambilkan Zareen piring dan menyendokan nasi untuknya.


“Gak usah bu, Za aja yang ngambil sendiri”


“Nih lauknya mau yang mana?”. Niingsih mengabaikan protesan menantunya itu dan terus saja menambahkan lauk-lauk di piring Zareen


“Semoga kamu suka ya nak masakan Ibu, yang terpaksa semuanya berbahan utama Jamur”.


“He he gak papa bu, apapun yang Ibu buat pasti enak”.


Ibu tersenyum, “Makan yang banyak ya, dah makan nak”


“Iya Bu”. Zareen mengangguk


“Hah Ibu gitu ya sekarang, udah ngelupaian aku”. Gerutu Zain yang menghentikan keromantisan Ibunda dan istrinya itu.


“Apa?”. Ibu bertanya seakan tidak mengerti


“Hufh sudahlah”.


Zain mengangkat piringnya hendak mengambil nasi, seketika ada tangan yang menarik centong nasi dari tangannya. Dengan telaten Zareen menyendokan nasi pada piring suaminya dan mengambilkan beberapa lauk. Zain tersenyum menatap setiap gerakan sang istri.


“Terimakasih istriku”. Gumamnya saat Zareen meletakan piring itu di depannya.


“Duh anak ini manja sekali, sudah sayang makan-makan”. Gerutu Ningsih yang membuat Zareen menahan tawanya

__ADS_1


Setelah membersihkan piring makan mereka tadi, Zareen naik ke atas untuk mengistirahatka diri. Perjalanan dari Sumatera ke Pulau Jawa memang cukup membuat ia lelah. Saat tiba di depan pintu kamar suaminya, ia ragu. Mungkin lebih baik ia tidur di kamar tamu saja di bawah. Zareen kembali turun ke bawah dan berjalan lurus menuju kamar tamu yang berada di samping tangga. Saat Zareen hendak memutar knop pintunya tiba-tiba tangannya ditahan. Mengangkat pandangan dan matanya menyorot wajah yang menatapnya lekat.


“Tidur di kamar atas”.


Zain menarik tangan Zareen dan menuntunnya kembali ke lantai dua, tidak melepaskan genggaman itu hingga ke kamar. Zain membuka pintu kamarnya dan setelah masuk ia menutupnya kembali.


“Tidurlah”. Ujar Zain sambil tersenyum


Zareen hanya mengangguk dan segera berbalik, namun tangannya kembali ditahan.


Zareen menoleh dan mendapati suami yang melangkah semakin dekat. Spontan Zareen mundur namun kini tangan suaminya beralih merengkuh pinggangnya.


“Ma-mas”. Gumam Zareen terbata, ia sangat gugup, sungguh.


Zain mengangkat satu tangannya, dan merapikan hijab Zareen yang tidak rapi lagi.


Zareen terpaku, tubuhnya tiba-tiba seperti diapit balok es, dingin dan kaku.


Matanya seketika terpejam, saat Zain mendekat dan mencium keningnya.


“Istriku Zareen”.


Zareen membuka matanya, dan menatap wajah suaminya yang dihiasi senyum yang manis.


“Kaak, kakak...”


Terdengar gedoran pintu yang berulang di luar, dan sangat jelas pemilik suara yang nyaring itu adalah Gema. Zain mengusap kepala sang istri dan melepaskan rengkuhannya. “Habis bertemu Gema langsung istirahat yah”. Setelah mendapat anggukan dari istrinya Zain barulah berbalik dan memberikan waktu melepas rindu untuk kakak dan adik itu.


“Kakakkkkk....”. Gema berlari dan langsung menghambur dalam pelukan Zareen.


“Gema sangat rindu kaakkk”.


“Kakak juga sayang”. Balas Zareen sambil mengusap rambut Gema yang basah karena keringat.


Dan kedua kakak beradik itu bercengkrama, bercerita melepas segala kerinduan yang mencengkram selama ini.


19.27 WIB


Zain dan Zareen menggelar sajadah bersama. Menunaikan kewajiban mereka sebagai muslim. Zain berdiri didepan menjadi imam untuk istri yang akan selalu mengikutnya. Mereka mengerjakan setiap rakaat dengan tuma’ninah dan khusu’. Setelah selesai mengucap salam Zain melanjutkan dengan bertasbih, mengulang bacaan-bacaan dzikir untuk mengagungkan Allah. Zareen mengaamiinkan di belakang dengan senyum yang terbit dari kedua bilah bibirnya, ia menatap syahdu pada punggung tegap yang membelakanginya itu.


“Aamiin allahumma aamiin”


Zain dan juga Zareen menangkupkan kedua tangan ke wajah mereka. Diringi dengan hati yang penuh harap akan terijabahnya do’a yang mereka langitkan barusan.


Zareen bergeser sedikit kedepan dan saat Zain berbalik ia mendapati Zareen yang telah mengulurkan tangan padanya. Dengan perasaan yang haru ia menerima uluran tangan itu. Zareen menyalim tangan suaminya lama, dan saat kembali mengangkat kepala keningnya telah di cium sang suami. Jantungnya berdebar tak karuan, terus seperti ini saat sang suami melakukan ini.


“Mengaji bareng ya?”. Tanya Zain setelahnya


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kalau ada kata2nya yg salah tolong di tandai ya manteman 😊🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2